MERETAS KOMITMEN DALAM DAKWAH*
Ust. Saiful Yusuf, Lc**

Al mujaahidu, man-qatalali takuuna kalimatullahi hiya ‘al ;uliyah (seorang mujahid adalah orang yang berpegang agar kalimat Allah menjadi kalimat yang tertinggi).

Dalam sebuah kitab yang sangat terkenal “Panduan Kebangkitan Islam” yang sekiranya sangat layak bagi siapa saja yang mengaku sebagai penyeru kalimat Allah, oleh penulis yang tidak asing lagi bagi kita “Syeikh Utsaimin rahimahullahu ta’ala”, pada bab sifat-sifat seorang da’i kepada Allah dan apa yang dibutuhkan seorang da’i dan dakwahnya, beliau memaparkan point-point yang perlu diperhatikan bagi seorang da’i, di antaranya yang akan kita angkat dalam pembahasan kali ini adalah :

“Hendaknya seorang da’i tetap kokoh (dalam melaksanakan) dakwahnya kepada Allah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam, kedua kakinya berpijak hingga kakinya tidak dapat digoyahkan oleh berbagai intimidasi dan ia tidak dihancurkan oleh keputus asaan, karena ia percaya akan kebenaran jalannya, optimis akan hasilnya, dia percaya akan memperoleh dua kebaikan, dunia dan akhirat. Optimis akan bertambahnya kebaikan tersebut, yakin akan kejelasan al-haq dan pahalanya di akhirat disertai keikhlasan niat dan perbaikan amal, optimis akan baiknya para makhluk dengan dakwahnya walaupun setelah beberapa waktu.

Ada banyak hal yang menjadi pusat perhatian kita dalam uraian singkat di atas, namun satu hal yang pasti bahwa berjalan di atas jalan yang telah lurus dan harus kita lalui selama ini dan selamanya, insya Allah adalah komitmen. Komitmen dalam upaya menjalankan syariat-syariatnya, terlebih dalam upaya mendakwahkannya, karena di dalamya ada cita-cita, ada harapan dan ada tujuan tertinggi yang tentunya menjadi cita-cita seorang mukmin, sebagaimana sebuah sya;it yang berbunyi :kebenaran yang paling benar adalah kematian, kebathilan yang paling bathil adalah dunia dan cita-cita yang tertinggi bagi seorang muslim adalah al-Firdaus.Cita-cita yang tinggi tersebut biasa kita kenal dengan istilah himmatul aliyah. Syiekh Muhammad Ibrahim Al-Hamd dalam sebuah kitab karangannya pernah menyebutkan tentang arti kata al himma al ‘aliyah yaitu niat yang benar, tekad yang bulat, kehendak yang kuat dan tinggi serta keinginan yang mantap untuk memiliki sifat-sifat yang utama dan terhindar dari sifat-sifat yang rendah, Sehingga tampak jelaslah bagi kita akan urgensi himmatul aliyah tersebut, di antaranya :
Islam adalah agama yang mempunyai himma yang tinggi
Islam mempunyai dua tujuan yaitu akhirat dan dunia, untuk keduanya islam mempunyai cita-cita yang besar. Untuk akhirat islam mengantarkan kita ke surga, bahkan bukan sekedar surga, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : “jika kamu meminta kepada Allah mintalah Al-Firdaus” (HR. Bukhari). Di dunia, islam juga mengantarkan kita kepada cita-cita yang tertinggi yaitu kemenangan. Islam harus berada di atas agama yang ada di dunia ini, sebagaimana yang diwahyukan Allah “ Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama meskipun orang musyrik benci”. (QS. Ash-Shaff : 9). Sebagai sebuah nilai, islam telah mewajibkan itu, tapi tugas kita selanjutnya adalah bagaimana agar nilai tersebut diterapkan dalam kehidupan manusia di muka bumi ini, sehingga betul-betul nyata bahwa islam adalah agama yang tertinggi. Sebagai sebuah ajaran, islam adalah agama yang paling tinggi maka dia harus dimenangkan. Di akhirat dia mengantarkan kita kepada surga dan di dunia ia menjadi agama yang tertinggi.   

Islam menganjurkan kita untuk mempunyai cita-cita yang tinggi dan tujuan yang besar, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda  “barang siapa yang minta kepada Allah untuk mati syahid dengan sebenar-benarnya, maka Allah akan menempatkan ia pada kedudukan para syuhada meskipun ia mati di atas ranjangnya”. (HR. Muslim).

Ada banyak keadaan atau kondisi mati yang kita temui tapi kualitas mati berbeda-beda, ada mati yang tidak berkualitas. Tentu saja kita mau mati yang mulia, mati yang berkualitas, mati yang besat kedudukannya di hadapan Allah, mati syahid. Khalid bin Walid Radhiyallahu ‘Anhu ketika menjelang ajalnya ia menangis, dia adalah orang yang telah malang melintang di dunia peperangan, tidak peperangan yang Khalid tidak mengikutinya, baik sebagai panglima maupun sebagai prajurit biasa, zaman Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam maupun sepeninggal beliau Shalallahu ‘Alaihi Wasallam.

Khalid bin Walid tidak mau mati biasa saja, beliau menangis menjelang ajalnya di atas tempat tidurnya, pada saat itu ditemukan lebih dari delapan puluh bekas luka, mulai dari sabetan pedang, tusukan tombak dan tancapan panah, dan lain lain.

Ketika sahabat-sahabat mendapatkan tekanan yang begitu kuat di Mekkah sehingga ada di antara mereka yang menemui kematian, seperti keluarga Yazir, Khubaib bin Adiy, juga sahabat yang lain disiksa dengan siksaan yang begitu berat, termasuk sahabat Khabbab ibnul ‘Arab Radhiyallahu ‘Anhu. Beliau ditindih dengan batu yang dipanaskan maka, beliau datang kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam dan berkata : “ya.. Rasulullah, apakah kau tidak mendo’akan kemenangan bagi kita sekarang ini …. “ ketika itu Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam sedang duduk bersandar di Ka’bah, begitu mendengar perkataan sahabat ini, beliau bukan malah kasihan terhadap sahabat-sahabat beliau yang mengalami intimidasi, tetapi tiba-tiba beliau bangkit dari duduknya dan wajah beliau merah, marah dan berkata “ sesungguhnya di antara umat sebelum kalian ada orang yang disisir dari besi sehingga terpisah dagingnya dengan tulang, ada orang yang digergaji dari kepalanya sampai bawah dan terbelah dua tubuhnya, namun mereka sama sekali tidak mundur dari agama mereka.” Demi Allah, sesungguhnya Dia akan menyempurnakan agama ini sampai akan berjalan seorang musafir dari Shan’a ke hadarul maut, dia tidak takut kecuali kepada Allah dan kepada srigala yang akan memakan dombanya. (HR. Bukhari).

Islam menyukai kekuatan dan tidak menyukai kelemahan apalagi kemalasan, sebab seseorang yang mempunyai cita-cita yang tinggi tentunya akan berusaha dan memaksimalkan kekuatannya untuk mencapai cita-cita tersebut. Sebagaimana sabda Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam “mukmin yang kuat lebih baik dan dicintai oleh Allah dari pada mukmin yang lemah ……..tamaklah terhadap apa yang dapat memberikan manfaat kepadamu, dan mintalah pertolongan kepada Allah dan jangan lemah! Dan kalau kamu tertimpa suatu musibah janganlah berkata –law anni fa’altu kana kadza wa kadza- tetapi katakanlah –qaddarallahu wa masya’a fa ala– “(HR. Muslim) karena dalam ayat lain Allah Subhanahu Wa Ta’ala berkalam :wa idza ‘adzamta fa tawakkal ‘alallah. Islam menginginkan kita bergerak, karena ketika ada orang mempunyai cita-cita yang tinggi sementara ia tidak pernah ‘bergerak’ maka itu namanya at-tamanni (angan-angan), tabi’in yang mulia Hasan al-Bashri berkata “ laysal imanu bit-tamanni wa laa kin mawakara bil qalbi wa saddaqahu al ‘amal – iman itu bukan angan-angan, tetapi sesuatu yang menghunjam dalam hati dan dibuktikan dengan amal- bukan seperti orang-orang Badui yang berkata : “ kami telah beriman. Katakanlah (kepada mereka) “kamu belum beriman tetapi, katakanlah kamu telah berislam”, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu….”(QS. Al Hujuraat : 14).

Pada ayat berikutnya lebih ditegaskan lagi (QS. Al Hujuraat :15) “sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar”.

***

Selain urgensi dari uluwul himma ada bebrapa perkara yang menjadi ciri-ciri kecilnya himma dalam diri kita yang perlu diketahui agar kita menjauhkan diri darinya, di antaranya :

1. Manakala orang itu malas berdakwah

Sementara realitas yang terhampar di depan mata semakin mendesak umat islam untuk sekiranya kembali ke jalan agamanya, jalan yang telah tertutupi oleh semak belukar dan menanti para da’i untuk menyibak dan memangkas semak-semak tersebut agar jalan itu nampak terang dan terarah. 

2. Lari dari tanggung jawab

Di antara tanda-tanda orang yang lari dari atnggung jawab adalah terlalu banyak alasan yang terkesan dicari-cari, tanpa pernah menyadari, sudah menjadi aksioma akan butuhnya pengorabanan untuk mendapatkan sesuatu yang sifatnya besar nan mulia.

Di antara tanda yang lain yaitu terlalu menganggap remeh suatu pekerjaan, termasuk pula ketika terlalu menganggap berat pekerjaan tersebut.

3. Sibuk dengan sesuatu yang tidak bermanfaat dan menghindari sesuatu yang bermanfaat

4. Terlalu banyak mengeluh pada manusia

Menyampaikan suatu permasalahan kepada orang lain tentu hal yang wajar, bahkan hal ini perlu untuk sebuah tandzim sebagai bentuk perhatian, ta’awun dan koordinasi atau mingkin terjadi dalam bentuk problem solving namun khusus untuk mengeluh, mengeluhlah hanya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala sebagaimana do’a yang diajarkan oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam “ ya Allah … aku mengeluhkan kepada-Mu akan kelemahan diri kami… “ karena kekuatan itu hanya dari Allah dan Allah adalah sebaik-baik penolong

5. Terlalu banyak angan-angan

Sebagaimana yang telah diuraikan di atas bahwa yang harus kita miliki adalah  al himma bukan at-tamanni dan senantiasa mengingat janji Allah bahwa Ia akan memenangkan agama ini (dengan dan atau tanpa kita) dan janji Allah bagi para mujahid dan syuhada.

6. Mengulur-ulur waktu dan menunda-nunda pekerjaan

Allah Rabbul Izzah berkalam “faa idza faraghta fan shab”. Be Ansharullah  (MDK Al Firdaus)

*Diangkat dari materi ‘al Uluwul Himmah  

  yang dibawakan pada acara “Daurah 

  Pengurus FOSIDI Makassar” dan dituliskan 

  kembali oleh redaksi

**Staf Pengajar pada Sekolah Tinggi Ilmu 

    Islam dan Bahasa Arab (STIBA)   Makassar,

    Ketua Departemen Kaderisasi & Dakwah

    PP. Wahdah Islamiyah Makassar.

 

Artikulli paraprakLaporan Hasil Qurban
Artikulli tjetërPERANG INI SANGAT NYATA

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini