Membaca Ulang Warisan As salaf Shaleh
Untuk Menemukan Keindahannya

Kita sangat butuh untuk segera membaca ulang ‘Aqidah As Salaf Ash Shaleh dari sumber-sumber pertamanya. Kita butuh untuk segera membaca ulang tentang para tokoh-tokoh besarnya yang dalam sejarah Islam telah berhasil menunjukkan keistimewaan mereka dalam memimpin dan membangun bangunan ummat ini serta memperbaharui hidupnya.  Seperti para imam madzhab yang empat, Abu Hanifah, Malik ibn Anas, Asy Syafi’iy dan Ahmad ibn Hanbal, serta orang-orang cemerlang yang datang setelah mereka, seperti sang Hafizh dari wilayah Barat Islam Abu Yusuf ibn ‘Abdil Barr, sang pembaharu zamannya Syeikhul Islam Ibn Taimiyyah dan muridnya Ibn Qayyim Al Jauziyyah…dan seterusnya.
Mereka dan yang sejalan dengan mereka, telah terjadi kesalahan manhajy yang besar dalam membaca tentang mereka. Dalam perkembangan manhaj salaf di zaman modern ini, dalam banyak hal, warisan-warisan mereka hanya dibaca secara sepotong-sepotong (tajzi’iy).
Sepotong-sepotong, karena kita seringkali membacanya hanya dengan “satu mata”. Hingga kita tidak menemukan hakikatnya secara keseluruhan. Gambaran yang diperoleh akhirnya hanya bersifat parsial (dan seringkali gambaran yang tidak utuh seperti ini melahirkan banyak bencana).
Sebagai contoh adalah Syeikhul Islam Ibn Taimiyyah. Banyak karya-karya (pendukung da’wah salaf) kontemporer yang menggambarkan beliau tidak lebih dari seorang ahli perang yang juga sangat menguasai pemikiran-pemikiran “para penghuni neraka”. Maka siapapun yang ingin memberikan sebuah cap stempel “neraka jahim” kepada seseorang, cukup ia mengeluarkan pedang yang berupa perkataan-perkataan Syeikhul Islam Ibn Taimiyah. Hingga seolah-olah perkataan dan fatwa beliau memang hanya digunakan untuk melemparkan tuduhan kepada orang lain, atau mantra yang dibacakan di hadapan seorang penjahat saat menghadapi hukuman mati.

Ke mana perginya Ibn Taimiyah yang penyeru di jalan Allah ? Ke mana perginya Ibn Taimiyah yang seorang murabbi ? Ke mana perginya Ibn Taimiyah sang ahli ibadah yang meniti jalan menuju Rabbnya melewati tangga khauf dan raja’ ? Ke mana Ibn Taimiyah yang memiliki kepekaan imaniyah dan kemuliaan perilaku ? Padahal karya-karya dan fatwa-fatwa beliau dipenuhi dengan makna-makna keindahan dan nilai-nilai rabbaniyah dalam meniti da’wah, tarbiyah dan ta’lim. Dan entah berapa banyak muridnya, Ibn Qayyim Al Jauziyyah melukiskan hal itu. Tapi kemana semua ‘keindahan’ itu hilang ?
Akibatnya, sempurnalah penggambaran Syeikhul Islam Ibn Taimiyyah dalam pandangan sebagan orang sebagai sosok yang tak memiliki perasaan. Ia hanyalah sosok penuh cacian, makian dan kata-kata laknat untuk orang lain. Dan betapa jauhnya sang Imam yang satu ini dari itu semua. Ketika salah seorang ulama yang dikenal sering menjelek-jelekkan dan menyalahkan pendapatnya meninggal dunia, Ibn Qayyim menemui dengan wajah berseri-seri untuk memberikan kabar gembira itu padanya. Tapi wajahnya merah padam mendengarnya. “Apakah ingin memberikan padaku kabar gembira akan kematian seorang muslim ??!” ujarnya. Beliau segera mendatangi rumah “sang musuh” itu, dan menanggung kehidupan anak-istri “sang musuh”.
Maka luaskanlah ufuk pandangan dan pikiran Anda. Islam ini begitu luas. Dan kita diperintahkan untuk memasukinya secara kaffah.  Itulah yang akan menampakkan keindahannya. (Majalah Islamy)

Artikulli paraprakTabligh Akbar “Muliakan Rasulmu” (2)
Artikulli tjetërTarbiyah Sebagai Penopang Gerakan da’wah

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini