MARI KITA BERCITA-CITA…

Saudaraku…
Masa Rasulullah memang telah jauh melewati kita, pun para shahabat, tabi’in, tabi’ tabi’in, para salafus shalih..tapi, apakah berarti kegemilangan cahaya Islam yang telah mereka raih juga pantas untuk memudar??? apakah bermakna kita tak perlu risau dengan kerusakan yang terjadi di muka bumi ini??? dengan alasan bahwa kita tak kan pernah bisa menyerupai mereka dari segala sisi. terlebih pengorbanan dan perjuangan mereka…

Saudaraku…Tinggalkan fikiran itu, saya mengajak engkau pada sebuah kalimat yang ketika engkau menerimanya dan merenunginya, maka saya yakin engkau akan menemukan mereka dalam dirimu…" Mari kita bercita-cita..".
Iya, mari kita bercita-cita…
Tahukah engkau…Shahabat Rasulullah yang terkenal dengan keadilan dan keberaniannya ‘Umar bin Khattab – radhiyallahu ‘anhu – pernah mengumpulkan shahabat-shahabatnya dalam sebuah majelis, lalu kemudian menanyai mereka ," Wahai fulan,  bercita-citalah ". Satu-persatu mengemukakan cita-citanya, ada yang mengatakan ," Saya bercita-cita memiliki emas sebanyak isi ruangan ini, hingga saya mampu menginfakkannya di jalan Allah ", ada pula yang mengatakan ," Saya bercita-cita menjadi seorang pemimpin yang memimpin wilayah terbesar di dunia ini, hingga Islam bisa saya tegakkan ", salah seorang  lagi tak mau kalah ," Saya ingin masuk surga ".

Saudaraku Yang di rahmati Allah…
Lihatlah mereka !! Mereka memulainya dengan bercita-cita, hingga disaat cita-cita itu terlontar dari lisan-lisan mereka, gemuruh kerinduan untuk segera meraihnya pun ikut bergejolak, maka kita bisa lanjutkan kisahnya, beberapa waktu setelah mejelis itu..terwujudlah cita-cita mereka sekalian.
Lalu kita.. pernahkah kita bercita-cita?? Dimana kita bisa mempersembahkan detik terbaik hidup kita untuk Islam, dimana kita bisa memberikan tetes terbaik peluh kita di jalan Allah, dimana kita bisa mengulurkan jasa terbaik untuk kejayaan Islam.

Saudaraku Yang Saya Sayangi…
Tengoklah hari-hari yang telah kita lalui, tanpa rasa, tanpa kehendak, tanpa cita-cita. Tiap jam, bahkan detik yang berjalan, kerusakan itu hadir di hadapan kita, atau mungkin malah tercipta dari kedua tangan kita.
Lihatlah !!! Islam semakin terpojokkan. Pernahkah kita merenungi, bahwa kita bagai buih di lautan, jumlah kaum muslimin yang banyak ternyata tak sebanding dengan kekuatan yang terkumpulkan. Fahamilah, bahwa kita terlalu lemah, walau hanya untuk bercita-cita.

Saudaraku…
Kemukakan cita-citamu, tegakkan dia dalam hatimu, pasti dia kan membawamu pada sebuah usaha untuk mewujudkannya, jangan tinggalkan dia yang menghampirimu, sambut dia dan ikuti tiap perintah yang dilemparkannya padamu, kerjakan, sampai suatu masa nanti engkau kan temui si cita-cita telah tersenyum kepadamu, karena engkau telah memilikinya.
Bercita-citalah..!!! Untuk din kita yang mulia, ambillah bagianmu dalam perjuangan ini, walau hanya sekedar bercita-cita…

Saudaraku…
Kuajak engkau menyelami makna kata
Melempar cita pada segumpal rasa
di perairan jiwa
Meresapi rasa yang bergejolak di aliran mata

Saudaraku…
Genggam tangan ini, pandang kobaran cintanya
Bukankah kau temukan kata itu disana ?
Maka mari kita mulai berujar kata
Tumpahkan semua cita-cita
Wujudkan selaksa asa

Pekayon, Jakarta Selatan 25 Dzulqa’dah 1427
                                      Ummu Faari’ el Makassariyyah

 

Artikulli paraprakSYEKH MUHAMMAD BIN SHALIH AL UTSAIMIN
Artikulli tjetërAL-WALAA’ WAL BARAA’ SEBUAH KEHARUSAN

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini