MENITI JALAN ISTIQAMAH MENEPIS PENYIMPANGAN AGAMA

(Khutbah Seragam Idul Adha 1429 H Khatib  Wahdah Islamiyah)

 

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ،

﴿ يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ا مَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ ﴾

﴿ يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا ﴾

﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا ﴾ أَمَّا بَعْدُ …

 فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Rabb seru sekalian alam. Atas berkat rahmat dan hidayah-Nya jua-lah, hingga kita kembali dapat bersua dengan hari yang mulia ini. Berkumpul untuk membesarkan, dan memuji keagungan-Nya. Hari dimana seluruh umat Islam di belahan dunia ini bersuka cita, bertakbir, seraya mengagungkan asma-Nya. Hari ini, adalah bukti sejarah akan buah sebuah pengorbanan tulus yang kemudian diabadikan dengan tinta emas. Pengorbanan seorang hamba Allah Ta’ala yang mulia, kekasih Allah, Ibrahim alaihi salam.

Sungguh dalam diri Ibrahim terdapat suri teladan yang mulia bagi umat manusia sepanjang perguliran zaman. Baik dalam sisi pengorbanan di jalan Allah, ketulusan dalam mengemban amanah Ilahi, keteguhan hati menghadapi ujian dan cobaan serta keistiqamahan iman dalam rangka menegakkan pilar-pilar ubudiyah di atas muka bumi ini. Allah menandaskan hal ini dalam firmanNya, surah al-Mumtahanah ayat 4:

Artinya: “Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada diri Ibrahim.”.
    
Ini dibuktikan dengan ketegaran beliau menghadapi jilatan api membara yang siap menghanguskan dan mencabik-cabik tubuhnya. Keteguhan hati menerima perintah meninggalkan anak dan istrinya di lembah tandus tak berpenghuni. Serta ketundukkan beliau melaksanakan perintah menyembelih buah hatinya, Ismail . Sekali lagi, semua ini menunjukkan akan sikap istiqamah beliau dalam menjalankan dan menunaikan setiap perintah dan ujian dari Allah Yang Maha Kuasa.

Ma’asyiral Muslimin A’azzakumullah
Krisis global yang melanda dunia hari ini begitu sangat dirasakan, khususnya oleh kaum muslimin di tanah persada ini. Harga kebutuhan pokok melonjak tajam. Kehidupan begitu susah dan sempit. Apalagi, krisis global yang menerpa dunia ini bersamaan dengan rentetan musibah alam yang datang silih berganti, banjir, tanah longsor, gempa bumi, wabah penyakit, dan lain sebagainya, yang setiap hari menghiasi lembaran-lembaran berita bangsa ini.

Dan tentunya, kita sebagai seorang muslim yakin, bahwa krisis multidemensi serta beragam musibah yang mendera dunia dan khususnya bangsa ini, merupakan buah dari perbuatan tangan manusia–manusia yang jauh dari syariat Ilahi. Praktek sistem ekonomi riba yang diperangi oleh Allah dan Rasul-Nya, kekufuran, kemaksiatan, dan dosa-dosa lainnya, seluruhnya merupakan pemantik turunnya murka dan azab dari Allah .

Demikian pula, kelemahan iman dan jauhnya kaum muslimin dari syariat agama Allah begitu sangat nyata. Kaum muslimin telah lama terlena oleh kehidupan dunia, meninggalkan tugas dan kewajiban agamanya, tenggelam dalam aturan-aturan buatan manusia yang hakikatnya adalah penentangan terhadap syariat Allah subhanahu wa ta’ala. Serta terpedaya oleh gelombang arus pemikiran dan paham sesat yang menggerogoti ajaran agama yang murni ini dari dalam. Olehnya, dalam surah ar-Ruum ayat 41 Allah  menegaskan: 

Artinya: "Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan Karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)".

Al-Hafidz Ibnu Katsir berkata: Makna "kerusakan" di sini adalah kurangnya hasil pertanian dan buah-buahan lantaran perbuatan maksiat.

Imam Abul ‘Aliyah menambahkan: Siapa yang bermaksiat kepada Allah, sungguh ia telah melakukan kerusakan di atas muka bumi. Sebab, kebaikan langit dan bumi berada pada ketaatan (kepada Allah Ta’ala).

الله أكبر … الله أكبر ولله الحمد

Ma’asyiral Muslimin Hafidzakumullah
Demikianlah musibah dan bencana yang menerpa dunia dan khususnya kaum muslimin di belahan dunia ini. Akan tetapi, semua itu belum seberapa ketimbang musibah kerusakan agama, akidah dan pemikiran yang diderita kaum muslimin belakangan ini. Karena dampak dari kerusakan agama dan akidah, akan dirasakan seorang hamba di dunia ini, terlebih di akhirat kelak berupa penyesalan dan siksa yang tak berujung. Bahkan, seluruh musibah yang sifatnya materi sebagaimana dipaparkan di atas, merupakan jelmaan dari kerusakan akidah, moral dan pola pikir manusia itu sendiri.
   
Olehnya, Rasulullah  pernah mengajarkan satu doa yang menunjukkan akan hal tersebut, dimana beliau berkata: 

ولا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا

“(Wahai Allah) ,dan  janganlah engkau jadikan musibah menimpa agama kami”. (Hadits Riwayat Imam at-Tirmidzi).

Ya, musibah apalagi yang paling hebat melebihi rusaknya akidah, hancurnya harga diri serta buruknya pola pikir dan akhlak seorang hamba?!.
Olehnya, seyogyanya kita sebagai kaum muslimin menjaga diri dan keluarga dari berbagai rongrongan syubhat dan pemikiran-pemikiran sesat yang ramai dihembuskan oleh musuh-musuh Islam atas nama keberagaman, tapi pada hakekatnya merupakan upaya menikam dan menghancurkan Islam dari dalam.

Diantara mereka ada yang tidak mengakui keesaan Allah , baik dalam rububiyah, uluhiyah maupun asma dan sifat-Nya.

Diantaranya ada yang tidak mengakui kebenaran Islam sebagai satu-satunya agama yang benar, dan menganggap seluruh agama itu sama, sebagaimana yang ramai dihembuskan oleh paham Islam Liberal. Akibatnya, mereka membolehkan memberi ucapan selamat, atau bahkan ikut serta bergembira merayakan hari-hari besar agama lain, misalnya hari Natal yang sebentar lagi akan digelar. Padahal perbuatan ini jelas haram, bahkan bisa mengeluarkan pelakunya dari agama Islam.

Demikian pula peringatan dan perayaan tahun baru yang sama sekali tidak ada dasarnya dalam agama kita, justru demikian banyak kaum muslimin yang latah memperingati dan merayakannya.

Diantaranya ada yang tidak mengakui bahwa Muhammad  sebagai Rasul terakhir, dan mengakui adanya Nabi lain setelah beliau, seperti ajaran Ahmadiyah Qadiyaniyah yang banyak menimbulkan keresahan di tengah masyarakat.

Diantaranya ada yang mengatakan bahwa al Qur’an tidak lagi up to date untuk zaman sekarang, lalu membuat tafsir menurut selera dan kepentingan mereka tanpa mengacu kepada metode penafsiran al Qur’an yang dibenarkan.
Diantara mereka ada yang menolak kebenaran hadits Rasulullah , seperti jama’ah Inkarus sunnah.

Diantara mereka ada kelompok-kelompok yang berusaha menanamkan kebencian kepada generasi sahabat. Seperti aliran agama Syi’ah rafidhah. Mereka begitu lancang membuat fitnah dan riwayat-riwayat palsu untuk tujuan mendiskreditkan shahabat Rasulullah, hingga pada taraf mengkafirkan mereka, Wal’iyadzubillah. Dan perbuatan hina ini pada hakikatnya adalah upaya menghancurkan Islam itu sendiri serta penghinaan terhadap diri Rasulullah  yang mulia.

Padahal Rasulullah  bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

    Artinya: "Sebaik-baik manusia adalah (yang hidup) di zamanku, kemudian yang datang setelah mereka, kemudian yang datang setelah mereka". ( Hadits riwayat Imam Bukhari dan Muslim).
   
Ketahuilah, mencela para shahabat merupakan perbuatan kufur yang mengeluarkan pelakunya dari agama Islam menurut konsensus atau kesepakatan para ulama. Mencela para sahabat sama artinya dengan mencela agama Islam itu sendiri. Sebab merekalah para pembela agama ini, pengemban bendera sunnah serta para pahlawan yang karena jasa mereka, hari ini kita dapat merasakan indahnya agama Islam.
   
Dan yang tidak kalah penting untuk mendapat perhatian kita, adalah merebaknya di tengah-tengah umat ritual-ritual penyembahan terhadap tuhan-tuhan selain Allah , seperti ritual penyembahan matahari dan selainnya, yang kemudian dibungkus dengan gerakan-gerakan senam untuk alasan kesehatan, misalnya senam Yoga, yang belakangan ini begitu kuat menarik peminat, utamanya di kalangan kaum wanita.

Olehnya, sekali lagi hendaklah kita berhati-hati terhadap segala makar musuh-musuh Islam dalam upaya mereka menghancurkan akidah dan keyakinan kita. Allah  selalu mengingatkan kita akan hal ini dalam firman-Nya surah al-Baqarah ayat 120:

Artinya: "Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka".
Mereka tidak mencukupkan diri dengan agresi fisik dan pembantaian di negeri-negeri kaum muslimin seperti di Palestina dan Iraq tapi mereka melakukan pula agresi pemikiran dan akidah seperti yang kita saksikan dan mengiris sanubari iman dan kemanusiaan kita. Wallahul Musta’an

Ma’asyiral Muslimin A’azzakumullah
Maraknya aliran-aliran sesat tersebut tentunya mempertegas akan urgennya kembali kepada ilmu yang benar, serta pemahaman agama sebagaimana yang dipahami oleh generasi salaf. Sebab pemahaman agama yang benar tentunya akan menjadi perisai serta  furqaan (pembeda) di tengah arus pemikiran serta aliran-aliran sesat yang mengenakan atribut Islam.

Ilmu yang dimaksud di sini bukan lain adalah al-Qur’an dan Sunnah yang shahih, berdasarkan pemahaman generasi terdahulu/ salaf, yang diawali oleh generasi para Sahabat. Rasulullah  bersabda:

تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا إِنْ تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا : كِتَابُ اللهِ وَسُنَّتِي

Artinya: "Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara, jika kalian berpegang pada keduanya kalian tidak akan sesat selamanya. (Keduanya) adalah kitabullah dan Sunnah-ku". (Hadits Hasan, Riwayat Malik dan al-Hakim).

Batasan yang ketiga ini –yakni sesuai dengan pemahaman generasi salaf- adalah hal yang sangat mendasar untuk diketahui oleh setiap muslim. Karena dalam realita, menjamurnya aliran-aliran sesat –sebagaimana diuraikan di atas- bermula dari kelancangan mereka menafsirkan nash-nash agama sesuai dengan seleranya, dan tidak kembali kepada pemahaman salafussalih. 
Karenanya, membentengi diri dan keluarga serta bekerja sama dalam menangkal paham dan aliran-aliran sesat tersebut merupakan kewajiban agama yang sangat mendesak. Sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabiullah Ibrahim  yang terus berjuang –walaupun seorang diri- menghadapi arus penyembahan berhala di tengah kaumnya.

Lihatlah bagaimana sikap istiqamah yang ditunjukkan oleh Nabiullah Ibrahim  dalam menghadapi penyimpangan kaumnya. Berbagai rongrongan, ujian, dan siksaan harus beliau rasakan, tidak hanya dari para pembangkang kaumnya, bahkan dari orang tercinta dan paling dekat dengan beliau, ayahnya.

Lebih dari itu, beliau-pun begitu gigih menjaga kemurnian akidah dan keyakinan bagi anak-anak keturunannya. Berbagai sarana beliau gunakan untuk tujuan tersebut. Dan berkat usaha yang mulia ini-lah, Allah   mengabadikan do’a beliau dalam surah Ibrahim ayat 35, yang menunjukkan akan perhatian beliau terhadap kemurnian agama bagi anak cucunya:

Artinya: "Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: "Ya Tuhanku, jadikanlah negeri Ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah Aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala".
   
Dari sini pula kita dapat melihat akan pentingnya usaha pendidikan dan pembinaan yang berkesinambungan, demi terciptanya generasi rabbani yang bukan hanya benar dan baik dalam beragama pada diri pribadi mereka, bahkan lebih dari itu mereka diharapkan menjadi pionir-pionir dakwah yang selalu berada di garda terdepan dalam hal menghadapi berbagai agresi pemikiran yang dilancarkan oleh musuh-musuh Islam.

JAMA’AH IDUL ADHA, YANG SEMOGA DICINTAI  ALLAH
Di hari yang berkah ini, kami mengajak jamaah sekalian, mari jadikan hari ini untuk introspeksi diri, mempertebal keimanan kepada Allah , kita bulatkan tekad kembali kepada jalan benar, kita jauhkan generasi kita dari segala pemahaman sesat, pemahaman yang justru membuat kita semakin jauh dari jalan kebenaran, serta senantiasa istiqamah dalam meniti jalan kebenaran ini.
Sungguh, gelombang tantangan dan rintangan terhadap agama yang kita hadapi saat ini begitu dasyat dan hebat. Berjalan dan istiqamah di atasnya ibarat memegang bara api yang menyakitkan. Akan tetapi, sadarilah bahwa janji Allah Ta’ala berupa surga diuntukkan bagi mereka yang selalu istiqamah dalam agamanya.

Yakinilah, bahwa agama yang hanif ini telah sempurna dan tidak butuh tambahan-tambahan lain atau bid’ah yang justru akan menjerumuskan pelakunya dalam jurang kehancuran. Cukupkanlah diri kita sebatas apa yang diamalkan oleh Rasulullah dan para Sahabatnya. Rasulullah  bersabda:

وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

    Artinya: "Dan Hati-hatilah kalian mengadakan perkara yang baru (dalam agama), sebab seluruh perkara yang baru (dalam agama) adalah bid’ah, dan setiap perbuatan bid’ah itu sesat". (Hadits Shahih, riwayat Ahmad dan Abu Daud).

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: 

 اِتَّبِعُوْا وَلَا تَبْتَدِعُوْا فَقَدْ كَفَيْتُمْ

    "Ikutilah (agama sesuai dengan pemahaman salaf) dan jangan berbuat bid’ah, dan itu sudah cukup bagi kalian". (Riwayat Imam ad-Darimiy, no: 175).

 الله أكبر … الله أكبر ولله الحمد                                        
   
Kepada para pemimpin, jadikanlah misi dan visi utama anda mengajak manusia menjadi hamba terbaik bagi Allah berhukum dengan hukum Allah , bermuamalah dengan cara-cara yang sesuai dengan syari’at, menegakkan kebenaran, mencegah kemungkaran, serta menyokong penegakan agama yang murni dan bersih dari segala bentuk ajaran dan pemahaman yang menyimpang.

Kepada saudariku kaum wanita, agama ini memberi perhatian yang sangat besar kepada anda. Olehnya, hati-hati dan jangan sampai terpedaya dengan slogan-slogan menggiurkan dari orang-orang yang sebenarnya menginginkan kerusakan bagi agama kita. Janganlah tertipu dengan gaya hidup mereka yang jauh dari cahaya ilahi. Sebab semua itu hanya-lah kesenangan sesaat, lalu setelahnya adalah penyesalan yang tiada akhir. Allah  berfirman;

Artinya: “Janganlah sekali-kali kamu terpedaya oleh kebebasan orang-orang kafir bergerak di dalam negeri. Itu hanyalah kesenangan sementara, kemudian tempat tinggal mereka ialah Jahannam; dan Jahannam itu adalah tempat yang seburuk-buruknya.”.

Terkhusus bagi kaum ibu, anda adalah madrasah ummat. Di tangan kalian-lah para mujahid rabbani lahir. Karenanya, embanlah amanah ini sebaik-baiknya. Jaga dan hindarkan generasi yang berada di bawah bimbingan kalian dari segala bentuk pengrusakan terhadap akhlak dan agama. Sebab, kalian adalah pemimpin bagi mereka, dan akan dimintai pertanggung jawaban kelak atas apa yang kalian pimpin itu. Rasulullah  bersabda:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالْأَمِيرُ رَاعٍ وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ زَوْجِهَا وَوَلَدِهِ فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Setiap kalian adalah pemimpin akan dimintai pertanggungjawabannya terhadap apa yang dipimpinnya. Seorang kepala Negara adalah pemimpin, seorang suami adalah pemimpin bagi keluarganya, seorang wanita adalah pemimpin atas rumah suami dan anak-anaknya. Maka setiap kalian adalah pemimpin dan dimintai pertanggungjawabannya terhadap apa yang dipimpinnya.”. (Hadits Riwayat Imam Bukhari).

الله أكبر … الله أكبر ولله الحمد

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah   
Berkenaan dengan ibadah kurban, maka hewan yang sah untuk dikurbankan adalah sapi yang usianya genap dua tahun atau kambing yang usianya genap satu tahun. Tidak boleh berkurban dengan hewan yang jelas buta sebelah matanya, atau pincang dengan kepincangan yang jelas, atau sakit yang jelas, atau hewan yang sangat kurus. Seekor sapi boleh disembelih untuk tujuh orang.

Sebaiknya orang yang berkurban itu menyembelih hewan kurbannya sendiri, namun tidak mengapa mewakilkannya dengan syarat tidak mengupah si penjagal itu dari hewan kurban, baik dengan memberikan daging atau kulitnya. Penyembelihan dimulai setelah khutbah dan berakhir setelah hari ke-3 sesudah hari i’edul Adha. Daging sembelihan dapat dibagi tiga; sepertiga untuk dikonsumsi, sepertiga untuk dihadiahkan dan sepertiga untuk disedekahkan kepada fakir miskin.

