Menjuluki Rasulullah Dengan Sayidina, Apakah Berlebihan?

Date:

Bismillaah…

Menjuluki beliau dengan kata “sayidina”, bukanlah hal terlarang, bahkan para ulama dari berbagai madzhab dari zaman dahulu sampai sekarang, khususnya ulama setelah abad ke 4 H, sering menyandingkan nama beliau dengan kata “sayidina”, semisal Hafidz Ibnu ‘Asaakir, Imam Nawawi, Imam Ibnu Daqiq Al-‘Ied, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Imam Ibnul-Qayim, Ibnu Ash-Shalah, Zainuddin Al-‘Iraqi, Ibnu Hajar Al-‘Asqalani, dll. Julukan ini merupakan salah satu kemuliaan yang diberikan Allah kepada beliau, berdasarkan dalil hadis yang sangat populer, beliau bersabda:

أنا سيد ولد آدم

Artinya: “Saya adalah sayid (pemimpin) seluruh anak Adam”. (HR Muslim: 2278)

Hadis ini menunjukkan bahwa beliau bukan hanya sayid (pemimpin) kita kaum muslimin, namun juga sayid bagi seluruh anak Adam termasuk para Nabi dan Rasul.

Sebab itu, menyandingkan nama beliau dengan kata “sayidina” bukanlah sebuah sikap ghuluw/berlebih-lebihan terhadap beliau, sebab hal ini benar adanya, dan merupakan anugerah Allah atas diri beliau, juga para ulama dari abad ke abad dan dari berbagai madzhab telah terbiasa bahkan sepakat menjuluki beliau dengan kata “sayidina” ini, wallaahu a’lam.

Adapun memasukkan kata “sayidina” dalam shalawat ibrahimiyah yang sering kita baca ketika tasyahud dalam shalat, maka para ulama muta-akhkhirin (belakangan) berbeda dalam dua pendapat:

Sekelompok ulama membolehkan penempatan kata “sayidina” ini sebelum nama beliau dalam shalawat ibrahimiyah, semisal: Al-‘Izz bin Abdis-Salam Asy-Syafi’i, Ar-Ramli Asy-Syafi’i, dan selain mereka. Bahkan yang nampak dari madzhab syafi’iyah muta-akhkhirin (ulama syafi’iyah belakangan) sebagaimana yang popular dinegeri kita adalah sunatnya menambahkan kata “sayidina” ini didepan nama beliau dalam shalawat ibrahimiyah dalam tasyahhud, tentunya dengan dalil untuk lebih menghormati dan menghargai beliau walaupun redaksi shalawat dalam hadis-hadis tidak menyebutkan kata “sayidina” ini. (Lihat: Mughni Al-Muhtaaj: 1/384, Asnaa Al-Mathaalib: 4/166, dan Hasyiah Tuhfah Al-Muhtaj: 2/88).

Namun tentunya, mencukupkan diri dengan apa yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam dalam redaksi shalawat ibrahimiyah ini yaitu tanpa penambahan kata “sayidina”; lebih utama karena teks doa khususnya dalam shalat adalah teks yang langsung berasal dari Allah dan Rasul-Nya, yang sifatnya tawqifiyah yaitu wajib diambil begitu adanya dari Allah atau Rasul-Nya tanpa harus ada celah untuk berijtihad menambah dan menguranginya, wallaahu a’lam.

Oleh Maulana La Eda, L.c

Maulana La Eda, L.c
Maulana La Eda, L.c
Maulana La Eda, Lc. Hafizhahullah (Mahasiswa S2 Jurusan Ilmu Hadis, Universitas Islam Madinah)

Share post:

Subscribe

spot_img

Popular

More like this
Related

Menyongsong Bulan Zulhijah 1445 H, Ini Dia 5 Program Nasional Wahdah Islamiyah

MAKASSAR, wahdah.or.id -- Pada bulan Zulhijah tahun ini, Panitia...

Apresiasi dari Wakil Ketua DKM Masjid Kubah 99 Asmaul Husna terhadap Kegiatan Tarbiyah Gabungan Wahdah Islamiyah Makassar

MAKASSAR, wahdah.or.id -- Wakil Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM)...

Padat, Masjid Kubah 99 Asmaul Husna Dipenuhi Jamaah Tarbiyah Gabungan Wahdah Makassar

MAKASSAR, wahdah.or.id -- Wahdah Islamiyah Makassar menggelar kegiatan Tarbiyah...

Pengurus Pusat Wahdah Islamiyah Sambangi Pengurus Pusat Hidayatullah Tuk Bahas Peluang Sinergi dan Kolaborasi

JAKARTA, wahdah.or.id - Dewan Pengurus Pusat Wahdah Islamiyah (DPP...