Labbaika Allahumma Labbaik
(Al Fikrah No.22 Tahun VIII/25 Dzulhijjah 1428 H)

Barangkali, membaca judul ini, pembaca akan heran dan bertanya-tanya, "Untuk apalagi mengangkat tema ini, jamaah haji kan sudah wuquf di Arafah, kita pun telah lebaran haji, bahkan jamaah haji telah kembali ke tanah air mereka."

Para pemuda lebih sengit lagi, "Apa Al Fikrah sudah tidak punya tema lain? Ibadah haji itu kan khusus untuk orang tua yang dulu ketika muda banyak berbuat dosa, sehingga ketika tua mereka melaksanakan haji untuk menghapus dosa-dosa mereka." Yang berekonomi pas-pasan pun tidak puas, "Tema ini cocoknya untuk orang-orang kaya saja."

Tumbuhkan Niat
Sejatinya, setiap Muslim punya niat kuat untuk menunaikan ibadah satu ini. Bayangkan, jika kita dipanggil oleh atasan atau orang yang kita segani, maka secara bergegas kita meresponnya. Tak peduli seberapa sulit kondisi kita saat itu. Namun untuk panggilan haji, yang terjadi justru sebaliknya. Si kaya tak segera merespon panggilan tersebut dengan dalih waktunya belum tepat, atau sayang dengan harta yang telah terlanjur ditumpuk. Yang muda masih mengulur-ulur waktu dengan alasan masih ada hari esok. Si miskin enggan menjawab panggilan tersebut dengan dalih tidak punya harta.
   
Memang, mampu menjadi salah satu syarat pergi haji. Namun mampu tak sama dengan menyerah. Mampu harus dibarengi dengan usaha yang sungguh-sunnguh, sementara menyerah jelas tanpa upaya. Jangan-jangan, kita bukan orang yang termasuk tidak mampu berhaji, namun orang yang menyerah untuk bisa berhaji.

Tulisan ini hanya untuk mengajak kita menggelorakan niat. Sebab meskipun Anda ingin berangkat haji tahun ini pun, kuota telah terpenuhi, bahkan untuk beberapa daerah, calon jamaah haji sudah melebihi kuota tahun 2009.

Seruan Bagi Anda yang Mampu
Lantunan jamaah haji, talbiyah, tahukah Anda dari mana asalnya?
   
Inilah jawaban atas pertanyaan Nabi Ibrahim Alaihissalam ribuan tahun silam. Ketika Allah ÓÈÍÇäå æÊÚáì berfirman kepada beliau, "Wa adzdzin finnaasi bilhajj…" ("Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji…").
   
Ibrahim Alaihissalam pun bertanya, "Bagaimana mungkin suaraku akan sampai kepada mereka semua, Rabbi?"
   
Allah berfirman, "Wahai Ibrahim, engkau cukup menyeru, dan Kamilah yang akan menyampaikannya."
   
Nabi Ibrahim Alaihissalam pun berdiri di puncak gunung Arafah dan segera berseru, "Wahai manusia! Telah diwajibkan atas kalian ibadah haji, maka kerjakanlah haji…!"
   
Kemudian setelah sekian ribu tahun, kita datang dengan melantunkan,

áóÈøóíúßó Çááøóåõãøó áóÈøóíúßó áóÈøóíúßó áÇó ÔóÑöíúßó áóßó áóÈøóíúßó Åöäøó ÇáúÍóãúÏó æóÇáäøöÚúãóÉó áóßó æóÇáúãõáúßó áÇó ÔóÑöíúßó áóßó

"Kami datang memenuhi panggilan-Mu ya Allah! Kami datang memenuhi panggilan-Mu dan tiada sekutu bagi-Mu. Kami datang memenuhi panggilan-Mu.Sesungguhnya segala puji dan kenikmatan hanyalah milik-Mu semata, begitu juga segala kekuasaan. Tiada sekutu bagi-Mu." Tidakkah seruan Ibrahim  ini telah disampaikan Allah ÓÈÍÇäå æÊÚáì kepada Anda? Mengapa Anda tidak bergegas menjawabnya?
 
Sungguh, jika yang memanggil kita adalah seorang presiden, maka barangkali kita akan menjual rumah beserta seluruh perabotannya untuk memenuhi panggilan itu.

Ya Allah! Beginilah kami hamba-hamba-Mu yang mengaku cinta kepada-Mu, namun hanya sebatas pernyataan di bibir saja.

Allah ÓÈÍÇäå æÊÚáìberfirman (artinya),
"Dan mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup melakukan perjalanan ke Baitullah; barangsiapa mengafiri, maka sesungguhnya Allah Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu)  dari semesta alam." (QS. Ali Imran: 97).

Perhatikan kata-kata ini: "Barangsiapa mengafiri"! Seolah, orang kaya yang merasa tidak membutuhkan ibadah haji, telah memasuki daerah yang amat berbahaya ini.

Firman Allah ÓÈÍÇäå æÊÚáì lagi (artinya),
"Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai onta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh." (QS. Al Hajj: 27).

Kata-kata "wa’adzdzin" ("dan berserulah") memiliki pengaruh dalam jiwa. Setiap kali mendengarnya, kita pun teringat kepada seruan "adzan" yang dilantunkan dalam suara keras yang didengar semua orang. Subhanallah! Seolah Allah ÓÈÍÇäå æÊÚáì menginginkan agar panggilan haji ini betul-betul memenuhi telinga kita. Sudahkah seruan ini sampai ke telinga Anda?

Kemudian kata "rijaalan" (dengan berjalan kaki), dan "Dhaamirin" ("onta yang kurus") yang kecapaian, serta "fajjin ‘amiiq" ("dari segenap penjuru yang jauh"), yaitu dari segenap pelosok negeri, yang terpencil sekalipun. Bisakah Anda bayangkan? Apakah Anda juga berpikir, mengapa mereka datang beramai-ramai?
Seruan haji telah sampai. Sambutlah seruan ini, meski tempat Anda bagitu jauh.

Ibadah yang Dirindu Hati
Bagaimana mungkin seorang Muslim tidak merindukannya? Padahal janji-janji Rasulullah Õáì Çááå Úáíå æÓáã terekam jelas dalam kitab-kitab hadits,

ãóäú ÍóÌøó Ýóáóãú íóÑúÝóËú æóáóãú íóÝúÓõÞú ÑóÌóÚó ßóíóæúãö æóáóÏóÊúåõ Ãõãøõåõ

"Barangsiapa berhaji ke Baitullah, tanpa berkata/berbuat kotor maupun berbuat kefasikan, maka ia akan kembali (pulang dalam keadaan suci) seperti saat ia dilahirkan oleh ibunya." (Muttafaqun ‘alaihi).
Demikian pula kabar gembira dari beliau Õáì Çááå Úáíå æÓáã

ÇáúÚõãúÑóÉõ Åöáóì ÇáúÚõãúÑóÉö ßóÝøóÇÑóÉñ áãöÇó ÈóíúäóåõãóÇ æóÇáúÍóÌøõ ÇáúãóÈúÑõæúÑõ áóíúÓó áóåõ ÌóÒóÇÁñ ÅöáÇøó ÇáúÌóäøóÉõ 

"Antara satu umrah dengan umrah lainnya, adalah kaffarah (penebus) dosa-dosa yang dilakukan antara kedua umrah itu. Dan haji yang mabrur tidaklah mempunyai balasan yang setimpal selain surga." (Muttafaqun ‘alaihi). Selagi Masih di Dunia  
Firman Allah ÓÈÍÇäå æÊÚáì (artinya),
"Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara mereka, dia berkata, "Ya Rabbku! Kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku bisa berbuat amal shaleh terhadap yang telah aku tinggalkan…" (QS. Al Mukmin: 99-100).
   
Dalam menafsirkan "terhadap yang telah aku tinggalkan", Ibnu Abbas—radhiyallahu ‘anhuma—berkata, "Ia telah meninggalkan haji dan zakat, padahal seharusnya ia berhaji… Maka ia pun memohon kepada Allah ÓÈÍÇäå æÊÚáì untuk kembali ke dunia agar bisa menunaikan ibadah haji."

Dan alhamdulillah, kita masih berada di dunia! Maka tunaikanlah haji jika sebenarnya Anda adalah orang yang mampu.
Sumber: Ibadah Sepenuh Hati, karya Amru Khalid

Sebagai bahan evaluasi
Redaksi Buletin Al Fikrah sepanjang tahun VIII, Redaksi melampirkan angket bagi para pembaca untuk memberikan penilaian terhadap kualitas Al Fikrah dan kinerja crew.
Atas kerjasama dan partisipasi pembaca sekalian dalam mengisi dan mengembalikan angket tersebut, kami ucapkan jazakumullahu khairan.

 

Artikulli paraprakLH WI Gelar Gerakan Tanam Pohon
Artikulli tjetërKewajiban Muslim Terhadap Waktu

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini