Mari menjadi yang terbaik dengan berbagi manfaat, karena sebaik-baik manusia adalah yang bernafaat bagi sesama manusia

Diantara perbuatan baik yang menjadi ciri khas orang bertakwa adalah menebar manfaat kepada sesama manusia. Jika takwa merupakan kedudukan terbaik di sisi Allah (Qs Al-Hujurat:13) maka salah satu jalan utama untuk menjadi yang terbaik dan paling bertakwa tersebut adalah berbagi manfaat kepada sesama.

Allah Ta’ala berfirman;

اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ

Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. (Qs. Al-Hujurat:13)

Senada dengan ayat di atas  Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

وخير الناس أنفعهم للناس

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya” (HR. Ath-Thabrani)

Apa yang terbesit di benak anda ketika mendengar dan atau membaca sabda Nabi, manusia terbaik adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya?

Mungkin ada yang berpikir,  manfaat yang diberikan haruslah sesuatu yang sangat bernilai seperti harta benda, barang mewah, pakaian indah dan sebagainya.

Ternyata manfaat yang menjadikan seseorang sebagai manusia terbaik dalam pandangan Allah dan Rasul-Nya tidak selamanya berupa pemberian barang yang bernilai mahal.

Manfaat yang membuat seseorang makin terbaik dan dicintai Allah kadang berupa hal-hal sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Sebagaimana dijelaskan oleh Nabi (masih dalam hadits Thabrani melalui Sahabat Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, seorang pria  bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “manusia (seperti) apa yang paling dicintai Allah”?

Rasul menjawab dengan sabdanya;

أحبُّ الناس إلى الله أنفعهم للناس، وأحبُّ الأعمال إلى الله عز وجل، سرور تدخله على مسلم، تكشف عنه كربة، أو تقضي عنه دينا، أو تطرد عنه جوعا، ولأن أمشي مع أخ في حاجة، أحبُّ إلي من أن أعتكف في هذا المسجد، يعني مسجد المدينة شهرا…)  رواه الطبراني في الأوسط والصغير .

 

Manusia yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya,  dan amalan paling dicintai Allh adalah rasa gembiara yang engkau masukukan ke dalam diri seorang Muslim, engkau hilangkan kesusahannya, atau engkau bayarkan hutangnya, atau engkau hilangkan rasa laparnya, sungguh aku berjalan bersama saudara seiman untuk memenuhi hajatnya lebih aku sukai daripada beri’tikaf di masjid Nabawai ini selama sebulan”. (HR. Ath-Thabrani dalam Al-Ausath dan ash-Shaghir)

 

Dalam hadits ini terdapat pelajaran  bahwa orang yang berbagi manfaat kepada orang lain merupakan manusia  terbaik dan paling dicintai Allah. Tentu saja  adalah kedudukan yang mulia, karena cinta Allah pada seorang meruapakan sesuatu yang agung  dan istimewa. Sebab jika Allah mencintai seorang hamba maka Allah umumkan hal itu kepada penduduk langit, sebagaimana dijelaskan dalam hadits Abu Hurairah, Rasul bersabda:

إذا أحب الله العبد، نادى جبريل، إن الله يحب فلانا فأحببه، فيحبه جبريل، فينادي جبريل في أهل السماء، إن الله يحب فلانا فأحبوه، فيحبه أهل السماء، ثم يوضع له القبول في الأرض ) متفق عليه

Jika Allah mencintai seorang hamba, Allah memanggil Malaikat Jibril dan menyampaikan kepadanya badwa Dia mencintai sifulan maka cintailah dia, sehingga Jibril turut mencintainta, selanjutnya Jibrul mengummukan klepada penduduak langit ‘’sesungguhnya Allah mencintai sifulan maka cintailah dia” sehingga penduduk langit ikut mencintainya kemudian ditetapkan bahwa daia diterima di bumi”. (Muttafaq alaih).

Masya Allah, luar biasa. Dicintai oleh Allah, dicintai oleh para penduduk langit sehingga ditetapkan sebagai orang yang diterima di bumi. Mungkin inilah satu rhasinya mengapa ‘’orang baik” yang gemar menebar manfaat kepada sesama ummumnya dicintai dan diterima oleh semua kalangan. Karena manffaat yang dia tebarkan kepada sesama menjadikannya  dikenal dan dicintai oleh Allah. Llau menggerakkkan hati seluruh makhkluq untukmmenerima dan mencintainya.

Hadits ini juga memberi isyarat bahwa wujud dan bentuk kemanfaatan yang diberikan kepada bisa berankea ragam. Diantaranya adalah memasukan perasan suka cita dan kegembiraan ke dalam diri sesama Muslim.

 

Nabi menganjurkan untuk memmpersembahkan manfaat kepada orang lain dengan bentuk dan jenis apapun. Dalam suatu  hadis Jabir radhiyallahu ‘anhu mengatakan, Pamanku biasa meruqyah untuk menghilangan sengantan hewan berbisa. Ketika Rasul melarang untuk melaruqyah pamanku mendatanagi beliau dan bertanya, “Wahai Rasul,engkau melarang ruqyah, sementara aku terbiasa meruqyah orang tersengat hewan berbisa. Beliau bersa bda;

Siapa yang sanggup memberi manfaat kepada saudaranya hendaknya dia lakukan”. (HR. Ahmad dan hakim)

Singkatnya, pintu-pintu kebaikan itu sangat banyak dan beraneka ragam serta tidak terbatas. Seorang tinggal memilih melakukan kebaikan yang bermanfaat bagi dirnya dam an orang lain di sekitarnya. Bebera jenis dan pintu kebaikan ini telah disebutkan secara singkat oleh Nabi shallaallahu ‘alaihi wa sallam melalaui sabdanya yang disebutkan di awal khutbah ini.

Dalam hadits lain beliau juga bersabda;

Setiap Muslim berkewajiabnn bersedekah”. Para sahabat bertanya, “Wahai Nabi Allah, jika dia tidak memliliki apa-apa. Beliau bersabda, “hendaknya dia bekerja dengan tangannya  sehingga dia memberi manfaat kepada dirinya dan dapat bersedekah”. Jika dia tidak memiliki apa-apa? “Hendaknya Dia membantu memenuhi kebutuhan orang yang teraniaya, lemah, dan terdesak”. Jika dia tidak punya apa-apa? Beliau bersabda, “Hendaknya dia melakukan kebaikan dan menahan diri dari berbuat buruk”. (Muttafaq alaih).

Artinya, pelung untuk berbuat baik dan berbagi manfaat kepada sesama untuik menjadi yang tebaik dan paling dicintai Allah terbuka lebar. Jika tidak dapat memberi sama sekali. Maka paling miniml menahan diri dari keburukan dan hal-hal yang tidak bermanfaat, sebab “tanda baiknya keislaman seseorang adalah meninggalkan yang tidak bermanfaat baginya”. [] sym

Artikel ini pernah terbit pada majalah WIZMAGZ edisi 92, September 2021

 

Berita sebelumyaPenyakit Orang Yang Telah Merasa Alim Dan Bertakwa
Berita berikutnyaKetika Rasa Malu Muslimah  Mulai Terkikis

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here