Membangun Sumber Daya Manusia Berbasis Syariah

Oleh: Idris Parakkasi (Konsultan Keuangan Syariah)

Hancurnya ekonomi sosialis dan krisis multidimensi yang ditimbulkan oleh ekonomi kapitalis merupakan isyarat dan peringatan Allah swt kepada manusia untuk kembali kepada syariat-Nya.Ekonomi syariah merupakan alternatif dan solusi terhadap masalah-masalah ekonomi yang terjadi dulu, sekarang dan masa yang akan datang (QS 30:30).allahu a’lam.

Secara global ekonomi syariah sudah menjadi wacana yang menjadi alternatif dan solusi dalam mengatasi multi krisis ekonomi global, baik di negara mayoritas muslim maupun minoritas muslim.

Di Indonesia perkembangan ekonomi syariah khususnya perbankan syariah, mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan.

Total aset di atas 20 triliun rupiah, kini telah beroperasi tiga bank umum syariah (BUS), 19 unit usaha syariah (UUS) dengan jaringan kantor 422 cabang, 92 BPR syariah, BMT sekitar 4.000 buah serta koperasi syariah yang begitu banyak tersebar di seluruh Indonesia.

Masalahnya, pertumbuhan industri perbankan dan keuangan syariah yang sangat pesat, tidak (belum) diimbangi dengan ketersediaan sumber daya manusia yang memadai, baik kuantitas maupun kualitas.

Beberapa pakar ekonomi menilai hanya sekitar 25-30 persen SDM di lembaga keuangan syariah yang berlatar belakang kompetensi syariah. Menurut Hanawijaya, untuk mendukung target market share akhir 2008, dibutuhkan jaringan kantor bank syariah sebanyak 2.289 kantor.

Tahun 2006 sudah mencapai 630 kantor. Jadi bank syariah harus meningkatkan jumlah kantor sebanyak 1.659 buah. Dan ini diasumsikan bahwa rata-rata aset per kantor bank syariah mencapai 40 miliar. Implikasinya, dibutuhkan tambahan 41.475 sumber daya manusia dalam jangka waktu dua tahun, dengan asumsi satu kantor cabang membutuhkan 25 personel.

Kebutuhan akan sumber daya manusia untuk mendukung perkembangan bank syariah tidak hanya yang terkait operasional perbankan dan keuangan syariah. Namun, sumber daya yang juga perlu dipersiapkan adalah mereka yang berinteraksi dengan perbankan dan keuangan syariah, baik langsung maupun tidak langsung.

Menurut Didin Hafiduddin, ada lima komponen sumber daya manusia yang perlu diperhatikan, yaitu pemilik modal, pelaku usaha, bankir, penyuluh dan pengambil kebijakan. Mereka terkait antara satu dengan yang lain demi terciptanya kemajuan perbankan dan keuangan syariah.

Menurut ahli ekonomi Islam, realitas sumber manusia yang ada adalah memiliki kompetensi dalam manajemen keuangan dan perbankan tetapi tidak paham hukum-hukum syariah. Di sisi lain, banyak sumber daya manusia yang memahami hukum-hukum syariah tetapi tidak memiliki kemampuan manajemen keuangan dan perbankan.

Idealnya, SDM yang dibutuhkan adalah mereka yang memiliki kompetensi dalam masalah manajemen keuangan modern dan juga memahami hukum-hukum syariah.

Menurut Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI) sumber daya manusia perbankan dan keuangan syariah yang berasal dari lulusan program ekonomi syariah masih minim, sebagian besar yang ada sekarang merupakan lulusan program studi konvensional. Kondisi seperti ini bisa menghambat pertumbuhan dan perkembangan industri perbankan dan keuangan syariah.

SDM syariah yang ideal diperlukan program pendidikan yang seluruh materinya murni syariah dan tidak tercemar dengan unsur konvensional.

Disukai atau tidak, kenyataan yang ada sekarang industri perbankan dan keuangan syariah masih mrupakan bagian dari industri perbankan dan keuangan konvensional, dan masih berada pada tahapan belum memiliki wilayah syariah yang "independen".

Sehingga, bukanlah suatu hal yang mustahil bila praktik perbankan dan keuangan syariah dapat dipengaruhi oleh dinamika yang terjadi di praktik konvensional.

Pada tahapan seperti saat ini, di mana industri perbankan dan keuangan syariah masih merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari praktik konvensional, maka kebijakan yang paling tepat adalah menyerahkan penciptaan SDM syariah kepada institusi perbankan dan keuangan syariah.

Industri perbankan dan keuangan syariah adalah bagian dari sistem ekonomi Islam, sehingga di samping kebutuhan akan SDM untuk industri tersebut, dibutuhkan pula SDM untuk mengembangkan ekonomi syariah.

Munculnya keinginan untuk mengembangkan ekonomi syariah di kalangan intelektual muslim bukanlah hanya dikarenakan tuntutan untuk menjalankan ajaran agama Islam secara komprehensif, tetapi juga dilandasi keinginan untuk menciptakan sistem perekonomian yang lebih adil, sejahtera dan berkemakmuran dari seluruh lapisan masyarakat dan diberkahi oleh Allah.

Realitas menunjukkan bahwa sistem ekonomi sosialis dan kapitalis telah memberikan begitu banyak kesulitan, penderitaan dan ketidakadilan dalam tatanan sosial ekonomi masyarakat oleh karena mereka jauh dari tatanan syariah Allah.

Tujuan pengembangan ekonomi syariah adalah untuk merancang dan membangun suatu sistem ekonomi yang dapat memberi manfaat bagi setiap orang dengan tidak mengorbankan kepentingan dan prestasi pribadi berdasarkan nilai-nilai ajaran Islam.

Hasil nyata dari rancangan sistem ekonomi syariah adalah terciptanya suatu model interaksi ekonomi yang dapat menjamin semua manusia memperoleh seluruh kebutuhan pokoknya, jauh dari kezaliman, manipulasi, spekulasi dan pemberian hak sosial secara wajar, serta dapat mengarahkan manusia untuk berupaya mendapatkan kebahagian dan keselamatan di dunia dan akhirat dengan berpedoman pada ajaran Islam.

Oleh karena itu, upaya untuk mengembangkan ekonomi syariah haruslah dimulai dengan menciptakan cendekiawan-cendekiawan muslim yang menguasai seluk-beluk ekonomi konvensional dan memiliki pengetahuan tentang prinsip-prinsip ekonomi syariah.

Dengan menguasai kedua pengetahuan tersebut, maka di manapun mereka bekerja, mereka akan selalu memiliki kesempatan untuk mengembangkan ekonomi syariah. Bila berada di lingkungan syariah, mereka dapat mengembangkan instrumen-instrumen syariah agar dapat memberikan manfaat yang sama dengan instrumen-instrumen konvensional (sesuai syariah).

Apabila berada di lingkungan konvensional, mereka memiliki kemampuan untuk mensyariahkan instrumen-instrumen konvensional dengan tetap berpedoman pada prinsip-prinsip syariah.

Di samping pengetahuan dan keahlian tentang ekonomi syariah dan konvensional, cendekiawan-cendekiawan muslim harus pula memiliki semangat dan keinginan untuk mengembangkan ekonomi syariah, sebagai lahan untuk menumbuh-kembangkan berbagai kegiatan-kegiatan ekonomi syariah.

Tanpa adanya rasa peduli terhadap perkembangan ekonomi syariah, maka pengetahuan dan keahlian tersebut hanya akan bermanfaat bagi pribadi mereka sendiri.

Akibatnya, keberhasilan cendekiawan muslim tidak diikuti dengan perkembangan ekonomi syariah, bahkan bukan tidak mungkin keberhasilan cendekiawan muslim malahan menjadi penguat kemajuan ekonomi konvensional.

Tugas untuk menciptakan cendekiawan-cendekiawan tersebut seharusnya menjadi tanggung jawab institusi pendidikan formal, mulai dari jenjang pendidikan dasar sampai ke pendidikan tinggi, termasuk institusi non formal.

Materi pendidikan harus mampu menciptakan cendekiawan-cendekiawan yang menguasai berbagai ilmu pengetahuan, dan mampu menumbuhkan ketertarikan terhadap ekonomi syariah sehingga membangkitkan semangat dan keinginan untuk mengembangkan ekonomi syariah.

Olehnya itu ada beberapa langkah strategis yang perlu dilakukan dalam upaya menyiapkan sumber daya manusia yang berbasis syariah pada industri perbankan dan keuangan syariah, baik kualitas maupun kuantitas antara lain;

Pertama, perlunya regulasi berupa undang-undang dan kebijakan pemerintah terhadap pengembangan industri perbankan dan lembaga keuangan syariah yang memungkinkan dinamika ekonomi syariah tumbuh dan berkembang secara sehat. Termasuk dukungan dana dalam pengembangan sumber daya manusia.

Kedua, perlunya sosialisasi tentang ekonomi syariah pada lembaga pendidikan, baik formal maupun non formal melalui kurikulum pendidikan mulai tingkat sekolah dasar sampai perguruan tinggi.

Ketiga, Perlunya peran lembaga dakwah dalam memberikan pencerahan tentang syariah Islam, bahwa syariah Islam merupakan sistem hidup yang universal dan komprehensif dalam mengatur tatanan kehidupan.

Keempat, peran orang tua dan guru sangat strategis dalam menyiapkan sumber daya manusia yang tangguh baik dari sisi akidah, syariah maupun ahlak. Kelima, perlunya sinergitas dari seluruh komponen industri perbankan dan lembaga keuangan syariah dalam menyosialisasikan dan menyiapkan sumber daya manusia yang berbasis syariah melalui seminar,

lokakarya, simposium, dialog terbuka serta pelatihan-pelatihan yang berjenjang dan berkesinambungan. Keenam, perlu dibuat lembaga training center dan konsultan ekonomi syariah sebagai pabrik SDM industri perbankan dan lembaga keuangan syariah.

Ketujuh, saatnya mendirikan Sekolah Tinggi Ekonomi Islam (STEI) untuk menghasilkan sarjana-sarjana ekonomi Islam yang paham tentang hukum-hukum syariah dan manajemen perbankan dan keuangan.

Kedelapan, perlunya kerjasama multilateral SDM dengan negara-negara yang sudah maju dalam pengembangan industri dan lembaga keuangan syariah. Serta kesembilan, perlu dibuat forum komunikasi pelaku industri perbankan dan keuangan syariah dalam upaya memberikan masukan-masukan dalam peningkatan kualitas SDM.

Kesepuluh, perlu dibentuk lembaga sertifikasi sumber daya manusia yang berbasis syariah. Sehingga SDM yang bekerja di industri perbankan dan lembaga keuangan syariah sudah dijamin kualitasnya.

Dan yang kesebelas, peran MUI dan Dewan Syariah Nasional (DSN) harus proaktif untuk memberikan masukan dan nasehat terhadap pengembangan sumber daya manusia syariah, agar kompetensi dan perilaku mereka tidak bertentangan dengan syariah. Wallahu a’lam. (*)  Sumber: fajar.co.id

Artikulli paraprakApotek Wahdah Farma II Diresmikan
Artikulli tjetërWajah Baru DPC WI Makassar

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini