ummi, abi besok ke daerah, ada amanah program dakwah ?”

 “Lho…abi, perasaan dua hari lalu sudah ke daerah ?

 “Perasaan ummi tidak salah. Tapi tanggung jawab abi meminta kerelaan perasaan ummi..”

 ****

Menyelami nilai-nilai pernikahan bagi para pejuang tentu akan berbeda rasa dan maknanya. Kita tidak bisa terlalu gegabah melihat setiap fase dengan sudut-sudut pandang yang tidak lengkap tentang apa, bagaiman dan seperti esensi  laki-laki dan perempuan pejuang yang telah terikat dalam ikatan pernikahan. Karena pada akhirnya kita akan  mengerti, baik menikah atau masih sendiri. Tetap sama saja perjuangannya, hanya saja ranah/zonanya yang berbeda. Perjuangannya tetap tidak mudah, sabarnya tetap tidak boleh surut, syukurnya tetap harus meluap.

Maka dititik ini kita akan menyadari bahwa menikah bukan hanya soal perayaan, atau melulu soal keromantisan pasangan, tapi bagaimana menjadikan pernikahan itu jalan yang tujuannya Allah. kita akan memahami bahwa untuk memuluskan tujuan tersebut  kita harus membuat tujuan yang jelas yang menjadi tujuan bersama, bukan hanya untuk salah satu pihak.

Bagi pasangan pejuang agama Allah, arah yang coba dituju adalah arah umat, umat yang dikhawatirkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam bahkan hingga detik-detik terakhirnya. Tidak hanya sibuk memupuk amal  untuk keluarga tetapi juga untuk orang-orang di sekitar. Maka landasannya adalah ridha Allah subhanahu wata’ala.

Setiap pasangan pejuang akan berpikir, bagaimana pernikahan bisa membentuk sebuah keluarga yang memiliki peran untuk umat. Setiap tindakan dan keputusan  yang akan diambil, mempertimbangkan tidak hanya persoalan pribadi dan keluarga, tetapi juga apakah keputusan tersebut memberi manfaat kepada umat atau justru mencederainya.

Teringat sebuah hadits “Dari Abu Mu’awiyah-Abdullah bin Abi Aufa radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah shallahu alaihii wasalam  pernah memberi berita gembira kepada khadijah Rodhiyallahu Anha berupa satu rumah di surga yang terbuat dari mutiara ,yang di dalamnya tidak ada keributan dan kelelahan.”(Muttafaq‟alaih)

Salah satu kandungan hadits diatas adalah menjelaskan tentang keutamaan Khadijah binti Khuwailid, sebagai  wanita yang pertama masuk islam, yang telah membantu Rasulullah shalalhu alaihi wasalam dalam menghadapi berbagai kesulitan dengan mengerahkan seluruh harta bendanya yang sangat berharga untuk Rasulullah. Sosok Khadijah, istri dari Rasulullah shallahu ‘alaihi wasalam. Wanita yang mengimaninya ketika orang-orang mengkufurinya, mempercayainya ketika orang-orang tidak mempercayainya, menerima apa yang beliau katakan ketika orang-orang mengingkarinya, setia mendampinginya dalam kehidupan yang susah maupun senang, mengerahkan seluruh harta, jiwa dan raganya untuk membantu dakwah Rasulullah shallahu ‘alaihi wasalm,  sampai Rasulullah shallahu ‘alaihi wasalm memberitakan kepadanya tentang rumah disurga yang terbuat dari mutiara yang Allah subhanahu wata’ala janjikan untuknya dalam sebuah buku yang berjudul Syarah Riyadhush Shalihin hadits no 708.

Dari Khadijah akhirnya perempuan-perempuan islam belajar, bagaimana seorang wanita yang berhasil dalam melaksanakan perannya dan cerdas dalam emosi akan dapat mengantarkan pria (suami) pada keberhasilan. Karena tentunya Ia mampu untuk “memainkan” emosi pasangannya, kapan saat dan cara yang tepat untuk menyarankan, untuk mengarahkan, dan kapan waktu yang tepat untuk mengungkapkan pendapat, ketidaksetujuan, ketidaksukaan, dan kekesalan. Peranan istri bukan hanya sebagai pendamping suami akan tetapi yang lebih besar adalah sebagai motivator terbaik dan utama bagi seorang suami. Motivator yang mampu menularkan semangatnya pada orang-orang yang berada disekitarnya, seorang penasehat yang baik dapat membuat orang mengambil keputusan yang bijaksana.

Dari Khadijah radhiyallahu ‘anha, keluarga pejuang belajar untuk mendukung kemudi perjuangan. Dengan berbagai sifat dasarnya, lembut, penuh kasih sayang, dilindungi, dihormati dan dihargai. Kehadirannya diperlukan oleh setiap manusia disemua peringkat usia. Sebagai anak dia menyenangkan. Sebagai saudara, dia menentramkan. Sebagai ibu, dia pendidik ulung. Dan sebagai istri, dia menginspirasi. Dibalik kekurangannya dari sisi akal dan agamanya, dalam banyak situasi, wanitalah pemeran utama dibelakang layar. Jika baik pendidikan yang diterimanya, baiklah pula pengaruh yang dibawanya. Malah dalam banyak kisah dari seluruh dunia, dialah yang membangunkan pria, memberikan motivasi dan buah fikiran yang tak dapat ditepikan

Karena kita menyadari bahwa kehidupan rumah tangga tidak selalu selaras dengan keinginan kita, didalamnya akan banyak sekali hantaman atau masalah yang akan muncul baik dari dalam maupun dari luar. Didalam kehidupan rumah tangga sangat dibutuhkan kepercayaan, dan komunikasi yang baik, serta dukungan dari masing-masing pasangan, dan dukungan seorang istri terhadap suaminya dalam menyebarkan agama Allah subhanahu wata’ala, memiliki peranan yang penting, sehingga bisa memotivasi dan membangkitkan semangat dalam berjihad dan berdakwah kata kunci kebesaran islam.

Maka benarlah yang di katakan Allah dalam Alqur’an.

 “Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang munkar, melaksanakan shalat, menunaikan zakat, dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah. sungguh, Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana.”(QS. At-Taubah: 71)

Orang-orang yang beriman baik laki-laki maupun perempuan, mereka seperti satu bangunan yang saling menguatkan satu dengan yang lainnya, sehingga timbullah Ukhuwwah persaudaraan, saling cinta dan mencintai, saling tolong menolong, dan saling menguatkan, dalam rangka ibadah untuk mencari ridha Allah Subhanahu wata’ala. Seperti suami istri yang saling mendukung satu sama lain dalam rumah tangga, aktifitas, terutama dalam hal menyeru dan mengajak manusia mendekat kepada Allah Subhanahu wata’ala yakni dengan berdakwah.

“Selamat berbahagia menjadi keluarga pejuang.

 

Oleh: Zelfia
(Dosen Ilmu Komunikasi UMI, Kadept Humas dan Infokom Muslimah Wahdah)

 

Berita sebelumyaHukum Membawa HP Kedalam WC
Berita berikutnya“TABIB SETENGAH-SETENGAH”: WASPADALAH!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here