Pemirsa, pada bulan Februari tahun 1996, dari jajak pendapat yang dilakukan oleh US News & World Report, sembilan dari sepuluh orang Amerika mengatakan bahwa kurangnya sopan santun pergaulan telah menjadi salah satu masalah serius di di negeri tersebut, dan 78% persen mengatakan bahwa sopan santun orang negeri ini merosot dengan drastis dalam 10 tahun terakhir.

Dalam artikelnya untuk US News & World Report, John Marks memunculkan Robert E. Lee High School do Montgomery, Alabama, yang menurutnya merupakan suatu penampakan yang mewakili negeri itu secara keseluruhan. Artikel itu mengatakan bahwa:

Di sekolah yang para siswanya berasal dari bermacam-macam ras dan terletak di lingkungan kelas menengah, menumpang lewat berarti harus menerima perlakuan kasar. Para siswa umumnya tidak ramah atau berbicara dengan orang tidak mereka kenal. Di lorong sekolah, orang harus mendorong bila tidak ingin didorong, “Jika Anda sedang berdiri di sebuah lorong, lalu ada beberapa orang datang, jika tampaknya mereka akan menyusahkan sebaiknya Anda menyingkir,” cerita Cindi Roy, seorang murid senior, “Sebab jika tidak, mereka akan memukul Anda sampai babak belur.”

Hal ini tentu sangat tidak kita inginkan. Betapa tidak, AS yang selama ini menjadi (dalam kutip) panutan seluruh dunia, ternyata perlahan-lahan mengidap penyakit moral yang cepat atau lambat akan menghancurkan dirinya sendiri, sementara Islam, suatu ajaran yang paling sempurna, sangat memperhatikan kesempurnaan akhlak yang dibina sejak kecil. Jika kita ingin anak kita memiliki nilai-nilai tata krama yang baik, maka mulailah dengan membuat seperangkat aturan khusus sebagai berikut, kemudian tempelkan di beberapa tempat yang mudah terlihat. Berikut ini beberapa contoh yang dapat dilakukan oleh para orang tua dalam mentarbiyah tata krama pada anak:

1. Mengajarkan pada anak untuk memberi salam kepada orang dewasa yang dijumpai dengan mengatakan, “Assalamu’alaikum Pak, Bu”, misalnya, dan bertanya, “Bagaimana kabarnya Pak, Bu?”

2. Mengajarkan pada anak bahwa jika diperkenalkan kepada seorang dewasa yang belum dikenal, atau jarang dilihat, maka jabat tangannya untuk melengkapi sapaanmu.

3. Membiasakan anak untuk mengucapkan “terima kasih” bila seseorang melakukan suatu kebaikan kepadanya, sekecil apapun. Pandanglah mata orang itu dan ucapkan dengan jelas, sehingga ia tahu bahwa kamu tulus.

4. Membiasakan anak untuk meminta izin jika hendak menggunakan sesuatu yang bukan miliknya atau ketika hendak pergi ke suatu tempat.
Sumber: Mengajar Emotional Intelligence pada Anak (Lawrence E. Shapiro, Ph.D

Artikulli paraprakWanita Bekerja
Artikulli tjetërBUSANA WANITA MUSLIMAH

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini