MUI: SKB tentang JAI Tidak Efektif
(Fajar,Jum’at 22 Mei 2009 Hal.29)

 

SURAT keputusan bersama (SKB) yang dikeluarkan dua menteri dan Jaksa Agung yang dikeluarkan 9 Juni 2008 tentang pelarangan Jamaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) tidak berjalan efektif.Aliran yang pertama kali diperkenalkan Mirza Ghulam Ahmad di Pakistan masih bebas menjalankan aktivitasnya di Indonesia. Kedua menteri yang dimaksud adalah Menteri Dalam Negeri dan Menteri Agama.

 

Sekretaris Majelis Ulama Indonesia Sulsel, M Ghalib, menyesalkan sikap pemerintah yang kurang mengindahkan fatwa MUI dan SKB tersebut. Ghalib menganggap fenomena Ahmadiyah sama dengan aliran Al-Qiyadah.

Namun, setelah dikeluarkan fatwa pelarangan aliran yang diproklamirkan Ahmad Mosaddeq, langsung disikapi keras oleh pemerintah. Sikap keras tidak ditunjukkan pemerintah terhadap JAI kata Ghalib, padahal fatwa sudah berulang kali dikeluarkan.

"Mungkin alasan politik dan pertimbangan yang lain yang menjadikan Ahmadiyah tidak disikapi secara serius oleh pemerintah. Termasuk aliran ini dipelihara oleh Inggris yang berpengaruh terhadap penentuan kebijakan di Indonesia," tegas M Ghalib di Gedung Pertemuan BPLSP di Jalan Adiyaksa, Kamis, 21 Mei.

Ghalib menegaskan, Ahmadiyah jelas sesat dan menyesatkan karena mengakui adanya nabi setelah Muhammad dan menganggap Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi. Di Pakistan dan India sebagai muasal aliran ini, lanjut dia, sudah ditinggalkan oleh penganutnya.

Sosialisasi SKB tentang Ahmadiyah yang digagas oleh Wahdah Islamiah kerja sama dengan Dirjen Kesbangpol Depdagri dihadiri beberapa ormas.

Di antaranya, Muhammadiyah, Komite Persiapan Penegakan Syariat Islam (KPPSI), Forum Umat Islam (FUI), Ikatan Guru Mengaji Indonesia, MUI, dan Wahdah Islamiah. Hadir sebagai pembicara, Drs Kamaruddin mewakili Kakanwil Depag Sulsel dan M Ghalib dari MUI Sulsel.

Wakil Ketua Wahdah Islamiah, Ikhwan Abdul Jalil Lc, mengakui, SKB tadi tidak berjalan efektif. Ia pun menyerukan kepada ormas Islam untuk menyatukan tekad dan semangat untuk melawan bahaya yang menyerang pokok-pokok ajaran Islam.

"SKB 3 Menteri tidak berjalan efektif. Kelemahannya adalah kurangnya sosialisasi surat keputusan ini kepada masyarakat. Makanya, Wahdah Islamiah mengadakan kegiatan hari ini sebagai sosialisasi SKB 3 Menteri kepada masyarakat," tegas alumnus salah satu universitas di Arab Saudi ini.

Ikhwan menyesalkan pemerintah yang cenderung ragu dalam peniyikapan terhadap aliran yang jelas yang menciderai agama Islam. Ia khawatir, kesabaran umat Islam mencapai klimaks sehingga tindakan yang tidak diinginkan bersama terjadi.

Ikhwan pun mengungkapkan sebuah fakta yang dianggap banyak kalangan Ahmadiyah yang tidak mengetahuinya. Mirza Ghulam Ahmad meninggal karena penyakit kolera akibat perang do’a alias mubahala dengan seorang ulama India.

"Jika dua orang menyatakan diri sebagai penganut kebenaran. Maka dalam syariat dibenarkan melakukan mubahala atau perang do’a. Artinya, memohon kepada Allah agar memberikan azab kepada yang salah. Dan Mirza menderita penyakit mengenaskan sebelum ia meninggal," ujar Ikhwan. (slm) Scan Berita

 

Artikulli paraprakWI Kerjasama Kesbangpol Sosialisasi SKB 3 Menteri Soal Ahmadiyah
Artikulli tjetërFlash Metro Wahdah Islamiyah

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini