Hampir genap tiga semester lamanya Covid-19 mendera dunia. Tanpa direncanakan, pandemi yang terjadi menyusul situasi transformasi digital itu telah mempercepat disrupsi pada hampir semua bidang. Dunia terkejut. Manusia tergopoh-gopoh menyusun ulang skala prioritasnya. Kita tetiba sudah berada di sebuah era baru dengan penamaan yang setengah hati: new normal.

Di bidang pendidikan, new normal itu membawa ujian dengan soal-soal yang mendalam tapi dirasakan secara praktis hingga ke kampung-kampung nun jauh di lereng gunung. Apa arti sekolah tapi dilakukan di rumah? Apa makna pendidikan? Dimana batas tugas guru dan orang tua? Sejauhmana peran gadget dalam pembelajaran? Apa peran teknologi informasi dan komunikasi? Kurikulum “today” apa yang bisa siswa pelajari agar bisa relevan “tomorrow”? Siapa yang berhak menjawab bahkan memutuskan soal-soal itu, orang tua, guru, kepala sekolah, siswa, pemangku kebijakan, atau pakar pendidikan? Menarik, di tanah air, sejumlah pihak yang terlibat dalam dunia pendidikan berlomba menyusun peta jalan pendidikan.

Pada masa krisis, fenomena mengemukanya soal-soal dasar itu merupakan fitrah. Perubahan dunia pendidikan yang dramatis menuntut adaptasi berupa pemaknaan kembali atau aktualisasi terhadap konsep-konsep dasar pendidikan itu sendiri. Mengutip Utusan Khusus Literasi untuk Pembangunan UNESCO, “In crisis, it is acceptable to have more questions than answers. In crisis, there’s no room for ‘not-invented-here’. In crisis, we should all be learners.” Meminjam dari istilah gadget yang populer, “setelah restart oleh Covid-19, dunia mesti mengalami sinkronisasi.”

Untuk menjawab soal-soal fitrawi tentang pendidikan itu, sangat relevan untuk mengingat kembali makna dan implikasi fitrah dalam pendidikan itu sendiri. Berbicara tentang fitrah, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mengartikannya dengan sifat asal, kesucian, bakat, dan pembawaan. Sedangkan menurut Dr. Ahmad ar-Raisuni, Ketua al-Ittihad al-Alami li Ulama’il Muslimin/Persatuan Ulama Internasional, walaupun mengandung banyak arti, fitrah biasanya diartikan sesuai dengan makna yang terkandung pada teks-teks berikut.

Pertama, firman Allah, “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus ; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. Dengan kembali bertobat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta laksanakanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah,” (QS. ar-Ruum: 30-31)

Kedua, hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Tidak ada manusia yang dilahirkan kecuali dalam keadaan fitrah. Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya beragama Yahudi atau Nasrani atau Majusi. Sebagaimana onta melahirkan onta yang utuh (anggota tubuhnya), maka apakah kalian tahu ada yang putus telinganya.”

Kemudian Abu Hurairah membaca firman Allah, “(tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah.” (QS. ar-Ruum: 30)

Dan ketiga, hadits Aisyah Radhiyallahu anha, Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sepuluh hal termasuk dalam fitrah: mencukur kumis, merawat jenggot, bersiwak, menghirup air ke hidung (dalam wudhu), memotong kuku, mencuci pergelangan jari, mencabut bulu ketiak, mencukur rambut kemaluan, cebok dengan air.” Kemudian rawi yang ragu menyebut: berkumur (dalam wudhu).

Setelah mengutip pendapat pakar-pakar bahasa Arab serta keterangan ulama, ar-Raisuni kemudian menyimpulkan analisisnya terhadap makna fitrah beserta implikasinya sebagai berikut.

  1. Fitrah merupakan karakter dasar manusia pemberian Allah Ta’ala.
  2. Simpul karakter fitrah tersebut berupa istiqamah dan kesempurnaan (as-salamah)
  3. Karakter turunan dari simpul fitrah tersebut antara lain ubudiyah dan tahid kepada Allah Ta’ala (aspek aqidah), kecenderungan kepada kebaikan dan resistensikepada sifat-sifat keji (aspek hati), serta sikap tulus dan jujur (aspek perbuatan).
  4. Fitrah ini Allah berikan kepada semua anak manusia tanpa kecuali
  5. Dalam periode kehidupan selanjutnya, fitrah ini mungkin terpapar oleh pengaruh negatif yang dapat mengurangi kualitasnya, namun dia tidak dapat hilang sama sekali atau berubah nilainya.

Dari kajian ar-Raisuni di atas, kita jadi tahu bahwa fitrah merupakan karakter positif dan bawaan dasar dalam diri manusia yang selalu melekat padanya. Karakter ini mencakup aspek-aspek lahir maupun batin. Pada gilirannya, lingkungan mungkin berdampak secara negatif kepada fitrah seseorang, namun tidak sampai menghapusnya sama sekali.

Fitrah, dengan kata lain, adalah realitas manusia itu sendiri dalam versinya yang asli. Sehingga pendidikan berbasis fitrah tidak lebih dari upaya mengembalikan manusia itu kepada kemurniannya bahkan mengembangkan potensi kebaikan yang ada padanya. Keterangan Al-Qur’an dan Nabi Shallallahu alaihi wasallam, yang dikutip ar-Raisuni di atas, gamblang mencontohkan cara merawat dan mengembangkan fitrah itu. Keterangan-keterangan berikut ini mudah-mudahan menambah jelas praksis pendidikan berbasis fitrah.

Abdullah bin Abbas Radhiyallahu anhuma menceritakan, suatu hari saya berada di belakang Nabi Shallallahu alaihi wasallam. Beliau bersabda, “Nak, aku ajarkan kepadamu beberapa pelajaran. Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya kau dapati Dia di hadapanmu. Jika engkau meminta, mintalah kepada Allah, dan jika engkau memohon pertolongan, mohonlah kepada Allah. Ketahuilah, seandainya seluruh umat bersatu untuk memberimu suatu keuntungan, maka hal itu tidak akan kamu peroleh kecuali yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan andaipun mereka bersatu untuk membahayakanmu dengan sesuatu, maka hal itu tidak akan membahayakanmu kecuali yang telah Allah tetapkan untukmu. Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.” [HR. Tirmidzi, 2516].

Dalam keterangan lain, Umar bin Abi Salamah Radhiyallahu anhuma berkata, Rasulullah Shalallahu alaihi wassallam bersabda kepadaku, “Sebutlah Nama Allah (baca bismillah sebelum makan), makanlah dengan tangan kanan, serta makanlah makanan yang terdekat denganmu.” [HR. Bukhari-Muslim].

Sampai di sini, kita segera bisa paham kesalahan pandangan yang melihat manusia hanya dari aspek lahirnya saja. Yang lebih parah lagi, mengabaikan secara sengaja (ignorant) aspek batinnya. Akibatnya, agama yang sejatinya berfungsi untuk menjaga kemurnian serta menumbuhkan potensi fitrah, tidak dianggap signifikan. Tidak lebih baik dari itu, pandangan yang memosisikan manusia sebagai makhluk yang bersifat dasar jahat. Sehingga sikap tulus, jujur, dan perilaku utama lainnya dipandang ganjil atau hipokrit. Setidaknya, menurut pandangan ini, setiap manusia menyimpan ironi dalam kehidupannya.

Padahal, Al-Qur’an telah mengajarkan doa: “Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami dari pasangan dan keturunan kami sebagai penyenang hati, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan: 74)

Maka, kembalikan pendidikan kepada fitrah atau pendidikan kita tidak akan pernah melahirkan manusia seutuhnya.

Wallahu a’lam bis shawab…

 

Oleh: Ust. Ilham Jaya R

(Kandidat Doktor Almadinah International University Malaysia, Ketua DPW WI DKI Jakarta & Depok, dan Direktur Basaer Asia Publishing)

Berita sebelumyaHIJAB SYAR,I PELINDUNG DIRI FAKTA DAN DATA
Berita berikutnyaJEJAK IMAM AL-BUKHARI DALAM MENUNTUT ILMU

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here