Bagaimana kaidah hadist “Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat” karena selama Ramadhan kemarin, banyak penceramah menjadikan alasan atas dirinya berceramah padahal kebanyakan isi ceramahnya ngawur. Mohon penjelasannya. Syukran jazakallahu.
Nama Mahmud Sumaeda
Kabupaten Gowa

Jawaban:

Dijawab oleh Ustaz Ahmad Nasing, Lc. (Anggota Komisi Rukyat dan Falakiyah Dewan Syariah Wahdah Islamiyah)

بسم الله والحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وأصحابه أجمعين، أما بعد:
Puji syukur kita panjatkan kepada Allah serta shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam.

Hadis yang dimaksudkan oleh penanya adalah hadis berikut:
بلغوا عني ولو آية وحدثوا عن بنى أسرائيل ولا حرج ومن كذب علي متعمدا فاليتبوأ مقعده من النار
Artinya:
“Sampaikanlah dariku meskipun hanya satu ayat, dan ceritakanlah dari Bani Isra’il dan itu tidak apa-apa, dan barangsiapa yang berdusta atas namaku maka bersiap siaplah menempati tempatnya di neraka”. (HR. Bukhari)

Hadis ini merupakan salah satu hadis yang memotivasi kita untuk selalu berdakwah menyampaikan ilmu meskipun sedikit, meskipun itu hanya satu ayat.

Kita diperintahkan untuk berdakwah, namun tentunya kita hanya diperintahkan menyampaikan apa yang kita tahu. Sebagaimana syaikh bin Baz berkata ketika menjawab pertanyaan tentang hadis ini:
“…Dan seseorang tidak boleh menyampaikan satu perkara yang ia tidak punya ilmu tentangnya…” (Situs Imam bin Baz)

Jika Anda ingin menyampaikan satu ayat, maka ketahuilah dulu tafsir atau maksudnya dengan merujuk kepada penafsiran para ulama. Jika Anda ingin menyampaikan hadis, maka ketahuilah penjelasannya terlebih dahulu dengan kembali kepada penjelasan-penjelasan para ulama.

Imam Bukhari menulis satu bab khusus dalam kitab shahihnya “Bab Berilmu Sebelum Berkata dan Beramal” artinya, sebelum kita berkata dan menyampaikan, maka ketahuilah terlebih dahulu apa yang hendak kita sampaikan.

Sampaikan apa yang Anda tahu, dan cari tahu apa yang belum Anda tahu. Jika Anda ditanya tentang satu perkara yang belum Anda ketahui, maka katakanlah “Allahu A’lam.”
Ibnu Sirin berkata: “Orang meninggal dunia dalam keadaan bodoh, itu lebih baik daripada ia menyampaikan apa yang ia tidak tahu.” (Al-Adab As-Syar’iyyah karya Ibnu Muflih)
Wallahu A’lam.

Artikulli paraprakHukum Bapak Menikahi Anak Perempuan dari Istri Anak Laki-Lakinya
Artikulli tjetërTalkshow Dep. Lingkungan Hidup WI: Krisis Iklim Global, Bagaimana Peran Kita?

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini