Setan merupakan musuh yang nyata bagi bani Adam. Permusuhannya terhadap mereka bermula tatkala pembesar mereka Iblis la’anahullaah diusir oleh Allah Ta’ala dari surga karena enggan memberikan sujud penghormatan terhadap kakek kita, Adam ‘alaihissalaam.
 
Permusuhan iblis ini kemudian ia kobarkan pada keturunan dan bala tentaranya dari kalangan setan jin dan manusia, agar mereka bisa menyesatkan manusia dari jalan Allah Ta’ala dan menjerumuskan mereka ke dalam jurang kesesatan dan kegelapan neraka. Allah Ta’ala menegaskan adanya permusuhan Iblis dan setan ini dalam firman-Nya, artinya: “Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala” (Terjemahan QS. Faathir: 6).
 
Hanya saja para setan tidak akan sanggup menggoda dan menyesatkan orang-orang yang rajin dan benar-benar taat dan ikhlas beribadah kepada Allah Ta’ala: “Sesungguhnya setan  itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya. Sesungguhnya kekuasaannya (setan) hanyalah atas orang-orang yang mengambilnya jadi pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah”. (Terjemahan QS An-Nahl: 99-100).
 
Ayat ini menunjukkan bahwa setan hanya bisa sukses menggoda dan memperdaya orang-orang yang mentaati godaan dan bisikan nafsu yang ia rasukkan dalam hati mereka, baik dari kalangan orang-orang mukmin yang suka bermaksiat ataupun dari kalangan orang kafir. Hanya saja, sebagai seorang musuh bebuyutan yang abadi, iblis dan bala tentaranya dari kalangan setan tidak akan menyerah begitu saja tatkala melihat seorang hamba melakukan ketaatan kepada Allah, namun mereka juga menyiapkan ragam langkah dan merencanakan berbagai visi demi mengeluarkan seorang manusia dari jalur ketaatan dan istiqamah. Langkah dan visi mereka ini begitu sangat berbahaya sampai-sampai Allah Ta’ala secara khusus seringkali memperingatkan manusia darinya, misalnya dalam firman-Nya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah- langkah syaitan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syaitan, Maka Sesungguhnya syaitan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang munkar.” (Terjemahan QS. An-Nur: 21)
 
Ayat ini juga menegaskan bahwa para setan tidak menerapkan satu langkah saja dalam menggiring manusia agar meninggalkan ketaatan dan terjerumus dalam maksiat, namun mereka menerapakan beberapa langkah dan cara-cara tertentu dengan memperhatikan titik terlemah dari sifat manusia. Bila mereka mendapati seorang hamba tersebut memiliki kekuatan agama dan sikap istiqamah maka mereka akan menggodanya agar memperbanyak melakukan perkara-perkara mubah dengan misi agar sang hamba tersebut tidak terlalu banyak melakukan amalan-amalan sunat, lalu kemudian sedikit demi sedikit ia digiring untuk tidak terlalu memperhatikan amalan wajib.
 
Dalam bukunya “Maddarij As-Saalikin (1/237)” Ibnul-Qayim rahimahullah menyebutkan bahwa dalam menjauhkan manusia dari ketaatan, para setan menerapkan tujuh langkah cerdik lagi licik. Secara singkat, tujuh langkah tersebut adalah sebagai berikut:
 
Pertama: setan menuntun manusia menuju pintu kekafiran kepada Allah, dan kepada agama-Nya dan hari perjumpaan dengan-Nya. Bila ia sukses dalam langkah ini, maka ia akan tenang beristrahat karena telah sukses menjalankan misi terbesarnya. Namun bila manusia selamat dari jeratan kekafiran ini, maka setan akan berusaha menjerumuskannya dalam langkah kedua.
 
Kedua: setan menuntunnya menuju pintu bid’ah, yang terbagi dalam dua komponen:
1. Memiliki keyakinan/aqidah yang menyelisihi kebenaran yang diturunkan oleh Allah lewat rasul dan kitab-Nya.
2. Beribadah dengan cara yang tidak diizinkan dan disyariatkan oleh Allah Ta’ala.
 
Bila seorang manusia sukses terjauhkan dari dua jenis bid’ah ini dengan cahaya sunnah dan sikap mutaba’ah (ketaatan) terhadap Al-Quran dan Sunnah, maka setan akan berusaha mendatanginya dengan langkah lain.
 
Ketiga: setan menuntunnya menuju lingkaran dosa-dosa besar. Bila setan sukses menjerumuskannya dalam dosa besar ini, ia akan memperindah dosa ini bagi dirinya, membisikkannya agar terus menerus menunda taubat, dan merasukkan keyakinan dalam hatinya bahwa ampunan Allah lebih luas. Namun bila seorang manusia mampu menghindarkan diri dari dosa-dosa besar ini, maka setan akan mendatanginya lewat langkah keempat.
 
Keempat: setan menuntunnya menuju lingkaran dosa-dosa kecil. Ia pun membisikan dalam hatinya bahwa dosa-dosa kecil tidaklah berbahaya bagi dirinya asal menjauhi dosa-dosa besar, dan bahwasanya menghapus dosa-dosa kecil cukup dengan perbuatan baik. Sehingga manusia pun senantiasa meremehkan perkara dosa kecil sampai ia terus menerus melakukannya dan menjadi kebiasaannya. Namun bila manusia bisa selamat dari langkah setan ini dengan banyak bertaubat, menghindarkan diri darinya, dan dengan banyak beramal kebaikan, maka setan mengikuti langkah selanjutnya.
 
Kelima: setan menuntunnya menuju lingkaran perkara mubah. Dengan terjerumus dalam lingkaran mubah ini, seseorang akan sedikit melakukan banyak ketaatan dan amalan-amalan yang sunat dan berpahala, sehingga ia pun bisa saja meninggalkan banyak amalan sunat, lalu banyak meninggalkan amalan wajib. Namun bila manusia bisa terbebaskan dari jeratan ini dengan petunjuk ilahi, dan ilmu, maka setan akan menempuh langkah lain.
 
Keenam: setan menuntunnya untuk melakukan amalan-amalan yang kurang afdhal (utama), agar ia meninggalkan amalan-amalan yang lebih afdhal. Karena ketika setan gagal menjauhkan manusia dari amalan pahala, maka ia setidaknya menginginkan agar manusia tersebut tidak meraih pahala secara sempurna dan tidak mencapai derajat tertinggi dari suatu ketaatan, maka iapun menyibukkan manusia dengan amalan yang fadhilahnya kurang atau sedikit agar tidak melakukan amalan yang fadhilah dan pahalanya lebih banyak. Tentunya manusia yang sampai pada tingkat keenam ini adalah manusia yang jumlah mereka sangat sedikit di dunia ini, adapun kebanyakan mereka maka telah terjatuh dalam langkah pertama dan kedua. Bila manusia selamat dari langkah setan yang keenam ini, maka tidak ada langkah lain yang setan bisa lakukan atas dirinya kecuali satu langkah yang mesti dirasakan oleh orang yang benar-benar bertaqwa kepada Allah yaitu:
 
Ketujuh: setan mengerahkan semua bala tentaranya dari kalangan jin dan manusia agar menyakiti manusia tersebut baik dengan tangan, ataupun lisan mereka. Semakin derajat taqwanya tinggi maka semakin besar pula langkah setan untuk menyakiti dirinya, baik berupa menyeru manusia agar mencela dan menyesatkannya atau menyeru mereka agar menjauhi dan tidak mengikutinya. Langkah setan yang ketujuh ini tidak bisa dihindari oleh setiap manusia yang bertaqwa sebab sudah merupakan sunnatullah: semakin seseorang istiqamah dan giat berdakwah di jalan Allah, maka para setan pun semakin giat menghalangi gerakan dakwahnya. Ia akan terus menerus menabuh genderang perang dengan iblis dan bala tentaranya dari kalangan setan jin dan manusia hingga menemui ajalnya.
 
Inilah tujuh langkah iblis dan para setan dalam menjerumuskan manusia ke dalam kekafiran dan maksiat, semoga Allah Ta’ala menjadikan kita semua sebagai orang yang berada dalam lingkaran ketujuh yang senantiasa menabuh genderang perang dengan mereka, aamiin.
 
Marilah kita semua selalu berlindung kepada Allah dari godaan dan tipu daya setan, dengan banyak berdoa, dan berlindung kepadanya, menjalankan berbagai ketaatan, mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, menuntut ilmu dan mempelajari Al-Quran. Semoga kita semua termasuk orang-orang yang mukhlis yang terjauhi dari godaan dan tipu daya setan, aamiin.[]
 
Sumber: Majalah SEDEKAH Plus Edisi 31

Berita sebelumyaMengapa Harus Dengan Sabar Dan Doa
Berita berikutnyaPuasa Hari Asyura Menurut Syaikh al-Tharifi hafizhahullah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here