Mencoba Terobos Tradisi, Urus Jenazah Sesuai Syariah
Pelatihan Penyelenggaraan Jenazah Lembaga Muslimah WI (2-Selesai)
(Harian Fajar Makassar, 5 Februari 2008, Hal.21)

Jika sudah mahir, satu tim pelatih bisa melayani jenazah hanya tempo setengah jam. Mulai memandikan, hingga mengkafani.LAPORAN: Dian Muhtadiah

Pembicaraan dengan Darmawali, seorang instruktur jenazah, terhenti sesaat, ketika tempat yang dituju kini di hadapan kami.

Sebuah bangunan semi modern dengan kombinasi cat hijau, yang dijadikan kantor Wahdah Islamiyah Cabang Makassar. Di dalamnya, duduk seorang wanita bercadar, tengah asyik menggunting karton. Rupanya, ia hendak membuat huruf spanduk.

Wanita yang dikenal dengan Apriyani itu pun mempersilakan penulis masuk. Kemudian, ia kembali hanyut dengan tugasnya. Di tempat sama, Darmawali bergegas ke dalam. Tak sampai lima menit, ia muncul sambil menenteng kantong plastik putih.

"Ini perlengkapan mayat satu paket, Mbak. Di dalam sudah lengkap," katanya sambil mengeluarkan satu persatu barang dari kantong tersebut.

Perlengkapan pertama yang ditunjukkan adalah alat mandi. Alat mandi itu terdiri gayung, sabun, shampo, sisir, pemotong kuku, kapur barus, kain pengganti.

Yang lainnya adalah perlengkapan pengkafanan. Mulai terpal plastik, kain kafan, parfum, tali rafia, kapas, benang, dan jarum. "Harga satu paket ini Rp250 ribu, sudah termasuk satu tim yang terdiri tiga orang," ulasnya. Harga itu, tidak termasuk ambulans.

Darmawali lantas mengajak penulis melihat langsung proses pelatihan tersebut. Diajaknya Apri — sapaan akrabnya, yang akan berperan sebagai jenazah. "Untuk membungkus jenazah wanita, dibutuhkan lima lapis kain," paparnya.

Kedua wanita ini, dengan luwesnya langsung menggelar terpal putih di atas lantai keramik. Terpal itulah yang akan dijadikan sebagai lapisan pertama.

Di atas terpal, Apriyani membaringkan diri sejenak agar bisa dilakukan pengukuran. Pengukuran cara ini berbeda dengan lazimnya. Caranya, setelah ‘jenazah’ terbujur, maka Darmawali mengambil lapisan kedua atau kain kafan.

Kain itu lalu digulung memanjang, diarahkan ke sejajar tubuh ‘mayat’. Sedikit panjangnya dilebihkan, kira-kira sejengkal. "Ini nantinya untuk mengikat ujung kepala dan kaki jenazah, atau seperti ikatan ‘pocong’, Mbak," beber wanita bercadar ini.

Dari ukuran tubuh itu diketahui, berapa kira-kira kain kafan yang dibutuhkan jenazah.
Sebelum menggelar kain kafan yang telah terukur tadi, digelar juga lima tali pengikat luar.

Bahannya sama, dari kain kafan. Nah, barulah kain atau lapisan kedua ini digelar. Dari lapisan ini, digelar kerudung, kain kafan yang dibentuk segitiga. Digelar juga lapisan keempat sebagai baju, dan terakhir lapisan kelima, yakni rok. Sebagai tambahan, ada juga popok yang berisikan potongan-potongan kapas.

Setelah semuanya rampung, barulah Apriyani atau ‘jenazah’ tersebut dibaringkan. Benar saja, dengan pengurutan kain lapisan itu, memudahkan mengkafani jenazah.

"Kami satu tim, paling cepat kami bekerja mulai memandikan hingga mengkafani, hanya 30 menit," ujarnya sambil menyebut, dalam unit sosial itu ada dua tim yang siap terjun. Itu termasuk untuk jenazah laki-laki.

Untuk menjadi seorang instruktur jenazah, cukup latihan dua kali. "Di sini tidak ada pelatihan berkala, Mbak. Kapan dibutuhkan, kami latihan lagi," jelas wanita yang berjubah cokelat ini. Diakuinya, sudah banyak masyarakat umum yang mengikuti pelatihan.

Mulai siswa SMA, majelis taklim, kampus, maupun berbagai instansi. "Rata-rata, sebulan ada dua instansi. Tapi kalau ramai, ya, bisa sampai lima kali pelatihan," beber Darmawali. Sementara, mengurus jenazah langsung, kata dia, sebulan bisa empat jenazah.

Lalu, apa tantangannya menjadi pengurus jenazah yang terbilang ‘muda’? Darmawali diam sebentar. "Hm, paling menghadapi komplain masyarakat khususnya orang-orang tua.

Biasanya, mereka memprotes kenapa kami tidak mengikuti tradisi," lugasnya. Tradisi yang dimaksud seperti pemberian bunga, kemenyan, atau pun beras pada saat jenazah dimandikan. (*) http://fajar.co.id/news.php?newsid=54170 

Artikulli paraprakDPC Gowa Gelar Tabligh Akbar dan Donor Darah
Artikulli tjetërPelatihan Murabbi- Daurah Takwiniyah WI Yogyakarta

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini