Setelah lulus kuliah saya memutuskan untuk merawat orang tua karna saudara saya semuanya sudah berkeluarga dan tinggal terpisah dari orang tua. Selama ini saya merasa sudah mengurus dengan baik tapi ayah saya tiba-tiba meminta untuk dititip di panti jompo. Selain itu ayah suka bercerita tentang warisan anak-anaknya kepada orang lain, seakan akan ayah tidak memilki kepercayaan kepada keluarganya. Bagaiman saya menghadapi situasi ini?
aisyah – makassar

Jawaban:
Hayyakillahu, semoga Allah mencatat amalan ukhti dan dapat memberatkan timbangan kebaikan pada hari kiamat.

Ukhti yang dirahmati Allah..
Birrul walidain (berbakti kepada orang tua) merupa amalan yang agung, hukumnya fardhu ain, dan amalan ini merupakan hak orang tua atas anak-anaknya. Orang tua (apalagi jika sudah sepuh) merupakan gerbang untuk masuk ke dalam surga, Rasulullah bersabda:
رَغِمَ أَنْفُهُ ، ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُهُ،ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُهُ “. قِيلَ : مَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ ؟ قَالَ : ” مَنْ أَدْرَكَ وَالِدَيْهِ عِنْدَ الْكِبَرِ، أَحَدَهُمَا أَوْ كِلَيْهِمَا، ثُمَّ لَمْ يَدْخُلِ الْجَنَّةَ “.
Artinya:”Celaka seseorang itu(diulang tiga kali), sahabat bertanya: siapa yang celaka wahai Rasulullah? Beliau menjawab: orang yang mendapati salah satu orang tuanya atau dua-duanya dalam keadaan tua, kemudian (anak tersebut) tidak masuk surga”. (HR Muslim No: 2551)

Imam Nawawi mengatakan: Hadits ini memotifasi seseorang untuk melakukan Birrul walidain (bakti kepada orang tua), dan menjelaskan besarnya pahalanya, maksudnya: berbakti kepada orang tua ketika mereka sudah sepuh dan “ditelan usia” dengan melayani mereka atau memberikan nafkah dsb, merupakan penyebab masuknya seseorang ke dalam surga”.(Alminhaj).

Dan diantara keutamaan berbakti kepada orang tua menurut perkataan sebagian ulama kita; amalan ini dapat menggugurkan dosa-dosa besar, berkaca kepada keutamaan-keutamaan ini, maka orang yang diberi taufik oleh Allah untuk berbakti kepada orang tua seakan mendapat ghanimah yang sangat besar.

Kami tidak mengetahui usia orang tua ukhti, namun kita semua maklum, bahwa semakin tua seseorang maka semakin merepotkan pula, selain karena faktor semakin lemah fisik, lemah pula ingatan dan akalnya, bahkan terkadang terjadi perubahan sifat dikarenakan hal tersebut, maka jangan kaget jika ada sifat-siafat dari orang tua kita yang berubah, bahkan mungkin tidak kita duga sebelumnya, mungkin tujuannya ingin lebih diperhatikan dan disayangi oleh orang di sekitarnya.

Jika kita mengetahui hal ini,, maka kesuksesan kita dalam berbakti kepada orang tua tergantung kepada ketelatenan dan kesabaran kita, semakin tua usia orang tua kita maka kita juga harus semakin telaten dan sabar dalam menghadapi mereka, Allah berfirman:

(وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا * وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ)
[Surat Al-Isra’ 23 – 24]

Artinya: Dan Allah telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah kepada selainNYA, dan hendaknya kamu berbuat baik kepada orangtuamu. Jika salah seorang diantara keduanya atau dua-duanya hidup sampai usianya lanjut, maka janganlah sekali-kali mengatakan kepada mereka ucapan “ah”, dan janganlah kamu membentak mereka, dan ucapkanlah kepada mereka ucapan yang mulia#Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kasih sayang.. “.

Ayat diatas menjelaskan bahwa berbakti kepada orang tua ketika mereka telah lanjut usia memerlukan kesabaran ekstra ketika kita berkata dan berucap, dan membutuhkan ekstra kasih sayang tatkala kita bersikap.

Dan kesabaran yang berkwalitas adalah kesabaran tanpa keluh kesah yang keluar dari lisan kita, karena sejatinya keluh kesah yang terlontar dari lisan kita, adalah bukti ketidaksabaran kita.

Bersabar dalam berbakti kepada orang tua adalah hal yang cukup sulit, khususnya jika orang tua kita mencapai usia lanjut, dan inilah rahasia Alqur’an dan hadits ketika menegaskan keutamaan berbakti kepada orang tua ketika mereka sudah mencapai usia lanjut.

Dua hal yang ingin kami nasehat kan, semoga dengannya dapat menjadi kunci kesabaran kita dalam berbakti kepada orang tua:
Pertama: mengingat keutamaan berbakti kepada orang tua, dan sebagiannya telah kami paparkan diatas.

Kedua: Ingatlah bahwa kita pernah sangat merepotkan orang tua kita. Ketika kita bayi, kita sering membuat mereka tidak dapat tidur karena kita rewel. ketika kita anak-anak, kita sering merepotkan mereka dengan keusilan dan kenakalan kita. ketika remaja dan dewasa, kita lebih merepotkan lagi dengan kebutuhan-kebutuhan kita dsb,, maka saatnya kita membalas Kebaikan kebaikan orang tua kita di saat usia mereka telah lanjut, apalagi berbakti kepada orang tua merupakan ibadah kepada Allah, semua ucapan, sikap, curahan kasih sayang, dan harta yang kita nafkahkan kepada mereka yang tujuannya untuk birrul walidain (berbakti kepada orang tua) tidak akan sia-sia, ada pahala dan kebaikan dari Allah yang menunggu kita.

Akhirnya, hidupnya kita dalam satu atap dengan orang tua kita yang sudah sepuh, merupakan karunia Allah yang sangat besar kepada kita, karena mereka berdua adalah gerbang menuju surgaNYA, sangat besar kesempatan kita untuk masuk surga lewat gerbang “birrul walidain”.

Dijawab oleh Ust. Lukman Hakim, Lc
(Alumni S1 Fakultas Hadits Syarif Universitas Islam Medinah Munawwarah dan Mahasiswa S2 Jurusan Dirasat Islamiyah Konsentrasi Hadits di King Saud University Riyadh KSA)

6 KOMENTAR

  1. Assalamualaikum
    Saya seorang anak 5 bersaudara yang semua sudah berkeluarga dan ibu kami masih hidup sementara tinggal bersama saya sebagai anak ke 5 /terakhir
    pertanyaan saya apakah saya durhaka apabila saya menuntut ke 4 kakak saya untuk sama2 merawat ibu saya dengan cara bergantian 1 bulan untuk tinggal di rumah anak2 nya agar semua anaknya bisa merawat ibu saya .

    Selama ini ada kecemburuan dari istri saya bahwa ada 5 anak tapi kenapa dibebankan ke saya sedangkan yang lain nya tidak pernah merawat ibu saya
    mohon bisa di berikan pemahaman kepada saya mengenai adab merawat orang tua secara bersama2 dengan saudara yang lain.

    • Waalaikumussalam, jika di keluarga hanya Anda yg pria maka hanya Anda yg wajib merawatnya.. namun apabila semua pria atau beberapa pria maka sebaiknya berlomba-lomba merawat mereka karena keberkahan dan ladang pahala ada pada Ibu Anda.
      Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
      “ORANG TUA adalah PINTU SYURGA YANG PALING TENGAH, terserah kamu, hendak kamu terlantarkan dia, atau kamu hendak menjaganya.”
      (HR Tirmidzi)

  2. Assalamualaikum,
    Saya sudah berumah tangga, saya tinggal sudah berbeda dengan kedua orang tua saya, saya memiliki 2 kaka perempuan. saat ini kondisi saya tidak bekerja dan ibu saya sakit tidak bisa berjalan harus di rawat di rumah sakit, saat ini saya mengurusi ibu saya dirumah sakit, sampai suami tidak terurus. Tp saya sudah minta ijin kepada suami untuk hal tersebut. Suami saya mengizinkan..
    Apakah saya berdosa kepada suami saya ? Terimakasih

  3. Assalamu’alaykum, Ustadz..
    Saya anak kedua (perempuan) dg seorang kakak (laki-laki). Saat ini ibu sudah sepuh dan berada dalam perawatan saya. Setiap bulan, Ibu membutuhkan biaya yang cukup banyak untuk menjaga kondisinya. Saya juga memiliki seorang anak balita. Karena saya bekerja untuk mencari dana berobat ibu, anak tidak mendapatkan perhatian sebagaimana seharusnya. Anak jadi ‘berulah’ untuk mencari perhatian, menangis menutup laptop saya saat saya meeting, berat badan tidak ideal, dsb. Apalagi dalam situasi pandemi ini, tidak ada lagi bibi yang biasa membantu. Saya ingin berhenti bekerja dan merawat anak, tapi dilema karena kakak saya tidak membantu dana untuk merawat ibu kami. Manakah yang harus saya prioritaskan, anak saya atau ibu? Apakah boleh saya ‘menuntut’ kakak saya untuk menjalankan kewajibannya?

    • Waalaikumussalam,
      Terimakasih atas pertanyaanya.. semoga Allah mudahkan segala urusannya.
      Setiap anak wajib untuk merawat orangtuanya bahkan ditekankan adalah seorang anak laki-laki wajib merawat ibunya melebihi keluarganya sendiri.
      Maka silahkan Anda meminta agar saudara pria Anda untuk merawat beliau.
      Jangan sampai kelak ketika sudah sepuh atau tua.. anak-anak Anda tidak merawat karena prilaku kita yang tidak ada perhatian dengan orangtua kita sebelumnya.
      Wallahu a’lam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here