Ketiga: Hukum Ucapan selamat “Kullu ‘Aamin Wa Antum Bikhaiir” atau semisalnya.

Bila demikian, boleh bagi seseorang untuk mengucapkan doa selamat atau ucapan selamat apapun selama tidak mengandung dosa, termasuk “Kullu ‘Aamin Wa Antum Bi Khair” (Semoga sepanjang tahun kalian baik-baik saja) karena sama saja dengan ” ‘Ied Mubaarak” (Semoga menjadi Ied yang diberkahi bagimu). Keduanya merupakan kalimat khabar/pemberitahuan namun bermakna sebagai doa.

Dalam Fatawa Nur ‘Ala AdDarb ( lihat link: http://www.binbaz.org.sa/node/10042 ), Ibnu Baaz rahimahullah berkata: “…Bila seseorang mengucapkan padamu “Kullu ‘aamin wa antum bikhair” atau “Fi Kulli ‘aamin wa anta bikhair” maka tidak mengapa engkau membalasnya dengan ucapan: “Semoga anda juga demikian”.

Dalam Majmu’ Fatawanya (490) Syaikh Ibnul-Utsaimin rahimahullah ditanya tentang ucapan “Kullu ‘aamin wa anta bikhair”, maka beliau menjawab: “..boleh bila dimaksudkan sebagai doa”.

Namun berdasarkan beberapa tulisan yang tersebar yang melarang ucapan ‘Kullu ‘aamin wa antaum bikhair” ada beberapa ulama yang melarangnya, diantaranya:

Pertama: Syaikh Al-Albani rahimahullah, dengan dalil bahwa ucapan ini merupakan ucapan selamatnya orang-orang kafir. (Dari silsilah Huda wa Nur: kaset 323, dinukil dari http://www.ahlalhdeeth.com/vb/archive/index.php/t-120138.html ).

Kedua; Syaikh Ali Hasan Al-Halabi (Ahkaam Al-‘Idain: 62): “Adapun ucapan sebagian orang, ‘Kullu ‘amin wa antum bi khairin‘ atau semacamnya adalah ucapan yang tertolak, tidak bisa diterima. Bahkan, ini termasuk dalam larangan dalam firman Allah,

ﺃَﺗَﺴْﺘَﺒْﺪِﻟُﻮﻥَ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﻫُﻮَ ﺃَﺩْﻧَﻰ ﺑِﺎﻟَّﺬِﻱ ﻫُﻮَ ﺧَﻴْﺮٌ

‘Apakah kalian hendak mengganti sesuatu yang baik dengan sesuatu yang lebih buruk?‘

Jawaban untuk dua ulama ini adalah sbb:

Pertama: Ucapan Syaikh Al-Albani bahwa ini ‘Kullu ‘aamin wa antaum bikhair”  merupakan ucapan orang-orang kafir tidaklah tepat, sebab yang populer dari mereka adalah “happy new year” (selamat tahun baru), dan ini sangat jauh beda maknanya dengan “Kullu ‘aamin wa antum bikhair”. Jawaban ini juga yang disebutkan oleh para Masyaikh ketika membantah ucapan Syaikh Al-Albani ini, dalam link ( http://www.ahlalhdeeth.com/vb/archive/index.php/t-120138.html ).

Kedua: Adapun dalil Syaikh Ali Hasan Al-Halabi hafidzhahullah, maka mungkin karena beliau tidak ingin mengganti doanya para sahabat dengan ucapan selamat atau doa lainnya. Namun mestinya beliau tidak mengetengahkan ayat diatas demi untuk memperkuat hujjah dan dalilnya, bahkan ucapan beliau ini lebih menjurus pada tasyni’ (mencela) daripada memberikan hujjah dan dalil yang harusnya lebih meyakinkan. Jawaban yang pas untuk beliau adalah;

1.Ucapan selamat ini adalah adat kebiasaan, bukan masuk dalam konteks ibadah, jadi hukum asalnya adalah mubah, sehingga membebaskan semua muslim untuk mengucapkan selamat atau doa jenis apapun selama tidak mengandung maksiat.

2.Ucapan selamat ini bukanlah tawqifiyyah baik bagi yang berpendapat bahwa ia sunnah atau mubah –sebagaimana yang dibahas sebelumnya-, artinya seseorang bebas mengucapkan ucapan doa atau selamat apapun tanpa terkait dengan ucapan khusus/tertentu –sebagaimana yang diisyaratkan oleh Ibnu Taimiyah, An-Nafrawi, Ibnu Baz dan Ibnul-Utsaimin rahimahumullah ta’ala.