Latar Belakang Penulisan Kitab Ta’lim Muta’allim

Setelah muqaddimah dengan memuji Allah yang telah mengistimewakan manusia dengan ilmu dan amal, serta bershalawat kepada Rasulullah yang merupakan pemimpin seluruh manusia, Imam Az-Zarnuji menjelaskan alasan penysunan kitab Ta’lim Muta’allim yang beliau tulis.

Beliau mengatakan;

وبعد…فلما رأيت كثيرا من طلاب العلم فى زماننا يجدون إلى العلم ولايصلون [ومن منافعه وثمراته ـ وهى العمل به والنشر ـ يحرمون] لما أنهم أخطأوا طريقه[1] وتركوا شرائطه، وكل من أخطأ الطريق ضل، ولاينال المقصود قل أو جل، فأردت وأحببت أن أبين لهم طريق التعلم على ما رأيت فى الكتب وسمعت من أساتيذى أولى العلم والحكم، رجاء الدعاء لى من الراغبين فيه، المخلصين، بالفوز والخلاص فى يوم الدين، بعد ما استخرت الله تعالى فيه،

Ketika saya melihat kebanyakan  para pelajar (santri) di zaman kita ini, sebenarnya mereka telah bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu, tapi banyak dari mereka tidak sampai (kepada ilmu) tidak mendapat manfaat dari ilmunya, yakni berupa pengalaman dari ilmu tersebut dan menyebarkannya.

Hal itu terjadi karena  mereka salah jalan dalam mencari ilmu, dan meninggalkan syarat-syaratnya. Karena, barangsiapa salah jalan, tentu tersesat tidak dapat mencapai tujuan, baik sedikit maupun banyak.

Oleh karena itu saya ingin menjelaskan kepada para pelajar cara mencari ilmu, menurut kitab-kitab yang saya baca dan menurut nasihat para guru saya yang ahli ilmu dan hikmah. Dengan harapan semoga orang-orang yang tulus ikhlas mendo’akan saya sehingga saya mendapatkan keuntungan dan keselamatan di akherat. Begitu do’a saya dalam istikharah ketika akan menulis kitab ini.

 

Penjelasan

Az-Zarnuji menyatakan bahwa beliau menulis kitab Ta’lim Muta’allim ini karena melihat kondisi pelajar di zamannya. Dimana pelajar di zaman beliau banyak yang tidak sampai kepada hakikat ilmu.[2] Padahal sesungguhnya mereka telah bersungguh-sungguh dalam belajar.[3] Dimana telah dimakulumi, bahwa man jadda wajada (siapa yang bersungguh-sungguh akan mendapatkan hasil).[4]

Selain itu mereka juga diharamkan atau terhalangi dari mendapatkan manfaat dan buah dari ilmu tersebut, berupa pengamalan dan menyebarkan ilmu. Ini adalah pengaruh dari sebelumnya. Karena tidak sampai kepada hakikat ilmu, maka mereka tidak memperoleh manfaat dan buah dari ilmu tersebut.

Mereka belajar dengan sungguh-sungguh tapi sampai dan tidak memperoleh manfaat serta buah dari ilmu tersebut. Sebab ilmu yang mereka pelajari tidak membuahkan amal dan mereka tidak menyampaikan ilmu tersebut kepada orang lain.  Tentu saja hal ini merupakan kerugian karena kesungguhan dalam mencari ilmu tidak sebanding dengan hasil yang didapatkan.

Hal itu kata Az-Zarnuji karena para pelajar salah jalan dan tidak memenuhi syarat-sayaratnya. Karena orang yang salah jalan akan tersesat dan tidak akan sampai ke tujuan. Tujuan mencari ilmu yang paling tinggi adalah masuk surga. Sebab ilmu adalah jalan masuk surga sebagaimana dijelasakan Nabi dalam sabdanya. Namun ini hanya diperoleh oleh mereka yang menempuh jalan dan cara yang benar dalam belajar serta memenuhi syarat-syaratnya.

Melihat fenomena yang memprihatinkan ini, Imam Burahanuddin Az-Zarnuji menulis sebuah buku yang beliu beri judul Ta’lim Muta’allim Thariq At-Ta’allum. Artinya pelajaran atau pengajaran kepada para pelajar tentang cara belajar. Maksud dan tujuan beliau menulis buku ini adalah menjelaskan kepada para pelajar tentang cara mencari ilmu.

Uniknya pemilihan judul ini setelah beliau beristikharah (memohon petunjuk) kepada Allah. Sehingga tidak mengehrankan jika buku ini kekal sampai saat ini. Berkat keikhlasan penulisnya dan taufiq Allah karena penulisnya menulis memilih judul yang tepat serta menarik bagi pelajar untuk menelaahnya.

Semoga Allah merahmati Imam Burhanuddin  atas ketulusan beliau menulis buku ini. Semoga buku ini menjadi amal jariah yang pahalanya terus mengalir dan tertulis dalam catatan amal baik beliau. []

Bogor 12/11/2020

 

[1] Pada asalnya orang yang menempuh jalan untuk mencari ilmu mendapat jaminan dan janji kemudahan masuk surga dari nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau mengatakan, “Barangsiapa yang menempuh satu jalan untuk memperoleh ilmu, Allah akan mudahkan baginya jalan masuk surga”.

[2] Imam Ahmad mengatakan, “Asal pokok ilmu itu adalah rasa takut kepada Allah”. Sebelum  Imam Ahmad ungakapan senada juga disampaikan Sahabat Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, “Ilmu itu bukan banyaknya riwayat (ilmu yang diketahui), tapi rasa takut kepada Allah”. Pernyataan Ibnu Ma’ud dan Imam Ahhmad merujuk pada firman Allah di surat Fathir ayat 28 yang menegaskan bahwa manusia yang paling takut kepada Allah adalah orang-orang berilmu (para Ulama).

[3] Idealnya orang yang sungguh-sungguh dalam belajar akan mendapatkan ilmu dan buah dari ilmu. Imam Syafi’i mengatakan, “Ilmu itu, jika kamu kerahkan seluruh perhatianmu maka ia hanya memberimu separuhnya, jika kamu hanya memberikan separuh perhatianmu maka dia tidak memberimu apa-apa samasekali”.

[4] Hal ini disebabkan karena mereka salah jalan dan tidak memenuhi syarat-syaratnya sebagaimana akan dijelasakn selanjutnya.

Berita sebelumyaSyarah Kitab Ta’lim Muta’allim (1) Pengantar
Berita berikutnyaMENGAPA ALLAH MEMILIHKAN ISLAM SEBAGAI AGAMA KITA – Khutbah Jumat

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here