Mengapa Perlu Mengkaji Tafsir ?

Setiap muslim tentu meyakini benar bahwa Al Qur’an yang mulia adalah wahyu Allah Azza wa Jalla yang diturunkan dengan suatu tujuan yang maha penting. Tidak untuk sekedar dibaca atau dijadikan sebagai wirid harian oleh seorang muslim –walaupun itu juga penting-. Namun lebih daripada itu, Al Qur’an diturunkan agar dapat menjadi sumber petunjuk paling benar dan lurus yang akan mengarahkan bahtera kehidupan setiap individu bahkan sebuah masyarakat ke jalan yang semestinya, jalan yang sesuai dengan fitrahnya dan –tentu saja- sesuai dengan kehendak Sang Khaliq Yang begitu mengasihi dan menyayangi mereka. Oleh sebab itu, kita sangat yakin bahwa kebangkitan, kemenangan dan kejayaan setiap individu dan masyarakat tidak akan benar-benar teraih dengat mudah begitu saja kecuali dengan jalan menanamkan sikap Al Istirsyad ( selalu mengambil petunjuk ) dari ajaran dan aturan Al Qur’an yang telah mempertimbangkan dan memperhatikan semua unsur kebahagiaan manusia, sebab bukankah Al Qur’an adalah Kalam Allah Yang Maha mengetahui apa yang tidak diketahui oleh manusia ?? Maka berangkat dari keyakinan tersebut, tentu menjadi sangat logis bila kita menyatakan bahwa tidak ada jalan untuk menanamkan sikap Al Istirsyad terhadap Al Qur’an itu kecuali dengan berusaha memahami dan mentadabburi pesan-pesan Al Qur’an. Dan Tafsir-lah satu-satunya jalan untuk memahami dan mentadabburi kedalaman pesan-pesan Al Qur’an tersebut. Oleh karena itu, menjadi jelaslah betapa pentingnya setiap muslim berusaha menyediakan jeda waktu khusus dalam 24 jam yang ia lewati dalam sehari untuk mempelajari tafsir terhadap kandungan Al Qur’an, agar hidupnya selamat di dunia dan bahagia di akhirat.

Apa Itu Tafsir ?
Kata Tafsir secara bahasa mempunyai makna : penyingkapan dan penjelasan terhadap sesuatu. Adapun secara istilah, maka kita akan menemukan definisi yang beragam dari kalangan para ulama. Namun definisi yang paling banyak digunakan dan dipandang paling mewakili cakupan ilmu ini adalah definisi yang dirumuskan oleh Imam Az Zarkasyiy –rahimahullah- yang mengatakan bahwa Tafsir adalah “ilmu yang dengannya Kitabullah yang diturunkan kepada Muhammad saw dapat dipahami, dijelaskan makna-maknanya dan digali hukum dan hikmahnya.”

Bagaimana Menafsirkan Al Qur’an secara benar ?
Para ulama tafsir telah menyepakati bahwa metode penafsiran Al Qur’an yang benar adalah yang merujuk pada lima hal berikut :

Pertama, Merujuk kepada Al Qur’an itu sendiri. Atau menafsirkan sebuah ayat dengan ayat lain dalam Al Qur’an. Sebab Allah Azza wa Jalla-lah yang mengucapkan dan menurunkannya, sehingga Allah-lah yang paling mengetahui maksud dan makna yang terkandung didalamnya. Sebagai contoh misalnya, Firman Allah Ta’ala :

أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” ( Yunus : 64 ) . “Wali-wali Allah” dalam ayat ini kemudian ditafsirkan oleh ayat berikutnya yang menyatakan :

الَّذِينَ ءَامَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ

“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.”

Kedua, Merujuk kepada penjelasan / penafsiran Rasulullah saw, sebab beliau-lah yang menerima dan menyampaikan Al Qur’an itu dari Allah kepada manusia, sehingga beliau-lah manusia yang paling memahami makna dan maksud dari ayat-ayat Allah tersebut. Sebagai contoh misalnya, Firman Allah :

لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ

“Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya.” (Yunus : 26 ) . Apa yang dimaksud “Tambahannya” dalam ayat itu kemudian ditafsirkan dalam hadits Rasulullah saw –yang diriwayatkan oleh Muslim dari sahabat Ka’ab ibn ‘Ujrah radhiallahu ‘anhu- di mana Rasulullah menyatakan : “Lalu (Allah) menyingkapkan hijab, maka mereka ( orang-orang beriman ) itu tidak pernah dikaruniakan sesuatu yang lebih mereka cintai daripada melihat wajah Rabb mereka Azza wa Jalla.” Lalu beliau membaca ayat ini, yang menunjukkan bahwa “tambahannya” dalam ayat ini berarti “melihat wajah Allah di hari kiamat”.

Ketiga, Merujuk kepada penafsiran para sahabat Nabi saw. Khususnya para sahabat yang dikenal memiliki keunggulan dalam hal penafsiran Al Qur’an, seperti Ibn ‘Abbas –radhiallahu ‘anhu-. Mengapa ? Sebab Al Qur’an itu diturunkan dengan bahasa mereka dan di masa mereka, mereka juga adalah manusia paling jujur setelah para Nabi dan Rasul di samping tentu saja kebersihan dan kelurusan hati mereka dari hal-hal yang dapat menghalangi seseorang dari kebenaran. Di antara contoh penafsiran sahabat adalah penafsiran Ibn ‘Abbas terhadap ayat :

وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ

“Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau kembali dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu.”(An Nisa’ : 43 ) Beliau menafsirkan “menyentuh perempuan” dengan jima’ ( hubungan suami istri ).

Keempat, Merujuk kepada penafsiran para Tabi’in yang mengambil penafsiran Al Qur’an dari para sahabat. Syeikhul Islam Ibn Taimiyyah mengatakan : “Bila mereka (para tabi’in) telah berijma’ terhadap suatu masalah maka tidak diragukan lagi keberadaan ( ijma’ ) tersebut sebagai sebuah hujjah. Dan bila mereka berbeda pendapat maka pendapat sebagian mereka tidak dapat dijadikan hujjah terhadap pendapat yang lain, namun harus dirujuk kepada bahasa Al Qur’an, atau As Sunnah atau keumuman bahasa Arab atau pendapat para sahabat dalam masalah itu.” Dan dalam kesempatan yang lain beliau mengatakan : “Barang siapa yang menyelishi pendapat mereka dan menafsirkan Al Qur’an dengan penafsiran yang menyelisihi penafsiran mereka, maka ia telah salah dalam dalil dan madlul.”

Kelima, Merujuk kepada pengertian suatu kata secara syar’i ataupun bahasa (lughawy). Prinsipnya, bila terjadi perbedaan pengertian antara makna bahasa dan syar’i terhadap suatu kata, maka kita harus merujuk kepada pengertian syar’i, sebab Al Qur’an diturunkan untuk menjelaskan Syar’iat dan bukan sebagai penjelasan bahasa. Namun bila kita menemukan ada dalil yang menguatkan makna bahasa suatu kata, maka berarti ayat atau kata tersebut harus ditafsirkan berdasarkan makna bahasanya. Sebagai contoh misalnya kata “shalat”. Kata ini secara bahasa mempunyai makna : do’a. Sedangkan secara syar’i pengertiannya adalah sebuah ibadah yang memiliki kaifiat tertentu yang diawali dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam. Nah, dalam surah At Taubah : 84 yang berbunyi :

وَلَا تُصَلِّ عَلَى أَحَدٍ مِنْهُمْ مَاتَ أَبَدًا وَلَا تَقُمْ عَلَى قَبْرِهِ

kata “shalat” ditafsirkan berdasarkan pengertian syar’i-nya, sehingga makna ayat ini adalah : “Dan janganlah kamu sekali-kali menyembahyangkan/menyalatkan (jenazah) seorang yang mati di antara mereka.” Namun dalam surah yang sama ayat 103,

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

kata “shalat” ditafsirkan berdasarkan makna bahasanya yaitu do’a, sehingga makna ayat ini menjadi : “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan mendo`alah untuk mereka. Sesungguhnya do`a kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Berdasarkan penjelasan di atas, maka seorang muslim yang ingin menafsirkan atau memahami Al Qur’an tidak boleh bersikap “terlalu percaya diri” dengan apa yang ia miliki sehingga menyebabkannya menafsirkan Al Qur’an seenaknya. Ia harus memperhatikan metodologi dan urutan penafsiran tersebut di atas. Sebab kapan saja ia melangkahi atau mengabaikannya maka ia akan sesat dan menyesatkan. Itulah sebabnya, sebagian ulama salaf mengatakan : “Barang siapa yang menafsirkan Al Qur’an dengan ra’yu (pemikiran)-nya sendiri maka ia telah salah walaupun (penafsirannya) benar.” Artinya, walaupun hasil pemikirannya itu benar namun ia tetaplah melakukan kesalahan, karena tidak melewati metodologi yang telah ditetapkan oleh Allah dan RasulNya.

Nah, catatan terakhir tersebut mengingatkan kita betapa pentingnya mengkaji ilmu kaum As Salaf Ash Shaleh yang tertuang dalam berbagai kitab-kitab atsary. Dan kita tentu ingat apa yang dikatakan oleh Imam Malik bahwa generasi akhir ummat ini tidak akan jaya dan menang kecuali dengan apa yang telah menjayakan dan memenangkan generasi pertamanya. Demikianlah, dan Wallahu a’lam bishshawab !

Makassar, 27 Januari ‏2004
Muhammad Ihsan Zainuddin

Artikulli paraprakHukum Melepas Cadar Karena Larangan Orangtua
Artikulli tjetërSyarat dan prosedurnya untuk membuka cabang WI

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini