Muharram memang bukan sekedar untuk memasuki tahun hijriyah, atau salah satu nama di antara dua belas nama bulan yang kita kenal. Tapi dalam pergantian setiap waktu ada momen untuk merenung, berfikir dan introspeksi diri.

Ini bisa didasarkan pada dalil umum bahwa Islam mengajarkan kita untuk selalu bercermin pada masa lalu. Salaf kita mengajarkan agar kita selalu melakukan perenungan dalam setiap pergantian masa tanpa harus menunggu pergantian tahun atau bulan. Pada edisi khusus ini, al-Balagh mencoba mengajak para pembaca yang mulia merenungi arti keberislaman kita selama ini, yang kebanyakan kaum Muslimin menganggap keislamannya tidak lebih sekedar formalitas pelengkap identitas KTP belaka. Selamat menyimak.

Ketika kita menyatakan diri kia sebagai seorang muslim, maka ada banyak tanggung jawab yang harus kita pikul, dan dibalik tanggung jawab itulah tersimpan banyak konsekwensi yang akan menguji kebenaran Islam di hati kita. Karena itu kita seharusnya banyak bersyukur kepada Allah dengan melakukan aksi dan tindakan.

1. Bangga Sebagai Seorang Muslim.
Tidak ada yang lebih pantas untuk kita syukuri kecuali karena kita adalah seorang Muslim. Jika kita menyadari ini, maka semua nikmat yang kita rasakan tidak ada nilainya jika dibandingkan dengan nikmat Islam. Betapa tidak ini adalah nikmat yang tidak semua manusia mendapatkannya. Hanya mereka yang mendapat curahan rahmat   dari Allah saja yang mendapatkannya. Dengan jelas Allah ta’ala menyematkan gelar “muslim”kepada kita. Allah berfirman,”Dia (Allah)telah menamai kamu sekalian orang-orang Muslim dari dulu, dan (begitu pula) dalam (al-Qur’an) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia.” (al-Hajj:78).
Seorang Muslim adalah sosok yang tidak pantas bersedih, bermuram durja, meratap hanya karena nasibnya di dunia yang yang mungkin kurang beruntung, sebab kita memiliki kekuatan yang bersumber dari zat yang Maha Kuat, Allah Ta’ala. Kita punya teladan,Rasulullah. Kita punya pedoman hidup yang tidak tercemar, al-Qur’an. Itulah modal kita sebagai seorang Muslim, yang tidak dimiliki oleh orang manapun di dunia ini. Karena itu wajar kalau Allah mengingatkan kita,”janganlah kamu bersikap lemah, jangan (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya) jika kamu adalah orang-orang beriman”(Ali ‘Imran:   ).

Islamlah yang membuat laki-laki seperti Abdullah bin Mas’ud tidak pernah merasa rendah meski fisik beliau kecil dan kurus, bahkan pada peristiwa Badar, dia berani melompati Abu Jahal  yang terjatuh, menginjak dadanya, memenggal kepalanya dan membawanya kepada Rasulullah, sehingga beliau tersenyum bangga dengan prestasinya. Islamlah yang menjadikan budak hitam seperti Bilal bin Rabah tidak merasa canggung dan hina berjalan bersama tokoh pembesar Quraisy seperti Abu Bakar Umar, Hamzah, dan para sahabat keturunan bangsawan lainnya. Islamlah yang menjadikan kita semua sama dalam pandangan Allah Ta’ala.

Dengan Islam mereka merasa bahwa dunia berada dalam genggaman tangan mereka, betapapun dunia menghimpit mereka dan betapapun rantai-rantai penguasa membelenggu tangan dan kaki mereka. Mereka tetap ceria meski berada dalam dinding penjara. Seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah yang merasakan penjara seperti Istana, pengusiran dari negerinya seperti rihlah dan andaipun Ia dibunuh maka Ia menganggap itu sebagai mati syahid.

2. Takut Kalau Dalam Hidup Ini Salah Jalan.
Harus diingat bahwa keislaman yang kita banggakan ini belumlah sempurna kalau kita tidak berjalan di atas sunnah Rasulullah. Sebab tujuan beliau diutus adalah untuk diikuti dan diteladani seluruh tindak-tanduknya. Bahkan seluruh Nabi yang pernah ada, diutus untuk mewujudkan kehendak Allah di muka bumi ini. Karenanya Allah Ta’ala berfirman:”Apa saja yang diajarkan Rasul ini kepada kalian maka ambillah, dan apa saja yang dilarangnya maka jauhilah”(al-Hasyr : 7 ).

Dengan demikian, tidaklah sempurna keislaman kita kalau kita tidak mengikuti beliau- shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau bersabda, “Siapa yang beramal dalam urusan agama ini yang tidak ada contohnya dari kami, maka itu tertolak.” (HR. Muslim). Pada zaman ini begitu banyak kaum muslimin yang ingin membuktikan kecintaannya kepada Allah, perhatiannya kepada Islam, dan kecintaan kepada Rasulullah, akan tetapi sangat disayangkan jalan yang  ditempuh, metode diterapkan tidak sesuai dengan sunnah beliau. Sehingga tidak heran kalau hasilnya jauh dari apa yang diharapkan. Adakah perubahan yang bisa diharapkan dari memperingati pergantian tahun Hijriyah dengan long march atau zikir berjama’ah? Apakah ini yang diajarkan oleh Rasulullah?. Beliau -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:” hendaklah kalian berpegang teguh dengan sunnahku, dan sunnah para khalifah yang mendapatkan petunjuk sesudahku, peganglah sunnah itu dengan gigi geraham” .

Berislam dengan bermodal semangat saja belumlah cukup. Kita harus beramal di atas landasan ‘ilmu syar’i. Dan tak kalah muhimnya kita sangat membutuhkan bimbingan para ‘ulama ‘amilin yang mumpuni ilmunya dalam masalah agama ini dan mengamalkannya dalam hidup mereka.  Sebab betapa banyak generasi terdahulu sampai sekarang yang tergelincir jauh dari Islam ketika mereka berislam dengan semangat namun minus taujih (arahan) dari para ulama. Lihatlah para penyempal yang ada di berbagai belahan dunia ini, seperti kaum Ahmadiyah , Lia (Edan) Aminuddin di Jakarta, Sumardin di Majene yang mengaku sebagai nabi, dan banyak lagi. Mereka pada awalnya adalah orang-orang yang punya ghirah berislam yang berkobar-kobar, tapi sayang, ghirah mereka tidak dibarengi dengan ilmu syar’i yang cukup maka jadilah mereka seperti yang kita saksikan hari ini. Wallaahul musta’an. Allah berfirman: ”Inilah jalanku yang lurus, ikutilah oleh kalian jalan itu. Janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain) maka itu akan membuat kalian berpecah belah darti jalannya”. (al-An’aam:153).

3. Mengokohkan Islam Dengan Komitmen amal Yang Berkesinambungan.
Islam ibarat bangunan kokoh yang membuat kagum para penganutnya dan membuat iri orang-orang  yang ada di luarnya. Akan tetapi pilar-pilar Islam akan pudar dalam diri kita jika melalaikan kewajiban-kewajiban kita. Jika orang di luar sana tidak hanya hasad  melihat kemegahan bangunan Islam, tetapi mereka juga menyimpan rasa dengki dan dendam, serta selalu berfikir bagaimana   .menghancurkan bangunan ini dan menistakan para      penganutnya. Kemurniaan aqidah dan komitmen amallah yang akan membentengi.   bangunan itu beserta    seluruh isinya dari para penghasud.

Ketika Cyprus (Yunani) berhasil ditaklukkan oleh kaum muslimin, Abu Darda’ yang saat itu duduk sambil menangis ditanya, “Wahai Abu Darda’ apa yang membuat anda menangis disaat Allah memuliakan Islam dan kaum Muslimin?”. Beliau menjawab : ”Betapa lemahnya manusia di hadapan Allah ‘Azza Wajalla bila mereka tidak tunduk kepada perintahNya. Sebelumnya mereka (Cyprus) adalah bangsa yang kuat dan memiliki kekuasaan yang luas. Tapi karena mereka menjauh dari perintah Allah, jadilah mereka seperti sekarang ini”.

Ada pengakuan tulus dari musuh-musuh Islam dari negeri imperium Romawi ketika mereka baru saja ditaklukkan oleh kaum Muslimin. Heraklius, pemimpin mereka tak lama setelah pasukannya ditaklukkan oleh kaum Muslimin, berbicara lantang kepada komandan tentaranya, ”celaka kalian! Bukankah mereka adalah manusia biasa seperti kalian, dan bukankah jumlah dan persenjataan mereka jauh lebih sedikit?” para prajuritnya diam dan membisu. Akhirnya, salah seorang komandan memberanikan diri berbicara, ”wahai Raja, mereka menang dan kita kalah karena mereka selalu bangun dimalam hari, berpuasa di siang hari, menepati janji dan beramar ma’ruf nahi mungkar. Sedangkan kita sibuk minum khamr, berzina, tidak menepati janji, berbuat zalim, berbuat kerusakan di muka bumi. Karena itulah kita kalah dan mereka menang”
Banyak imperium yang dihancurkan oleh Allah melalui pasukan kaum Muslimin yang berjumlah sedikit dan bersenjatakan tidak sehebat musuh, akan tetapi mereka kaum Muslimin senantiasa bertaqwa kepada Allah dan musuh-musuh mereka bermaksiat kepada Allah, dengan itulah Allah memenangkan kaum Muslimin. Mereka menang karena niat-niat mereka bersih ingin meninggikan kalimat Allah Ta’ala. Yahya bin Mu’adz berkata : ”kehilangan kebaikan lebih berat dari kematian, karena kehilangan kebaikan berarti terputus dari kebenaran, sedang kematian hanya terputus dari tubuh.”

4. Berusaha Menjadi Yang Terbaik   
Siapapun tidak bisa memungkiri bahwa kedatangan Islam lima belas abad yang lalu telah menyelamatkan ummat manusia dari kehancuran. Saat itu, kebodohan merajalela, penindasan dan pembunuhan terjadi di mana-mana. Hampir tidak ada wilayah yang tidak berkonflik. Namun setelah Islam datang kepada mereka menjadi bangsa yang maju. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, semenanjung Arab menjadi kiblat dunia, perekonomian, ilmu pengetahuan dan peradaban.

Dua abad kemudian, tepatnya pada abad kedelapan, Islam benar-benar telah memimpin dunia. Gustave Le Bon mengatakan,”Baghdad dan Cordova adalah dua kota besar Islam yang menjadi pusat peradaban manusia dimana keduanya menerangi dan mengguncang  seluruh dunia”. Mereka mencapai kejayaan itu bukan karena mereka orang Arab, tapi karena mereka muslim yang mengamalkan ajaran agamanya. Tonggak kegemilangan itu berawal dari ketundukan mereka yang penuh terhadap al-Qur’an dan as-Sunnah, sehingga Allah membukakan dan menundukkan alam ini kepada mereka.

Akan tetapi, kita harus akui kaum muslimin sangat tertinggal dalam semua bidang kehidupan, bahkan tertinggal jauh oleh umat-umat yang pernah berguru kepadanya. Citra buruk sulit dihapus setiap kata ‘muslim’ disebut.  Kemiskinan, kebodohan, kekejaman dan terorisme adalah tuduhan yang senatiasa terlontar kepada mereka dan sulit dielakkan, meski semua itu tidak sepenuhnya benar. Karena itu, saat ini kita harus bertekad untuk menjadi yang terbaik dan memimpin dunia atas dasar Islam. Sekali lagi karena kita muslim, pewaris sah bumi ini dan segala isinya. Dan mustahil pemakmuran bumi ini diserahkan kepada mereka yang brutal dan selalu berbuat kerusakan di atas bumi ini (al-Anbiyaa’: 105). Namun cita-cita itu tidak mungkin terwujud kalau kita tidak mengubah sikap kita yang selalu jauh atau setengah-setengah dalam menerapkan Islam.  Allahu A’lam Bisshawab. (Redaksi al-Balagh)
Sumber:
1. Al-Qur’anul karim
2. Riydhus Shalihin, Imam An-Nawawi
3. Majalah Tarbawi, 1426 H.

 

Artikulli paraprakTarbiyah Akbar Muslimah
Artikulli tjetërPuasa Asyura Dan Bulan Muharram

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini