Memurnikan Pemahaman Agama

Tanggapan atas tulisan Supa Atha’na

TRIBUN TIMUR/Senin, 2 Februari 2009 | 06:08 WITA

 

Banyak masyarakat Islam yang terpengaruh dengan ajaran Abdullah bin Saba ini, terutama orang-orang Persia Iran yang ditaklukkan kerajaan mereka oleh kaum Muslimin, golongan ini disebut Syiah Rafidhah yang berpusat di Iran sekarang. Kalau diteliti, ada beberapa hal menjadi penyebab penyimpangan golongan di atas.

AGAMA Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam, telah sempurna semenjak Allah Azza Wa Jalla menurunkan surat Al Maidah: 3, yang artinya; "Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan Kepadamu ni’matKu dan telah Kuridhai Islam itu sebagai agama bagimu".

Agar Islam ini terpelihara ajarannya dari perubahan dan tambahan-tambahan, maka seorang Muslim diwajibkan untuk berpegang teguh pada dua pusaka yang sangat mulia, yakni; Alquran dan Hadits/ Sunnah sebagai penjelasan nabi atas kandungan Alquran, sebagaimana yang dijelaskan dalam QS. An-Nahl: 44; "Dan Kami turunkan kepadamu (Muhammad) Alquran agar Engkau menerangakan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka, dan supaya mereka berpikir.

Dalam rangka menjaga agama Islam dari perbedaan penafsiran dan pengamalan maka nabi Shallallahu alaihi wasallam bersabda; "Sesungguhnya siapa yang hidup (lama) diantara kamu, maka ia akan melihat perselisihan yang banyak, maka ikutilah sunnahku, dan sunnah Khulafaur Raasyidin yang mendapat petunjuk". (Hadits Shahih Riwayat Tirmidzi).

Di hadits yang lain, pada saat Rasulullah menjelaskan tentang golongan yang selamat  dari umatnya, beliau bersabda; "Yang selamat ialah orang yang mengikuti apa yang Aku lakukan dan dilakukan oleh sahabatku" (HR. Tirmidzi). Ini menunjukkan bahwa segala pemahaman dan pengamalan yang berkaitan dengan keagamaan, maka hendaklah selalu merujuk kepada pemahaman dan pengamalan nabi dan para sahabatnya.

Pemahaman, serta pengamalan para tabi’in dan tabi’it-tabi’in termasuk imam yang empat, imam Abu Hanifah, imam Malik, Imam Syafi’ie, serta imam Ahmad. Sabda nabi Shallallahu alaihi wasallam; "Sebaik-baik masa ialah masaku, kemudian masa berikutnya, kemudian masa berikutnya" (HR. Bukhari dan Muslim)


Kebenaran Prediksi

Tidak lama setelah nabi wafat, maka timbullah golongan khawarij, aliran keras yang sangat mudah mengkafirkan sesama muslim, walau hanya dengan melakukan dosa kecil. Golongan inilah yang telah membunuh Sayyidina Ali radhiallahu anhu. Ada juga golongan Murjiah, yang terlalu meringanringankan agama. Golongan ini berpendapat, seseorang yang sudah mengucapkan kalimat syahadat, sudah sempurna imannya. Meskipun, orang tersebut tidak beramal, bahkan tidak salat sekalipun.

Sebelumnya, di zaman pemerintahan Usman bin Affan, seorang Yahudi, Abdullah bin Saba’ masuk Islam lalu menyebarkan paham, bahwa nabi sebelum wafat telah menunjuk Ali Radhiallahu anhu sebagai penggantinya, dan khalifah-khalifah sebelumnya, tidak sah, berkhianat, dan terlaknat karena telah merampas haknya Sayyidina Ali.

Banyak masyarakat Islam yang terpengaruh dengan ajaran Abdullah bin Saba ini, terutama orang-orang Persia Iran yang ditaklukkan kerajaan mereka oleh kaum Muslimin, golongan ini disebut Syiah Rafidhah yang berpusat di Iran sekarang. Kalau diteliti, ada beberapa hal menjadi penyebab penyimpangan golongan di atas

Pertama,  tidak memahami Alquran berdasarakan hadits nabi dan pemahaman sahabatnya, dan pengikut sahabat, sebagaimana yang telah dijelaskan dalam Alquran at-Ttaubah: 100; "Dan orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Allah telah ridha kepada mereka, dan merekapun ridha kepadaNya". Kedua, Pemahaman agama yang berdasarkan hadits-hadits yang lemah, bahkan hadits-hadits palsu (maudhu).

Kesalahan Atha’na
Sebagai contoh. Dalil Supa Atha’na dalam tulisannya, Assikalabineng, Refleksi Pemikiran Muslimin Persia, pada paragraf sepuluh, tentang sabda Rasulullah yang berbunyi; "Saya adalah kota Ilmu dan Ali adalah pintunya". Hadits ini adalah palsu, dan mengandung cercaan kepada nabi Shallallahu alaihi wasallam, sebab begitu banyak sahabat yang beliau didik, ternyata yang berhasil satu saja, yaitu Ali bin Abi Thalib (lihat kitab Al-Intishar lil Ashhab wal Al Dr. Ibrahim Ar Ruhaily hal: 514).

Adapun hadits, "Sesungguhnya Aku tinggalkan kepada kalian dua pusaka yang berharga, Alquran dan Itrahku, Ahlil Baitku". Hadits ini tidak shahih atau lemah meskipun diriwayatkan oleh Tirmidzi. Riwayat yang shaihih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, kandungannya ialah perintah berpegang teguh pada Alquran dan mengamalkannya karena ia cahaya dan petunjuk.

Memberi haknya ahlul bait, dan janganlah berbuat aniaya kepada mereka adalah keharusan. Adapun ahli bait Rasulullah, ialah; Ali, Fatimah, Hasan dan Husain, ditambah dengan seluruh kerabat nabi, yang juga tidak boleh menerima zakat, yaitu Keluarga Ali, Keluarga ja’far, Keluarga Aqil, keluarga Abbas, serta keluarga Harits bin Abd Muththalib (Hadits Zaid bin Arqam riawayat Muslim dalam kitab Haqbath minat Tarieln oleh Usman Al-Khamish hal:189)

Di paragraph yang lain Supa Atha’na juga telah keliru menulis terjemahan Alquran surah Asy-Syura ayat 23, pada kalimat, "Illaa mawaddata fiel Qurban" – dengan: "Kecuali kecintaan kepada ahlul baitku (keluargaku)". Padahal yang benar ialah kasih sayang dalam kekerabatan (lihat terjemahan Alquran Depag RI). Dan inilah  ciri khas Muslim Persia Iran yang berani merobah-robah kalimat untuk menguatkan pendapatnya.

Mengenai doa nabi Adam dengan bertawasssul kepada nabi Muhammad, Ali, Fathimah, Hasan dan Husain sehingga diampuni dosanya oleh Allah dan bahwa setelah nabi Adam turun ke bumi, beliau membuat cincin dan mengukir padanya Muhammad Rasulullah wa Aliyyun Amirul Mu’minin. Kami garis bawahi dengan dua pandangan, pertama, Tawassul dengan wibawa kemuliaan nabi, sahabat seperti ini terlarang dan termasuk syirik (Lihat Anwa wa alika at-Tawassul oleh Abdullah bin Abdul Hamid al-Atsariy halaman: 187-188).

Kedua, biasanya berita seperti ini dhaif (lemah) atau maudhu (palsu) maka Supa Atha’na perlu mempertanggungjawabkan perawi/ sanad berita ini sesuai dengan disiplin ilmu hadits. Sebab setiap berita selain al-Qur’an benar dan salahnya ditentukan oleh sanad berita itu.

Di paragraph yang lain, tulisan Supa Atha’na yang paling fatal adalah kebanggaannya ikut mengusung konsep kemanunggalan Allah, Rasulullah, Ali, Fathimah dalam kalimat: "Allah Ta’ala mabbarattemmu Muhammad Mappenadding, Ali mappugau, Fathimah tattarimai." Lalu ia mengutip terjemahannya: "Allah  Ta’ala yang bersetubuh, Muhammad yang merasakan, Ali yang berbuat, Fathimah yang menerimanya"-Na’udzubillah.

Orang Islam yang sehat fikirannya pasti menolak dan protes kata yang "jorok" itu dipakai untuk Allah. Bahkan Ulama yang tegas akan mencapnya sebagai kekafiran. Itulah sebabnya Al-Halla sufi Persia lahir 866 M dihukum mati berdasarkan fatwa Ulama karena tidak mau surut dari ucapannya, "Ana al Haq, maa fi jubbatiy illallah" (Akulah kebenaran itu, tidak ada dalam jubbahku kecuali Allah).

Sebagai kesimpulan, tulisan Supa Atha’na di kolom tribun opini dengan judul Assikalabineng, Refleksi Pemikiran Muslim Persia mengandung kesalahan besar karena: 1). Memahami dalil Alquran dan hadits tidak sesuai dengan pemahamn para salafussaleh. 2). Bersifat ghuluw (berlebih-lebihan) terhadap sayyidina Ali, Fathimah, Hasan dan Husain. 3). Berdasarkan pemahaman pada hadits yang lemah bahkan palsu. 4). Mengandung faham kemusyrikan, yaitu tawassul dan wihdatul wujud.***

Artikulli paraprakDPC Kendari Gelar Donor Darah
Artikulli tjetërMesir Imbau Relawan Indonesia Keluar dari Gaza Khairul Ikhwan – detikNews

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini