Pertanyaan ini serupa jika ditanya; “mengapa harus kerja setelah kuliah?”. Begitulah kiranya penting sebuah amal setelah kita berilmu. Sebagaimana kata pepatah; “Ilmu tanpa amal, serupa pohon tanpa buah”. Maka tidaklah heran jika seorang yang berilmu tidaklah dikatakan berilmu hingga ia mengamalkan ilmunya, baik itu dengan mengamalkan secara pribadi atau mengajarkannya kepada orang lain.

Adalah Ibnul Jauzi bercerita dalam kitabnya “Soydul Khotir”, tentang asas sebuah ilmu adalah dengan amal;

“Aku bertemu dengan beberapa masyaikh, dengan beragam keadaan, bervariasi dalam tingkat keilmuannya. Dan yang paling bermanfaat bagiku adalah bersama mereka yang beramal dengan ilmu, walaupun banyak yang lebih berilmu darinya.

Dan aku bertemu banyak dari ulama hadits, para penghafal dan juga paham dengan hadits-hadits Nabi, akan tetapi mereka bermudah-mudah dalam membicarakan keadaan orang lain, banyak menyibukkan diri dalam perihal jarh wat ta’dil, mengambil upah dari pembacaan hadits, bahkan cepat dalam menjawab pertanyaan, agar kiranya orang tidaklah mengira bahwa ia tidak paham masalah tersebut, walaupun jawaban mereka salah.

Dan aku bertemu dengan Abdul Wahhab Al-Anmaty[1], beliau adalah contoh tauladan dari para salaf sholih, tidak pernah terdengar di majelisnya tentang ghibah, beliau tidak menerima upah dari mengajarkan hadits. Dan ketika aku membacakan padanya hadits Nabi tentang hati, beliau menangis dan tangisannya terkadang membuatku ikut menangis. Beliau adalah seorang yang pendiam dari semua guru yang aku belajar darinya.

Dan aku juga bertemu dengan Syaikh Aba Mansur Al-Jawaliqy[2], beliau adalah guru yang banyak diam, dan paling berhati-hati dalam berbicara, seorang mutqin dan muhaqqiq, bahkan setiap diajukan padanya pertanyaan beliau terdiam sejenak hingga beliau yakin dengan jawabannya, barulah beliau menjawab. Dan beliau juga banyak berpuasa dan diam.

Dari mereka berdua aku mendapatkan banyak manfaat, lebih dari guru-guruku yang lain.

Dari mereka aku paham bahwa; “Dalil dengan perbuatan lebih konkret dan membekas dari dalil perkataan”. Maka benarlah bahwa asas dari ilmu adalah dengan beramal.

Dan miskin bahkan lebih miskin lagi, yang umurnya terbuang dalam menuntut ilmu tanpa pernah beramal dengan ilmunya. Mereka semua terputus dari kelezatan dunia, dan kebaikan akhirat, dan jadilah mereka orang yang merugi walau mereka memiliki hujjah-hujjah yang kuat dalam akal mereka”[3].

Sahabat pembaca semoga Allah merahmati kita semua.

Dan dari sebelum Ibnul Jauzi mengajarkan kita tentang pentingnya amal setelah berilmu, telah lebih dahulu Nabi shallallahu alaihi wa sallam mengabarkan kepada kita;

Dari Abu Barzah Al Aslami rādhiyallāhu ‘anhu, Nabi shāllallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ القِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ أربع – و ذكر منها عليه الصلاة و السلام- : عن علمه ما ذا عمل به

“Telapak kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada hari kiamat kelak hingga ia ditanya tentang empat hal : (salah satunya adalah) tentang ilmunya, apa yang sudah ia amalkan dari ilmunya tersebut?” (HR. Tirmidzi dan beliau berkomentar : “hadits hasan shāhih”).

‘Abdullah bin Al Mu’tazzi rāhimahullāh juga mengatakan,

علم المنافق في لسانه, و علم المؤمن في عمله

“Ilmunya orang munafiq itu ada di lisannya, sedangkan ilmunya orang mukmin itu ada di amalannya”.

Maka dari sini kita memohon kepada Allah, semoga ilmu yang kita pelajari menjadi penolong kelak di hadapan Allah, menjadi pengantar kita menuju surga dan ridho-Nya insya Allah. Allahumma Aamiin

[1] Abdul Wahhab ibnul Mubarak, Abul Barakaat, seorang ahli hadits dari bashrah di zamannya, wafat tahun 538 H.

[2] Mauhub ibnu Ahmad, seorang ahli dalam adab dan sastra, wafat tahun 540 H

[3] Kitab Soydul Khotir hal: 94.

Oleh Alif jumai rajab (Mahasiswa Universitas Islam Madinah KSA)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here