PENDIDIKAN ISLAM UNTUK KELUARGA DI ERA GLOBALISASI

Date:

PENDIDIKAN ISLAM UNTUK KELUARGA DI ERA GLOBALISASI*

Pendidikan dan Sekolah

Pendidikan merupakan masalah kehidupan sehari-hari dan ini pula jantung kebangkitan umat Islam. Pejuang Islam di nusantara sangat luar biasa dan mereka sepakat bahwa pendikan adalah jalan menjayakan Islam. Muhammadiyah dirikan sekolah; Ahmad Dahlan dirikan Muallimin, karena tantangan saat itu adalah primazon dan kristenisasi. NU juga bergelut di bidang pendidikan karena sebelum mendirikan NU, Hasyim asy’ari telah mendirikan pesantren di Tebu Ireng.

Di Nusantara, Islam disebarkan dengan pendidikan. Raden fatah adalah santri dari Sunan Ampel. ‘SD IT sunan ampel’ telah menghasilkan raja. Sunan ampel ditugaskan kerajaan Majapahit untuk mengamankan pesisisr utara jawa. Banyak organisasi dan gerakan Islam yang jargonnya berbeda tapi yang tujuannya sama;Muhammadiaah, Persis, NU, PKS, dll, kerjaan nya sama walau ngomongnya beda. Jadi ada `ijma walau tanpa ngomong bahwa pendidkan itu penting.

Apa itu pendidikan? Zaman Rasulullah sallallahu `alaihi wasallam tak ada sekolah. Madrasah dulu adalah madrasahnya ulama; madrasahnya imam syafi`i, imam bukhori, dll. Madrasah bukan bangunan. Pendidikan sekarang direduksi maknanya sebagai pendidikan formal semata. Pemerintah: ‘wajib belajar 12 tahun’, maknanya adalah wajib sekolah. Ada anak yang bantu orang tua, belajar dengan baik, tapi tidak sekolah, maka tak dianggap terdidik. Ada anak yang IQ rendah tapi luar biasa pengabdiannya pada ayahnya tapi orang tetap berkata: “sayang ia tidak sekolah”. Akhlak yang tinggi itu telah terdidik. Jangan kita kena penyakit sehingga berkata kalau tidak sekolah = tidak terdidik.

Berita di kompas mengatakan bahwa santri pesantren di Jawa Timur buta huruf. Apa sebabnya? Karena mereka dianggap tidak sekolah (telah diprotes oleh gubernur Jawa Timur). Jadi jangan samakan pendidikan dan sekolah. Kalau disamakan, artinya saat anak berhenti sekolah maka pendidikannya selesai. Saya gelarnya Doctor, di beri CV; latar belakag pendidikan: S1, S2, dan S3; Ini menyesatkan. Setelah saya S3, apakah saya tidak dididik lagi? Orang sekarang banyak yang kejar gelar/formalitas, tapi tak mengejar ilmunya.

Demi karir, orang rela meninggalkan anak istri bertahun-tahun. padahal tak ada hadits “ tholubul madrasah faridatun ala kulli muslim” Yang ada itu : tholubul ilmi….Istilah ilmu sendiri telah kacau…

Ilmu, science, knowledge….? Ilmu mana yang Rasulullah sallallahu `alahi wasallam perintahkan untuk dicari? Yaitu ilmu yang dapat selamatkan diri dan keluarga dari api neraka.

Globalisasi

Sekarang kita masuk di zaman yang luar biasa; globalisasi. Tahun 70 an, ulama India telah mengatakan bahwa tak pernah dalam sejarah Islam, umat Islam hadapi ujian iman seberat sekarang.

Dalam surah al Angkabut ayat 2-3:

Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya hanya dengan mengatakan,”kami telah beriman”, dan mereka tidak diuji? Dan sungguh, kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan orang-orang yang berdusta.

Allah juga mengingatkan kita bahwa sesungguhnya harta dan anak-anak adalah ujian, harta dan anak-anak itu fitnah (ujian).

Manusia itu aneh. Mengapa? Karena Allah subehana wata`ala menawarkan amanah pada gunung tapi mereka menolak namun manusia mau terima. Kita makhluk yang diberi amanah oleh Allah, karena kita ini mukallaf, dikarunia akal dan telah dewasa. Makanya ada do`a nabi Adam:” Ya Allah kami menzolimi diri kami…”

Jadi kita senang tiasa mendzholimi diri kita padahal seharusnya kita adil pada diri. Contonya saya pribadi: kalau saya sudah makan enak, maka saya tidak mau berhenti. Ini dzolim. Maka dien dan dainun itu satu akar. Jadi kita diberi agama, maka kita ini juga punya banyak utang. Tapi aneh juga, kita suka nambah-nambah amanah; suka jabatan, harta, dll. Sungguh, Allah akan menanyakan tentang segala kenikmat tersebut.

Tentang keluarga, kalau kita berani nikah, 1 istri dan 5 anak (rata-ratanya). Jargon pemerintah: ’2 anak lebih baik. Ini salah. Yang benar: ‘dua anak lebih, baik’. ini yang benar, geser komanya aja. Disini kita harus siap bertanggung jawab. Apa tanggung jawab kita di era globalisasi? Anak kita jarak satu meter, kita harus ngontrol, apa yang ia baca? Banyak orang tua pusing, maka dikirim ke pondok, “disana ada ustadz yang bagus”, katanya .

Ada orang tua bertanya kepada saya: “Ustadz, pesatren yang bagus dimana”? Orang tua sekarang rata-rata beranggapan bahwa pendidikan itu adalah sekolah.

Tentang tanggung jawab, di akhirat masing-masing orang akan bertanggung jawab.

di hari akhir, masing-masing akan lari dari saudara, ibu, ayah, sahabatnya, anaknya, setiap orang pada waktu itu sibuk dengan urusan masing-masing”

Saat itu hanya ada 1 hakim yang maha adil, tak ada pengacara lagi. Kita tak dapat mengelak lagi. Tangan dan kaki bisa jadi saksi.

Surah At tahrim ayat 6:

Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari apa neraka…”

Jadi tak usah pikir presiden atau sultan masuk neraka. Pikir saja anak dan keluargamu. Di Indonesia ini, jualan apa saja laku. Yang mengaku nabi, dulu pelatih bulu tangkis, tapi saat mengaku nabi, ada juga yang ikut. Lia eden, penjual bunga, mengaku sebagai nabi dan mengaku malaikat di tahun 2007, tapi ada juga yang ikut. Padahal tahun 2003 ia masih mengaku pacaran dengan Jibril dalam suratnya.

Kalau kita pikir semua itu, kita stress. Makanya Allah nasehati Rasullah dalam surah Al Maidah ayat 41:

“…Jangan engkau disedihkan karena orang-orang yang berlomba-lomba menuju kekafiran…”

Mereka ”Musabaqoh Ilal Kuffar (MIK, red)”. Awalnya bilang Al Quran itu tidak suci, kemudian lafadz Allah diinjak dengan kaki. Baru-baru ini, di Padang, ‘injak Al Quran langsung’.

Di bandung dituliskan: ‘salamat datang di area bebas tuhan’, mari kita berdzikir berdzikir: ‘anjing hu akbar’. Di Surabaya ditulis ‘tuhan membusuk’. Saat diprotes, mereka berkata: “yang membusuk adalah nilai-nilai ketuhanan”. Kita paham bahasa Indonesia, kita paham makna tuhan membusuk. Apakah kalau kita bilang rektor membusuk sama dengan kita mengatakan nilai-nilai kerektoran yang membusuk?

Amanah kita paling penting adalah jaga dirimu dan keluarga dari api neraka. Sebenarnya kalau gak nikah maka cukup jaga diri, tapi itulah fitrah manusia, mau nikah, mau punya anak. kalau saya, menjadi anggota muhammadiyah, berat, jadi ketua wilayah, berat, Jadi ketua umum, berat. Orang yang mau jadi presiden, gubernur, bupati, itu berat. Saya kasian melihat mereka. Makanya logika imam Abu Hanifah sulit diterima oleh orang sekarang. Ia ditawari jadi pejabat menolak. Jadi Qodi, mentri keuangan, ditolak. Khalifahpun mengancam, ’Bila tak mau akan ditangkap dan dicambuk tiap hari’. Ulamapun datang kepada beliau untuk membujuk menerima jabatan itu, namun Abu hanifah berkata: “saya bersumpah tak mau terima jabatan”. Abu Hanifah dicambuk hanya karena menolak jabatan. Ini tak masuk akal oleh orang sekarang. Pejabat open hause, orang-orang ngantri salaman dengan pejabat. Di zaman Rasulullah tak ada yang seperti itu karena orang kasian dengan pejabat. Di pesantren, pekerjaan yang baik adalah bertani, berdagang, dan bertukang. Oleh karena itu, sampai sekarang masih ada pesantren, misalnya Sidogiri di pasuruan menganggap bahwa uang pemerintah itu syubhat, karena mereka tak tau asalnya dari mana.

ADAB

Ibnu abbas menafsirkan, mengapa kita disuruh jaga diri dan keluarga dari api neraka: “jaga diri dan keluargamu”, maksudnya: didik keluaragamu dengan adab dan ilmu”.

Saya lakukan penelitian tentang konsep adab karena adab rentang banyak istilah:

  • Tarbiyah
  • Ta`lim (proses belajar)
  • Tadzkiyah

Tugas nabi bukan hanya mengajarkan, tapi juga mensucikan mereka. Ada satu istilah yang menarik yang banyak dijumpai dalam hadist, yaitu adab. Banyak kitab ulama yang kita berjumpa istilah adab, ta`dib. Misalnya Imam bukhari, ‘adabul gufro’, Hasyim Asy`ari menulis buku ‘adabul alim wal muta`allim’. Kitab ‘bidayatu wal nihaya: intinya adab; adab tidur,mandi, dll

Saya lihat baik golongan wahabi maupun NU semuanya sepakat tentang adab. Istilah ini banyak dipakai oleh hadits Rasulullah dan kitab-kitab para ulama.

Rasulullah bersabda: “muliakanlah anak-anak mu dan perbaiki adab mereka” (HR.Ibnu Majah)

Mari kita tanyakan kepada diri kita, telah kah kita jalankan? Perbaiki adab anak kita…

Sekarang adab itu hilang dalam kosa kata pendidikan kita dan diganti dengan pendidikan karakter. Tapi kesimpulan saya: karakter tak pelru, yang perlu pendidikan adab. Dalam pendidikan adab, kita telah dapat contoh yang baik dari Rasulullah sallallahu `alaihi wasallam. Kalau karakter, dimana kita mau ambil contohnya? Apakah orang jepang karekter bagus? Atau orang cina yang juga sejak tahun 80 menggembangkan sehingga kita katakana mereka maju?. Katanya karakter orang Indonesia itu sebagaimana [pidato mukhtar lubis tahun 1978:

Ada 7 ciri manusia indoneisa, salah satunya: CIRI UTAMA manusi Indonesia adalah munafik. Tidak mau bertanggung jawab. Kata yang popular pada orang Indonesia, ‘itu bukan saya, tapi anak buah saya’. Indonesia itu suka mantra: pemberantasan korupsi, pembanguna nasional, dll

Di UNJ, dengan semangat pendidikan nasional kita tingkatkan karakter…tapi saya masuk kelas kursi berantakan,gimana ini?

Saya sarankan mukaddimah kitab hasyim asy`ari dibaca. Disitu memang ada hadits doif tapi maknanya bagus dan ditunjang oleh hadits lain:

Hak anak atas orang tuanya adalah:

  1. Ia dapatkan nama yang baik
  2. Memperbaiki persusuannya
  3. Memperbaiki adab anaknya

Rasulullah sallallahu `alaihi wasallam:

Allah telah mendidikku”

Ilmuan modern yang secara khusus mengangkat ini adalah Syekh Naqib Al Attas dalam konfrensi pendidikan Islam I. Beliau keluarkan statement penting tahun 1977. Beliau telah ingatkan dunia Islam bahwa masalah utama umat ini adalah hilangnya adab. Saya telah teliti sendiri dan teryata betul. Di you tube, masih ada wawancara syekh Al Attas dan Syekh Hamah Yusuf, salah satu tokoh penting di Amerika. Beliau bertanya pada syekh Al Attas: “Apa yang menyebabkan akar krisis masalah umat ini?”

Al attas menjawab: lost of adab.

Adab tidak datang dari universitas, tidak datang dari ilmu pengetahuan, tapi adab datang dari hikmah. Orang yang diberi hikmah oleh Allah subehan wata`ala adalah orang beradab. Adab adalah: kemampuan dan kemauan seorang muslim dalam memahami sagala sesuatu sesuai harkat dan martabat yang ditentukan Allah subehana wata`ala. Pendidikan, proses ta`dib, proses penanaman adab dalam diri, maka secara berangsur ia dapat letakkan segala sesuatu sebagaimana mestinya. Kalau sekedar tau, iblis telah tau, namun tak beradab. Adab adalah tau dan mau berbuat dengan baik. Sebagian makna adab adalah akhlak. Jadi adab dan akhlak beririsan. Adab itu lebih luas dari akhlak. Kan tak ada akhlak masuk toilet, masuk mesjid, dll.

Pendidikan kita saat ini masih belum berhasil tanamkan adab dan akhlak. Saya telah berkeliling di sekolah dan kampus Islam, saya bertanya: “mengapa sekolah dan kampus kita tak hasilkan orang beradab mulia?” Beranikah kampus keluarkan mahasiswa tak berakhlak?

Tanamkan pendidikan akhlak konsepnya sederhana.

  1. Banyak keteladanan
  2. Pembiasaan
  3. Penegakan aturan (maka ada sanksi)

Kalau mau didik anak,maka tiga ini. Manusia itu selalu terjebak dengan godaan setan, maka saat rasa malas datang, harus diberi sanksi di atas kasih sayang.

Maka Rasulullah sallallahu `alaihi wasallam mengajatrkan kepada kita: “perbaiki adab anak-anakmu”.

Contohnya adalah Surah lukman, ini contoh nayata orang yang diberi hkmah. Hikmah merupakan karunia Allah subehana wata`ala. Dengan hikmah, kita tau menempatkan sesuatu dengan benar. Dengan hikmah, kita bisa didik anak-anak kita dengan baik. Prof al atas mengatakan “adab datang dari hikmah”. Hikmah adalah ilmu kenabian. Untuk dapat hikmah, maka dalam mencari ilmu maka harus terapkan adab mencari ilmu.

Imam al gazali dalam kitabnya:

Mencari ilmu untuk dunia, supaya manusia berpaling pada anda, maka anda sudah berjalan untuk menghancurkan agama anda, anda merusak agama anda, merusak guru-guru anda, anda menjual akhirat anda. Guru Anda beri Anda pisau tapi Anda gunakan untuk membunuh orang”.

Dulu kami selalu beradab mencari ilmu. Saya tinggal di pesantren. Karena tradisional, kami wajib khatamkan kitab Alim wa muta`allim. Dulu kami tak berani taruh gelas di atas Al Quran, Ini adab terhadap Al Qur`an.

Seorang ulama dalam 1 malam berwudu 17 kali. Mengapa? Ia sakit perut tapi ia tak mau menulis dan menelaah kitab dalam keadaan tak suci. Ustadz Syamsuddin arif di kirim ke Turki untuk belajar kaligrafi dan beliau melihat Syekhnya sebelum menulis huruf alif salalu memastikan dirinya dalam keadaan suci.Imam syafi`i dalam kitab adab muta`alim dituliskan, imam syafi`i berkata: “aku mencari adab seperti seorang ibu yang mencari anak satu-astunya yang hilang”. Imam ahmad muridnya 5000 orang dan hanya 500 yang tulis hadits dan 4500 hanya belajar adabnya Imam Ahmad. Bertahun-tahun ngaji hanya untuk paham adabnya. ibnu Mubarok, seorang tabi`in berkata: “hampir-hampir adab adalah 2/3 agama. Aku cari adab 30 tahun dan belajar ilmu hanya 20 tahun.

Saya membuat ma`had Ali imam Al Ghazali dengan priode belajar satu tahun, non gelar, tak banyak yang mau masuk. Kita banyak lahirkan sarjana tarbiyah tapi cari guru yang baik tak mudah. Pernah ada yang ngetes 1000 guru, yang lulus hanya 15 orang. Saya bertanya kepada seorang dosen: “kalau anak bapak pinter banget, bapak mau masukkan di jurusan tarbiyah?Ia tertawa. Hasilnya, orang pintar sekarang numpuk di kedokteran. Sekarang saya cari guru sejarah yang baik, tapi susah. Guru bahasa indonesia yang baik, sulit. Saya mau guru bahasa Indonesia yang baik yang tidak hanya sampaikan materi dari pemeirntah, sekedar ngajar dan tak punya ruh.

Seorang ulama nasehati anaknya:

Wahai anakku, bergaullah dnegan para fuqoha dan ulama. belajarlah ilmu pada mereka dan ambillah adabnya”.

Didik anak kita beradab dan berilmu. Bagaimana kaitannya dengan lembaga formal? Tetap orang tua wajib mengawal, “ Kamu belajar apa? Sama siapa?” insyaallah, saya ingin perjuangkan agar pendidik Islam itu diakui oleh pemerintah sebagai pendidikan yang sah. Pemerintah sekarang masih menggunakan warisan penjajah;warisan barat.

Seorang dosen UGM berkata: “Sience itu netral”. Faktanya memang tak perlu diislamkan, Yang perlu diislamkan adalah filosofinya. Belajar kedokteran itu netral, tapi untuk apa belajar kedokteran? Ini yang diislamisasikan. Ontology: apa yang kita pelajari? benar atau tidak fakta yang dipelajari? Sebagai contoh, mahasiswa UGM. Tahun I seharusnya belajar ulumuddin: Al Quran, hadits, dan siroh. Kemudian Lihat sikap, sholat, dll. Setelah berubah; adabnya baik, baru dimasukkan fakultas. Saya punya sekolah SMP bernama : Shaolin, karena di shaolin dididik adab.

Mari belajar dari kisah Ibrahim alaihissalam. Beliau berkata: “wahai ayah, saya melihat engkau berada dalam kesesatan”. Ini keras, tapi tetap sopan. Jadi kita juga boleh berkata kepada bapak kita:”pak, bapak itu sesat sekali”. Lalu Ibrahim menghancurkan patung. Ayo coba, kira-kira islam apa Ibrahim? Megatakan bapaknya sesat dan menghancurkan tuhan bapaknya? Jadi gak mesti bahwa sopan adalah lemah lembut. Bergantung situasi. Tau diri, kapan harus keras dan kapan harus lembut. Rasulullah sallallahu `alaihi wasallam cinta damai, tapi orang ngajak perang, maka dilayani. Saat bani nadzir, khaibar, menghianati perjanjian, Rasulullah sallallahu `alaihi wasallam tegas. Ia tunjukkan kekuatan umat Islam. ini bagian dari adab. Saya pernah bertanya kepada sekolah Islam:

wajib kah bela diri?”

Tidak. Itu exkul.”

mengapa exkul? Yang intra? “

PKN,dll”

Dalam Islam, tak ada intra dan ekstra kulikular. Dalam Islam itu tak ada formal, informal, dll. Semuanya adalah pendidikan serius.

Rasulullah sallallahu `alahi wasallam:” jadilah pengajar atau pelajar, atau pendengar, Ciri orang belajar adalah membaca dan menghapal.

Imam syafi`i: “ciri orang bodoh adalah pemburu yang dapat buruan lalau dilepas lagi”.

Cari ilmu, namun setelah didapat, tak ditulis. Sekarang jama`ah pintar hanya minta file. Padahal Sahabat Rasulullah sallallahu `alaihi wasallam bila ketinggalan maka bertanya. Banyak sahabat yang punya catatan hadits berjumlah ribuan, misalnya ibnu mas`ud sekitar 1000-an hadits.

Salah satu kelebihan pendidikan di LDII adalah sebagaimana pengakuan salah satu mantan LDII: “kami 2 tahun ngaji Quran dari alif lam mim sampai annas kata per kata plus qutubusittah”. Seorang Profesor di belanda mengajar bahasa latin: mengajar seperti di pondok. Kata per kata, Tak mau ada satu kata yang lewat. Di sekolah saya, pelajari ‘Adabullinsan’, kitab karangan ulama betawi.

Saya punya mahsiswa S2, guru agama di SMPN 1 Bogor. Di sana, anak yang muslim wajib belajar arab melayu. Apa manfaatnya? Ia mudah membaca baca al quran dengan baik. Ribuan khasanah ulama kita ditulis dengan arab melayu. Tahukah kita bahwa Kemal atartuk memutus sejarah di Turki dengan mengganti bahasa arab dengan bahasa latin. Begitu pula yang terjadi di thailand.

MENDIDIK ANAK

bagaimana cara Mendidik anak?

Surah lukman:

Ayat 13:

“…Wahai anakku, janganlah engkau menyekutukan Allah…”

Pertama, Didik anak kita untuk menempatkan Allah dengan betul. Allah itu kholiq, jangan disamakan dengan makhluk. Dalam surah Maryam ayat 89-90 Allah murka karena dikatakan Allah subehana wata`ala punya anak.

Sungguh kamu telah membawa sesuatu yang sangat mungkar. Hampir-hampirr langit pecah, dan bumi terbelah, dan gunung-guung runtuh, (karena ucapa itu; meraka menuduh Allah punya anak)”

Tugas kita apa? Dakwahi mereka.

Ayat 13:

Laa tusyrik billah..”

Bagi saya, fardu `ain untuk atau pluralisme. Sekarang diajarkan di sekolah dan perguruan tinggi tentang: ‘Paham relativisme’, yaitu semua agama sama di hadapan tuhan. Ini tak beradab namanya.

Pluralisme, yaitu masing-masing agama adalah jalan yang sah menuju pada Tuhan yang sama. Padahal Rasulullah disuruh berkata: “Untuk mu agamamu dan untukku agama ku”, dalam surah Al kafirun.

  • Ayat 14:

Dan kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada orang taunya”.

Ke dua, kita harus didik anak kita agar hormat pad orang tua. Ini sangat penting tapi tidak mudah. Sakarang tengah dibangun mindset adanya orang tua durhaka, bukan anak durhaka. Tugas ini memang gak gampang. Apalagi hal ini semakin langkah dalam pendidikan kita. Saat saya mau nikah, ibu saya bilang: “saya tidak mau (tidak setuju dengan calonnya, red) “.Maka saya cari yang lain, sebagai bukti bakti kepada orang tua saya.

  • Ayat 16:

(Lukman berkata), “wahai anakku, sungguh, jika ada (perbuatan) seberat biji sawi,dan berada dalam batu atau di langit atau di bumi, niscaya Allah akan memberinya (balasan). Sungguh, Allah Maha Halus, Maha Teliti”

Ketiga adalah ihsan: didik mereka untuk sadar bahwa Allah kita selalu mengawasi kita. ini tak mudah karena sekarang sudah ada henphone, dll. Di Malaysia saya berikan pengajian dengan guru-guru tentang LGBT bersama narasumber lain yang mantan gay.

Mantan gay itu berkat bahwa ia jadi homo karena ayahnya berwatak keras sehingga ia kehilangan sosok ayah. Ia gagah namun homo. Mengapa? Karena pengaruh internet. Kalau di sekolah, ia tertarik pada guru agamanya. Di masjid, tertarik pada imam masjidnya. Na`udzubillah… Maka saipa yang bisa mengawal semua ini? Tauhid!

  • Ayat 17:

Keempat adalah sholat dan amal ma`ruf nahi mungkar. ” wahai anakku,tegakkan sholat, tegakkan amal ma`ruf dan nahi mungkar”. Apakah kita telah siapkan anak kita sebagai pejuang dakwah? Saya sarankan di sekolah umum dan pondok pesantran untuk mengajarkan siswanya sebagai pejuang dakwah. Apa manfaatnya belajar sosiologi? Megapa santri diajari sosiologi? Sedangkan fardu `ain tak diajarkan, yaitu didik anak jadi pejuang agama. Imam Ghozali dalam ihya ulumuddin menulis ‘amar ma`ruf nahi mungkar’. Banyak anak yang sudah hapal Qur`an tapi masih lemah lemah, gak nurut orang tua, maka ini masalah. Hapal quran itu tidak fardu `ain, tapi belajar adab itu fardu `ain. Kalau adab ditegakkan maka kalah orang-orang kafir. satu orang Islam dapat mengalahkan 10 orang kafir (surah Al Anfal). Tapi saya ingatkan bahwa latihan bela diri adalah untuk dakwah dan jihad. Misalnya:

  1. Mendakwahi preman, ini butuh keberanian.
  2. Mendakwahi Orang pacaran, meraka harus dinasehati, datangi baik-baik, tapi fisik kita harus siap dengan segala kondisi.

Rasululllah adalah orang-orang terbaik di Zamannya. Beliau haus ilmu, scinentific society (masyarakat ilmiah). Ia tak biarkan kesalahan, pasti dikoreksi, namun juga hebat sekali fisiknya. Rasulullah sudah 60 tahun namun masih memimpin perang. Amar ma`ruf nahi mungkar ini penting.

Dalam amar ma`ruf, Allah menyuruh kita bersabar sebagaimana di akhir ayat surah lukmat ayat 17, “dan sabarlah kamu terhadap apa yang menimpamu”.

  • Ayat 18:

Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri”

Kelima, didik anak-anak kita untuk bergaul dengan masyarakat agar tak sombong, hati-hati dalam berbicara. Ini etika, sopan santun, budaya. Kita harus tau apa kebiasaan masyarakat di tempat tersebut.

Surat lukman bila diamalkan sebagi orang tua, maka anak kita akan beradab dan berilmu.

Ingat, Ibnu abbas mewasiatkan kita: “Beradab dan berilmu lah”

*Catatan kuliah peradaban bersama Ust. Adian Husaini, Ph.D.,

Senin 4 Mei 2015

@Masjid Jogokaryan, Yogyakarta

Oleh. Andi Muh. Akhyar, S.Pd**

** Mahasiswa Pasacasarjana UGM | Pembina LIDMI Jawa-Bali | [email protected]

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share post:

Subscribe

spot_img

Popular

More like this
Related

Menindaklajuti pertemuan di Perlis, Dr. Juanda Asal Malaysia Kunjungi Kantor DPP Wahdah Islamiyah Jakarta

JAKARTA,wahdah.or.id - Ketua Penolong Pengarah Dakwah Jabatan Agama Islam...

Peserta Didik Sekolah Inspirasi Laznas WIZ Raih Juara Lomba di Al Qalam Gowa Islamic Competition 2024

GOWA, wahdah.or.id - Seorang murid Sekolah Inspirasi Laznas Wahdah...

Ada 3 Jenis Hati, Berikut Penjelasan dan Cara Menghidupkan Hati yang Sakit atau Mati

Jenis hati itu ada tiga. Hati yang sehat, hati...

Ketua DPW Maluku, Ust. Firman: Jaga Semangat Menolong Agama Allah, Allah Akan Berikan Pertolongan-Nya

AMBON, wahdah.or.id -- Satu lagi Dewan Pengurus Daerah Wahdah...
Penataran Seputar Ramadan 1445 H