(Bogor-wahdah.or.id)- Lima kader Wahdah Islamiyah (WI) yang menempuh studi pada Faklutas Pasca Sarjana Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor meraih gelar Magister Pendidikan Islam secara bersamaan dengan predikat Cumlaude. Kelima mahasiswa yang berasal dari beberapa DPD Wahdah Islamiyah di Sulawesi tersebut, adalah Fajar Mahayuddin, S.Pd., M.Pd.I (Muna), Ali Akbar, ST., M.Pd.I (Jeneponto), Hasrin, S.Si., M.Pd.I (Kendari), Syamsuar Hamka, S.Pd., M.Pd.I (Jeneponto), dan Nawan Yulianto, S.IP., M.Pd.I (Yogyakarta).

Dalam pembacaan SK Yudisium Magister Pendidikan Islam UIKA Bogor TA. 2016, yang dibacakan langsung oleh Sekretaris Program Studi Pendidikan Islam, Dr. Hj. Imas Kania Rahman, M.Pd.I, kelima kader WI tersebut, dengan izin Allah, meraih predikat Dengan Pujian (Cumlaude). Imas menyampaikan tahniah kepada seluruh mahasiswa magister yang hadir dalam acara tersebut. “Semoga ilmu yang saudara dapatkan bisa bermanfaat bagi umat dan agama Allah,” harapnya setelah membacakan pengumuman kelulusan seluruh mahasiswa.

Selama menjalani studi di UIKA, kelima kader Wahdah ini juga nyantridi Pondok Pesantren Mahasiswa dan Sarjana (PPMS) Ulil Albab UIKA Bogor. “Ini pengalaman pertama saya merasakan ‘udara segar’ pesantren itu,” ungkap Ali Akbar, salah seorang kader WI yang nyantri di pesantren ini. “Menjalani hari-hari di kampus dengan belajar pada sejumlah cendikiawan dan intelektual Muslim Indonesia semisal Pak Kiai (sapaan akrab Prof. KH. Didin Hafidhuddin), Dr. Adian Husaini, dan Dr. Ahmad Alimhafizhahumu’Llah, adalah satu kebanggaan tersendiri. Ini bukan karena ketokohannya. Tapi karena ilmunya. Dan menjalani siang malam di (pesantren) Ulil Albab, dengan beragam programnya semacam dialog pemikiran, bahas karya, atau bedah kitab, adalah saat-saat manis yang terlalu indah untuk sekadar dilewatkan begitu saja. Ini (dialog pemikiran-ed) penting, untuk tumbuhnya tradisi saling menghargai dan menghormati sesama Muslim,” lanjutnya.

Di sela-sela perbincangan, ia banyak bercerita dan mengutip sejumlah kalimat cendekiawan Muslim. Ia menjelaskan bahwa ilmu sudah seyogyanya melahirkan adab dan etika. Ilmu bukan untuk ajang bangga-banggaan. Dan mengingat proporsi yang berbeda pada setiap orang atas ilmu itu, sehingga ketika terjadi perbedaan pemahaman yang tumbuh dalam tradisi ilmiah dan akademik, tidak serta merta melahirkan perpecahan dan pertikaian. “Di sini saya makin mengerti, kapan kita mesti bersikap keras dan kapan kita harus berlapang dada, dengan sejumlah perbedaan yang tercipta. Perbedaan mana saja yang membuat kita tetap haram melucuti kehormatan saudara sendiri, serta dalam perkara apa saja kita mesti tegas, tanpa pandang bulu. Saya banyak belajar di sini,” lanjutnya.

Ketika ditanya mengenai harapannya ke depan, ia kemudian bercerita. “Wahdah Islamiyah memiliki potensi sangat besar menyatukan dan atau bersatu dengan seluruh umat Islam Indonesia yang terserak dalam banyak barisan dakwah. Kalau pun bersatu itu masih dianggap utopia oleh banyak kalangan mengingat dinamika dakwah yang sangat kompleks, paling tidak WI menjadi ormas Islam yang membuka diri dengan semua komponen umat Islam Indonesia. Sekarang saatnya WI mengembangkan sayap lebih lebar: menebar cinta, mengukuhkan ukhuwah, merangkul saudara dengan ilmu dan hikmah, bersama seluruh anak bangsa menjaga keutuhan dan kedaulatan setiap jengkal tanah pertiwi” pungkasnya.[hsr]

Artikulli paraprakWahdah Islamiyah Muna Gelar Baksos Sunnatan Ceria Bersama
Artikulli tjetërCinta Menggerakkan dan Melahirkan Komitmen Untuk Perbaikan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini