Muhammadiyah Haramkan Rokok

Perbuatan Merokok Dinilai Sama dengan Bunuh Diri

JAKARTA — Jika Anda adalah seorang perokok, maka bersiap-siaplah untuk menghilangkan kebiasaan tersebut. Penyebabnya, Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah telah menyatakan bahwa merokok adalah perbuatan haram.

"Merokok hukumnya haram karena termasuk kategori perbuatan melakukan khaba’is yang dilarang dalam Al Quran surat 7:157," jelas Ketua PP Muhammadiyah Bidang Tarjih dan Tajdid Yunahar Ilyas, saat menggelar konferensi pers di Kantor PP Muhammadiyah, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa 9 Maret.

Penguman fatwa haram rokok ini sekaligus merupakan revisi dari fatwa yang dirilis sebelumnya. Awalnya Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, menyatakan bahwa hukum merokok adalah mubah. Tapi kali ini PP Muhammadiyah dalam fatwanya secara tegas menetapkan bahwa merokok adalah haram.

Yunahar mengakui fatwa ini sangat sulit untuk menurunkan jumlah perokok. Tapi dengan fatwa ini, pihaknya berusaha memulai menghindari kebiasaan merokok dari seluruh elemen di Muhammadiyah.

Dalam amar keputusan fatwa bernomor 6/SM0TT/III/2010 ini disebutkan, wajib hukumnya mengupayakan pemeliharaan dan peningkatan derajat kesehatan masyarakat setinggi-tingginya dan menciptakan lingkungan yang kondusif bagi terwujudnya kondisi hidup sehat yang merupakan hak setiap orang merupakan bagian dari tujuan syariah atau disebut dengan Maqasid Asy-syariah.

Alasan kedua, merokok mengandung unsur menjatuhkan diri dalam kebinasaan dan bahkan merupakan perbuatan bunuh diri secara perlahan yang bertentangan dengan larangan Al Quran. Pada pertimbangannya, fatwa PP Muhammadiyah juga menyebutkan argumen syar’i atas keharaman rokok yang meliputi argumen ijtihad bayani dan ijtihad ta’lili.

Argumen bayani terdiri atas tiga point. Pertama, larangan membunuh diri sendiri dalam An Nisa ayat 29, "Jangan kamu membunuh dirimu sendiri…." Merokok seperti dikutip dalam buku Hukm ad-Diin fii ‘Aadat at Tadkhiin merupakan bunuh diri secara perlahan dan ini dapat dimasukkan dalam peringatan ayat ini.

Kedua, larangan menimbulkan mudarat atau bahaya pada diri sendiri dan orang lain dalam hadits riwayat Ibn Majah, "Tidak ada bahaya bagi diri sendiri dan terhadap orang lain".

PP Muhammadiyah menjelaskan, rokok telah dibuktikan menjadi sumber sejumlah penyakit yang membahayakan diri sendiri dan juga membahayakan orang lain yang terkena paparan asap rokok.
"Ketiga, apabila rokok merupakan hal yang menimbulkan mudarat, pembelanjaan uang untuk kepentingan rokok adalah suatu kemubaziran yang dilarang dalam agama Islam," kata Yunahar.

Sebagaimana ditegaskan dalam firman Allah, "Dan janganlah menghambur-hamburkan hartamu secara boros karena sungguh para pemboros adalah saudara-saudara setan, dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya (QS 17:26-27)."

Ia juga menyebutkan adanya sejumlah argumen ta’lili atau kausasi yang menguatkan merokok bertentangan dengan beberapa tujuan syariah. Pertama, perlindungan diri. Syariah bertujuan memberikan perlindungan terhadap diri manusia termasuk sisi kesehatannya. Oleh karena itu, segala hal yang membahayakan dan menimbulkan dampak buruk harus dijauhi karena bertentangan dengan tujuan syariah.

Kedua, perlindungan keluarga. Rokok, khususnya dalam keluarga, tidak mampu dinilai telah menyebabkan pergeseran pengeluaran untuk makanan bergizi, terutama bagi balita demi memenuhi kebutuhan rokok orangtua. Ketiga, perlindungan harta. Rokok adalah zat membahayakan, maka pengeluaran untuk rokok merupakan pemborosan dan termasuk ke dalam larangan ayat yang melarang perbuatan mubazir. (mba/fmc/fajar.co.id)

 

Fatwa Muhammadiyah Merokok Haram

JAKARTA — Polemik seputar halal-haram mengonsumsi rokok di Indonesia kembali mengemuka. Kali ini, Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah mengeluarkan fatwa bahwa merokok adalah kegiatan haram bagi umat Islam.

Fatwa yang tertanggal 7 Maret 2010 itu mulai disosialisasikan kepada publik sejak, Selasa 9 Maret. Berbeda dengan fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), fatwa haram yang dikeluarkan Muhammadiyah tanpa batas umur tertentu.

"Prinsip fatwa haram ini adalah berangsur, memudahkan, dan tidak mempersulit. Kami tak ingin mengeluakan sebuah fatwa haram tanpa solusi," kata Ketua PP Muhammadiyah Bidang Tarjih dan Kesehatan, Yunahar Ilyas dalam konferensi pers di kantornya kemarin.

Keputusan yang dituangkan dalam fatwa No 6/SM/MTT/III/2010 itu menggunakan pertimbangan dasar dalam Alquran dan Hadis serta pertimbangan sebab-akibat.

Yunahar menjelaskan, secara ringkas merokok terbukti sebagai upaya menyakiti dan membahayakan diri sendiri secara perlahan. Merokok juga menimbulkan mudharat untuk orang lain serta termasuk tindak pemborosan yang mubazir.

"Dasar ketiga hal tersebut secara jelas tertuang dalam Surat An-Nisa ayat 29, surat Al Baqarah ayat 195, serta hadis yang diriwayatkan Ibnu Majah," papar dia.

Ilyas menyatakan, saat ini Muhammadiyah sedang menyiapkan jalan keluar penyiapan tanaman alih fungsi bagi petani tembakau. Pihaknya juga akan menekan pemerintah untuk membatasi impor tembakau yang menyengsarakan petani kecil.

Menurut dia, wacana pelarangan merokok akan menyengsarakan petani dan mempengaruhi ekonomi bisa terbantahkan. Faktanya, yang paling diuntungkan dari industri rokok adalah pemilik perusahaan dan bukan petani.

"Kalau pemerintah bersikukuh rokok menguntungkan ekonomi bangsa, kenapa tidak sekalian saja industrikan narkoba," tegasnya.

Pemerintah juga didesak berani mengambil sikap tegas dalam ratifikasi Convention on Tobacco Control (FCTC). Hingga saat ini, Indonesia satu-satunya negara yang belum meratifikasi FCTC. Ilyas optimistis fatwa itu dapat mengurangi angka perokok Indonesia. Muhammadiyah akan terus-menerus mengupayakan sosialisasi dan dialog kepada masyarakat serta instansi-instansi pemerintah.

"Jangankan fatwa, banyak hal yang terang-terangan dilarang Alquran saja masih banyak yang melanggar. Jadi, kita optimistis dan bekerja keras saja agar fatwa ini punya dampak signifikan bagi pengurangan angka perokok," tandasnya.

Ketua Komnas Perlindungan Anak, Seto Mulyadi menyambut baik fatwa haram tersebut. Dia menjelaskan, tingkat perokok pada anak-anak saat ini telah menyentuh usia lima tahun. Hal tersebut menunjukkan bagaimana marketing rokok telah efektif menarik perhatian anak kecil.

"Doktrin rokok sebagai solusi stres menjadi daya tarik tersendiri. Belum lagi, marketing dan iklan yang ditayangkan rokok begitu kreatif. Tak jarang justru mereka dibiarkan pemerintah menjadi sponsor utama acara olahraga dan beasiswa yang bersentuhan langsung serta disukai anak-anak," ungkapnya.

Di tempat terpisah, Direktur Eksekutif Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI) Lukmanul Hakim menyatakan, saat ini sedikit sekali produk minuman yang belum bersertifikasi halal. Menurut dia, baru 20 persen dari keseluruhan produk minuman di tanah air yang sudah disertifikasi halal oleh MUI.

"Mungkin kalau dihitung-hitung dari jutaan, baru beberapa ribu yang sudah tersertifikasi halal," ungkap Lukman dalam acara sosialisasi sertifikasi halal pada produk minuman nonalkohol kemarin.

MUI sendiri memang belum mewajibkan seluruh produsen minuman untuk memiliki sertifikasi halal. Yang pasti, label nonalkohol pada produk-produk minuman yang beredar di pasar tidak cukup menjamin kehalalan suatu produk.

"Label nonalkohol pada produk minuman tidak menjamin kalau produk itu halal karena ternyata berdasar penelitian LPPOM MUI, dalam proses produksi sejumlah minuman nonalkohol tertentu masih terdapat sejumlah kandungan yang tidak halal," paparnya.

Karena itu, LPPOM MUI mengimbau agar masyarakat muslim sebaiknya mengonsumsi produk-produk minuman yang telah tersertifikasi halal oleh LPPOM UI. (jpnn)

  

Artikulli paraprakKesolidan Organisasi, Syarat Utama Pertolongan Allah
Artikulli tjetërUstadz Alimuddin Camma Terpilih Aklamasi Pimpin DPC Tarakan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini