LABBAIKA YA HUSAIN!” DI BAQI’

MENGGEMA HINGGA KE JANTUNG KAIRO

Amir Sa’id

 

Ratusan orang berkumpul di Baqi’ meneriakkan: ”Labbaika ya Husain!”…”Haihata minna-dzullah” (tidak mungkin kami terhina). Ini adalah teriakan yang tak akan keluar kecuali jika musuh yang dihadapi adalah seorang muslim. Namun teriakan ini akan bersembunyi saat berhadapan dengan setiap penjajah yang mencuri dan musuh yang menyerang.

 

Tidak ada yang aneh dalam peristiwa ini. Karena memang itulah yang menjadi ciri khas kelompok ini yang sebenarnya tidak perlu mengundang keheranan berlebihan; karena jihad mereka tidak dapat dilakukan hingga akhir zaman ketika Sang al-Mahdi datang. Karena itu, antara era diutusnya Nabi hingga akhir zaman tidak ada permusuhan hakiki dalam literatur turats Syiah terhadap musuh ummat yang sebenarnya. Yang ada hanyalah celah-celah benteng musuh yang ”boleh jadi” ada di Madinah, Baghdad, Damaskus atau Kairo.

Namun sama sekali tidak ada pemikiran untuk membuka wilayah Neo-Romawi misalnya!’Ala kulli hal, Baqi’ yang tenang dan damai itu masih harus bersiap menghadapi teriakan-teriakan yang diserukan oleh orang-orang berjiwa pembangkang di Madinah dalam sebuah perlawanan yang harus dilakukan di jantung Dunia Islam.

Dan kali ini dilakukan di Kota Rasul Shallallahu ’Alaihi wa sallam, di sisi pekuburan para sahabatnya radhiyallahu ’anhum, dimana yang menjadi alasan untuk melakukan itu adalah sekumpulan ritual yang harus dilakukan oleh pemeluk agama Syiah di tempat yang suci ini. Meskipun harus merobek-robek kemurnian ajaran Tauhid. Meski sang peneriak ”Labbaika Ya Husain” harus mengangkangi suara hati seorang muslim yang datang dari penjuru dunia menyerukan: ”Labbaika-Llahumma labbaik…Labbaika La Syarika laka labbaik!” 

Al-Husain radhiyallahu ’anhu tidak dimakamkan di Baqi’, dan tidak pula di Kairo dimana kemarin (22/2/2009) terjadi ledakan yang menyisakan sejumlah orang luka dan tewas dari kalangan turis dan warga Mesir di dekat apa yang dianggap sebaga masyhad atau maqam cucu Rasulullah. Meski sebenarnya tidak ada pernyataan resmi tentang adanya hubungan antara teriakan di Baqi’ dengan ledakan di Masyhad tersebut, namun hasilnya tetap sama…

Marilah kita abaikan saja dugaan-dugaan skenario itu di sini, tapi siapa yang mendapatkan keuntungan dari peledakan di Masyhad dan ”teriakan-teriakan” di Baqi’ itu hanya satu. Dan ini setidaknya menjadi jelas tanpa kita harus mengarahkan tuduhan kita ke Iran, karena kita sebenarnya tidak ingin mengaitkan semua musibah di dunia Arab dan Islam dengan Iran. 

Ketika sekelompok pelaku ibadah -yang bertaqarrub pada Allah dengan bertawassul dengan sebagian kecil sahabat Nabi sembari melaknat sebagian besarnya- berteriak: ”Tidak mungkin kami terhina!” (Haihata minna-dzullah), mereka mungkin tidak tahu bahwa mereka sedang menjalankan sebuah strategi politik tertentu yang memanfaatkan momen dengan cerdik untuk melancarkan tekanannya kepada negara-negara yang berpengaruh pada dunia Islam.

Ketika sang kriminil meletakkan bom di bawah sebuah kursi di Lapangan al-Husain, Kairo, ia juga mungkin tidak mengetahui bahwa Teheran akan bernyanyi gembira untuk pelakunya….Namun sebenarnya ibukota Iran itulah yang paling berbahagia dengan ledakan yang menyiratkan pesan kepada Kairo jika ia masih terus menghalang-halangi obsesi-obsesi Iran di wilayah tersebut. Meski mungkin bukan Teheran yang mengutus sang pembom itu!
Dan dalam kedua situasi ini, Teheran mengatakan kepada Riyadh dan Kairo bahwa tempat suci di Madinah dan Masyhad di Kairo itu tidak akan pernah aman, dan bahwa ritual ibadah yang sesuai dengan Fikih Syiah tidak akan mungkin terlaksana di Madinah atau pun di Kairo tanpa kehadiran perwakilan Teheran di sana. Dan ini sejalan dengan obsesi lama Sang Pemimpin Revolusi Iran, Khomeni…

Namun sekali lagi, dengan semua ini, kita tidak perlu mengarahkan telunjuk untuk menuding Iran, tetapi kita hanya sekedar menyebutkan siapa pihak yang paling diuntungkan dengan kedua peristiwa ini, terutama saat kita membaca gambaran situasi politik saat itu!

Selain itu, juga nampak jelas adanya pihak lain yang diuntungkan oleh peristiwa ini. Betapa gembiranya kelompok Liberal Saudi dengan sebuah peristiwa yang memungkinkan mereka untuk menggunakan lidah tajam mereka untuk menyerang Lembaga Amar Ma’ruf Nahi Munkar!
Betapa gembiranya orang-orang yang ikut serta memberikan sentuhan terakhir terhadap undang-undang Anti terorisme di dunia Arab, yang menemukan kembali bahan untuk mempersoalkan bahaya terorisme di dunia Arab!

Sesungguhnya hajat kita semakin besar untuk mengetahui siapa sebenarnya yang diuntungkan dengan peristiwa ini. Bukan untuk apa-apa, tetapi untuk memahami dan menyadari apa tujuan di balik semua peristiwa itu, baik yang mengatasnamakan al-Husain di Madinah maupun di tempat yang dianggap sebagai masyhad di Kairo. Siapa pun pelaku dan apa pun alat yang digunakan. (Amal, sumber: www.albainah.net)

 

Berita sebelumyaKAUM RAFIDHAH DAN PENISTAAN TERHADAP HARAMAIN
Berita berikutnyaDialog Muslimah Biro Keputrian BEM Ma’had ‘Aly

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here