Catatan Perjalanan Relawan TPM Wahdah Islamiyah Yogya 7 November 2010:

Mereka adalah Saudara Kita

Laporan : Athif & Fery, TPM Wahdah Yogyakakarta 

Berbekal informasi dan data yang diperoleh dari LSM Jalin Merapi (merapi.combine.org), hari ahad 7 November 2010 Relawan TPM Wahdah Islamiyah kembali bergerak untuk memantau kondisi para pengungsi di posko-posko pengungsian yang berada di wilayah Klaten dan Sleman.

Di Klaten tepatnya di posko PG Gondang Baru, Plawikan Jogonalan Jateng, terdapat pengungsi yang baru turun sekitar 1500 jiwa, maka TPM dengan Tim yang diketuai oleh Akh Abdurrohman, meluncur ke TKP menggunakan 1 mobil pickup dengan muatan diantaranya:  Perlengkapan Bayi seperti bedak, pampers dan sabun bayi, Perlengkapan mandi,Pakaian, Air minum 5 karton, Nasi bungkus 500 bungkus.

Setelah itu, Posko-posko yang tim relawan kunjungi kali ini difokuskan pada 2 titik, yaitu Posko Pengungsian Rusunawa Universitas Sanata Dharma dan Posko Pengungsian Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma (Sadhar).

Tim relawan sengaja memfokuskan pada dua posko pengungsian ini, karena adanya kekhawatiran terjadinya praktik-praktik kristenisasi yang berkedok bantuan kemanusiaan. Sebagai sesama kaum muslimin, menjadi kewajiban untuk peduli dengan kondisi keimanan para pengungsi (aqidah) disamping peduli dengan kondisi memprihatinkan yang mereka alami saat ini.

Posko pengungsian pertama yang kami kunjungi adalah Posko Pengungsian Rusunawa Universitas Sadhar yang terletak tidak jauh dari stadion Maguwoharjo, Sleman. Gedung berlantai (tiga atau empat) ini menampung 800 pengungsi dari beberapa dusun di sekitar lereng Merapi. Para pengungsi yang menempati posko ini terdiri dari anak-anak hingga lansia.

Dari pengamatan dan percakapan dengan beberapa pengungsi yang sempat tim lakukan, diketahui bahwa mereka sebelumnya mengungsi ke stadion maguwoharjo bersama dengan pengungsi lainnya. Namun setelah adanya ajakan untuk pindah, akhirnya mereka bersedia. Hal ini tidak mengherankan jika melihat kondisi tempat pengungsian yang bisa dikatakan nyaman dan ketersediaan makanan yang terjamin.

Bahkan beberapa pengungsi yang sempat tim relawan tanyai mengungkapkan bahwa mereka merasa bosan dengan kondisi yang  “serba ada” tersebut. Hal ini terlihat dari aktivitas para pengungsi yang menghabiskan waktunya dengan menonton televisi atau saling mengobrol satu sama lain. Berbeda halnya dengan anak-anak yang mendapatkan pendampingan dari mahasiswa, baik dari Universitas Sanata Dharma maupun dari universitas lainnya di kota Yogyakarta.  Terlihat anak-anak sangat bergembira dengan kegiatan yang dilakukan.

Namun yang menggembirakan di tempat ini adalah kehadiran mahasiswa-mahasiswa muslim yang melakukan pendampingan kepada anak-anak. Mahasiswa-mahasiswa itu sebagian berasal dari universitas sanata dharma sendiri dan sebagian dari UGM.  Meskipun begitu, kondisi ini masih sangat memprihatinkan mengingat keterbatasan relawan-relawan muslim yang berada di sana. Hal ini terungkap setelah tim relawan menanyakan langsung kepada salah seorang dari mahasiswa tersebut.

Setelah dirasa cukup memperoleh informasi dan mengetahui kondisi di Posko Rusunawa Universitas Sanata Dharma, tim relawan melanjutkan perjalanan ke Posko Pengungsian Taman Kuliner Condongcatur. Posko ini terletak tidak jauh dari terminal bis Condongcatur, Sleman. Jumlah pengungsi yang menempati posko ini mencapai 193 orang dari kapasitas maksimum 250 orang. Dari percakapan yang tim relawan lakukan dengan koordinator di posko ini, diketahui bahwa tempat ini merupakan area perekonomian yang harus berjalan setiap saat sehingga jumlah pengungsi yang telah berada di posko ini dirasa telah maksimal. Karena itu, beliau meminta bantuan kepada tim relawan untuk mencari informasi terkait kapasitas untuk menampung pengungsi di posko lainnya. 

Dari pemantauan tim relawan, kondisi para pengungsi di posko ini terlihat baik. Namun yang menarik adalah, ada beberapa pengungsi yang kembali ke tempat tinggalnya di sekitar lereng Merapi dengan tujuan untuk memberi pakan ternak mereka. Hal ini tampaknya tidak hanya terjadi di posko ini, tapi juga di posko-posko lainnya.

Setelah informasi dirasa mencukupi, tim relawan bergegas menuju posko pengungsian selanjutnya yaitu Posko Pengungsian di kampus Fakultas Teologi Universitas Sadhar yang terletak di jalan Kaliurang km. 8. Dengan Jumlah pengungsi 845 Jiwa.

Setelah terlebih dahulu menemui petugas pusat informasi di sana, tim relawan dengan berani masuk ke kampus tempat pengkaderan misionaris tersebut, disertai dengan tatapan tajam penuh curiga dari para petugas di sana yang sebagian besar adalah mahasiswa kampus itu.
Sekilas tampak kondisi para pengungsi dalam kondisi baik. Sebagian ada yang sedang mengikuti perkembangan Gunung Merapi lewat televisi, sebagian ada yang saling mengobrol, dan tidak sedikit yang sedang beritirahat. Sedangkan anak-anaknya tengah asik bermain di taman-taman yang berada di dalam kampus.

Tim relawan berhasil menanyai beberapa pengungsi di sana. Dari penuturan mereka, terungkap bahwa sebelum mereka menempati posko pengungsian ini, mereka telah mengungsi ke beberapa tempat. Bahkan yang menyedihkan, dari penuturan yang disampaikan salah seorang pengungsi, sebelum mereka berada di kampus universitas Sadhar ini, mereka mengungsi di sekolah milik salah satu ormas Islam terbesar di negeri ini. Karena ditelantarkan dan kondisi tempat pengungsian yang kurang sehat, akhirnya mereka pindah setelah adanya ajakan dari seorang warga.

Dari perjalanan singkat tim relawan setidaknya ada satu hal yang harus kita pikirkan bersama, bahwa sudah bukan rahasia lagi, bahwa lembaga-lembaga atau kampus-kampus milik orang kafir didukung oleh dana yang tidak terbatas. Ketika terjadi bencana atau musibah yang menimpa bangsa Indonesia khususnya kaum muslimin, maka hal ini merupakan kesempatan bagi mereka untuk menjerumuskan saudara-saudara muslim kita ke dalam jurang kekafiran.

Pada bencana Gunung Merapi saat ini pun, hal tersebut sudah mulai tampak. Beberapa laporan dari lembaga-lembaga bantuan kemanusiaan Islam menyebutkan bahwa para misionaris sudah mulai bergerak, dan ini tidak hanya di wilayah mudah diakses tetapi juga sampai wilayah-wilayah yang terisolasi.

Maka, sudah menjadi kewajiban sebagai seorang muslim untuk membantu dan menyelamatkan saudara-saudara kita yang saat ini tengah mengalami kesulitan. Kesulitan karena keterbatasan makanan, pakaian, maupun obatan-obatan mungkin bisa segera teratasi dengan banyaknya bantuan yang datang, tetapi kesulitan dikarenakan gangguan dan rongrongan para misionaris yang setiap saat mengancam keimanan dan aqidah saudar-saudara kita, belum tentu banyak yang peduli. Karena Mereka adalah Saudara Kita. (belajarislam.com News)  
 

Artikulli paraprakPemerintah Tetapkan Idul Adha Jatuh 17 November
Artikulli tjetërCatatan Perjalanan Relawan TPM Wahdah Islamiyah Yogya 8 November 2010

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini