Assalamualaikum.. Ustadz saya mau bertanya, bagaimana cara mengganti kafarat bagi suami istri yang berhubungan saat bulan puasa, apakah keduanya wajib mengganti atau suami saja karena suami yang memaksa istri. Bagaimana jika tidak sanggup puasa 2 bulan berturut2 , karena berat sekali utk menjalankannya?demikian pertanyaan saya, wassalam..
Ivone – Kab Paser

Jawaban:
Wa alaikum salam warahmatullahi wa barakatuh.
Sesungguhnya jima’ pada siang hari di bulan Ramadhan merupakan dosa besar dan pembatal puasa yang paling besar, maka wajib untuk bertaubat kepada Allah azza wa jalla di samping kewajiban untuk membayar kaffarat (tebusan) sebagaimana yang anda isyaratkan, adapun hal-hal terkait kaffarat maka perlu diperhatikan hal-hal berikut ini:

1- Bahwa orang yang membatalkan puasanya disebabkan oleh jimak pada siang hari di bulan Ramadhan, maka dua kewajiban yang harus ia lakukan: yang pertama: harus mengqadha’ puasanya, yang kedua: harus membayar kaffarat. Dan kaffaratnya adalah satu diantara 3 hal, sebagaimana diisyaratkan dalam hadits Abu Hurairah:
– Membayar kaffarat dengan memerdekakan budak
– Jika tidak mampu, maka dengan berpuasa 2 bulan berturut-turut
– Jika benar-benar tidak mampu setelah diusahakan, maka dengan memberi makan 60 orang fakir dan miskin.
Teknis membayar kaffarat adalah dengan melaksanakan salah satu dari tiga hal diatas, namun dengan berurutan, maksudnya harus dimulai dengan kaffarat pertama, yaitu membebaskan budak, jika tidak mampu, karena tidak memiliki budak, maka berpindah kepada kaffarat yang kedua, yaitu berpuasa 2 bulan berturut-turut, dan jika tidak mampu pula, padahal ia sudah berusaha maka berpindah kepada kaffarat yang ketiga, memberi makan 60 orang fakir miskin.

2- Adapun terkait kewajiban isteri dalam membayar kaffarat, maka hal ini terkait dengan keadaan istri ketika melakukan hubungan dengan suaminya, dalam hal ini ada dalam dua keadaan:
– Keadaan pertama: dalam keadaan memiliki udzur, misalnya tidak mengetahui hukumnya, atau terpaksa karena dipaksa sang suami untuk melayaninya, bahkan diancam dengan ancaman tertentu atau dipukul. Jika ini kondisinya maka seorang istri tidak turut dalam membayar kaffarat, ini adalah pendapat imam Ahmad, Ibnu Taimiyah, syaikh Bin Baz dan Syaikh Muhammad bin Shaleh al-Utaimin.
Syaikh bin Baz mengatakan:”…dan jika sang istri dipaksa untuk melayani suaminya, bahkan diiringi dengan pukulan, atau diikat, maka dosanya (berjimak di siang hari di bulan Ramadhan) khusus untuk suami, sebab ia yang melakukan kedhaliman, namun jika sang istri pura-pura menolak (padahal ia mau&tidak ada ancaman dan kekerasan dari suami ketika mengajak berhubungan, pent), maka wajib bagi kedua pasangan untuk membayar kaffarat, dan mengqodho puasa di waktu yang lain, serta melanjut puasa ramadhannya pada hari tersebut…”.
lihat: https://binbaz.org.sa/fatwas/17288

– Keadaan kedua: dalam keadaan tidak memiliki udzur, maksudnya sang istri menyambut ajakan sang suami, dan tahu konsekswensi hukumnya, maka dalam kondisi ini wajib bagi sang istri untuk mengqodho’ puasa dan membayar kaffarat sebagaimana sang suami.

3- Diantara cara memberi makan 60 fakir miskin, adalah dengan memberikan makanan pokok kepada masing-masing mereka -seperti beras-, dengan kadar setengah shaa’, yaitu sekitar 1,5 kg.

Wallahu A’lam.

Dijawab oleh Ust. Lukman Hakim, Lc, M.A
(Alumni S1 Fakultas Hadits Syarif Universitas Islam Medinah Munawwarah dan S2 Jurusan Dirasat Islamiyah Konsentrasi Hadits di King Saud University Riyadh KSA)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here