Suatu ketika datang seseorang kepada Imam Hasan Al-Bashri dan bertanya, “Wahai Imam sepertinya ada hadist Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam yang harus direvisi, bukankah dalam hadist dosa itu menghalagi rezeki ?” Tanya orang tersebut. “Tapi mengapa justru kini saya banyak maksiat, perniagaanku lancar dan penghasilanku melimpah ?”

“Ya Akhi”, kata sang Imam, “Apakah semalam engkau bangun qiyaamullail ?”, “Tidak”, sahut orang itu menggeleng. Sang Imam tersenyum, “Kalau Allah memutuskan seseorang dari penghidupannya begitu dia bermaksiat, niscaya seluruh manusia binasa. Bukan demikian ?”

Jadi rezeki yang mana yang dimaksud dalam hadist bahwa dosa itu menghambat rezeki?

“Ya Akhi, rezeki yang paling berharga bagi seorang muslim adalah ketika ia dapat bermesra dengan Allah dimana seluruh manusia terlelap dalam tidurnya. Karena itulah rezeki yang akan menghantarkan kita pada kenikatan akbar di akhirat nanti.

Oleh kerena itu, jika semalam Allah tak membangunkanmu untuk bermesra-mesra dengan-Nya, berarti engkau telah kehilangan rezeki yang sangat banyak. Meskipun harta mu melimpah, meskipun kasur mu terbuat dari bahan yang paling empuk.

Namun semua itu membuatmu lalai dari qiyaamullail, engkau tak mampu bangun untuk bermesra dengan-Nya. Berarti harta dan kasurmu yang paling empuk itu bukanlah nikmat. Tapi itu adalah bala’ atau bencana bagimu. Karena nikmat tertinggi itu adalah bermesraan dengan-Nya. Tentu saja dosa menghalanginya.”

Para pembaca yang budiman, terkadang kita sering tertipu oleh dunia, mata kita disilaukan oleh harta, pangkat, dan jabatan. Sampai kita lupa makna rezeki yang sebenarnya. Kisah di atas menjadi pelajaran bagi kita yang selalu mengukur kesuksesan seseorang dari materi semata.

Kita menganggap bahwa orang yang diberi harta yang banyak, pangkat yang tinggi, dan rumah yang megah adalah mereka yang Allah rida padanya. Kita mengnanggap bahwa kelancaran rezeki yang mereka dapatkan sebagai pertanda bahwa mereka disayangi Allah. Kita menyangka bahwa maksiat yang mereka lakukan tidak sedikit pun berpengaruh pada rezeki mereka. Yah, begitulah pandangan kita sebagai manusia.

Orang yang diberi nikmat oleh Allah dan diberi kelancaran rezeki belum tentu mulia di sisi-Nya. Bisa saja kenikmatan itu sengaja Allah beri agar mereka semakin jauh dari Allah, agar mereka semakin hanyut dalam maksiat sehingga mereka lupa bahwa nikmat itu adalah azab yang disegerakan untuk mereka sebelum azab yang akan mereka rasakan di hari akhir nanti.

Ingat wahai saudaraku, dunia ini bisa saja Allah berikan kepada siapa saja yang Ia kehendaki, namun nikmat Iman, Islam, dan hidayah hanya Allah berikan kepada hamba-hamba yang Ia sayangi.

Maka, jangan cepat berkesimpulan. Ketika maksiat jalan terus, tapi rezeki semakin lancar, bisa jadi itu adalah istidraj agar kita semakin jauh dari-Nya. dan ingat kenikmatan yang hakiki adalah ketika dirimu selalu dekat dengan-Nya dalam setiap ibadah.

Oleh: Andri Astiawan Azis. A.Ma

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here