Mayoritas Yang Tak Berkualitas
(Al Balagh Ed.53/Th.II/24 Rajab 1427)

“Penundaan eksekusi terhadap terpidana mati dalam kasus Poso, Fabianus Tibo (60), Dominggus da Silva (39), dan Marinus Riwu (48) sebenarnya didasarkan semata-mata pada alasan teknis dan tidak ada alasan lainnya, termasuk permintaan penundaan dari Paus Benediktus XVI serta tokoh-tokoh agama lainnya”.

Demikian yang dilaporkan oleh salah satu harian ibukota. Bahkan menurut salah satu sumber, penundaan itu lebih didasarkan pada keinginan merayakan hari kemerdekaan dengan lebih baik. Nampaknya, alasan penundaan itu terlalu dibuat-buat. Sebab kenyataannya, penundaan ini bukan yang pertama kalinya. Begitu pula fakta tentang surat-surat yang dilayangkan dari tokoh-tokoh berpengaruh tidak bisa diabaikan begitu saja. Yang jelas, fakta kasat mata dari peristiwa ini adalah pengabaian ribuan nyawa kaum muslimin yang melayang selama kerusuhan Poso dimana Tibo cs jelas-jelas terlibat di dalamnya.
  
al-Balagh edisi kali ini mencoba menyoroti permasalahan ini secara mendasar. Kenapa jumlah kita yang banyak tapi tidak dihargai. Apa sebab utamanya dan dimanakah kita harus mencari solusi? Inilah realita ummat mayoritas di negeri ini. Darah mereka yang tumpah, kehormatan wanita mereka yang dicabik-cabik, harta benda mereka yang ludes dibakar, sepertinya hanyalah peristiwa yang dikonsumsi sambil minum kopi dipagi hari, untuk selanjutnya dilupakan seiring berlalunya waktu. Ummat yang secara kuantitas banyak tapi tidak direkeng. Toleransi kaum muslimin yang tinggi dan lapang dada mereka kepada ummat beragama lainnya demi menjaga keutuhan NKRI tidak pernah dihiraukan.
  
Kalau kita melihat keadaan kaum muslimin secara umum maka, kenyataan pahit ini bukanlah kejadian baru. Sejak dulu berbagai persekongkolan jahat untuk menghabiskan kaum mulimin dan institusi yang menaungi mereka telah dilancarkan. Dunia Islam pun remuk. Bangkit lagi, tapi remuk lagi. Demikian seterusnya. Setelah khilafah Utsmaniyah runtuh, musuh-musuh Islam justru mendirikan negara-negara  non Islam di negeri-negeri kaum muslimin. Efeknya jelas, tidak adanya institusi kuat yang dapat melindungi dan membela kaum Muslimin atas nama Islam. Tragedi tragis terus terjadi dan terjadi lagi tanpa ada yang pembelaan yang signifikan. Di sana sini korban berjatuhan tanpa bisa di bendung; Palestina, Filiphina, Eriteria, Chad, Nigeria, India, Kasymir, Afghanistan, Bosnia, Iraq sampai ke negeri dengan penduduk muslim terbesar yang bernama Indonesia. Tragedi tumpahnya darah kaum muslimin di Ambon dan di Poso adalah peristiwa kelabu yang demikian jelas mengoyak kehormatan kita. Akan tetapi kita tidak mendapatkan penyelesaian yang lebih adil dan memihak.
  
Kenyataan ini jelas tidak terjadi secara kebetulan. Sebab memang semua kejadian terjadi dalam bingkai sunnatullah yang tidak bisa diganggu oleh seorangpun. Allah ‘Azza waJalla berfirman: “sekal-kali kamu tidak akan menemukan perubahan pada sunnah Allah.sungguh sekali-kali engkau tidak menemui penyimpangan pada sunnah Allah itu.”(Qs.Fathir:43). Di antara sunnah itu adalah bergantinya posisi kaum muslimin dari memegang istikhlaf (kepemimpinan) menjadi bangsa yang diremehkan, dizalimi, kekayaannya dikeruk habis, seperti sapi dungu yang diperah susunya sambil makan rumput kering.
  
Semua ini adalah hukum rabbani yang mengatur segala hal dalam kehidupan manusia. Inilah mungkin yang pernah disinyalir oleh Rasulullah SAW dalam sabda beliau:”Saya khawatir nanti kalian menjadi ummat yang kondisinya seperti hidangan yang diperebutkan di atas meja makan”.Para sahabat bertanya: “apakah pada saat itu jumlah kami sedikit?”. Beliau menjawab:”bahkan jumlah kalian pada saat itu banyak, tapi kalian seperti buih…”! (HR.Ahmad dan Abu Daud).
Setelah kaum muslimin sedikit demi sedikit menyimpang dari ajaran din mereka yang murni, maka sejak itu pula kelemahan demi kelemahan menyusup dalam tubuh mereka. Dalam sejarahnya, penyimpangan itu banyak. Setiap penyimpangan dari manhajun ilahy (metode ilahi), cepat atau lambat, pasti akan menimbulkan akibat sesuai dengan bobot penyimpangannya. Ya, sebanding dengan sikap ummat, penguasa, ulama ataupun orang awam terhadap penyimpangan itu. Manakala penyimpangan itu telah mencapai titik kulminasinya, maka akibatnya seperti yang terjadi di depan mata kita hari ini. Selain posisi mantap sebagai pemegang khilafah dilucuti maka kita juga akan menjadi sasaran tembak, buron, pelecehan kehormatan, bahkan pembantaian. Dan itulah realita kontemporer kita. Jika semua peristiwa itu dibundel, maka ia akan menjadi buku yang berjilid-jilid.

Di sini masalahnya. Singkat kata “kita menyimpang dari Islam”. Penyimpangan kaum muslimin dalam bertingkah laku, tanpa diekspospun sudah sangat jelas. Kebiasaan korupsi, menyogok, menyalahgunakan fasilitas, memamerkan aurat, dan sebutlah setumpuk dosa lainnya jelas bukan tindakan yang Islami. Namun demikian, penyimpangan tingkah laku itu bukanlah penyimpangan yang paling bebahaya. Sebab penyimpangan dalam masalah tingkah laku relatif lebih mudah ditanggulangi. Karena bagaimanapun pelakunya sadar bahwa apa yang ia lakukan adalah dosa. Tapi masalahnya, penyimpangan yang terjadi ditubuh kaum muslimin sudah sampai pada tataran konsep yang prinsipil.

Inilah justru fakta nyata yang melilit ummat kita. Penyimpangan yang telah melewati batas dan telah sampai pada pemahaman konsep mendasar itu terlihat dari sikap kaum muslimin seperti: hipokrit (bersikap munafik), melecehkan dan memberontak terhadap agama, berbuat bid’ah, anti syari’at, mendatangi paranormal dan semua dosa yang membatalkan  keislaman. Wallahulmusta’an.  Nah, ini semua adalah penyimpangan konsep. Memperbaiki sisi ini membutuhkan waktu yang lebih banyak dan lebih sulit bahkan membutuhkan perjuangan ekstra dibanding meluruskan penyimpangan moral. Sebab itu, solusi dasar yang kita sodorkan adalah meluruskan metode pengambilan informasi (mashdar at-talqqi). Yaitu menimba  informasi tentang din ini dari mata air yang murni; al-Qur’an dan as-Sunnah yang shahih sesuai dengan pemahaman salafus shalih. Dengan ini fikrah akan lurus. Maka dengan mudah kita meluruskan penyimpangan tingkah laku. Dari sinilah generasi yang berfikir lurus akan lahir untuk selanjutnya memperbaiki keadaan ummat yang carut marut. Inilah yang dilakukan Rasulullah SAW selama dua puluh tiga tahun di Makkah dan Madinah. Beliau memperbaiki pola pikir manusia zamannya dengan aqidah shahihah, dengan metode tarbiyah mustamirrah (pembinaan berkesinambungan), lebih dari sekedar memerintah dan melarang. Anak didikan beliau memang kebanyakan dari kalangan budak yang lemah, tatapi itu sudah membuat pembesar Quraisy kelimpungan. Jumlah mutarabbi beliau awalnya memang sedikit, akan tetapi jazirah Arabia yang tandus bergoncang dengan sepak terjang mereka. Musuh-musuh merekapun segan karenanya.
 
Akan tetapi, nunjauh di sana ribuan warga Tentena, Poso dan Palu yang sejak jum’at pukul 20.00 Wita melangsungkan do’a bersama sampai menjelang detik-detik eksekusi Tibo cs, tiba-tiba bersorak-sorai begitu mendengar berita penundaan eksekusi oleh Kapolri Jenderal Sutanto. Akhirul kalam, inilah waqi’(realita) kita yang menjadi bahan sorak sorai kegembiraan. Banyak tapi tidak disegani, mayoritas tapi tak berkualitas. Wa ilallahil musytaka (kepada Allahlah kita mengadu).

 (Abu Hasan)
 
Sumber:
1.Al-Qur’an dan Tejemahnya
2.Mafahim Yanbaghy an-Tushahhah oleh Muhammad Quthub
 

Artikulli paraprakWahdah Islamiyah Cabang Makassar
Artikulli tjetërAkibat Kata Nanti…Nanti Dan Nanti..

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini