Karakter pertama yang mesti ada dalam diri seorang murabbi dan murabbiyah adalah menjadi ahli ibadah dan ketaatan. Ia senantiasa memotivasi dirinya untuk beribadah dengan menegakkan kewajiban beserta amalan-amalan sunah. Mengisi waktu-waktu ibadah dengan baik, konsisten dengan wirid hariannya berupa zikir atau bacaan Al-Quran, memperbanyak doa dan harapan kepada Allah, bersikap wara’ dan zuhud, melembutkan hati serta menjauhi berbagai macam syahwat dan syubhat.

Banyaknya amalan taqarrub dan ibadahnya seorang murabbi atau murabbiyah akan memancarkan pada dirinya aura kewibawaan dan cahaya keimanan yang akan dipandang indah oleh para mutarabbi, bahkan mereka secara sadar atau tidak pasti akan meneladani kebaikan, kesalehan, dan ibadahnya. Ibadah dan taqarrub yang diteladankan oleh murabbi atau murabbiyah merupakan pelajaran dan kajian tak bersuara, namun sanggup melukiskan pada diri mutarabbi jalan kehidupan baru mereka yang akan penuh cahaya iman dan ketaatan, sebab para mutarabbi itu lebih banyak menggunakan pendengaran hati mereka ketika menyaksikan ibadah-ibadah sang murabbi dibandingkan pendengaran telinga mereka tatkala menyaksikan kajian dan petuah murabbi.

Para murabbi dan murabbiyah yang sanggup mempengaruhi tabiat para mutarabbi lewat akhlak dan perbuatannya, para mutarabbi mereka tersebut akan lebih memiliki sikap istiqamah, agamis, dan sanggup merealisasikan tujuan utama tarbiyah. Maimun bin Mahran rahimahullah berkata: “Seandainya ahli Al-Quran itu baik (menjadi orang-orang teladan), niscaya manusia akan juga turut menjadi baik (karena meneladani mereka).” (Akhlaaq Ahli Al-Quraan: 104).

Di samping itu, banyaknya amalan taqarrub dan ibadah adalah produk terbesar dan tujuan utama kinerja para murabbi yang mesti mereka wujudkan dalam diri mutarabbi mereka, sehingga sangat tidak pantas bila dirinya menyeru mereka untuk merealisasikan tujuan ini sedangkan ia sendiri sangat lalai darinya?!:

أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلَا تَعْقِلُونَ [البقرة: 44]

Artinya: “Mengapa kalian menyuruh orang lain mengerjakan kebaikan, sedangkan kalian melupakan (kewajiban) diri kalian sendiri, padahal kalian membaca Al-Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kalian berpikir?” (QS Al-Baqarah: 44).

Banyaknya taqarrub dan ibadah berfungsi sebagai perisai ilahi dan pelindung rabbani dari berbagai rasa futur, penyimpangan, dan ketidak istiqamahan. Sebab, orang-orang yang memaksimalkan ibadah adalah para wali Allah yang Dia gambarkan:

أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

Artinya: “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS Yunus: 62)

Juga digambarkan dalam hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ عز وجل قَالَ: مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالحَرْبِ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ : كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ، وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا، وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ، وَمَا تَرَدَّدْتُ عَنْ شَيْءٍ أَنَا فَاعِلُهُ تَرَدُّدِي عَنْ نَفْسِ المُؤْمِنِ، يَكْرَهُ المَوْتَ وَأَنَا أَكْرَهُ مَسَاءَتَهُ“

Artinya: “Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: Siapa yang memusuhi waliku maka Aku mengumumkan perang terhadapnya, dan tidaklah hamba-Ku mendekatkan dirinya kepada-Ku dengan suatu amalan yang lebih aku cintai dari amalan yang aku wajibkan padanya. Dan senantiasa seorang hamba mendekatkan dirinya kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah hingga aku mencintai-Nya. Jika Aku mencintainya: Maka Aku akan menjadi pendengarannya yang dia gunakan mendengar, dan Aku menjadi mata yang dia gunakan melihat, dan Aku menjadi tangan yang dia gunakan memegang, dan Aku menjadi kakinya yang dia pergunakan berjalan, jika dia meminta pada-Ku Aku akan memberinya, dan jika Dia meminta perlindungan kepada-Ku maka Aku akan melindunginya”. (HR Bukhari: 6502).

Banyak taqarrub dan ibadah merupakan salah satu faktor utama adanya kelurusan dan kesucian ucapan dan amal perbuatan; karena ibadah itu mendatangkan pertolongan Allah dan kebersamaan-Nya sebagaimana dalam hadis di atas, juga mengantarkannya pada anugrah Al-Furqan atau petunjuk yang dikaruniakan Allah pada hamba-hamba-Nya yang bertakwa, di mana dengannya mereka bisa membedakan antara yang hak dan batil, dan antara yang paling baik di antara yang baik-baik, juga yang paling buruk di antara yang buruk-buruk. Dia berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِن تَتَّقُوا اللهَ يَجْعَل لَّكُمْ فُرْقَانًا وَيُكَفِّرْ عَنكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيِغْفِرْ لَكُمْ وَاللهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ

Artinya: “Hai orang-orang beriman, jika kamu bertaqwa kepada Allah, Kami akan memberikan kepadamu Furqaan (petunjuk yang dapat membedakan antara yang haq dan yang batil). dan Kami akan jauhkan dirimu dari kesalahan-kesalahanmu, dan mengampuni (dosa-dosa)mu. dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (QS Al-Anfal: 29).

Terakhir, banyaknya taqarrub dan ibadah adalah bekal utama yang dipersiapkan oleh seorang murabbi atau murabbiyah untuk berlomba dengan para hamba-hamba Allah bertakwa lainnya demi meraih derajat tertinggi di surga Allah. Semoga Allah Ta’ala menganugrahkan kita semua rahmat dan karunia-Nya yang berupa surga dan rida-Nya.

Seputar ibadah ini, Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu memberikan wejangan bagi kita semua:

ينبغي لحامل القرأن أن يعرف بليله إذا الناس نائمون, وبنهاره إذا الناس مفطرون, وبورعه إذا الناس يخلطون, وبتواضعه إذا الناس يختالون, وبحزنه إذا الناس يفرحون, وببكائه إذا الناس يضحكون, وبصمته إذا الناس يخوضون

Artinya: “Seyogyanya para ahli Al-Quran itu dikenal pada waktu malam ketika orang-orang sedang tidur, dikenal pada waktu siang ketika orang-orang sedang tidak berpuasa, dikenal sifat wara’nya ketika orang-orang mencampur adukkan (yang hak dan batil), dikenal dengan tawadhu’nya ketika orang-orang menyombongkan diri, dikenal dengan kesedihannya ketika orang-orang sedang bergembira, dikenal dengan tangisnya ketika orang-orang sedang tertawa, dikenal dengan diamnya ketika orang-orang sedang banyak omong, dan dikenal dengan sikap diamnya ketika orang-orang banyak bertutur kata.” (Akhlaq Ahlil-Quran: 102)

Aktifitas ibadah dan wirid sang murabbi dan murabbiyah bahkan lebih urgen bagi dirinya dibandingkan dengan sekedar memfokuskan diri dengan aktifitas membina dan mentarbiyah para pemuda atau pemudi, karena Allah Ta’ala dalam Al-Quran lebih mendahulukan perintah untuk dirinya agar menjauhi neraka daripada orang-orang yang menjadi objek tarbiyahnya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. Al-Tahrim: 6). Wallaahu a’lam. (Diringkas dari buku: At-Tarbiyah min Jadiid).

Oleh Mualana La Eda, Lc. MA.

Berita sebelumyaANIES: KITA AKAN MENOREHKAN SEJARAH BARU
Berita berikutnyaKe Masjid Lebih Baik Naik Kendaraan atau Jalan Kaki?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here