Ramadhan yang suci dan penuh berkah, bulan yang kita cintai dan muliakan, berlalu dan meninggalkan kita, seberkas damai dan sejemput kesejukan masih membias dalam dada diselingi keharuan dan tangis sedih akan kepergian sang bulan yang penuh rahmat dan kemuliaan, seraya nurani bertanya: “Akankah aku kembali bertemu dengannya lagi di kesempatan yang akan datang?”
بسم الله الرحمن الرحيم

اَلْحَمْدُ لله الَّذِي كَتَبَ عَلَى اْلمُؤْمِنِيْنَ الْجِهَادَ إِعْلَاءً لِكَلِمَاتِهِ إِلَى يَوْمِ الْمَعَادِ وتطهيرًا لِلْأََرْضِ مِنَ الْكُفْرِِ وَالْفَسَادِ، وَوَعَدَ الْمُجَاهِدِيْنَ بِعَظِيْمِ الْأَجْرِ وَرَفِيْعِ الْمَنْزِلَةِ بَيْنَ الْعِبَادِ. وَأَشْْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهَُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ الْقَائِلُ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ : ]انْفِرُوا خِفَافًا وَثِقَالًا وَجَاهِدُوا بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ{ وَأْشَهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ إِمَامُ الْمُتَّقِيْنَ وَقََائِدُ الْمُجَاهِدِيْنَ الَّّّذِي بَلَغَ الرِّسَالَةَ وَ أَدَّى الْأَمَانَةَ وَنَصَحَ الْأُمَّةَ وَجَاهَدَ فِي اللهِ حَقَّ جِهَادِهِ حَتَّى تَرَكَنَا عَلَى الْمَحَجَّةِ الْبَيْضَاءِ لَيْلُهَا كَنَهَارِهَا، لاَ يَزِيْغُ عَنْهَا إِلاَّ كَانَ مِنَ الْهَالِكِيْنَ، صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى هَذَا الرَّسُوْلِ اْلمُخْتَارِ وَ عَلَى آلِهِ الْأَطْهَارِ وَأَصْحَابِهِ الْأَخْيَارِ وَمَنْ سَارَ عَلَىنَهْجِهِ مِنَ الْأَبْرَارِ إِلَى يَوْمِ لِقَاءِ الْعَزِيْزِ الْجَبَّار.

الله أكبر الله أكبر ولله الحمد

         Di pagi hari yang suci ini, ketika Allah سبحانه وتعالىkembali memberikan kesempatan kepada kita untuk menghirup udara kehidupan di dunia ini dalam rangka melanjutkan risalah pengabdian kita kepada-Nya, gema suara takbir, tasbih, tahmid dan tahlil mengalun syahdu memecah keheningan suasana pagi, lalu memenuhi setiap ruang dan lapisan udara di mayapada dan menembus sampai ke relung hati hamba-hamba Allah سبحانه وتعالى bersama dengan menerawangnya gema suci itu ke cakrawala biru menuju kehadapan sang Penguasa Yang Maha Rahman dan Maha Rahim.
الله أكبر الله أكبر …. الله أكبر كبيرًا و الحمد لله كثيرًا وسبحان الله بكرة ً وأصيلاً لا إله إلا الله الله أكبر الله أكبر ولله الحمد

         Kaum Muslimin yang dimuliakan Allah سبحانه وتعالىBaru saja bulan Ramadhan yang suci dan penuh berkah, bulan yang kita cintai dan muliakan, berlalu dan meninggalkan kita, seberkas damai dan sejemput kesejukan masih membias dalam dada diselingi keharuan dan tangis sedih akan kepergian sang bulan yang penuh rahmat dan kemuliaan, seraya nurani bertanya: “Akankah aku kembali bertemu dengannya lagi di kesempatan yang akan datang?”
         Bulan Ramadhan adalah musim kebaikan, musim keberkahan bagi orang yang beriman, setiap muslim menyambut kedatangannya dengan suka cita seraya menaburkan optimisme dan harapan agar segala kebaikan-kebaikan yang dipromosikan oleh Allah سبحانه وتعالى dan Rasul-Nya dapat diraih melalui rangkaian amal-amal kebajikan yang begitu banyak di bulan itu. Tidak ketinggalan, saudara-saudara kita seiman yang di hari-hari ini berada dalam kondisi yang sungguh memilukan, mereka yang berada di Palestina, Afghanistan, Chechnya, Kasmir, Maluku, Poso, Aceh dan lain-lain.
Semuanya menyambut bulan mulia itu dengan bahagia yang tentunya dibalut kesedihan karena kondisi dan situasi mereka yang membuat mereka tidak dapat memanfaatkan kehadiran Ramadhan secara optimal untuk beribadah dan bertaqarrub kepada Allah سبحانه وتعالى.
الله أكبر الله أكبر ولله الحمد

Kaum muslimin yang dirahmati Allah سبحانه وتعالى,
         Hari ini dibeberapa belahan dunia Islam, saudara-saudara kita sedang berada di medan jihad menghadapi musuh-musuh Allah سبحانه وتعالى yang merongrong mereka, merampas hak-hak mereka. Kita semua pada berharap dengan keberkahan Ramadhan yang baru saja berlalu, Allah سبحانه وتعالى memenangkan saudara-saudara kita dan menghinakan musuh-musuhnya yang zhalim. Sebagaimana Allah سبحانه وتعالى mewujudkan kemenangan kepada mujahidin pada generasi-generasi sebelumnya di bulan puasa yang mulia tersebut. Jihad fi sabilillah merupakan puncak agama, bagian tertinggi dan teratas dari seluruh bagian ajaran Islam yang utuh, sempurna dan menyeluruh, jihad adalah puncak ajaran Islam karena dengannya kalimat Allah سبحانه وتعالى ditinggikan, dengannya agama Allah dimenangkan atas seluruh agama dan konsep ideologi manusia, dengannya kebathilan dan kekufuran dihancurkan dan orang-orangnya dihinakan. Itulah sebabnya Allah سبحانه وتعالى dan Rasul-Nya dalam banyak nash-nash Al Qur’an dan Sunnah memaparkan tingginya keutamaan berjihad di jalan Allah dan memerintahkan serta memotivasi orang-orang beriman untuk menegakkan jihad, wajar pulalah tatkala Rasulullah صلى الله عليه وسلم mengancam pribadi-pribadi yang mengabaikan urusan jihad. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim beliau صلى الله عليه وسلم bersabda:

مَنْ لَمْ يَغْزُ وَلَمْ يُحَدِّثْ نَفْسَهُ بِالْغَزْوِ مَاتَ عَلَى شُعْبَةٍ مِنَ النِّفَاقِ.

Artinya: Siapa yang tidak berperang (berjihad) di jalan Allah atau tidak meniatkan diri untuk berjihad, dia akan mati di atas suatu cabang kemunafikan.
         Dalam konteks posisi sebagai suatu ummat, kaum muslimin akan menuai ancaman kehinaan dan keterpurukan dihadapan ummat yang lain akibat meninggalkan jihad sebagaimana ditegaskan Rasulullah صلى الله عليه وسلم dalam haditsnya yang lain.

الله أكبر الله أكبر ولله الحمد

Kaum muslimin yang berbahagia,

     Berdasarkan pembuktian sejarah, bulan Ramadhan yang mulia adalah bulan Jihad fi sabilillah. Selain ummat Islam memetik kemenangan atas hawa nafsu dengan menunaikan ibadah puasa sebulan penuh, di bulan ini pula terbuka gerbang kemenangan ummat Islam dalam jihad menghadapi musuh-musuh Allah سبحانه وتعالى.      Di bulan Ramadhan, terjadi perang-perang terbesar dalam sejarah Islam yang merupakan momentum-momentum perubahan warna sejarah dan titik–titik awal perjalanan kehidupan baru bagi ummat ini.
Pada bulan Ramadhan tahun 2 H, terjadi perang Badar Al-Kubra, yang dikenal sebagai tonggak awal kemenangan yang dipetik oleh Daulah Islamiyah yang mana saat itu baru saja tumbuh, kemenangan terhadap hegemoni kekafiran dan kebatilan ini membuahkan berita gembira tersebarnya agama Islam yang haq sekaligus peringatan yang tegas terhadap orang-orang kafir dan munafiq. Lalu pada 21 Ramadhan tahun 8 H, terjadilah penaklukan kota Makkah yang merupakan peristiwa monumental menandai pupusnya kebatilan di seantero jazirah Arab, setelah lebih 20 tahun bergumul dengan Al Haq. Setahun setelah itu, di bulan Ramadhan terjadi sebagian rangkaian perang Tabuk yang merupakan langkah awal bagi kaum muslimin dalam menghadapi kekuatan super power saat itu, yaitu Negara Imperium Nasraniyah Romawi. Di Bulan Ramadhan 14 H, Meletus Pertempuran Qadisiyah, Kaum Muslimin Mengalahkan Pasukan Persia Negara Adidaya Kedua Setelah Romawi, Dan Negara Iraq Pun Menjadi Negeri Islam. Kemudian Pada Ramadhan 92 H, Panglima Islam Thariq Bin Ziyad Bersama Pasukannya Meraih Kemenangan Di Bumi Andalus, Mengawali Pembebasan Bumi Andalus Secara Keseluruhan Pada Tahun Berikutnya. Menjelang Berakhirnya Abad Ke-6 H, Tepatnya Bulan Ramadhan 584 H, Sang Panglima Yang Gagah Perkasa Salahuddin Al-Ayyubi Memetik Kemenangan Demi Kemenangan Dalam Sekian Banyak Pertempuran, Yang Berakhir Dengan Berhasilnya Beliau Dan Mujahidin Membebaskan Hampir Seluruh Negeri-Negeri Kaum Muslimin Yang Sempat Direbut Dan Dikuasai Oleh Tentara Salib.
     Dan kemudian pada bulan Ramadhan tahun 658 H, kaum muslimin behasil memukul mundur pasukan Tartar dalam sebuah pertempuran yang dahsyat di Ain Jalut.
     Itulah di antara sekian banyak kemenangan-kemenangan gemilang yang pernah diraih oleh ummat Islam pada bulan Ramadhan. Peristiwa historis tersebut tidak saja sekedar mengingatkan kepada kita nostalgia keharuman sejarah belaka, akan tetapi di dalamnya banyak terkandung ibrah dan hikmah yang berharga untuk kita ambil sebagai pelajaran, bahan instrospeksi diri dan bandingan terhadap realitas kita pada hari ini.

الله أكبر الله أكبر ولله الحمد

Kaum muslimin yang dirahmati Allah سبحانه وتعالى ,

     Kalau kita sedikit mencermati kisah terjadinya Pertempuran Ain Jalut yang dahsyat yang telah mengukir kemenangan spektakuler buat ummat Islam setelah sekian lama dicampakkan ke dasar jurang kehinaan oleh tirani penjajah kafir, sungguh kita akan memetik banyak pelajaran dan butir-butir hikmah yang amat berharga terlebih ketika kondisi obyektif yang mewarnai kehidupan ummat Islam saat itu secara subtansial sama dengan realita ummat hari ini. Yaitu kemunduran dan kelemahan akibat adanya krisis-krisis internal yang semakin hari semakin menggerogoti kehidupan kaum muslimin, dan krisis-krisis tersebut terjadi dibalik bayang-bayang konspirasi dan persekongkolan jahat musuh-musuh Islam Internasional. Allah memang telah memperingatkan kita akan hal itu:

وَلَا يَزَالُونَ يُقَاتِلُونَكُمْ حَتَّى يَرُدُّوكُمْ عَنْ دِينِكُمْ إِنِ اسْتَطَاعُوا

Artinya: Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. (Q.S Al Baqarah: 217)
Rasulullah صلى الله عليه وسلم juga telah mewanti-wanti kaum muslimin terhadap adanya kekuatan orang-orang kafir yang bersekongkol untuk memberangus ummat Islam:

يُوْشِكُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ الْأُمَمُ مِنْ كُلِّ أُفُقٍ كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ عَلَى قَصْعَتِهَا

Artinya: “Hampir-Hampir Datang Masanya Ummat-Ummat Kafir Menyerbu Kamu Dari Berbagai Arah – Penjuru Dunia – Sebagaimana Orang-Orang Berebut Makanan Di Atas Meja Hidangan (Hr. Ahmad Dan Abu Daud)”.
Tahu dan masih ingatkah kita akan serangkaian kejadian maha dahsyat yang terjadi pada 8 abad yang silam, tatkala bangsa kafir Mongol menggempur dan menghancurkan negeri-negeri kaum muslimin? Ketika ummat ini mulai menjauh dari jalan yang lurus, jalan yang ditempuh oleh Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan sahabat-sahabatnya dan orang-orang yang mengikuti jejak mereka, jalan yang diterangi cahaya Al Qur’an dan Sunnah. Ketika aqidah yang murni makin merosot dari kehidupan ummat, konsep keyakinan yang bersandar pada nash-nash Al-Qur’an dan Sunnah, berganti dengan teori-teori Filsafat yang di import dari luar Islam, kesejukan hati buah ketundukan yang utuh pada wahyu sirna oleh kerontangnya dada akibat Ilmu Kalam yang hanya bisa memenuhi otak sekaligus menyibukkan dari amal shaleh. Al Qur’an tidak lagi dipahami sebagaimana Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan sahabat memahaminya karena masuknya cerita-cerita Israiliyyat dan munculnya ribuan hadits palsu. Maka merebaklah bid’ah-bid’ah yang menyesatkan baik dalam bentuk keyakinan, pemikiran, dan pengamalan, menyusul eksisnya golongan-golongan sempalan. Hilanglah persatuan, remuklah ukhuwah, hancur pulalah kekuatan sebagaimana dari sisi lain ummat Islam makin terkotak-kotak oleh nasionalisme dan fanatisme kebangsaan. Tragisnya pada saat yang sama kebanyakan pemimpin-pemimpin ummat justru mengajarkan rakyatnya langsung atau tidak langsung untuk bermegah-megah dengan kehidupan dunia dan melupakan hari akhirat, menanggalkan tathbiq syari’ah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, membiarkan terjadinya kemungkaran dan meniadakan sekat-sekat pembatas iman dan kekufuran. Maka, ummat ini lalu dinina bobokkan oleh kegandrungan pada Dunia Dan Kelezatannya. Larut Dalam Kelupaan Pada Laknat Allah سبحانه وتعالى Akibat Mencampakkan Hukum-Hukum-Nya Dan Bagi Mereka Muslim Atau Kafir Sama Saja, Terlelaplah Mereka Dalam Ketidaksadaran Akan Bahaya-Bahaya Yang Sedang Mengintai Mereka, Dan Lengkaplah Sudah Unsur-Unsur Kelemahan Mereka.
Kaum Muslimin Yang Dimuliakan Allah سبحانه وتعالى,
     Dalam Suasana Seperti Itulah Pasukan Tartar Mongol Yang Terkenal Brutal, Arogan Dan Barbarian Menggempur Tanah Air Islam, Dalam Tempo Yang Singkat Negeri-Negeri Khawarizmiyah Yang Membentang Dari Irak Hingga India Berhasil Direbut, Lalu Serangan Beringas Di Arahkan Ke Arah Barat Dengan Tujuan Menamatkan Riwayat Khilafah Islamiyah Abbasiyah Dan Merampas Kota Suci Baitul Maqdis Yang Sebelumnya Dibebaskan Oleh Salahuddin Al-Ayyubi Dari Cengkraman Kaum Salib. Karena Itulah Invasi Tartar Ke Iraq Dan Syam Yang Di Warnai Oleh Sadisme Dan Kebiadaban Ini Disokong Penuh Oleh Pasukan Salib Yang Merupakan Aliansi Kerajaan Kristen Di Dunia, Bahkan Hulagu Khan Panglima Tartar Yang Penyembah Berhala Itu Sudi Mengatasnamakan Dirinya Sebagai Pembebas Dan Pembela Orang-Orang Nashara. Fakta Sejarah Yang Tidak Mungkin Ditutupi Juga Adalah Dukungan Dan Peranan Yang Sangat Signifikan Dari Orang-Orang Syi’ah Dalam Memuluskan Pencapaian Tuntutan Hawa Nafsu Bangsa Mongol Yang Bejat Dan Serakah Dan Sekutu-Sekutunya Untuk Memadamkan Cahaya Allah سبحانه وتعالى Di Muka Bumi Ini. Lihatlah Kaum Muslimin Sekalian, Apa Yang Dilakukan Oleh Musuh-Musuh Allah سبحانه وتعالى Itu, Di Negeri Khawarizmiyah, Jutaan Ummat Islam Dibantai Secara Biadab, Wanita-Wanita Diperkosa Dihadapan Suami, Anak Atau Orang Tuanya Sebelum Disembelih, Ribuan Masjid Dihancurkan, Sekolah Dan Perpustakaan Rata Dengan Tanah; Lalu, Khilafatul Islamiyah Tumbang Dengan Jatuhnya Baghdad Darussalam, Dan Dibunuhnya Khalifah Dan Seluruh Anggota Keluarganya. Baghdad, Ibukota Kekhalifahan Yang Juga Sentral Pengkajian Dan Pengembangan Berbagai Disiplin Ilmu Pengetahuan, Tempat Kelahiran Dan Persinggahan Ulama-Ulama Tersohor, Kota Kebanggaan Dengan Panorama Indah Dan Nuansa Budaya Islam Yang Asri, Seketika Menjelma Menjadi Kota Mati Yang Mengerikan Dan Menjijikkan, Semua Masjid Hancur, Perpustakaan Terbesar Di Dunia Dibinasakan, Kitab-Kitabnya Di Bakar Dan Dilemparkan Ke Sungai. Bahkan Sejarawan Mencatat Tak Kurang Dari 1.800.000 Orang Yang Dibunuh, Semua Dimusnahkan Tanpa Pandang Bulu, Laki Wanita, Tua Muda Tiada Belas Kasihan Buat Si Sakit, Tiada Keseganan Dan Rasa Hormat Sedikitpun Pada Ulama. Wallahulmusta’an. Di Syam, Satu Demi Satu Kota-Kotanya Diberangus, Ibukota Damaskus Pun Takluk, Di Situlah Orang-Orang Nashara Yang Membonceng Bersama Pasukan Tartar-Mongol Memanfaatkan Kesempatan Emas Untuk Melakukan Aksi Balas Dendam, Mereka Pawai Besar-Besaran Dengan Membawa Salib-Salib Seraya Mengeluarkan Kata-Kata Penghinaan Terhadap Islam Dan Ummatnya, Mereka Memaksa Ummat Islam Untuk Berdiri Menghormati Konvoi Mereka, Selain Itu Mereka Ganti Suara Azan Dengan Dentuman-Dentuman Lonceng Gereja, Mereka Minum Khamar Secara Demonstratif Di Jalan-Jalan Pada Bulan Ramadhan, Lalu Menyiramkan Minuman Najis Itu Ke Baju-Baju Orang Islam Bahkan Tanpa Segan-Segan Ditumpahkan Ke Pintu Dan Lantai Masjid-Masjid Di Kota Damaskus.
     Rentetan kejadian yang begitu tragis ini bagaikan gempa dan badai yang maha dahsyat menimpa dunia Islam dari ujung barat hingga ujung timur. Sampai-sampai sejarawan besar Islam yang hidup saat itu Ibnul Atsir mengatakan: “Serangan Tartar adalah bencana terdahsyat dan musibah besar yang menggegerkan dunia sampai berabad-abad, seluruh dunia tergetar. Sehingga tidak salah kalau ada yang berkata: sungguh jagat raya ini sejak mula diciptakan Allah سبحانه وتعالى hingga saat ini belum pernah tertimpa malapetaka seperti ini”.

الله أكبر الله أكبر ولله الحمد

Kaum muslimin yang diberkahi Allah سبحانه وتعالى,

     Di saat ummat hidup dalam kekalutan dan kesengsaraan akibat kezaliman penjajah kuffar, di saat hati dirundung keputusasaan dan pesimisme tidak adanya pertolongan untuk melawan penjajah yang telah menguasai hampir seluruh negeri Islam, maka Allah سبحانه وتعالى mendatangkan pertolongan-Nya. Tersebutlah Amir Qutuz penguasa kerajaan Islam di Mesir dan seorang ulama besar yang kharismatik Al Iz bin Abdissalam yang memelopori kebangkitan ummat yang malang. Dengan taufiq dari Allah سبحانه وتعالى lalu niat ikhlas dan kesungguhan serta bahu-membahunya dua figur tersebut, tergeraklah ruhul jihad yang sekian lama membeku, dan terhimpunlah kekuatan ummat utamanya di Mesir dan Syam, tepatnya di bulan Ramadhan tahun 658 H, bertemulah kekuatan Al Haq yang dipimpin oleh Amir Qutuz dengan kekuatan Al Batil Mongol yang bersekutu dengan tentara Salib serta orang-orang Syi’ah di Ain Jalut dan terjadilah pertempuran yang sengit dan dahsyat yang berakhir dengan kemenangan kaum muslimin. Ain Jalut adalah awal dari rangkaian kemenangan yang diraih pasukan Islam terhadap Bangsa Mongol dan sekutu-sekutunya, hingga negeri Islam seluruhnya bebas dari cengkraman keangkaramurkaan mereka.

الله أكبر الله أكبر ولله الحمد

Kaum muslimin yang semoga dijayakan Allah سبحانه وتعالى,

     Dari uraian sejarah di atas, banyak sekali pelajaran-pelajaran yang amat berharga untuk kita petik diantaranya:
Pertama: Bahwa aqidah adalah harta kaum muslimin yang paling utama dan paling berharga. Karena mulia dan hinanya kita di dunia dan akhirat sangat ditentukan oleh komitmen tidaknya kita memegang aqidah tersebut. Itulah aqidah Islam yang suci, murni dan utuh, yang bertumpu pada Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah صلى الله عليه وسلم, aqidah yang berintikan Tauhid dan keimanan yang benar kepada Allah سبحانه وتعالى, kepada agama dan Rasul-Nya, dan kepada taqdir dan janji-janji-Nya, dan bahwasanya tidak ada yang dituhankan secara haq kecuali Allah سبحانه وتعالى. Inilah aqidah yang mengantarkan generasi awal ummat ini menuju puncak kejayaan dan kemuliaan, menuju kebahagiaan yang haqiqi dan abadi, menuju surga dan keridhaan Allah سبحانه وتعالى. Mereka sahabat-sahabat nabi yang merupakan generasi pilihan dan insan-insan terbaik dalam pandangan Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya صلى الله عليه وسلم. Dan inilah aqidah yang semestinya kita ambil, kita yakini, pegang teguh dan pertahankan, camkan baik-baik ungkapan yang indah dari Imam Malik Rahimahullah: “Generasi-generasi belakangan dari ummat ini tidak akan pernah baik kecuali dengan apa yang telah menjadikan baik generasi pendahulunya”. Tidaklah musibah sejarah yang menimpa kaum muslimin itu, dan juga kenyataan pahit yang menimpa mereka hari ini terjadi melainkan karena mereka telah jauh melangkah meninggalkan aqidah tersebut, keimanan kepada Allah سبحانه وتعالى sangat keropos, disusul ketidaksadaran bahkan ketidakpercayaan terhadap hari kiamat dan kehidupan akhirat lahirlah generasi pencinta dunia yang lalai pada akhirat, generasi yang takut berkorban untuk agama Allah سبحانه وتعالى.
Ada lagi yang mengimani Allah سبحانه وتعالى tapi dengan pemahaman yang keliru, karena mereka memahaminya bukan dari Al Qur’an dan As Sunnah tapi dari teori-teori yang diimpor dari luar Islam yang notabene adalah kebatilan seperti filsafat, ilmu kalam dan israiliyyat, atau lewat buah pemikiran mereka yang bertumpu pada hawa nafsu dan kedangkalan penguasaan ilmu-ilmu Syar’i. Dalam Perjalanan Sejarah Ummat Yang Panjang Penyimpangan Aqidah Ini Telah Melahirkan Begitu Banyak Firqoh Dan Golongan Sesat Dan Menyesatkan, Seperti Khawarij, Syi’ah, Murjiah, Mu’tazilah, Muncul Pula Shufiyah, Bathiniyah, Asy’ariyah Dan Almaniyah (Sekularisme) Dengan Berbagai Tingkatan Dan Doktrinasinya, Muncul Pula Paham Sya’biyah (Nasionalisme), Qabaliyah (Sukuisme) Dan Semacamnya Muncul Pula Berbagai Bid’ah-Bid’ah Dalam Pemikiran Maupun Dalam Pengamalan Islam. Akibatnya Ummat Terkotak-Kotak Dalam Sekteisme Dan Pemahaman-Pemahaman Yang Nyeleneh. Setiap Kelompok Mengkampanyekan Dan Mengklaim Dialah Yang Benar. Sementara Kebenaran Amat Jauh Dari Mereka. Muncul Pulalah Krisis Persatuan Dan Ukhuwah Ditandai Dengan Pudarnya Prinsip Kecintaan, Pemihakan Dan Pembelaan Kepada Saudara Seislam, Bahkan Kadang-Kadang Kekufuran Dan Orang-Orangnya Itulah Yang Lebih Diakrabi, Dicintai, Disanjung Dan Dibela. Kalaupun Ada Loyalitas Kepada Sesama Muslim, Maka Itu Hanya Karena Faktor Satu Suku, Satu Etnis, Satu Negara, Satu Kelompok Atau Satu Ikatan Kepentingan Duniawiayah. Terjadilah Kesenjangan, Terjadilah Perpecahan Dan Konflik Yang Menyebabkan Hilangnya Kekuatan Ummat Islam. Semua Indikator Krisis Aqidah Ini Sumbernya Tidak Lain Adalah Keberpalingan Dari Ajaran Islam Yang Murni Yang Berlandaskan Al-Qur’an Dan Sunnah Rasulullah صلى الله عليه وسلم.

الله أكبر الله أكبر ولله الحمد

Kaum muslimin yang dimuliakan Allah سبحانه وتعالى,

Yang kedua: ulama adalah tumpuan harapan ummat sesudah nabinya. Karena itu Rasulullah r menyatakan العلماء ورثة الأنبياء , (para ulama adalah pewaris para nabi). Sebagai pewaris nabi hendaknya para ulama Islam mengikuti jejak Rasulullah صلى الله عليه وسلم dalam membimbing ummat ini ke jalan yang benar, menuntun mereka ke alam kebahagiaan dan ridho Allah سبحانه وتعالى. Rasulullah صلى الله عليه وسلم tidak wafat kecuali beliau menjelaskan kepada ummat ini segala kebaikan untuk diambil ummatnya, dan menjelaskan pula keburukan untuk mereka tinggalkan, ini berarti bahwa para ulama tidak hanya memfokuskan peranannya hanya pada satu sisi saja. Tapi mereka mestinya selalu bersama-sama dengan ummat ini membina mereka, memotivasi mereka untuk berbuat baik dan produktif juga memberikan jalan keluar dan solusi terbaik terhadap segala problema yang menimpa mereka.
Lihatlah figur Imam Al-Iz bin Abdissalam, ulama yang sangat berwibawa dan kharismatik yang disegani oleh kawan maupun lawan, penguasa ataupun masyarakat biasa, kaum muslimin mencintainya, orang-orang non muslim menghormatinya. Dari pemikiran dan seruannyalah ummat Islam bangkit lalu mengobarkan semangat jihad melawan angkara murka Mongol dan sekutunya, hingga ummat Islam dimenangkan oleh Allah سبحانه وتعالى. Satu hal yang begitu menonjol pula dari ulama besar ini yaitu keteladanan beliau yang sempurna dan semakin memikat hati dan menggenjot kecintaan dan kekaguman ummat kepada beliau, beliau tidak sekedar memfatwakan dan menganjurkan jihad, tapi beliau turun langsung di medan pertempuran bersama kaum muslimin, disaat usianya sudah senja.
Betapa hari ini kita mendambakan kehadiran ulama sekaliber Imam Al-Iz bin Abdissalam yang sarat ilmu, bersih niat, amal shalih dan akhlak mulia adalah pakaiannya, amar ma’ruf nahi mungkar adalah perhiasaannya, jihad adalah untaian langkahnya. Ulama yang tawadhu namun tegas dalam kebenaran, tidak takut ancaman dan sabar menerima cobaan, tidak tertipu oleh dunia, hanya Allah سبحانه وتعالى tujuan dan harapan.
Ketiga: Pemimpin negeri Islam harus selalu menyadari bahwa di tangan mereka ada amanah yang besar dihadapan Allah سبحانه وتعالى yang akan mereka pertanggung jawabkan di hadapan Allah سبحانه وتعالى, di tangan mereka ada amanah memimpin, membina dan mengarahkan rakyatnya kepada kehidupan yang baik, aman dan sentosa dan suasana seperti ini mustahil dicapai kalau Allah سبحانه وتعالى tidak meridhoi kehidupan sebuah bangsa dan negara, akibat mereka mencampakkan hukum-hukum Allah سبحانه وتعالى, mencampur-baurkan antara yang haq dan bathil, membiarkan musuh-musuh Islam mendominasi sektor-sektor kehidupan dan melakukan langkah-langkah yang merugikan bahkan menzhalimi ummat Islam.
Inilah yang membangunkan kesadaran Amir Qutuz dan menguatkan pendiriannya untuk memilih alternatif perang melawan orang kafir yang zhalim, karena perdamaian dengan orang-orang zhalim adalah utopia yang tak pernah terwujud, pemimpin ini tidak merasa takut dengan kekuatan raksasa musuh-musuh yang ada dihadapannya. Dan memang tidak perlu takut karena Allah سبحانه وتعالى bersama dengan orang-orang yang berpihak pada agamanya, berjuang dan berkorban di jalanNya. Keempat:Kalau kita kembali pada rentetan sejarah, kita banyak mendapatkan fakta kemenangan kaum muslimin, ketika berjihad pada bulan Ramadhan, barangkali ini adalah salah satu hikmah keberkahan bulan suci ini, juga korelasi yang begitu rapat antara ibadah puasa dan jihad. Puasa adalah perjuangan mengalahkan syahwat duniawiyah sedangkan jihad adalah perjuangan mengalahkan kecintaan pada kehidupan dunia. Puasa adalah kemenangan atas hawa nafsu sedangkan jihad adalah kemenangan atas musuh-musuh Allah سبحانه وتعالى. Di bulan Ramadhan tentara-tentara Allah سبحانه وتعالى mendapatkan pertolongan dari Allah سبحانه وتعالى, apakah pertolongan itu sudah dalam bentuk kemenangan yang konkrit di medan pertempuran, ataukah dalam bentuk langkah atau kondisi tertentu yang merupakan titik balik dari sebuah proses panjang menuju kemenangan disadari atau tidak disadari oleh kaum muslimin; ini juga berlaku di bulan-bulan selain bulan Ramadhan. Terkadang Allah سبحانه وتعالى ingin memberikan peringatan dan pelajaran kepada orang-orang beriman yang sedang berjihad bahwa di dalam diri mereka ada penyakit yang menjadi penghambat tibanya kemenangan itu, maka biasa dalam sebuah atau beberapa peristiwa, pejuang-pejuang di jalan Allah سبحانه وتعالى, nampak kalah namun pada hakekatnya turunnya pelajaran dari Allah سبحانه وتعالى, adalah bagian dari kemenangan karena Allah سبحانه وتعالى sudah menjamin akan menolong orang-orang yang akan berjuang di jalanNya dan memenangkan agamanya:

وَلَقَدْ سَبَقَتْ كَلِمَتُنَا لِعِبَادِنَا الْمُرْسَلِينَ إِنَّهُمْ لَهُمُ الْمَنْصُورُونَ وَإِنَّ جُنْدَنَا لَهُمُ الْغَالِبُونَ

Artinya: Dan sesungguhnya telah tetap janji Kami kepada hamba-hamba Kami yang menjadi rasul, (yaitu) sesungguhnya mereka itulah yang pasti mendapat pertolongan. Dan sesungguhnya tentara Kami itulah yang pasti menang. (Q.S Ash Shafaat : 171 – 173)
Ayat-ayat di atas dan yang senada dengannya menegaskan kemenangan kaum muslimin yang berjuang menegakkan Islam baik melalui medan jihad maupun medan dakwah dan Maha Benar Allah سبحانه وتعالى dalam perkataan-Nya dan janji-Nya, kalau terjadi fenomena kegagalan atau kekalahan maka itu akibat ulah diri mereka sendiri yang boleh saja menyimpang dari garis yang telah ditentukan dan ditunjukkan oleh Allah سبحانه وتعالى.
الله أكبر الله أكبر ولله الحمد

Kelima: Bahwa kehinaan dan keterpurukan ummat, akibat beragamnya petaka dan krisis yang menimpa mereka tidak akan pernah lepas dari rekayasa orang-orang kafir, musuh-musuh Allah سبحانه وتعالى, dan fenomena bersatunya bangsa-bangsa yang berlainan agama, faham dan ideologi menghadapi Islam bukanlah suatu hal yang baru, ini terjadi sejak zaman Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Perang Khandak adalah salah satu bukti nyata, begitu pula musibah Mongol yang kita uraikan tadi, memang di dunia ini hanya ada dua kekuatan, kekuatan Al Haq dan kekuatan Al Bathil, Yahudi, Nashrani, Komunis, Atheis dan lain-lain adalah komponen-komponen sebuah kekuatan yang menghendaki lenyapnya Islam dan padamnya cahaya Allah سبحانه وتعالى. Karena itu dikatakan الكفر ملة واحدة (kekafiran itu adalah satu agama). Allah سبحانه وتعالى telah mengingatkan kita bahwa orang-orang Yahudi dan Nashrani tidak pernah senang kepada ummat Islam sampai kita meninggalkan Islam ini. Dan jangan kita lupa, musuh yang tidak kalah bahayanya adalah musuh dalam selimut orang-orang munafiq yang akan senantiasa ada di dalam tubuh ummat ini.

الله أكبر الله أكبر ولله الحمد

Kaum muslimin yang dimuliakan Allah سبحانه وتعالى,

     Dalam terpaan udara pagi yang menghembuskan kedamaian dan menambah kekhusyu’an dihati, kami mengajak seluruh kaum muslimin untuk bangun dan bergerak merebut kembali kemuliaan yang hilang dengan mengisi relung-relung hati kita dengan niat ikhlas serta gelora semangat jihad fi sabilillah seraya kita hadirkan sebab-sebab di turunkannya kemenangan oleh Allah سبحانه وتعالى kepada kita, yang semuanya berpangkal pada murni dan kokohnya aqidah kita karena hanya dengan aqidah yang kokoh kita bisa komitmen menjalankan Syariat Allah سبحانه وتعالى sesuai dengan petunjuk Al Qur’an dan As Sunnah hanya dengan aqidah yang kokoh kita dapat mengimplementasikan prinsip al wala’ wal bara’, dan hanya dengan aqidah yang kokoh kita dapat mewujudkan persatuan yang hakiki dan ukhuwah Islamiyah yang sejati, hanya dengan aqidah yang kokoh dua komponen kekuatan ummat, yaitu ulama dan umaro dapat bergandeng tangan memimpin kaum muslimin kepada kehidupan yang bahagia, aman dan sejahtera, dan diridhoi Allah سبحانه وتعالى Mari kita gelorakan semangat berjihad di jalan Allah سبحانه وتعالى, untuk membuktikan kepada Allah سبحانه وتعالى bahwa kita bukan orang-orang munafiq, untuk menyatakan bahwa kita pun siap berkorban apa saja untuk kepentingan agama Allah سبحانه وتعالى, untuk membela hamba-hamba Allah سبحانه وتعالى, yang teraniaya sebab membela mereka berarti menjaga kewibawaan dan ketinggian agama Allah سبحانه وتعالى.
Kami juga mengajak kaum muslimin, untuk tidak buta sejarah atau ikut-ikutan menutupi sejarah. Karena dalam sejarah banyak sekali pelajaran yang berharga. Mari kita kembalikan kejayaan Islam dan ummat Islam dengan mengambil petunjuk-petunjuk wahyu Allah سبحانه وتعالى dan menapak tilas sejarah.

الله أكبر الله أكبر ولله الحمد

     Kaum muslimin yang dirahmati Allah سبحانه وتعالى, Shalat lima waktu adalah tiang agama Islam sekaligus pembatas antara Islam dan kekafiran. Dia adalah amalan yang paling pokok, implementasi kalimat syahadat yang paling utama, dialah ibadah yang paling pertama disyari’atkan dalam Islam, diterima langsung oleh nabi kita di Sidratul Muntaha, dia pulalah amalan yang pertama dihisab pada hari kiamat baik dan diterimanya amal-amal kita yang lain sangat ditentukan oleh baik dan diterimanya oleh shalat kita, shalat adalah sarana yang paling efektif untuk komunikasi seorang hamba dengan Tuhannya, shalat adalah sumber ketentraman, kebahagiaan, kemuliaan, dan kemenangan. Begitulah wejangan-wejangan Rasulullah صلى الله عيه وسلم kepada kita untuk memaparkan betapa butuhnya kita terhadap shalat itu dan karena itulah Allah سبحانه وتعالى mewajibkannya bahkan wasiat terakhir beliau sebelum hembusan nafas yang terakhir adalah shalat.
Oleh karena itu, mari kita yang mengaku ummat Islam, pengikut Muhammad صلى الله عليه وسلم mendirikan shalat, mari kita shalat dengan ikhlas dan penuh kekhusyu’an, tepat waktu, dan tepat cara sesuai tuntunan Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Dan jangan kita lupa bahwa kita diperintahkan untuk shalat lima waktu berjamaah di mesjid, karena shalat jamaah membuahkan keutamaan-keutamaan dan berlipat gandanya ganjaran, sedangkan meninggalkannya berarti menuai ancaman dan indikasi kemunafikan.

الله أكبر الله أكبر ولله الحمد

    Para wanita muslimah yang dirahmati Allah سبحانه وتعالى.
Sungguh sifat-sifat penampilan, dan peranan yang ditunjukkan oleh kebanyakan wanita muslimah pada zaman ini sangat jauh berbeda dengan apa yang ditunjukkan oleh wanita-wanita muslimah teladan di zaman-zaman sebelumnya, utamanya di zaman sahabat Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Dulu wanita muslimah adalah simbol kesucian, karena sifat mereka yang senantiasa memelihara harga diri mereka, dan menjaga mahkota kesucian mereka, ini berkat komitmen mereka menutup aurat, menjaga hijab (batas-batas) syari’at yang memisahkan dua jenis yang berlainan, menghindari ikhtilath, dan pembauran laki-laki dan perempuan. Tapi wanita hari ini, mayoritas pamer aurat, senang bercampur baur dengan laki-laki yang asing baginya, sehingga dari sini berpangkalnya malapetaka yang merusak bukan saja citra diri dan masa depan wanita itu, tapi juga merusak kehidupan masyarakat, bangsa dan negara. Karena itu sebelum terlambat, segera gunakan jilbab dan tutuplah aurat, kembalilah ke jalan yang benar, kembalikan peran wanita muslimah sebagai penyeru kaum hawa kepada Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya, bukan pengajak pada dosa dan kemaksiatan, sebagai penyejuk hati dan pendorong suami untuk tetap teguh memegang Islam, bukan istri durhaka yang merobek kebahagiaan suami, sebagai mesin-mesin pencetak pejuang-pejuang Islam, bukan perusak-perusak Islam dan penghancur moral bangsa.

الله أكبر الله أكبر ولله الحمد

Saudara-saudaraku kaum remaja …. Ingatlah, sebuah pertanyaan yang patut anda renungkan, jika tiba saatnya nanti anda berdiri dihadapan Allah سبحانه وتعالى, lalu ditanya: untuk apa usia mudamu engkau habiskan? Kemana potensi kepemudaanmu engkau gunakan? Maka bagaimanakah jawaban anda. Ingat bahwa kematian akan menimpa siapa saja, kapan dan dimana pun, tanpa kenal usia maka siapkanlah jawaban-jawaban pertanyaan itu sekarang juga. Habiskanlah usia muda dalam kenikmatan beribadah kepada Allah سبحانه وتعالى, sumbangkanlah seluruh potensi dan kekuatan untuk perjuangan agama dan ummat. Lihatlah ke sekeliling anda, betapa medan jihad terbuka dengan amat lebarnya. Jangan biarkan syetan yang terkutuk membayang-bayangimu seraya mempropagandakan kesenangan-kesenangan duniawi yang menipu, jangan campakkan dirimu dalam kehinaan dan ancaman laknat Allah سبحانه وتعالى. Ingat pula bahwa kondisi remaja dan pemuda hari ini adalah ilustrasi dari bagaimana nasib agama dan bangsa di masa depan.

الله أكبر الله أكبر ولله الحمد

    Bapak-bapak dan ibu-ibu para orang tua ……. Anak-anak kita adalah titipan Allah سبحانه وتعالى, Allah سبحانه وتعالى memberikan amanah kepada kita untuk mengarahkan mereka menjadi hamba Allah yang sejati sekaligus Allah juga menguji kita apakah kehadiran mereka semakin mendekatkan diri kita kepada Allah سبحانه وتعالى atau justru sebaliknya kita makin lupa dan jauh dari Allah سبحانه وتعالى Ingat ….. di hari kiamat kita akan mempertanggung jawabkan setiap amanah yang kita pikul, termasuk anak-anak kita. Karena itu, bina dan arahkan mereka secara serius ke jalan yang benar, dekatkanlah mereka pada pembinaan-pembinaan Islam, bekali mereka dengan akhlak yang mulia. Sungguh menyedihkan nasib kebanyakan anak-anak Islam hari ini yang kehilangan jati diri, kehilangan moral yang luhur, kehilangan masa depan, gara-gara tidak adanya perhatian orang tua untuk mengIslamkan prinsip dan budi pekerti anaknya, disamping sirnanya keteladanan dan kewibaan orang tua di hadapan mereka.

الله أكبر الله أكبر ولله الحمد

Kaum muslimin yang dirahmati Allah سبحانه وتعالى,

     Akhirnya dalam suasana yang khidmat dan syahdu ini, mari kita menundukkan hati kita, seraya memanjatkan doa kepada Allah سبحانه وتعالى yang selalu mencintai hamba-hambaNya yang meminta kepadanya;
Ya Allah ……… dengan segala dosa dan kekhilafan kami yang tidak terbilang, dengan segala sifat nista, dan durhaka kami yang bertumpuk, kami datang menghadap-Mu, wahai Dzat Yang Maha Pengampun, Lagi Maha Penyayang kami memohon dengan segala kemuliaan Nama dan Sifat-Mu, ampunilah dosa dan kedurhakaan kami, tutupilah segala aib dan cela kami di dunia ini dan juga di akhirat kelak. Ya Allah, ampuni pula kedua orang tua kami yang telah merawat dan mendidik kami sejak kecil, kasihilah mereka dengan kasih sayang-Mu yang maha luas. Dan ampuni pula kedurhakaan kami kepada mereka. Ya Arhamarrahimin……
Ya Allah, kami memohon kepada-Mu, berikan keridhaan-Mu dan anugrahi kami surga-Mu dan jauhkan kami sejauh-jauhnya dari kemurkaan-Mu dan neraka-Mu.
Ya Allah, perbaiki komitmen beragama kami yang merupakan kunci segala urusan kami, perbaiki pula dunia tempat kami hidup, perbaiki pula akhirat tempat kami kembali, jadikan sisa umur kami di dunia ini kesempatan bagi kami untuk menambah bekal kebaikan, dan jadikan kematian kami sebagai sarana peristirahatan dari segala kejahatan.
Ya Allah…… pada pagi hari ini pula kami memohon kepada-Mu wahai Dzat Yang Maha Perkasa Lagi Maha Kuat, bantulah saudara-saudara kami di Palestina yang beridul fitri diantara desingan peluru yang ditembakkan oleh pasukan kera dan babi kaum Yahudi di tanah suci Al Quds, bantulah saudara-saudara kami di Chechnya yang berjuang untuk menegakkan dien-Mu, beri mereka kekuatan untuk meluluh lantakkan musuh-musuh-Mu. Ya Allah, tegakkan pendirian dan berikan pertolonganmu pada saudara-saudara kami para mujahidin Afghanistan untuk tetap berjuang di jalan-Mu, satukanlah mereka dalam prinsip “Tiada Kemuliaan Selain Islam”, dan enyahkan dan binasakanlah musuh-musuh-Mu dari tanah air mereka.
Ya Allah….. segerakan bantuanmu dan pertolongan-Mu kepada setiap mujahid fi sabilillah di belahan bumi manapun mereka berada. Sesungguhnya Engkau Maha Berkuasa atas segala sesuatu. Ya Allah, beri kami kekuatan untuk menegakkan panji-panji jihad fi sabilillah, dan jadikan kami sebagai mujahid-mujahid, beri kami kekuatan untuk menerapkan totalitas Syari’at-Mu. Muliakan kehidupan kami dengan tegaknya sistem dan syari’at-Mu di muka bumi ini, atau jadikan kami mati syahid dalam memperjuangkannya.
Ya Allah, wujudkan dalam kehidupan ummat ini sebuah kepemimpinan yang bijaksana yang dinaungi hidayah-Mu yang dengannya agama-Mu dimuliakan, ma’siat pada-Mu dihinakan, amar ma’ruf nahi mungkar ditegakkan, keadilan dan kemakmuran sungguh-sungguh diwujudkan.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِِِِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِِِِ اَللَّهُمَّ وَحِّدْ صُفُوْفَهُمْ وَاجْمَعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الْحَقِّ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ وَيَا ذَا الْجَلاَلِ وَالْإِكْرَامِ.

ََرَبّنَاَ اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْإِيْمَانِ وَلاَتَجْعَلْ فِ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِلَّّذِيْنَ آمَنُوْا إِنَّكَ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّار.ِ

وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى نَبِيْنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالِمِيْن.َ

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here