Seorang perempuan yang sudah berumah tangga hendaklah sadar bahwa selain dia seorang hamba Allah yang punya kewajiban untuk ta’at pada Allah, dia juga sebagai seorang istri yang dituntut menyenangkan bagi suaminya. Jangan sampai dia sukses dalam pengabdiannya pada Allah, tapi tidak berhasil dalam mendampingi suaminya. Jika seorang perempuan menjaga sholat lima waktunya, berpuasa di bulan ramadhan, selain itu dia juga ta’at pada suaminya dan menjaga kehormatannya maka dia dijamin masuk surga dari pintu mana saja dia suka. Nabi bersabda:

إذا صلت المرأة خمسها وصامت شهرها وحفظت فرجها وأطاعت زوجها قيل لها ادخلي الجنة من أي أبواب الجنة شئت. ورواه ابن حبان في صحيحه عن أبي هريرة رضي الله عنه، والحديث صححه الألباني في الجامع الصغير.

artinya: “Jika seorang wanita sholat lima waktu, berpuasa di bulan ramadhan, menjaga kehormatannya, dan mentaati suaminya, (di hari kiamat) dikatakan padanya, masuklah ke dalam surga dari pintu mana saja yang kamu mau.”( HR. Ahmad, Ibnu Hibban, dishohihkan al Albaani dalam Jami’u Shogir).

Seorang perempuan pintar-pintar memposisikan dirinya, sebagai hamba Allah dan sebagai istri suaminya, ia dipandang wanita terbaik manakala sukses menempatkan dirinya sebagai istri yang sholihah, sebagai inspirasi sabda Nabi Shollallah ‘Alaihi Wasallam

« خَيْرُ النِّساءِ الَّتِي تَسُرُّهُ إِذا نَظَرَ وَتُطِيعُهُ إِذا أمَرَ وَلَا تُخالِفُهُ فِي نَفْسِها وَلَا مالِها بِما يَكْرَهُ »

artinya: “Sebaik-baik perempuan yang menyenangkan (suami)nya jika ia melihatnya, mentaatinya jika ia menyuruhnya, dan tidak menyelisihi (suami) nya dalam berhubungan dengan fisiknya dan hartanya yang menyebabkan ia marah.”(HR. Nasai, Ahmad, Hakim, Lihat Shohih Jami’ No. 3298)

Sebagai perempuan pendamping suami hendaklah ia menjadi partner sang suami dalam mengemban tugas sebagai hamba Allah dan tugas sebagai pejuang agama, keluarga, dan bangsa. Posisinya ditengah keluarga lebih dari sekedar menjadi AC pendingin ketika emosi tinggi, lebih dari sekedar menjadi parfum hingga hidup menjadi lapang, dan lebih dari sekedar menjadi kompor penyemangat di kala semangat mulai redup.

Sebagai ummahat (ibu rumah tangga) memanfaatkan momen untuk berbuat baik, ia mampu membaca peluang kapan ia dibutuhkan, hingga ia tidak luput dalam melakukan kebaikan. Sebagai spirit ummahat agar lebih berkontribusi dalam perjuangan suami sebagai hamba Allah, dan sebagai pejuang agama, keluarga dan bangsa maka kita lihat bersama profil ummahaatulmukminin senagai pendamping nabi dalam kehidupan

1. Memberi ide-ide cemerlang

Seorang suami terkadang mentok pikirannya, sehingga tak tahu apa yang harus dibuat, maka di sini kehadiran istri sangat diperlukan memberi ide-ide cemerlang hingga permasalahan tertuntaskan dan berubah menjadi peluang kebaikan.

Ketika dicetuskan perjanjian Hudaibiyah yang memaksa kaum muslimin tidak jadi menunaikan ibadah haji di tahun itu, maka Nabi menyuruh para sahabatnya menyembelih hewan kurban dan mencukur rambut tanda tahallul, namun para sahabat enggan menuruti seruan Nabi tersebut karena masih tidak terima dengan perjanjian yang disepakati tersebut, melihat gelagat yang tidak baik tersebut Rasulullah Shollallah ‘alaihi Wa Sallam masuk ketendanya dengan perasaan yang tidak senang, mengetahui perihal demikian maka Ummu Salamah r.’anha memberi ide pada Nabi agar Beliau segera menyembelih qurban serta mencukur rambut mendahului para sahabatnya, mendengar usulan tersebut segeralah nabi menyembelih qurban dan mecukur rambut beliau tanda tahallul, maka serta merta mereka para sahabat mengikuti Nabi Shollallah ‘alaihi Wasallam untuk tahallul

2. Perhatian pada suami

Sesibuk apapun istri tetap perhatian pada suami, bahkan ketika suami harus berada jauh dari sang istri tidak luput dari perhatiannya, minimal dengan mengontak no. HPnya.

Simaklah profil kita satu ini, Shofiyah istri Nabi ummul mukminin sengaja datang menemui beliau shollallah ‘alaihi wa sallam yang harus beri’tikaf di masjid, mengetahui kedatangan Shofiyah Ummul mukminin maka Rasulullah Shollallah ‘alaihi Wasallam berdiri menyambut kedatangan istrinya tersebut yang menunjukkan penghargaan beliau terhadapnya, meskipun dalam keadaan i’tikaf

3. Cemburu

Sebagai seorang istri memang tabiatnya pencemburu dan hal yang wajar jika seorang istri menampakkan kecemburuannya tersebut terhadap suaminya sebagai indikasi cinta padanya, asal kecemburuan itu tidak membuatnya mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Allah atau menghalalkan apa yang diharamkan Allah. Hal yang wajar seorang istri muncul cemburunya ketika suami punya keinginan untuk poligami, atau cemburunya muncul karena madunya.
Sebutlah Ummul mukminin ‘Aisyah r.a bangkit rasa cemburunya ketika Nabi menyebut-nyebut kebaikan istri beliau yang sudah wafat Ummul mukminin Khadijah r.anha seolah-olah tidak ada istri beliau kecuali khadijah saja. Cemburu ini sengaja ditampilkan untuk menunjukkan kecintaannya pada suaminya.

Akhir kata, hendaklah seorang ummahat (ibu rumah tangga) berusaha menjadi istri suaminya bukan hanya di dunia tapi juga di akhirat.

By. Abdurrahman Ever

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here