Maka Bertanyalah…

Diantara hal yang sejalan dengan akal sehat kita adalah bahwa ucapan seseorang atau kelompok manapun dalam suatu masalah tidak akan begitu saja kita terima kecuali bila yang mengucapkannya adalah orang-orang yang menguasainya atau ahlnyai. Hal ini sangat jelas. Oleh karena itu, anda tidak akan pernah melihat orang yang sedang sakit gigi mau menerima resep obat selain dari dokter gigi, itupun kalau mungkin yang di datanginya adalah dokter yang berpengalaman.
   
Salah seorang di antara kita pasti enggan untuk menyerahkan barang berharga sebutlah misalnya mobil mewahnya yang rusak kepada tukang-tukang servis dan bengkel pemula, dia tidak akan rela menyerahkannya kecuali kepada dealer resmi yang profesional. Demikian pula  seorang investor atau pemilik modal akan sangat berhati-hati dalam menginvestasikan atau menanam sahamnya dalam suatu usaha bersama.
   
Maka adalah aneh dan sesuatu yang patut untuk dipertanyakan, bagaimana mungkin ada orang yang mau saja menerima ajaran agama yang mereka yakini sebagai pedoman untuk meraih kebahagiaan hidup di dunia dan di akhiratnya dari orang-orang yang tidak jelas,  tanpa proses pengecekan dan penelitian terlebih dahulu.
   
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan di minta pertanggung jawabannya”. (QS. Al Israa: 36).
   
Kita juga melihat manusia secara umum akan segan berbicara tentang suatu urusan dunia ketika di depannya ada orang-orang yang memiliki spesialisasi dalam suatu masalah.  Sebagaimana orang segan berbicara masalah obat suatu penyakit ketika di depannya ada dokter. Mereka segan berbicara masalah arsitektur suatu bangunan ketika ada arsitek di depannya. Tetapi sangat disayangkan ada banyak orang yang tidak segan berbicara masalah agama, padahal dia bukan ahlinya, seperti para artis, pelawak, dukun, paranormal, musisi dan lainnya yang berbicara tanpa ilmu, sehingga mereka sesat dan menyesatkan orang lain. Padahal ketika ia berbicara, sadar ataupun tidak bahwa dia selalu di awasi oleh pencipta agama yang haq ini, yang Maha Melihat, Maha Mengetahui lintasan dan bisikan hati dan benak manusia. Tak sesuatupun luput dari pengawasanNya dan yang mempunyai perhitungan yang sangat cepat dan rinci.
   
Telah banyak bencana yang terjadi dewasa ini diakibatkan suburnya kebiasaan ucapan tanpa merujuk kepada sumber pengambilan dalil hukum yang sah dan adil seputar masalah-masalah agama yang  penting dan selayaknya ummat Islam mengetahuinya,     Demikianlah, jika terhimpun pada kebanyakan orang tiga hal, yakni lemahnya kemauan dalam mengkaji ilmu agama dan ketika manusia lebih cenderung untuk memperturutkan hawa nafsu. Ditambah lagi dengan tindakan terlalu berani dikalangan orang-orang yang tidak mempunyai kapasitas ilmu yang di akui dalam Islam, maka manusia akan ditimpa oleh bencana besar dan terjadilah kerusakan-kerusakan sebagaimana yang diberitakan oleh Nabi Muhammad Shallalllahu ‘Alaihi wa Sallam, bahwa kelak manusia akan menjadikan orang-orang yang jahil sebagai pemimpin, mereka ditanya lalu memberi fatwa tanpa landasan ilmu sehingga mereka sesat dan menyesatkan orang lain.
   
Semestinya, setiap pribadi Muslim mengetahui dan menyadari kapasitas dirinya dan lebih berkonsentrasi memikirkan bagaimana ia dapat melaksanakan kewajibannya sebagai seorang hamba dalam beribadah kepada Rabbnya dengan maksimal sambil menjaga kualitasnya dengan terus menuntut ilmu.
   
Berapa banyak terjadi praktek kesyirikan oleh karena lisan-lisan yang tidak bertanggung jawab? Berapa banyak praktek dan model-model peribadatan  namun tidak ada dasarnya, tanpa contoh dan perintah dari pembawa risalah agama ini, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam! Dan berapa banyak terjadi perpecahan dan hati-hati yang menjadi tercerai-berai karenanya?
   
Dalam hal ini betapa syariat Islam sangat menghargai dan menekankan pentingnya berilmu sebelum berkata dan beramal. Seorang Muslim yang baik adalah yang berkata dan berbuat atau bertindak berdasarkan pengetahuan, bukan latah, ikut-ikutan dan asal dalam melangkah. Dalam bahasa modernnya, pribadi Muslim adalah pribadi yang profesional, berbuat berdasarkan ilmu (Bashirah) yang profesional dan matang.
  
Seseorang yang ditanya siapapun Dia seharusnya menjawab pertanyaan yang tidak ia ketahui dengan jujur dan sportif mengakui bahwa ia memang tidak tahu (”saya tidak tahu”. “Wallahu A’lam” atau yang semakna dengannya). Karena hal itu lebih baik akibatnya, lebih selamat dan merupakan tanda kebaikan agama seseorang.
   
Jika orang-orang awam yang bukan Ulama bertindak mengambil alih wewenang Ulama, maka hal tersebut menunjukkan kekurangan akal dan adab bagi pelakunya, meskipun ia memiliki banyak kelebihan dari sisi dunia yang menonjol yang mungkin hal tersebutlah yang membuatnya berani berbicara pada hal-hal diluar kapasitasnya seperti pada masalah Agama.
   
Sementara itu, kenyataan yang terjadi di masyarakat kita umumnya, tidak bisa membedakan mana fatwa yang benar dan mana fatwa yang menyimpang. Kondisi kebodohan ummat tersebut menjadi lahan yang subur dan menggairahkan bagi mereka yang senang mengail di air yang keruh. Maka semakin banyak orang yang baru belajar Islam serta merta menjadi penceramah. Apalagi jika pandai memberi bumbu ceramahnya dengan lelucon, ia akan cepat mengorbit.
   
Sungguh jika kita mengabaikan permasalahan fatwa tanpa kaidah, aturan dan batasan, maka setiap orang akan mengharamkan dan menghalalkan apa saja sesuka hatinya.
   
Adalah kewajiban pemimpin dikalangan kaum Muslimin untuk mengingatkan dan menindak tegas orang-orang yang sok tahu padahal sebenarnya jahil tersebut untuk menjaga kemurnian Islam dari kerancuan, keragu-raguan, kebodohan dan perpecahan. Sebagaimana demi memelihara kesehatan tubuh masyarakat luas, maka orang-orang yang sok tahu tentang masalah pengobatan harus di cekal, tidak boleh membuka praktek dan dikenakan sanksi tegas sebagai pelajaran bagi orang-orang dibelakangnya.
   
 -Ajaran Islam yang haq ini diambil dari mata air yang jernih dan murni yaitu Al Qur’an dan petunjuk (baca: sunnah) Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Melalui lisan dan karya pewaris Nabi (baca: Ulama) yang mengambilnya dengan adab-adab yang mulia dan tangan yang suci dari kotoran.-Siapa Mereka? (Bersambung Edisi depan  Insya Allah).  Wallahu A’lam!

Artikulli paraprakSMA Islam
Artikulli tjetërBahaya Zat Aditif

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini