Assalamu alaikum, pertanyaan saya jika posisi kita sebagai anak, bagaimana cara menghadapi orang tua yang selalu bertengkar karna adanya perbedaan pendapat walaupun persoalan sepele, apa tindakan yang harus dilakukan atau tips-tips untuk menghadapi keadaan tersebut.

Wa alaikum salam wa rahmatullahi wa barakatuh.
ANM – Makassar

Jawaban:

Bismillah wal hamdulillah wa as shalatu wa as salamu ‘ala rasulillah wa ‘ala alihi wa sahbihi wa sallam.

Akhi penanya -semoga Allah merahmati antum – berkenaan dengan pertanyaan diatas, ada beberapa hal yang mesti dicermati :

Hal pertama : kedudukan bakti kepada kedua orang tua dalam Islam.

Berbakti kepada ke dua orang tua merupakan kewajiban yang telah ditetapkan oleh Allah Ta’la dan Rasul Nya Muhammad ﷺ di dalam Al Qura’n dan sunnah, bahkan ia termasuk sebaik-baik amalan yang sangat dicintai oleh Allah serta dapat mendekatkan seseorang kepada Nya.

Bakti ini harus tetap ditunaikan oleh anak meski kepada ke dua orang tua yang melakukan dosa besar berupa kesyirikan sekalipun, ia tetap diwajibkan berbakti kepada keduanya dengan cara yang baik/ ma’ruf, santun, lembut penuh kasih sayang, tentu dengan tetap menjaga kemurnian aqidah agar tidak terjerumus pada perbuatan syirik mereka.

Allah Ta’la menegaskan dalam QS. [Surat Luqman 14 – 15]
(وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ * وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَىٰ أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا ۖ وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا ۖ وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ۚ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ)

Artinya :

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.

Perintah Allah ‘Azza wa jalla kepada setiap anak untuk senantiasa mempergauili kedua orang tua di dunia dengan baik , santun dan penuh kelembutan kembali di tegaskan Nya di dalam surah Al Isra’ 23-24.

(وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا * وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا)

Artinya :

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.
[Surat Al-Isra’ 23 – 24].

Demikian pula Rasulullah ﷺ telah menerangkan dalam banyak hadits beliau tentang kedudukan bakti pada orang tua yang sangat tinggi.

Imam Bukhari dan Muslim – rahimahumallah- meriwayatkan dari Sahabat Abdullah bin Mas’ud -radhiyallahu ‘anhu- bahwa beliau berkata :
سَأَلْتُ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ ؟ قَالَ : ( الصَّلاَةُ عَلَى وَقْتِهَا ) ، قَالَ : ثُمَّ أَيٌّ ؟ قَالَ : ( ثُمَّ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ ) ، قَالَ : ثُمَّ أَيٌّ ؟ قَالَ : ( الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ) .

Artinya :

Aku bertanya kepada Rasulullah ﷺ : Amalan apakah yang paling dicintai Allah ? Beliau ﷺ bersabda : “Sholat tepat pada waktunya”, aku berkata : lalu amalan apalagi ? . Beliau ﷺ bersabda : ” berbakti kepada kedua orang tua”. Aku berkata : kemudian apa lagi ?. Beliau bersabda : “kemudian jihad fi sabili. (HR. Bukhari dan Muslim )

dan masih banyak lagi dalil-dalil lain yang semakna dengannya, menunjukkan betapa tegasnya perintah berbakti pada kedua orang tua, bersikap hormat, santun dan lembut kepada keduanya.

Oleh karena itu maka Antum harus tetap berusaha bersikap hormat dan santun kepada kedua orang tua meski keduanya terlibat dalam percekcokan. Dan bahkan termasuk bahagian dari birrul walidain (berbakti kepada orang tua ) upaya Antum mendamaikan keduanya yang tengah terpasung dalam pertikaian dan pertengkaran. Sampaikan lah nasehat-nasehat yang lembut, bila perlu dengan nada memelas kepada mereka berdua.

Pilihlah momen-momen tepat saat berduaan dengan salah satu dari kedua orang tua untuk mengingatkan keduanya akan pentingnya saling menyayangi antara anggota keluarga, iangatkan pula tentang kebaikan masing-masing mereka kepada pasangannya serta pengorbanan-pengorbanan yang telah ia berikan untuk keluarga. Hal yang demikian tentu dapat membantu terciptanya harmonisasi dalam kehidupan rumah tangga dan dapat menjaga keutuhannya.

Hal kedua : Problematika Rumah Tangga.

Tidak ada satu keluarga pun yang dapat terlepas dari problem rumah tangga berupa perbedaan sikap, pandangan dan kebijakan yang acap kali berakhir dengan perdebatan sengit bahkan pertengkaran.

Hal itu merupakan sunnatullah dalam interaksi sosial sesama bani adam dan sekaligus menjadi sarana ujian bagi mereka sendiri , sejauh mana mereka dapat menundukkan hawa nafsu dan mengendalikan gejolak jiwa mereka patuh pada aturan yang telah ditetapkan oleh Allah atas mereka untuk senantiasa memperbaiki hubungan pergaulan sesama mereka dengan akhlak yang terpuji.

(وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ النَّاسَ أُمَّةً وَاحِدَةً ۖ وَلَا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ * إِلَّا مَنْ رَحِمَ رَبُّكَ ۚ وَلِذَٰلِكَ خَلَقَهُمْ ۗ وَتَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ لَأَمْلَأَنَّ جَهَنَّمَ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ)

Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat,kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. Kalimat Tuhanmu (keputusan-Nya) telah ditetapkan: sesungguhnya Aku akan memenuhi neraka Jahannam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya.

[Surat Hud 118 – 119].

Jika kita memahami bahwa pertikaian dan perselisihan itu adalah sunnatullah yang mesti terjadi dan bahwa hal itu juga merupakan ujian atas keimanan, maka seyogyanya kita tidak perlu terlalu panik menyikapinya, sebab kepanikan itu justru hanya menjadi senjata bagi syetan untuk membuat problem semakin akut dan bertambah banyak, dus mengurangi konsentrasi fikiran kita untuk menemukan solusi rabbaniyah dari pertikaian itu melalui tuntunan Al quraan dan sunnah.

Bukankah Allah berfirman :

(….. ۖ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا)
[Surat An-Nisa’ 59]

“….jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”

Oleh karena itu, maka jangan pernah panik,gelisah apalagi emosi ketika menyaksikan pertikaian antara kedua orang tua, tetaplah bersikap tenang , waspada dari hembusan bisikan syethan yang akan menambah keruh suasana rumah tangga, perbanyak zikir dan doa meminta kepada Allah solusi dari pertikaian tersebut.
Allah berfirman :

(إِنَّ الَّذِينَ اتَّقَوْا إِذَا مَسَّهُمْ طَائِفٌ مِنَ الشَّيْطَانِ تَذَكَّرُوا فَإِذَا هُمْ مُبْصِرُونَ)
[Surat Al-A’raf 201]

Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya. Berkenaan dengan ayat ini sahabat Sa’id bin Jubair sebagaimana yang dinukil oleh Imam Al Bagawi menjelaskan : berkenaan dengan seorang lelaki yang marah lalu ia berzikir mengingat Allah maka segera ia dpt menguasai kemarahannya.

Wallahu a’lam.

Dijawab oleh Ust. Fadhlan Akbar, Lc, M.H.I 
(Alumni Fakultas Syariah LIPIA Jakarta dan Ketua Komisi Aqidah Dewan Syariah Wahdah Islamiyah)

————–

Buat anda yang ingin konsultasi masalah agama islam, silahkan ke  https://wahdah.or.id/konsultasi-agama/

 

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here