Suatu hari, sebuah surat datang kepada Khalifah Al-Muqtadir Billah di Bagdad dari Raja Saqalibah. Saqalibah merupakan negeri di Eropa yang hari ini mencakup Bulgaria dan sekitarnya. Sang Raja yang telah memeluk Islam itu meminta kepada Khalifah agar mengirimkan ke negerinya orang yang mampu mengajarkan Islam kepadanya dan juga agar Khalifah membangun untuk mereka masjid-masjid.

Khalifah pun mengirimkan sejumlah orang untuk melakukan perjalanan ke Saqalibah. Mereka dipimpin oleh Ahmad bin Fadlan bin al-Abbas bin Rasyid bin Hammad, atau lebih dikenal sebagai Ibnu Fadlan. Pada bulan Shafar 307 Hijriyah (Juni 921 M), Ibnu Fadlan bersama rombongan memulai perjalanan dari Bagdad. Ia mencatat perjalanannya dalam risalahnya berjudul: Fi Wasf ar-Rihlah ilaa Bilad at-Turki wa al-Khazar wa ar-Ruus wa as-Saqalibah.

Kisah Ibnu Fadlan di Saqalibah

Ibnu Fadlan tiba di wilayah Saqalibah pada bulan Muharram 310 Hijriyah atau sekitar 3 tahun sejak pertama kali memulai perjalanan dari Bagdad. Ketika sampai di Saqalibah, sang Raja bernama Almish bin Yiltawar menyambut hangat rombongan Ibnu Fadlan. Raja sangat menghormati khalifah Al-Muqtadir. Ia berdiri ketika surat dari khalifah dibacakan, diikuti oleh seluruh penduduk yang hadir.

Raja Saqalibah selalu didoakan oleh rakyatnya di atas mimbar-mimbar dengan sebutan Mulk (Raja). Ibnu Fadlan menasihatinya bahwa Allah adalah al-Mulk, tidak ada seorangpun selain-Nya yang boleh disebut dengan gelar tersebut di atas mimbar.

Kemudian terjadi percakapan antara Raja Saqalibah dengan Ibnu Fadlan.

“Jadi bagaimana khutbah yang dibolehkan untukku?” tanya sang Raja. Ibnu Fadlan menjawab, “Dengan menggunakan nama Anda dan nama ayah Anda.”

Sang raja menimpali, “Ayah saya adalah seorang kafir. Saya tidak suka menyebut namanya di atas mimbar. Saya juga tidak suka menyebut namaku karena yang memberiku nama ini adalah orang kafir.”

Raja kemudian menanyakan nama khalifah. “Siapakah nama tuanku, Amirul Mukminin?”

“Namanya Ja’far.” Jawab Ibnu Fadlan.

Raja meminta izin agar namanya diubah seperti nama khalifah dan nama bapaknya diubah menjadi nama bapak dari khalifah (nama ayah khalifah Ja’far Al-Muqtadir Billah adalah Abdullah. Ibnu Fadlan menyetujui. Sejak itu, para khatib selalu berdoa untuk Raja Saqalibah, “Ya Allah sejahterakanlah hambamu, Ja’far bin Abdullah pemimpin Bulgaria, pembantu Amirul Mukminin.”

Kisah ini menunjukkan betapa disegani dan dihormatinya khalifah umat Islam di Bagdad.

Raja Saqalibah bertubuh besar dan gemuk sebagaimana pria Eropa pada umumnya. Penduduk Saqalibah sangat menghormatinya. Ketika raja melintasi sebuah pasar, semua orang akan berdiri dan melepaskan penutup kepala (songkok) dari kepalanya dan meletakkannya di bawah lengan. Mereka kembali memakai songkok setelah raja berlalu. Penduduk Saqalibah tinggal di tenda-tenda, termasuk sang Raja. Hanya saja tenda milik raja sangat besar dan mampu menampung lebih dari seribu orang.

***

Ibnu Fadlan berkisah:

“…..satu jam sebelum terbenamnya matahari pada malam pertama kami berada di negara ini, saya melihat langit berubah menjadi sangat merah. Saya juga mendengar suara-suara yang sangat rebut dan dengungan sekawanan gajah yang keras di udara. Saya mendongakkan kepala dan melihat awan kemerah-merahan seperti api yang sangat dekat denganku. Suara dengungan hewan dan keributan yang terjadi tampak berasal dari mega merah tersebut. Suara-suara itu mirip seperti suara manusia dengan tunggangannya. Ilusi ini seperti pasukan (beserta) tombak-tombak dan pedang-pedangnya….”

“….Saya bisa melihat sebuah pasukan dengan tunggangan dan senjatanya di awan itu. Kelompok ini mulai menyerang kelompok yang lain seperti batalion-batalion yang tengah bertempur. Kami merasa ketakutan dengan fenomena ini dan kami menghadap seraya merendahkan diri dan berdoa. Penduduk menertawakan kami dan merasa heran dengan apa yang kami lakukan.”

Ibnu Fadlan menanyakan fenomena tersebut kepada Raja Saqalibah. Raja bertutur, kakek-kakeknya dulu pernah berkata bahwa mereka adalah jin mukmin dan jin kafir yang selalu bertempur setiap malam. Mereka tidak pernah meninggalkan peperangan ini sepanjang keberadaan mereka, meskipun hanya satu malam.

Entah apakah kisah menakjubkan ini nyata atau hanya karangan Ibnu Fadlan belaka. Yang pasti Ibnu Fadlan adalah seorang alim lagi faqih, taat beragama. Sebab itulah ia diangkat sebagai pemimpin oleh Khalifah Al-Muqtadir Billah. Wallahu a’lam.

Referensi: Risalah Ibnu Fadlan

Penulis: Mahardy Purnama, penulis dan pemerhati sejarah Islam.

Bagian ke-2 https://wahdah.or.id/kisah-kisah-menakjubkan-dari-ekspedisi-ibnu-fadlan-ke-eropa-abad-10-bagian-2/

Artikulli paraprakShalat Subuh dan Kemenangan Umat Islam
Artikulli tjetërSemulia Ummu Mihjan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini