“Hidup adalah jalan yang tidak pernah habis disusuri sebelum kertas-kertas waktu menggulung diri mereka dalam lipatannya sendiri.” Begitu bunyi kalimat seorang penulis dalam bukunya

Manusia selalu terjatuh dalam kesalahan, kecil maupun besar, sadar atau pun tidak. Akan  tetapi Allah selalu mengulurkan. Meskipun dosa-dosa kita seluas langit dan bumi.

Allah memiliki simpanan kebaikan yang banyak dan akan dikaruniakan kepada siapa yang dikehendaki. Allah juga mengalirkan keutamaan, meski sedikit kepada orang-orang yang senang melakukan kebaikan kepada sesama.

خير الناس أنفعهم للناس (khoirunnas anfa’uhum linnas). Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya)

وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ (Wa a’iddu lahum mastatha’tum min quwwatin).”Persiapkanlah untuk menghadapi mereka segala quwwatin (kekuatan) yang kalian sanggupi” [Qs.al- Anfal : 60]

Faaqidu syai’in laa yu’thi (orang yang tidak memiliki apa-apa, tidak bisa memberi apa-apa).”

Tidak punya ilmu, artinya tidak bisa mengajar. Tidak punya harta, artinya tidak bisa berderma. Tidak punya power, artinya tidak bisa menolong orang-orang yang dizhalimi, atau tidak bisa meringankan beban yang mendera, atau tidak bisa memberi makan bagi yang kelaparan, atau juga tidak bisa membantu yang terkena musibah. Kalau hanya mengungkapkan simpati saja, tidak cukup. Jika kita tidak sehat, itu artinya susah menebar senyum. Jika tidak punya waktu, artinya terhalang menjenguk orang sakit. Jika tidak memiliki keahlian, artinya tidak bisa mengerjakan apa-apa. Jika tidak punya ide brilian, artinya tidak bisa mengusulkan, dan seterusnya.

Karena itu, orang-orang mukmin menghindari dirinya dari kekosongan dan kehampaan. Jangan sampai dia tidak punya apa-apa. Jangan sampai otaknya kosong dari ilmu. Jangan  sampai telinganya kosong dari sifat peka. Jangan  sampai matanya pura-pura buta melihat kesusahan sesama saudaranya. Bahkan jangan sampai sekali-kali hatinya kosong dari keimanan. Karena iman adalah alas atau dasar dari kerja/aktivitas memberi. Semua upaya akan menjadi mudah, kalau sedari awal iman sudah menancap kuat di dasar hati kita.

Dalam perjalanan dakwah akan ada tantangan, mungkin saja jalan dakwah yang kita lalui menyakitkan, dianggap biasa saja oleh sekitar, bahkan direspon negatif.

“Jangan bersedih bila kebaikanmu tidak dihargai manusia. bukankah yang kamu cari adalah pahala dari Allah?” Sungguh indah kalimat yang ditulis oleh Dr. Aidh Al Qarni

Dakwah adalah cinta, maka ketika semua telah dikerjakan dengan penuh cinta. Hujatan, cemohan, siksaan, cercahan, pukulan, kelaparan, ujian dan lelah akan berubah menjadi Lillah “Karena Allah” 

Semua yang kita lakukan hari ini belum ada apa-apanya seperti yang telah dilakukan oleh Rasulullah dan para Sahabat dalam memperjuangkan Dakwah di zamannya.

Rasulullah pernah dilempar kotoran unta oleh orang-orang kafir Makkah, kedua kakinya dicederai dan wajah beliau dilukai, diusir dari Makkah, dipukul gerahamnya hingga retak, bahkan beliau pernah mengikatkan batu di perutnya untuk menahan lapar, dianggap sebagai orang gila, penyair dan pembohong.

Abu Bakar siap menghadapi semua bahaya pada saat hijrah untuk melindungi Rasulullah. Umar bin khattab yang mengelilingi kota Madinah pada saat penduduk Madinah sedang terlelap dalam tidurnya. Pada musim paceklik, Umar hanya bisa membolak-balikkan badan karena lapar. Seluruh makanan yang ia miliki telah dibagikan kepada rakyatnya. Kemudian Umar wafat dilumuri dengan darahnya sendiri karena ditusuk oleh seorang musuh Allah saat sedang bermunajat pada penciptaNya dalam shalat Subuh. Dalam keadaan sakaratul maut, ketika darah mengalir deras dari luka tusukan, Khalifah Umar masih sempat bertanya kepada seorang sahabatnya. “Apakah dia telah menyempurnakan shalat?” Dalam keadaan segenting itu, saat ajal sudah semakin dekat beliau masih sempat menanyakan shalat orang lain. Hatim rela tidur dalam keadaan lapar asal tamu-tamunya kenyang. Abu ubaidah tidak tidur malam, ditengah tentaranya yang nyenyak tertidur. Abu thalhah menjadikan dirinya sebagai tameng pada perang uhud, demi melindungi Rasulullah dari gemparan anak panah. Ibnul mubarak memberi makanan kepada orang lain, padahal dia sendiri dalam keadaan puasa. Sa’ad bin Rabi yang meninggal sebagai syuhada dalam perang uhud, dia terluka dan tubuhnya berlumuran darah. Namun saat menjelang kematian, dia masih sempat menanyakan keadaan Rasulullah. Bilal yang disiksa dengan tindihan batu dan bara pasir Makkah dibawah terik matahari. Yasir yang ditombak dadanya tembus hingga ke punggungnya. Sumayah yang ditombak kemaluannya hingga tembus ke mulutnya. Khattab ibn Al arats yang dilelehkan dagingnya diseret diatas bara. Nabi zakariyah dibunuh kaumnya, Nabi yahya dijagal, Nabi Musa diusir dan dikejar-kejar. Nabi Ibrahim dibakar, Ibrahim yang konsisten kepada perintah Allah, walaupun harus mengorbankan anak kesayangannya. Utsman dibunuh diam-diam dan Ali ditikam dari belakang. Nabi Nuh yang tetap mengajarkan kebenaran selama 950 tahun walaupun pengikutnya hanya beberapa puluh manusia saja. Khadijah, Asiyah, Maryam, Aisyah, Siti Hajar, Siti Sarah adalah wanita-wanita yang konsisten berpihak kepada kebenaran walaupun harus menderita.

Saat banyak sahabat nabi yang terbunuh sebagai syuhada di kota Kandahar, Umar bin khattab berkata kepada para sahabat yang tersisa, “Siapa saja yang terbunuh?” lalu disebutkanlah sejumlah nama.

“Dan masih banyak lagi yang tak kalian kenali.” kata para sahabat.

Maka tiba-tiba kedua mata Umar meneteskan air mata lalu kemudian  berkata “Tetapi Allah mengetahui mereka.”

Terakhir, Syaikh Ahmad Yasin adalah tokoh pejuang palestina. Hidupnya sangat sederhana dan rendah hati, bukan hanya kepada muslim, tapi juga non muslim. Sepanjang hidupnya beliau sangat dicintai rakyatnya, laki-laki tua, lumpuh dan buta mata kirinya. Hingga beliau menjemput kematiannya dengan cara mulia. Usai shalat subuh berjamaah di masjid Al mujama Al Islami di kota Gaza, beliau terkena rudal yang dilepaskan melalui helikopter Apache milik tentara Israel hingga rudal menghantam tubuhnya yang lumpuh.

Mereka hanya sebagian kecil dari para guru sejati yang kisahnya membuat punggung saya pribadi dan kita semua tegak, dada kita lapang dan hati berseri-seri, yang keteguhannya memancar menerangi, yang kagumnya lahir dari iman kokoh, kukuh, bergerun mengatasi gejolak hati dan nafsu diri.

“Berjalanlah untuk berdakwah dan menunjukkan jalan kebenaran, hingga penat kakimu dan rusak sandalmu.” Bunyi kalimat dalam buku yang pernah saya baca.

Semangat dakwah, kekuatan fikrah serta keyakinan yang begitu menghujam dalam dada, tidak akan bisa dilumpuhkan hanya dengan siksaan fisik. Dakwah itu menyalah dalam dada.

Syaikh Abdul Qadir Jailani berkata “Tanda-tanda keikhlasanmu adalah engkau tidak pernah menoleh kepada pujian dan sanjungan manusia. Juga tidak ambil pusing dengan celaan dan cercahan mereka.” Beliau juga berkata “Jika engkau terkagum-kagum dengan amal-amalanmu karena kekaguman itu dapat merusak dan menghapus kebaikan-kebaikan yang engkau telah kerjakan.”

Itulah keimanan, ketika sudah menancap kuat dalam dada maka ia akan menjadi lapang. Maka segala panggilan kebaikan akan mudah diterima. Jika dada telah lapang karena iman, ia hanya berpikir bagaimana bisa mengumpulkan  sebanyak mungkin kebaikan.

وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ۚ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ

“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.” (Qs. Fushsilat : 34)

وَكَفَىٰ بِرَبِّكَ هَادِيًا وَنَصِيرًا

“Dan cukuplah Rabb-mu menjadi pemberi petunjuk dan penolong.” (Qs.Al Furqan : 31)

Bersikaplah laksana batu cadas, tetap kokoh berdiri meski diterpa butiran-butiran salju yang menderahnya setiap saat dan ia justru semakin kokoh karenanya. Jadilah seperti pohon yang tidak pelit memberikan naungan walaupun pada manusia yang hendak menebangnya. Jadilah seperti bunga, yang tetap memberikan keharuman bahkan pada tangan yang merusaknya.

Selamat menggenggam semua dengan iman. Semoga Allah menukar seluruh kekhawatiran itu dengan ketenangan, memudahkanmu dalam berjuang mengalahkan diri dan perasaan, serta mempertemukanmu dengan pintu-pintu keselamatan. 

Penulis : Dian Rahmana Putri

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here