Mandiri Sejak SMP, Anak Yatim Ini Berhasil Selesaikan Hafalan Qur’an Pada Masa Pandemi

(Serial Succes Story Santri Tahfidz Wahdah Islamiyah Cibinong Bogor)

Rusli S. Modjo (18) terlahir sebagai anak bungsu dari dua bersaudara. Lahir  di Bolo, sebuah desa di Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), 23 Januari 2002. Remaja yang akrab dipanggil Rusli ini tumbuh dan dibesarkan di Sumbawa sejak kecil sampai SMP. Setamat SMP melanjutkan jenjang SMA di  Pesantren Tahfidz Wahdah Islamkiyah, Cibinong, Bogor, Jawa Barat.

Walau terlahir sebagai anak kedua Rusli tidak manja. Sejak duduk dibangku SMP ia ingin mandiri. Sehingga sejak kelas VIII ia bercita-cita untuk melanjutkan studi ke pondok pesantren dan ingin jadi hafidz Qur’an.

Ketertarikannya menghafal Al-Qur’an bermula dari kekagumannya kepada para hafidz Qur’an.

“Dulu ketika saya belum mondok saya mengagumi mereka yang bisa menghafal Al-Qur’an. Menurut saya mereka sangat luar biasa  walau hanya menghafal  3-5 juz. Saat  itu saya tak berfikiran bisa menghafal lebih dari 5 juz, apalagi sampai mengkhotamkan Al-Quran yang mulia ini”, ungkapnya mengenang awal mula tertarik bercita-cita menjadi hafidz.

Ia tertarik untuk nyantri di pondok pesantren sejak menginjak kelas 2 SMP.

Memang sejak kelas 2 SMP saya ada niat untuk mondok tapi niat itu tidak terlalu besar. Hingga  saat saya kelas 3 SMP ada tawaran dari bibi  yang berdomisili di Bogor. Ia menawarkan sekolah mendalami ilmu Agama di sekolah saya sekarang (SMA Al-Qur’an Wahdah Islamiyah).

Ketika  itu ia dihadapkan pada  3 pilihan untuk melanjutkan sekolah. Pertama, Salah satu  pesantren tua  dan terkenal di Lombok NTB; Kedua, Sekolah umum di Bima, tepatnya di Bolo, desa kelahirannya; dan yang ketiga di Bogor yaitu SMA Al-Qur’an Wahdah Islamiyah.

Saat itu tak ada paksaan dari orang tua untuk mondok. Pilihan dan keputusan diserahkan  kepadanya, mana yang lebih saya sukai.

Saat itu yang ada dalam  pikiran saya kata Rusli  adalah ingin sekolah di tempat yang jauh, agar jarang dijenguk, dan ingin mandiri.

“Saya berfikiran demikian karena dulu setiap ada kegiatan ekskul di luar seperti Pramuka saya selalu dijenguk padahal baru sehari. Sejak  SMP saya tidak terlalu suka untuk dimanja jadi saya memilih di Bogor.

Rusli mengisahkan masa-masa awal di Pondok Pesantren.

“Saya sampai di pondok pada sore hari. Saya  telat 3 hari dan tidak mengikuti kegiatan  Masa Orientasi Santri (MOS). Saya datang  diantar oleh mama bersama bibi dan saudara.  Bakda Maghrib  hari itu juga mamah dan keluarga saya meninggalkan pondok. Pada hari pertama sampai hari kedua perasaan saya biasa-biasa saja. Namun pada hari selanjutnya sampai kurang lebih sepekan  saya merasa ada yang hilang, ada yang berbeda. Tapi kayaknya untuk menyampaikan perasaan saya kala itu saya miskin kata-kata untuk mengungkapkannya”.

Namun demikian, lambat laun Rusli dapat berusaha dengan susana pondok dan berbagai kegiatan di dalamnya. Setelah melewati hari-hari itu ia  mulai mengikuti kegiatan pondok seperti halnya santri lainnya.

“Awalnya  saya berfikir bahwa semua pondok itu seperti yang di daerah saya  dan yang lainnya yang pernah saya lihat.  Setelah  hari-hari pertama berlalu, saya baru sadar bahwa  ternyata saya berada di Pondok Tahfidz Quran yang 80% kegiatannya menghafal Al Quran”, kisahnya.

Pada Semester awal  ia  masih menyesuaikan diri. “Saya merasa tidak mampu menyelesaikan target setoran hafalan dan muraja’ah harian”, kenangnya.

Ia merasa sangat mustahil dapat  menuntaskan target hafalan baru 1 halaman setiap hari, disusul dengan Sabaqi (menyetorkan 4 halaman terakhir dari hafalan baru), ditambah pada sore hari program manzil  yaitu menyetor ¼-1/2 juz dari hafalan yang lama.

“Ketika  itu”, kata Rusli  “saya hanya bisa menyetor setengah halaman. Kadang  tidak menyetor hafalan baru sama sekali”.

“Yang  saya paling pusingkan adalah setoran hafalan baru. Karena  saat itu belum tahu cara menghafal yang cocok bagi saya”.

Selain itu kendala paling besar bagi Rusli adalah  belum mengetahui berbagai tips menghafal cepat. “Hal ini ditambah dengah kemampuan Bahasa Arab saya yang masih sangat awam saat itu. Sehingga  lengkaplah kendala menghafal Al-Qur’an yang saya alami”.

Sehingga selama duduk di kelas 1 atau satu tahun pertama ia hanya  hanya bisa menghafal 5 juz. Tetapi ia tetap mensyukuri hasil usaha selama setahun.

“Namun  dengan capaian segitu saya sudah bersyukur”.

Naik kelas 2 kendala menghafal makin banyak. Karena di kelas 2 ia  terlibat dalam kepengurusan organisasi santri. Seperti kebiasaan di berbagai Sekolah atau Pondok pesantren, menjadikan santri kelas 11 sebagai pengurus organisasi.  Di  pondok dikenal dengan sebutan OSWI (Organisasi Santri Wahdah Islamiyah). Saat  itu ia dipilih sebagai Ketua Divisi Kebersihan dan kesehatan yang beranggotakan 6 santri.

Selama di kelas XI/2 Rusli harus membagi waktu dengan baik.  Ia merasakan, amanah sebagai penngurus kadang menggangu pikiran pada waktu tahfidz dan mengurangi waktu tidur siang.

Sehingga selama duduk di Kelas XI/2 target  hafalannya  kembali tidak tercapai. Walaupun saat itu iatelah mampu untuk menyetor 1 halaman hafalan baru setiap harinya.

Selama  2 tahun  menghafal ia hanya dapat menghafalkan 11 juz.

“Tapi saya  tidak menyalahkan keadaan, seperti yang ustadz saya pernah bilang yang maknanya tak jauh berbeda yaitu “janganlah mencela atau mencaci kegelapan alangkah baiknya untuk menyalan lilin”

Saya juga tersemangati oleh perkataan Imam Syafií bahwa semua pasti akan ada titik didihnya yaitu;

Biarkan hari hari berbuat semaunya

Relakan hati ini ketika takdir tiba

Jangan resah dengan gelapnya malam

Karena semua peristiwa di dunia ini tak ada yang abadi

Dari kejadian itu ia  belajar banyak hal tentang komitmen,manajemen waktu dan keuangan, serta mencari jalan keluar dari masalah yang ada.

“Saya tidak lari dari kenyataan.  Saya tetap menjalani hari-hari belajar dan menghafal  dengan tenang walaupun kadang ada rasa galau dan malas menerpa”

Naik kelas IIX/3 ia  berusaha meningkatkan keseriusan dan kesungguhan dalam belajar dan menghafal. Baginya  kelas 3 atau kelas 12 adalah  masa yang seharusnya tidak ada lagi waktu  yang terbuang dengan candaan yang tak jelas karena garis ujung telah terlihat.

“Sayapun berusaha  membuat agenda baru yang tidak tahu sudah berapa kali saya mengganti agenda dikarenakan kurangnya komitmen dan masih sering tergoda dengan kelalaian dan kemalasan”.

Kali ini ia sangat serius dalam menjalankannya dengan target-target yang harus diselesaikan. Alhamdulillah di akhir tahun 2019 hafalan dia  mencapai 20 juz.

“Satu capaian yang patut saya syukuri walaupun terkadang kelaiaian menghampiri. Sehingga  memasuki  awal tahun 2020 ia  memperbaharui target dengan terus berusaha komitmen dalam menjaganya”.

Ia menargetkan akan khatam setoran hafalan sebelum menamatkan sekolah di Pesantren Tahfidz Wahdah Islamiyah Cibinong, Bogor.  Karena itu selama masa lockdown dan PSBB penanganan Covid-19 ia tetap tinggal di pondok sampai akhir Ramadhan.

Remaja yatim  yang dikenal tangguh dan mandiri ini menyelesaikan setoran hafalan selama masa pandemi Covid-19.

“Alhamdulillah hafalan saya selesai setoran setelah Ujian Nasional (UN)  sambil menunggu pengumuman kelulusan”, ujarnya penuh rasa syukur dan bahagia . []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here