Pencetak Dai  dari Timur
Muhammad Zaitun Rasmin, Lc
Ketua Umum DPP Wahdah Islamiyah
(Majalah Hidayatullah Ed.02/Juni 2009 Kolom Figur Hal.40)

Sub Judul:

  • Syariat Bisa Tegak dalam Bingkai NKRI
  • Berdakwah Hingga Negeri Sakura
  • "Dia Toleran tapi Tegas" (Drs.H.Aswar Hasan, M.Si/Pengurus Forum Ukhuwah Islamiyah Sulsel

Sekitar tahun 1984, beberapa Mahasiswa Islam di Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar, Sulawesi Selatan, sepakat menggelar pengajian di kampus. Muncul suatu masalah kecil, siapa dai yang akan diundang?

Masalah tersebut menjadi besar manakala tak kunjung ditemukan dai yang akrab dengan komunitas kampus. Organisasi massa Islam yang ada di sana kurang dekat dengan mahasiswa. Sementara komunitas kampus umum seperti Unhas tak memiliki dai yang menguasai ilmu-ilmu islam secara memadai.

Masalah ini diam-diam mengendap di benak salah seorang mahasiswa Unhas kala itu. Ia bernama Zaitun Rasmin, mahasiswa Fakultas Pertanian semester 4. Menurutnya kondisi seperti ini tak bisa dibiarkan berlarut-larut. Harus ada mahasiswa yang mau mengorbankan waktunya untuk memperdalam ilmu agama.

Maka, ia dan rekan-rekannya mulai gencar mengkaji ilmu-ilmu Islam untuk bekal dakwah. Rupanya ini saja tidak cukup.

Terbesitlah niat di hati Zaitun untuk banting setir. “Biarlah saya fokus di dakwah, sementara teman-teman melanjutkan kuliah,” ujar Zaitun yang akhirnya memutuskan berhenti kuliah. Sejak itu, Zaitun mulai menghabiskan waktunya dengan belajar bahasa arab.

Sembari belajar, Zaitun tetap menjalankan aktivitas dakwahnya. Malah, untuk memuluskan jalan dakwah ini, ia mendirikan sebuah Yayasan bernama Fathul Mu’in.

Zaitun lebih banyak belajar bahasa Arab secara otodidak. Maklum, tenaga pendidik yang menguasai bahasa arab saat itu sangat kurang. Keadaan seperti ini lagi-lagi membuat hatinya risau. Ia merasa belum memenuhi syarat untuk menjadi seorang dai, yaitu menguasai bahasa Arab dan ilmu-ilmu syar’i.

Maka, berangkatlah Zaitun ke Jakarta untuk menuntut ilmu di LPBA (Lembaga Pendidikan Bahasa Arab, sekarang berubah nama LIPIA) untuk mengobati kerisauannya.

Kurang lebih 1,5 tahun menuntut ilmu di LPBA, Zaitun mendapat anugerah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT) berupa beasiswa belajar ke Madinah. Selama 4 tahun ia mendalami ilmu syariah di Universitas Islam Madinah. Selesai kuliah tahun 1995. Zaitun kembali ke Makassar untuk melanjutkan dakwah.

Pada tanggal 19 Februari 1998, yayasan yang ia dirikan berubah namanya menjadi Wahdah Islamiyah. “Kami memiliki harapan dan cita-cita besar. Ke depan, kami ingin melihat persatuan umat Islam di atas kebenaran,” kata Zaitun berharap.

Di Indonesia bagian Timur inilah harapan dan cita-cita ia bangun. Baginya, untuk membangun cita-cita itu, dibutuhkan banyak tenaga dai yang berilmu. Wujud dari itu semua, bersama dengan kawan-kawannya, ia mendirikan Sekolah Tinggi Ilmu Bahasa Arab (STIBA) pada tahun 1998. Sekolah mereka beri nama Ma’had ‘Aly Al Wahdah, berada di bawah naungan Yayasan Pesantren Wahdah Islamiyah (YPWI).

Selain sekolah tinggi, mereka juga mendirikan sejumlah TKA dan TPA, beberapa amal usaha seperti BMT, toko buku, dan perkebunan.

“Ini murni dibuat oleh anak-anak dari Timur (Makassar) dan tempatnya hanya masjid. Pada perkembangannya, alhamdulillah, kami mulai mendapatkan bantuan (dari donatur),”akunya.

Sejak tahun 2002, Wahdah Islamiyah telah berubah menjadi organisasi masyarakat (ormas) Islam. Ormas ini kian lama kian tumbuh menjadi besar di Sulawesi. Hingga kini mereka telah memiliki 35 cabang dan 43 daerah binaan. Beberapa diantaranya bahkan berada di luar Sulawesi.

Untuk mengetahui bagaimana upaya Zaitun mengembangkan dakwah bersama ormas yang dibangunnya, serta bersinergi dengan ormas-ormas Islam lain di Sulawesi, wartawan suara Hidayatullah, Ahmad Damanik dan Masykur mewawancarai pria yang lahir 43 tahun silam ini.

Wawancara ini dilakukan secara bertahap. Sebagian dilakukan melalui sambungan telepon menjelang tengah malam usai Zaitun pulang dari pertemuan ormas Islam di Makassar, selebihnya dilakukan di sela-sela aktivitas dakwahnya di Jakarta. Berikut petikannya.

Apa yang mendasari perubahan Wahdah Islamiyah dari yayasan menjadi ormas?
Kami melihat semakin lama yayasan dengan segala amal usahanya kian berkembang. Alhamdulillah. Anggota Wahdah semakin hari semakin bertambah.

Lalu pada tahun 2000-an, terbit undang-undang yang tidak membolehkan yayasan memiliki keanggotaan. Yayasan hanya untuk badan hukum yang di dalamnya tidak ada anggota.

Karena peraturan baru ini kami harus mengubah diri. Apalagi kami memiliki anggota yang terus dibina. Maka kami mendaftarkan diri menjadi ormas pada tahun 2002 ke Dirjen Kesbangpol Depdagri. Pada saat itu, Wahdah sudah mempunyai 20 cabang se-Indonesia.

Mengapa lebih fokus pada wilayah Timur?
Yang pertama, karena kami orang Timur. Kami besar dan lahir di Makassar. Maka secara alamiah kami memulai dan mengembangkan dakwah di sana.

Alhamdulillah, dimulai dari Makassar, kami berkembang ke wilayah lain di Sulawesi Selatan hingga beberapa daerah di Indonesia Timur.

Alasan lain, dibandingkan wilayah Barat, wilayah timur masih sangat sedikit proses dakwah. Namun, bukan berarti tidak ada kewajiban untuk mengembangkan dakwah ke wilayah Barat. Dengan segala hormat kepada seluruh ormas Islam lainnya kami juga ingin berpartisipasi mengembangkan dakwah di daerah Barat.

Makanya, sekarang kami membuka cabang dan daerah binaan di beberapa daerah di Sumatera, seperti Aceh dan Lampung.

Apa tantangan yang paling menonjol dakwah di wilayah Timur?
Saya kira tantangannya sama saja, Timur maupun Barat. Secara umum, kaum Muslimin di Indonesia saat ini kurang peduli dan memahami ajaran Islam. Tantangan lain adalah arus modernisasi, pengaruh media komunikasi, apalagi televisi. Ini tantangan yang tidak kecil dalam dakwah. Kami menyadari tugas ini tidak ringan. Tapi kami tetap optimis, insya Allah, jika kami terus bekerja, bersinergi dengan komponen dakwah yang lain, kelak akan terjadi perubahan yang signifikan pada umat kita.

Kalau dari segi ideologi gerakan, Wahdah menginduk kemana?
Tidak ada. Wahdah adalah organisasi independen seratus persen. Tidak ada induknya di dalam atau luar negeri.

Wahdah Islamiyah adalah ormas Islam berdasarkan al-Qur’an dan Hadits, mengikuti paham ahlussunnah wal jama’ah.

Bagaimana rekrutment kader di Wahdah?
Seperti biasa melalui dakwah di majelis taklim, pengajian di masjid-masjid, LDK, dan daurah syar’iyah. Mereka yang serius ingin menuntut ilmu, memperdalam agama, kami bina lewat berbagai program khusus. Jika ada yang ingin lebih memperdalam secara intensif dan sistematis, kami masukkan ke STIBA atau program tadribut du’at.

Apakah ada tingkatan para kader?
Tentu saja ada. Ada kader pemula, lanjutan, dan da’i.

Apa peran anda sendiri dalam membina kader?
Saya membina kader-kader utama dan para ustadz melalui halaqah. Saya juga mengarahkan pengurus, dan berkunjung ke berbagai cabang.

Banyak ormas yang pecah karena perbedaan paham antar kader. Bagaimana Wahdah menyikapi hal ini agar ini tidak terjadi?

Alhamdulillah perpecahan tidak ada di tubuh wahdah. Saya memang sangat menekankan keikhlasan, bahwa siapapun bergabung di sini semata-mata mencari ridha Allah Subhanallah wa Ta’ala, bukan yang lain.

Apakah ada aturan soal keikutsertaan dalam politik praktis?
Ya, kami tidak mengijinkan anggota wahdah untuk ikut partai politik. Kalau ada yang ikut parpol harus dinonaktifkan keanggotaannya.

Namun, kami berpartisipasi aktif dalam kegiatan politik dengan cara memberikan suara kepada calon anggota legislatif (caleg) atau partai yang kami anggap dapat memperjuangkan aspirasi umat, memperkecil kemudharatan, atau membawa kemaslahatan.

Apakah menurut anda politik rentan memecah belah?
Ya, rentan sekali. Kalau sudah ada tarik menarik kepentingan, masalah pasti muncul. Inilah salah satu hal yang kita jaga. Jangan ada perpecahan karena konflik kepentingan.

Pernah melakukan penonaktifan anggota?
Ada, selama periode ini sudah dua orang yang dinonaktifkan karena bergabung dengan partai politik dan menjadi caleg.

Apa yang membedakan Wahdah dengan ormas Islam lain dalam hal metodologi dakwah?
Kami memadukan kekuatan ilmu Syar’i dengan semangat perjuangan yang tinggi, dibarengi komunikasi dan pembinaan ukuhuwah kepada kaum muslimin pada umumnya. Itulah strategi perjuangan kami.

Bagaimana penjabarannya?
Kami tidak ingin belajar ilmu untuk ilmu. Namun, untuk diamalkan di dakwahkan, lalu diarahkan untuk memperjuangkan Islam. Dalam memperjuangkan Islam, kami tidak boleh sendirian. Kami harus menjaga hubungan baik dengan komponen Islam lainnya, termasuk dengan pemeritah sebagai partner.

Apa yang anda tekankan pada anggota Wahdah?
Kami berusaha komitmen dengan penegakan syariat Islam. Apa yang kami ketahui dari sunnah, benar-benar harus kami amalkan, apalagi yang wajib. Itulah yang selalu saya tekankan kepada anggota Wahdah.

Untuk itu kami melakukan pembinaan secara internal agar setiap kader bisa menjalankan syariat secara penuh, sesuai dengan kemampuannya.

Bagaimana Wahdah berkomunikasi dengan umat Islam di luar Wahdah?
Kami menggunakan pendekatan proses. Ketika ada hal yang berbeda dari objek dakwah, kami tidak serta merta memandang mereka lebih rendah dari kami. Bahkan, kadang-kadang kami mengatakan mungkin mereka lebih baik dalam hal yang lain.

Seperti halnya mengajak masyarakat mengikuti manhaj ahlus sunnah wal jama’ah dan pemahaman salafus shalih. Jika mereka belum bisa melakukan sepenuhnya, tidak boleh menuduh mereka bukan ahlus sunnah, bukan salafi!

Begitu juga ketika ada objek dakwah yang terjebak pada bid’ah, jangan cap mereka sebagai ahli bid’ah. Syaikh Imam Albani Rahimahullah berkata, tidak setiap orang yang jatuh dalam bid’ah berarti ahli bid’ah. Masih ada syarat-syarat lain seseorang disebut ahli bid’ah.

Bagaimana Anda menjaga agar kader Wahdah tidak terjebak pada perbuatan bid’ah?
Kami memiliki dewan syariah yang bisa langsung mengintervensi kebijakan hingga ke tingkat pemula. Dengan cara itu kami berusaha semaksimal mungkin meluruskan apa-apa yang keliru dan bid’ah.

Syariat Bisa Tegak dalam bingkai NKRI

Sekitar pertengahan Februari lalu, dalam sebuah acara di Taman Mini Indonesia Indah Jakarta, pimpinan salah satu partai yang kini resmi menjadi calon wakil presiden (cawapres) RI, berceramah di hadapan ulama dan para pengurus pesantren se-Indonesia. Saat itu, ia bukan mencalonkan diri sebagai cawapres, namun calon presiden (capres).

Ditengah ceramah itu, seorang pria dengan janggut sedikit panjang, mengacungkan jari. Ia hendak mengajukan sebuah pertanyaan.

Sang capres tidak marah. Ia malah memberikan kesempatan kepada laki-laki itu untuk berbicara. Maka, dengan suara berat dan logat khas Sulawesi, lelaki itu bertanya, “Indonesia ini butuh pemimpin yang berani, tegas, dan memperhatikan rakyatnya. Jika bapak nanti menjadi presiden, apakah bisa memberikan dukungan aspirasi umat Islam untuk mewujudkan syariat Islam?”

Seketika sang capres terdiam. Berfikir sejenak, lalu keluarlah penjelasan panjang lebar dari mulutnya. Inti penjelasannya meminta agar umat Islam berlapang dada di tengah masyarakat yang heterogen. Jangan memaksakan kehendak.

Mendengar penjelasan itu, sang penanya kecewa. “Kalau dia seorang politisi, seharusnya dia bisa menjawab secara diplomatis. Misalnya, dia bisa bilang, “Kalau seluruh rakyat mendukung, kenapa tidak?. Apalagi peserta seluruh yang hadir adalah pimpinan pondok pesantren,”kata laki-laki itu.

Sang penanya tak lain adalah Muhammad Zaitun Rasmin. Ia sendiri sesungguhnya sadar tak mungkin menerapkan syariat Islam di Indonesia secara mendadak. “Tapi paling tidak cobalah untuk welcome (menerima dengan baik). Jangan diskriminatif, “jelas Pengurus Pusat Badan Kerjasama Pondok Pesantren se-Indonesia (BKSPPI) ini kepada Suara Hidayatullah.

Apa harapan Anda terhadap pasangan capres cawapres terhadap penegakan Syariat Islam?
Saya, dan tentunya juga ummat Islam di Indonesia, berharap para capres-cawapres kelak mau memberikan ruang kepada ummat Islam untuk melaksanakan agama mereka secara maksimal. Termasuk, pemberlakuan hukum-hukum Allah atas mereka. Itu juga sudah dijamin dalam UUD 45, khususnya dalam Piagam Jakarta

Tapi, bukankah akan muncul resistensi dari umat Islam ?
Itulah tugas pemerintah. Fungsi pemerintah kan menjelaskan yang tidak jelas, pertegas yang tidak tegas. Kalau pemerintah secara serius memberikan penjelasan, umat akan tahu.
   
Kami pernah mencoba melakukan penjelasan dengan tokoh – tokoh agama lain, mereka paham, bahwa ini tidak menyentuh agama mereka.
   
Kalaupun kemudian ada ungkapan penegakan syariat Islam ini akan mengancam kesatuan NKRI, itu sesuatu yang dibesar-besarkan saja.

Wahdah memiliki puluhan dai lulusan Timur Tengah. Apa yang Anda persiapkan dengan keberadaan mereka ini ?
Mereka modal utama mewujudkan cita-cita yang lebih baik. Gerakan perbaikan umat harus berangkat dari ilmu, sebagaimana dakwah yang dulu dilakukan Nabi. Kita butuh begitu banyak orang yang berilmu. Karena itu, kader-kader Wahdah diharuskan menjadi orang-orang berilmu. Dan dari mereka ini, lewat sebuah mekanisme tertentu, harus melahirkan lebih banyak lagi orang-orang berilmu.
   
Nah jika gerakan ini terus berlangsung, Insya Allah dalam 10 tahun ke depan, umat ini akan berangkat kualitasnya. Jumlah dai yang memiliki ilmu syar’i akan memadai.

Apakah ada modul yang sistematis yang Anda siapkan bagi pendidikan pada dai ini ?
Itu sudah jelas, kami ini lembaga dakwah yang terorganisir. Konsep pendidikan harus baku dan bisa ditransformasikan dengan mudah di berbagai tempat. Kami telah membuat semacam kurikulum pembinaan. Kurikulum itu bisa kita bakukan secara terbuka dalam Ma’had.

Bagaimana tahapan perjuangan menegakkan syariat Islam yang ditempuh Wahdah ?
Pertama, penyebaran Ilmu Islam. Sebab, sumber penyakit kaum Muslimin hari ini adalah lemahnya ilmu. Ini disebabkan pula oleh pihak-pihak tertentu yang berupaya mendistorsi pemahaman Islam.
   
Kedua, pembinaan. Ilmu-ilmu yang hanya didapat dari kaset, buku atau diajarkan di kelas, jika tanpa pembinaan, hanya menjadi pengetahuan. Tidak terhunjam dalam hati dan tidak berwujud pada pengalaman.
   
Karena itu, di sekolah-sekolah Islam, kalau tidak dibarengi dengan pembinaan secara insentif, belajar agama tidak ada bedanya seperti belajar matematika.

Seperti apa praktik pembinaan yang Anda maksudkan ?
Seorang dai, selain mentransfer ilmu kepada masyarakat, juga harus bisa berbuat seolah-olah seorang bapak kepada anaknya. Dia bisa berkomunikasi kepada masyarakat bukan saja ketika berceramah, tetapi dia harus mau berziarah ke rumah mereka, mengetahui problem-problem mereka, mencari solusi atas masalah yang mereka hadapi, menegur jika ada hal-hal yang tidak benar, atau memuji jika ada hal-hal yang baik.

Setelah semua itu terbangun, apa cita-cita final yang hendak Anda raih ?
Semua orang yang mempelajari Islam dengan benar akan mengetahui apa tujuan dakwah. Intinya, penegakkan hukum-hukum Allah di muka bumi ini. Melalui pembinaan akan muncul semangat mengamalkan, mendakwahkan, kemudian akan terbentuk komunitas-komunitas yang cinta kepada ajaran Islam. 
   
Jika komunitas itu semakin besar tentu mereka akan bersama-sama mewujudkan tegaknya Islam yang ideal.

Bagi sebagian umat Islam, istilah penegakkan syariat Islam itu menakutkan. Bagaimana pendapat Anda ?
Ini stigma musuh-musuh Islam. Seolah-olah orang yang mau menegakkan syariat Islam akan mengancam kebebasan orang lain atau memaksakan kehendak kepada orang lain. Padahal tidak. Mereka yang menganut paham demokrasi seharusnya menerima selama mereka memperjuangkan hal itu secara baik-baik.

Apakah menurut Anda syariat Islam bisa tegak dalam bingkai NKRI ?
Bisa ! Dalam konsep Islam, bentuk Negara tiak ada yang mutlak. Meskipun dalam sejarah Islam ada yang dominan, seperti khalifah, tetapi jangan dilupakan bahwa syariat Islam dalam bentuk kerajaan pun boleh.
   
Karenanya,  kita tidak perlu apriori dengan bentuk negara. Ketika ada harapan dan cita-cita untuk tegaknya syariat Islam, selama diperjuangkan dengan cara-cara baik-baik, tidak perlu dikhawatirkan.

Tapi ada isilah NKRI sudah final. Bagaimana menurut Anda ?
NKRI sudah final itu istilah yang harus dihilangkan. NKRI itu bisa menjadi wadah kaum Muslimin untuk menerapkan cita-cita ideal menerapkan syariat Islam. Bagi kami, dalam keadaan seperti ini, pilihan menegakkan syariat Islam dalam bingkai NKRI adalah yang paling tepat. Kalau kita memikirkan bentuk yang lain, bisa-bisa kehabisan tenaga.

Berdakwah Hingga Negeri Sakura

Zaitun pernah mendapat kesempatan mengajar di Islamic Arabic Institute of Tokyo, Jepang, selama 4 tahun. Di negara Sakura itu, ustadz kelahiran Gorontalo, 43 tahun silam ini mengajar bahasa Arab.

Sebagian besar muridnya beragama non-Muslim. Ada yang Kristen, Budha, juga penyembah matahari (Shin Tao). Motivasi mereka belajar berbeda-beda. Ada yang ingin bekerja di keduataan asing, di perusahaan Arab, ada juga beberapa doktor yang ingin meneliti di Timur Tengah. Pasca tragedi September 1999 memang banyak orang Jepang yang ingin tahu Islam.
   
Di luar jam pelajaran, murid-murid Zaitun ini banyak bertanya tentang Islam. “Mereka  sangat  antusias.  Apalagi  ketika saya menawarkan diri untuk membacakan Al-Qur’an,” jelas pendiri  Forum Ukhuwah Pemuda Islam (FUPI) Sulawesi Selatan ini.
   
Mereka tidak percaya bahwa Al-Qur’an yang berjumlah lebih dari 6 ribu ayat bisa dihapal oleh ribuan orang di dunia ini.
   
Apalagi saat Zaitun meyakinkan bahwa Al-Qur’an dihapal hingga titik dan komanya. ”Mereka selalu bertanya, ‘apa mungkin ?” terang Zaitun yang juga imam dan khatib di tempat ia mengajar ini.
   
“Alhamdulillah, berkat hidayah Allah, lebih dari 40 orang Jepang menjadi muslim,” terang Zaitun lagi.

Sampai hari ini, Zaitun masih diminta kampusnya di Jepang untuk mengajar kembali di sana, tetapi, Zaitun tegas menjawab, “Terima kasih, saya punya tugas dakwah lebih besar di Negeri ini.”
   

“Dia Toleran tapi Tegas”

Drs. H. Azwar Hasan., M.Si

Pengurus Forum Ukhuwah Islamiyah Sulawesi Selatan

Bagi saya, dalam diri Zaitun Rasmin ada dua sosok berbeda. Pertama, ia tokoh intelektual, ia aktifis Islam. Uniknya, Zaitun juga bisa menggabungkan kedua sosok itu dalam diri kader-kadernya.
   
Zaitun berhasil mengisi ruang sejarah dakwah Sulawesi Selatan (Sulsel) yang sempat terputus selama ini. Dahulu, masyarakat Sulsel mengenal beberapa Kiai kharismatik KH. As’ad dengan pesantren As’sadiyahnya di Sengkang, KH. Sanusi Baco, dan tokoh lainnya.
   
Namun, sejak munculnya Zaitun Rasmin mata rantai yang sempat terputus itu kini berlanjut lagi di eranya sekarang (90-2000-an).

Kiprah Zaitun tak lepas dari pemahaman keislaman yang baik yang berbasis akidah salaf shalih, Insya Allah. Lewat pemahaman tersebut Zaitun bisa mendakwahkan agama dengan begitu toleran kepada masyarakat.  

Dakwah Wahdah relatif bisa mengeliminir gesekan dengan masyarakat sebagaimana yang sering terjadi pada pendakhwah salaf. Meski demikian Zaitun tidak pernah toleran terhadap hal-hal yang menyimpang dari agama ini. 

Zaitun bisa menjadi tokoh perekat berbagai ormas Islam. Ia mampu merangkul kekuatan umat Islam yang berbeda pandangan. Namun, ia bisa tak memberi toleransi kepada kelompok yang menyimpang dari ajaran ahlus sunnah, seperti Syiah, Ahmadiyah, dan aliran sesat lainnya. *Masykur/Suara Hidayatullah.

Artikulli paraprakPartai Islam Jangan Kalah Gertak
Artikulli tjetërLisan; Pedang Bermata Dua

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini