Walau demikian, beberapa pemikir memandang bunga bank dalam perspektif yang berbeda. Sementara pemikir ini berpendapat bahwa bunga bank memiliki alasan-alasan pembenaran tersendiri. BEBERAPA ARGUMEN TENTANG HALALNYA BUNGA BANK

Walau demikian, beberapa pemikir memandang bunga bank dalam perspektif yang berbeda. Sementara pemikir ini berpendapat bahwa bunga bank memiliki alasan-alasan pembenaran tersendiri. Berikut ini yang terpenting di antaranya:

a. Pada masa Rasulullah صلى الله عليه وسلم tidak ada inflasi. Mata uang yang dipergunakan pada masa itu adalah mata uang yang stabil, dinar dan dirham. Karenanya, pengembalian hutang sebesar jumlah pinjaman menggambarkan keadilan. Dalam suatu kurun waktu di mana inflasi melanda mata uang tertentu, maka pengembalian hutang sebesar jumlah pinjaman belum menggambarkan keadilan. Bahkan sebaliknya, kerugian sepihak. Apalagi jika statemen la tazlimun wa la tuzlamun, kalian tidak menzalimi dan tidak pula dizalimi (TQS. al-Baqarah[2]: 278) dijadikan sebagai kata kunci untuk memahami esensi riba. Sehingga ‘illat (alasan hukum) larangan riba pada hakikatnya adalah “zulm”, bukan “tambahan”.

Tanggapan.
Tidak dapat dipungkiri bahwa mata uang dinar dan dirham relatif lebih stabil dibandingkan dengan mata uang lain. Kekebalan relatif ini disebabkan oleh nilai intrinsik (nilai nominal yang tertulis sesuai dengan nilai bahan baku) yang dimiliki mata uang ini karena terbuat dari emas dan perak. Berbeda dengan mata uang lain yang tidak memiliki nilai intrinsik tersebut. Terlebih lagi karena ia adalah mata uang tidak berbangsa. Dalam kondisi stabil, selama kurun waktu 1.500 tahun, dengan modal uang 1-2 dinar, misalnya, seseorang tetap dapat membeli seekor kambing, tergantung pada besar dan kecilnya.
Demikianlah sebagian keunggulan yang dimiliki oleh dinar dan dirham. Akan tetapi, mengasumsikan bahwa dinar dan dirham sama sekali tidak mungkin didera inflasi juga terlalu berlebihan. Karena pada akhirnya, betapapun, nilai yang dimiliki oleh dinar dan dirham adalah nilai yang diberikan oleh publik. Sama seperti nilai yang telah diberikan publik kepada mata uang lain. Sehingga, seluruh dampak mekanisme pasar yang mungkin menimpa mata uang lain juga mungkin terjadi pada dinar dan dirham.
Ibnu Taimiyah, yang bernota bene hidup di era penggunaan dinar dan dirham (w. 728 H/1328 M), pun menyadari hal ini. Ia mengakui bahwa mata uang pada masanya tersebut bukanlah maksud dan tujuan akhir. Ia tidak lebih dari sekadar fasilitas dalam transaksi manusia. Nilai yang dimilikinya diperoleh dari konsensus publik. Media apa pun, jika memiliki fungsi dan nilai yang sama, dapat menggantikan perannya. Sependapat dengan Ibnu Taimiyah, jauh sebelumnya, Malik telah menyatakan bahwa seandainya manusia sepakat untuk mempergunakan kulit-kulit binatang sebagai uang maka ia akan menghukuminya sama sebagaimana hukum dinar dan dirham.
Selanjutnya, andaipun kita ingin menjadikan inflasi sebagai faktor yang dipertimbangkan dalam pembayaran hutang, maka hendaknya kita melakukannya secara adil dan konsisten. Disamping memperhitungkan kondisi inflasi, kita pun hendaknya memperhitungkan kondisi deflasi.
Tersisa masalah “zulm” yang diangkat dan dijadikan sebagai ‘illat. Secara sederhana, ada baiknya bagi kita untuk secara jeli membedakan antara hikmah dan ‘illat. Jika yang disebut pertama tidak dapat dijadikan sebagai landasan qiyas (metode analogi hukum Islam), yang disebut terakhir justru sebaliknya. Ia merupakan komponen penting dalam metodologi qiyas. Untuk lebih mudahnya, ambil contoh ibadah puasa. Sudah jamak diketahui bahwa ritual ini ternyata terbukti membawa dampak positif bagi kesehatan seseorang. Dampak positif bagi kesehatan di sini adalah hikmah puasa. Dan tentu merupakan sebuah kekeliruan jika seseorang enggan melakukan kewajiban puasa dengan alasan kondisi kesehatannya telah optimal sehingga tidak lagi membutuhkan puasa.

b. Bunga yang dilarang adalah bunga yang keji dan berlipat ganda (riba fahisy). Suku bunga yang wajar dan proporsional diperkenankan. Bukankah Allah sendiri berfirman di dalam Al-Qur’an:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا تَأْكُلُوا الرِّبَا أَضْعَافًا مُضَاعَفَةً وَاتَّقُو اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُون

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Ali Imran[3]: 130)

Tanggapan
Dalil-dalil pengharaman bunga telah menetapkan bahwa kreditor tidak berhak mendapatkan selain modal pokok yang ia berikan. Penunjukannya lebih jelas dan lebih pasti terhadap perkara besar atau kecilnya bunga. Sedangkan penyebutan “berlipat-lipat” di dalam ayat ini adalah semata-mata dalam rangka menjelaskan kenyataan yang kerap terjadi di dalam praktik riba. Ayat tersebut sama sekali tidak mengindikasikan pembatasan jenis riba yang terlarang pada bunga yang berlipat-lipat saja. Gaya bahasa semacam ini dapat kita temukan pada banyak tempat dalam Al-Qur’an. Sebagai contoh adalah dalam surat sebelumnya, Al-Baqarah, pada ayat 41 disebutkan:

وَلَا تَشْتَرُوا بِآيَاتِي ثَمَنًا قَلِيلًا وَإِيَّايَ فَاتَّقُونِ

“… dan janganlah kamu menukarkan ayat-ayat-Ku dengan harga yang rendah, dan hanya kepada Akulah kamu harus bertakwa.”
Ayat ini tentu tidak bermakna bahwa boleh menukarkan ayat-ayat Allah apabila dengan harga yang tinggi. Ayat ini menyebut “harga yang rendah” untuk menginformasikan bahwa demikianlah keadaannya yang banyak terjadi. Adakah sesuatu yang lebih mahal daripada ayat-ayat Allah?
Memahami teks-teks keagamaan (Al-Qur’an dan Hadits) secara parsial memang dapat membawa kepada kesalahan fatal. Untuk terhindar dari kesalahan ini, seorang peneliti hendaknya memahami teks-teks tersebut sebagai sebuah kesatuan yang utuh. Tidak tergesa-gesa menyimpulkan sebelum melihat teks-teks yang lain, utamanya yang juga membahas topik yang sama.

c. Pihak debitor telah mengorbankah modalnya kepada pihak kreditor untuk ia kelola sehingga mendapatkan hasil. Seandainya modal tersebut ia investasikan, tentu ia akan mendapatkan untung yang mungkin jauh lebih banyak. Maka sudah selayaknya jika pengorbanan ini dihargai dalam bentuk pemberian bunga.

Tanggapan
Dalam utang-piutang, pihak debitor sebenarnya tidak dirugikan. Bahkan ia diuntungkan. Pasalnya, keberadaan uangnya pada kreditor menjadi jaminan terhadap uang tersebut. Bukankah keberadaan uangnya di tangannya membawa risiko uang tersebut terbakar, dicuri dan sebagainya? Ketika uang tersebut ia pinjamkan, bahkan seandainya kreditor sedang menderita kerugian, ia tetap berhak terhadap sejumlah uangnya secara penuh. Ini yang pertama.
Persoalan kedua, atas dasar apa sehingga debitor ini selalu mengasumsikan dirinya mendapatkan untung dari usahanya. Bukankah setiap usaha selalu menghadapi risiko gagal? Di sini, ia telah bertindak diskriminatif. Sebab dengan sistem bunga, ia telah menjadikan dirinya dalam posisi selalu beruntung dengan mengabaikan risiko untung-rugi kreditor.

d. Keuntungan yang ditawarkan oleh sistem bagi hasil tidak jauh berbeda dengan bunga, kalau tidak bisa dikatakan sama.

Tanggapan
Terdapat banyak perbedaan yang signifikan antara keuntungan dalam sistem bunga dan keuntungan dalam sistem bagi hasil. Tabel berikut menunjukkan perbedaan-perbedaan tersebut.

BUNGA
BAGI HASIL
Penentuan bunga dibuat pada waktu akad dengan asumsi harus selalu untung Penentuan besarnya rasio bagi hasil dibuat pada waktu akad dengan ber-pedoman pada kemungkinan untung rugi
Besarnya persentase berdasarkan pada jumlah uang (modal) yang dipinjamkan Besarnya rasio bagi hasil berdasarkan pada jumlah keuntungan yang diperoleh
Pembayaran bunga tetap seperti yang dijanjikan tanpa pertimbangan apakah proyek yang dijalankan oleh pihak nasabah untung atau rugi Bagi hasil bergantung pada keuntungan proyek yang dijalankan. Bila usaha merugi, kerugian akan ditanggung bersama oleh kedua belah pihak
Jumlah pembayaran bunga tidak meningkat sekalipun jumlah keun-tungan berlipat atau keadaan ekonomi sedang “booming”. Jumlah pembagian laba meningkat sesuai dengan peningkatan jumlah pendapatan
Eksistensi bunga diragukan (kalau tidak dikecam) oleh semua agama, termasuk Islam Tidak ada yang meragukan keabsahan bagi hasil

Sumber: Muhammad Syafi’i Antonio, Bank Syariah: dari Teori ke Praktik,
(Jakarta: Gema Insani Press, 2001), hlm. 61.

e. Manusia mengenal akad sewa-menyewa. Islam pun membolehkannya. Mengapa bunga pinjaman tidak dianggap saja sebagai fee atas penyewaan uang?

Tanggapan
Islam yang membolehkan sewa-menyewa, ia pula yang mengharamkan bunga. Mengqiyaskan antara dua hal yang jelas-jelas terdapat hukumnya dalam Islam merupakan kekeliruan. Qiyas seperti ini cacat sejak awal. Ia menyalahi syarat qiyas yaitu tidak bertentangan dengan nash. Di samping itu, Islam membedakan hukum antara fee sewa-menyewa dan bunga pinjaman karena memang terdapat perbedaan yang substansial antara akad utang-piutang dengan akad sewa-menyewa. Dalam Islam, penerima pinjaman dituntut untuk melunasi hutangnya dalam kondisi bagaimanapun juga. Seandainya uang yang ia pinjam dirampok orang, ia tetap berkewajiban melunasi hutangnya. Berbeda dengan sewa-menyewa. Barang yang disewa kemudian rusak atau hilang tidak wajib untuk diganti. Pemilik barang tidak berhak untuk meminta gantirugi atas kerusakan barangnya jika terbukti tidak terdapat unsur kelalaian dan atau kesengajaan pihak penyewa barang atas kerusakan tersebut.

FATWA-FATWA TENTANG BUNGA BANK
Setelah melihat dalil dari masing-masing pendapat, jelas kiranya bahwa fatwa pengharaman bunga bank sudah semestinya diterima dengan baik. Dibandingkan dengan negara berpenduduk mayoritas Muslim yang lain, Muslim Indonesia bisa dikatakan terlambat. Sebab fatwa haramnya bunga bank sebenarnya telah lama didengungkan di dunia luar. Tercatat sejak tahun 1900 hingga 1989, Mufti Negara Republik Arab Mesir senantiasa menegaskan keputusannya tentang ribanya bunga bank. Tahun 1970, di Pakistan, semua peserta Sidang Organisasi Konferensi Islam (OKI) II, sepakat dengan suara bulat bahwa praktik bunga pada bank-bank konvensional bertentangan dengan syariah Islam. Fatwa senada juga dikeluarkan masing-masing oleh Konsul Kajian Islam Dunia di Kairo tahun 1965; Majmaul Fiqh Liga Muslim Dunia, Konferensi Internasional Ekonomi Islam I yang berlangsung di Mekah, dan Konferensi Internasional Fiqh Islam yang diselenggarakan di Riyadh. Abdullah al-Bassam bahkan melaporkan bahwa fatwa riba bank telah menjadi kesepakatan dalam seluruh forum fiqh Islam di dunia saat ini.
Disamping itu, tidak ketinggalan pula fatwa-fatwa dari ulama-ulama besar dan cendikiawan Muslim dunia, seperti Syaikh Muhammad bin Ibrahim, Syaikh Abdullah bin Baz, Abul A’la al-Maududi, Dr. Yusuf al-Qardhawi, dan lain-lain.
Sebagai penutup, ada baiknya kita menyimak kesimpulan yang diungkapkan oleh Abdullah bin Sulaiman al-Mani’ tentang transaksi keuangan berikut ini
“Siapa pun yang memperhatikan secara saksama ajaran Islam mengenai aktivitas individu dan masyarakat dalam pengumpulan harta dan pendistribusiannya akan memperoleh kesan bahwa Islam telah berusaha mempersempit ruang tukar-menukar uang . . . dan bahwa keluarnya uang dari perspektif ini akan berimplikasi negatif . . . karena menumpuknya uang pada sejumlah kecil manusia akan memberi mereka peluang hegemoni terhadap kebutuhan masyarakat luas . . . . ”
Wallahu ta’ala a’lam***

 

Artikulli paraprakKONTROVERSI SEPUTAR FATWA MUI TENTANG BUNGA BANK
Artikulli tjetërJum’at Hari Ibadah

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini