Khalifah Besar yang Terlupakan

Oleh: Mahardy Purnama

Di balik penaklukan Andalusia, terselip satu nama besar yang terlupakan di antara nama panglima Thariq bin Ziyad dan Musa bin Nushair. Satu nama yang memberikan izin kepada Musa bin Nushair untuk memasuki pesisir selatan Andalusia secara bertahap.

Sebelum Musa bin Nushair, selaku gubernur Afrika Utara, mengirim Thariq bin Ziyad beserta 7000 pasukan ke Andalus, ia terlebih dahulu mengirim surat kepada khalifah di Damaskus. Khalifah itu tidak lain adalah al-Walid bin Abdul Malik, khalifah keenam dalam silsilah khalifah Bani Umayyah. Melalui surat tersebut, Musa bin Nushair meminta izin untuk mengirim sejumlah pasukan ke Andalusia yang sedang dalam kondisi tidak stabil akibat pergolakan politik.

Surat menyurat antara khalifah dan gubernurnya berlangsung beberapa kali karena awalnya khalifah ragu akan keselamatan pasukan Islam karena minimnya pengetahuan mereka tentang kondisi negeri yang dikuasai bangsa Visigoth tersebut. Namun, pada akhirnya Musa bin Nushair diberi izin setelah dirinya berhasil meyakinkan sang khalifah. Khalifah al-Walid menyarankan agar pengiriman pasukan jangan sekaligus melainkan bertahap dan bergelombang. Hasilnya dalam waktu 91 hingga 93 H (711-713 M) Andalusia berhasil dikuasai oleh umat Islam.

Al-Walid adalah putra dari khalifah Abdul Malik, paman dari Umar bin Abdul Aziz. Ia menorehkan catatan gemilang di masa kepemimpinannya. Penaklukan Andalusia bukanlah satu-satunya kesuksesan besar di masanya. Masih banyak keberhasilan lain yang ia torehkan selama memimpin umat Islam, di antaranya:

Pertama, penaklukan Transaxonia di Asia Tengah. Transaxonia atau yang akrab disebut para sejarawan Muslim dengan negeri Ma Waraa an-Nahr (Negeri di Seberang Sungai). Di negeri ini terdapat kota-kota penting di dalamnya seperti Samarkand dan Bukhara yang merupakan negeri lahirnya para ahli hadits, imam Bukhari contohnya. Transaxonia ditaklukkan pada masa khalifah al-Walid, dimulai pada tahun 86 H. Saat itu jendral yang ditugaskan untuk memimpin pasukan adalah Qutaibah bin Muslim salah satu panglima terbesar dalam sejarah Islam.

Kedua, Penaklukan Sind (Pakistan hari ini). Negeri Sind dikuasai oleh umat Islam pada tahun 89 H atau sekitar 3 tahun masa kepemimpinan khalifah al-Walid. Satu nama besar yang memimpin penaklukan ini adalah Muhammad bin Qasim ats-Tsaqafi, panglima muda berusia 20 tahun.

Ketiga, penaklukan Kasghar. Kasghar merupakan wilayah di China. Kembali panglima Qutaibah bin Muslim yang menjadi tokoh utama dalam penaklukan kota ini setelah ia berhasil menaklukkan Transaxonia. Disebutkan bahwa raja China bersedia membayar jizyah dan memberikan hadiah kepada Qutaibah. Kota ini menjadi capaian terjauh di Asia Timur pada masa Dinasti Umawiyah.

Selain dalam hal futuhat, khalifah al-Walid juga memberi sumbangsih dalam bidang pembangunan. Ia menggelontorkan dana besar untuk pembangunan masjid-masjid. Di antaranya pembangunan dan perenovasian Masjid Nabawi yang ketika itu Umar bin Abdul Aziz menjadi walikotanya. Al-Walid juga membangun jalan raya dan memperbaiki rute menuju Hijaz untuk memudahkan perjalanan jama’ah haji ke Baitullah.

Khalifah al-Walid bin Abdul Malik wafat pada tahun 96 H di usianya yang belum genap 50 tahun. Masa-masa pemerintahannya adalah salah satu fase paling gemilang dalam sejarah Dinasti Bani Umayyah dan Islam. Dapat dikatakan kekhalifahan yang dipimpinnya sebagai kerajaan super power di masanya. Penaklukannya di Timur mencakup Irak, Transaxonia, Sind, hingga China. Adapun di Barat mencakup seluruh kawasan Afrika Utara hingga Andalusia. Banyak jenderal besar muncul di masanya. Sayangnya, nama al-Walid tidak banyak dikenal oleh umat Islam. Namanya sebagai khalifah besar tenggelam dalam kepopular-an Mu’awiyah bin Abi Sufyan dan Umar bin Abdul Aziz.

Berita sebelumyaHIJRAH YANG TAK DIRINDUKAN- Mendung Di Langit Karbala (Episode 2)
Berita berikutnyaWahdah Jambi Laksanakan Pelatihan Pengajar Dirosa

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here