Akhirnya marilah kita semua, saat ini, di hari pengorbanan  yang mulia ini, di bawah langit ciptaan Allah yang tanpa tiang ini, kita menundukkan jiwa dan raga, memohon pada Allah yang Maha Mulia agar melapangkan hati kita sepenuhnya untuk Islam dan Sunnah .

Allahumma Rabbana, sungguh kami tak sanggup menghitung karuniaMu pada kami, dan sunguh kami pun tak sanggup menghitung dosa-dosa kami padaMu,Ampunilah kami wahai Sang Maha Pengampun. Hanya ampunanMu yang kami damba, rahmatilah kami, karena rahmatMu yang kami rindu.

Ya Allah, Ya Sittiir tak ada yang sanggup menutupi aib ini dariMu, semua cela dan dosa kami jelas bagiMu. Tutupilah aib dan cela kami wahai Sang Maha Penutup aib dan Cela.

Kami tidak putus harapan mengadu pada-Mu. Kami tidak letih meminta dan mengharap padaMu. Betapapun besarnya kesalahan dan dosa kami, maaf dan ampunanMu meliputi segala sesuatu. Karena itu Yaa Allah, ampunilah segala dosa kami, hapuskanlah segala kesalahan kami, bersihkan hati dan jiwa kami, indahkan akhlaq dan kelakuan kami, sambungkan kembali persaudaraan di antara kami.

Ya Qawiy ya Aziz ! wahai Rabb kami yang Maha Perkasa.
Berikan pertolonganMu pada setiap saudara kami seiman yang tertindas di manapun mereka berada Yaa Allah. Kuatkan hati mereka, satukan langkah mereka, tepatkan bidikan mereka pada sasarannya Yaa Allah.
Yaa Allah yang Maha Kuasa bebaskan setiap jengkal tanah Palestina dan negeri Islam dari penjajahan musuh-musuhMu. Hancurkan mereka Yaa Allah, jangan biarkan mereka berlaku ponggah dan sombong di atas bumiMu. Yaa Allah ampuni kami, jangan tunda pertolonganMu pada mereka karena dosa-dosa kami.

Laa ilaha illa anta subhanaka inna kunna minadl Dlalimin.
Wahai sang maha Penyayang, sayangilah kami dan para kedua orang tua kami, dalam hidup dan matinya Yaa Allah. Allahumpunilah kami dan ibu bapak kami. Jika  Engkau biarkan kami mendapati penghujung hidup mereka, jadikanlah mereka pintu sorga kami, buat kami berpeluh nikmat berkhidmat dan berbakti pada mereka. Namun jika Engkau telah takdirkan mereka dahului diri ini menghadap padaMu, maka ampunilah semua kesalahan kami pada mereka Yaa Allah, jangan catatkan setiap bentakan dan suara keras kami pada mereka, dalam catatan amal buruk kami. Ampuni mereka Yaa Allah, dan ampuni kami semua, pertemukan kami dalam pandangan rahmatMu di sorgaMu yang kekal abadi.

Ya Allah berkahilah para ulama, ustadz dan guru-guru kami, yang jasanya tidak dapat kami balas kecuali dengan limpahan rahmatMu pada kami semua, jagalah mereka dalam ketaatan padaMu, Ya Allah jadikanlah kami penolong AgamaMu dan Sunnah NabiMu .

Ya Allah hidup dan matikanlah kami di atas Islam dan Sunnah.
Ya Allah jadikanlah kami selalu siap berkorban di jalan-Mu, dan terimalah pengorbanan kami di sisi-Mu, wahai Zat yang Maha Pengasih

اَللَّهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا اْلإِيْمَان ، وَزَيِّنْهُ فِي قُلُوْبِنَا ، وَكَرِّهْ إِلَيْنَا الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَان ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الَّراشِدِيْن . اَللَّهُمَّ انْصُرْنَا عَلَى أَعْدَائِنَا ، وَأَصْلِحْ أُمُوْرَنَا ، وَاهْدِ وَلَاتَنَا لِمَا فِيْهِ الْخَيْرُ وَالصَّلَاحُ فِي دِيْنِنَا وَدُنْيَانَا ، إِنَّكَ جَوَّادٌ كَرِيْم. سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ وَ صَلَّى اَللهُ عَلَى مُحَمَّد وَ عَلَى آلِهِ وَسَلِّم.

  
 

 

Artikulli paraprakIduladha, Wahdah Sembelih 1.725 Kambing
Artikulli tjetërApotek Wahdah Farma II Diresmikan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini