Krisis Pemikiran Islam
Ilham Jaya Abdurrauf
Mahasiswa PPS UIN Alauddin
(Dimuat di Kolom Opini Tribun Timur, Jum’at 7 Desember 2007)

Dengan menjadikan Barat sebagai faktor determinan, Huntington (1996) membuat klasifikasi kecenderungan respons Islam terhadap peradaban Barat. Kesimpulannya, ada empat kecenderungan: rejuctionism, kemalisme, reformisme dan kebangkitan Islam.

Rejuctionism mewakili sikap apriori absolut Muslim terhadap peradaban Barat dan segala produk budayanya. Barat diasosiasikan sebagai musuh utama yang mengancam eksistensi Islam dan umat Islam.

Berikutnya respons kemalisme. Istilah ini diadaptasi dari nama Kemal Attaturk, presiden pertama negara Turki sekuler. Attaturk dianggap tokoh politik paling bertanggung jawab terhadap suksesnya proyek sekularisasi di dunia muslim.

Bila rejuctionism memposisikan Barat vis a vis Islam, kemalisme sebaliknya. Kemalisme menerima Barat apa adanya. Peradaban Barat dipandang sebagai solusi instan sekaligus kompatibel buat memecahkan permasalahan-permasalahan dunia Muslim.
Bagi Attaturk, modernisasi dan westernisasi adalah dua istilah yang sinonim belaka. Dunia Muslim akan maju bila mengikuti Barat. Sebab, Barat adalah manifestasi dari kemajuan itu sendiri.

Respons selanjutnya adalah respons reformisme. Respons ini mewakili keprihatinan mendalam sekelompok intelektual Muslim terhadap kondisi keterbelakangan yang mendera dunia Muslim pada umumnya. Keprihatinan tersebut kemudian melahirkan militansi reformisme yang kental.

Reformisme juga melihat peradaban Barat yang maju sebagai solusi. Agar keluar dari kemelut keterbelakangannya, dunia Muslim harus merangkul Barat. Lantaran itu, produk-produk pemikiran Barat diadopsi sedemikian rupa buat diterapkan di dunia Muslim.

Produk-produk pemikiran tersebut dicarikan dulu akar-akar teologisnya dalam tradisi kebudayaan Islam. Dengan format yang telah berubah itu, gagasan-gagasan reformasi dan pembaruan dilontarkan ke masyarakat.

Respons terakhir adalah kebangkitan Islam. Dalam catatan Huntington, respons ini tren generasi muda Muslim penghujung abad ke-20. Ia mendeskripsikan respons ini sebagai "sebuah upaya untuk menemukan ‘jalan keluar’ yang tidak lagi melalui ideologi-ideologi Barat, tapi di dalam Islam. Ia merupakan perwujudan dari penerimaan terhadap modernitas, penolakan terhadap kebudayaan Barat, dan re-komitmen terhadap Islam sebagai petunjuk hidup dalam dunia modern."

Dua kecenderungan respons yang disebut terakhir akan didiskusikan lebih lanjut. Mengingat dua kecenderungan tersebut menjadi arus utama dalam diskursus pemikiran Islam kontemporer.

Gerakan Pembaruan
Reformisme berangkat dari asumsi dasar problem ketertinggalan dunia muslim dari Barat. Dunia muslim tentu harus mengejar kondisi ketertinggalan itu. Reformisme, pada gilirannya, menempatkan Barat sebagai sumber inspirasi untuk keluar dari problem ketertinggalan itu.

Karena solusi yang ditawarkan gerakan reformisme tidak murni digali dari akar pemikiran lokal, gagasan-gagasan reformisme menjadi sangat rentan terhadap penolakan. Resistensi dunia Muslim terhadap produk ideologi Barat mudah dipahami. Di samping karena trauma imperialisme dan kolonialisme Barat, dunia muslim memiliki nilai-nilai lokalitasnya sendiri.

Untuk meminimalisasi itu, aktivis-aktivis reformisme berkepentingan untuk menyajikan gagasan-gagasan pembaruan mereka dalam format yang lebih dapat diterima umum. Legitimasi wacana kemudian dilakukan dengan memparalelkan gagasan-gagasan tersebut dengan terminologi-terminologi Islam.
Corak utama dari respons reformisme ini adalah sikap kooperatifnya terhadap produk-produk budaya Barat. Kendati dibungkus dengan warna Islam. Sebagian besar, untuk tidak mengatakan semua, gagasan-gagasan pembaruan yang ditawarkan tokoh-tokoh reformis dapat ditemukan korelasinya dalam tradisi intelektual yang berkembang di Barat.

Lantaran itu, kritik tajam banyak ditujukan kepada gerakan pembaruan. Masalah pokok yang kerap dipersoalkan adalah orisinalitas gagasan. Dari substansi pemikirannya, gerakan pembaruan terkesan hanya meng-"copy-paste" wacana-wacana yang berkembang di Barat. Inilah krisis pemikiran Islam yang menimpa kubu reformisme.

Kebangkitan Islam
Respons kebangkitan Islam berangkat dari asumsi yang sama dengan renspons reformisme. Dunia Muslim sama diasumsikan berada dalam kondisi memprihatinkan. Tapi respons kebangkitan Islam menawarkan solusi yang berbeda dengan solusi tawaran reformisme.

Respons kebangkitan Islam melihat solusi bagi kemelut dunia muslim ada dalam ajaran Islam itu sendiri. Kemunduran dunia Muslim, dalam perspektif respons kebangkitan Islam, adalah akibat ditinggalkannya nilai-nilai Islam yang luhur. Kembali pada nilai-nilai luhur Islam, dengan begitu, menjadi jalan pasti untuk keluar dari kemelut itu.
Terhadap produk budaya Barat, kebangkitan Islam menawarkan pola interaksi sendiri. Produk-produk budaya Barat diseleksi untuk kemudian disesuaikan dengan kerangka nilai-nilai lokal yang berlaku. Artinya, produk-produk budaya Barat tidak diadopsi begitu saja. Tapi juga diadaptasi.

Mungkin itu sebabnya, tokoh-tokoh kebangkitan Islam sangat kritis terhadap peradaban Barat. Mereka tidak melihat peradaban Barat sebagai sesuatu yang monolitik. Tapi terdiri dari komponen-komponen yang dapat dipilah dan dipilih.
Komponen-komponen yang konstruktif dan kompatibel dengan nilai-nilai lokalitas masyarakat diambil. Sedangkan yang destruktif atau bertentangan dengan nilai-nilai lokalitas dibuang.

Syed Hussein Alatas bisa menjadi satu figur intelektual Muslim yang mewakili respons kebangkitan Islam. Meski pernah mengecap pendidikan di Barat, Alatas tidak kehilangan sikap kritisnya terhadap Barat. Ia lantang menyuarakan perlawanan terhadap sekularisme Barat. Ia juga merintis megaproyek Islamisasi ilmu pengetahuan dan mendirikan institusi yang khusus didedikasikan untuk tujuan itu.

Muhammad Rasjidi, menteri agama pertama RI, Daud Rasyid, dan Adian Husaini adalah segelintir dari intelektual Muslim tanah air yang juga dapat dikelompokkan ke dalam arus pemikiran kebangkitan Islam.

Mungkin karena sikapnya yang kritis terhadap Barat, gagasan-gagasan para tokoh kebangkitan Islam cenderung terpinggirkan dari wacana pemikiran Islam yang dominan. Hegemoni kebudayaan Barat hanya mengizinkan suara yang kooperatif dengan Barat, yang dalam hal ini pembaruan Islam. Akibatnya, pemikiran-pemikiran kebangkitan Islam hanya sayup-sayup terdengar.

Hal ini mungkin bisa menjelaskan mengapa wacana pemikiran Islam yang berkembang terkesan monoton dan searah. Padahal, gagasan-gagasan intelektual kebangkitan Islam mungkin lebih bisa dipertanggungjawabkan. Sebab, dibangun di atas nilai-nilai lokal yang orisinil.Wallahu ta’ala a’lam. (http://tribun-timur.com/view.php?id=55791&jenis=Opini) 

Artikulli paraprakGenerasi Muda, Aset Islam
Artikulli tjetërLP2KS Gelar Daurah Nikah

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini