Keutamaan Menahan Amarah dan Besar Ganjarannya

Date:

wahdah.or.idBismillahirrahmanirrahim…Wash shalaatu was salaamu ‘ala rasulillah. Amma ba’du.…Para pembaca yang berbahagia. Insya Allah pada tulisan artikel kali ini, pembahasan kita adalah pembahasan tentang keutamaan menjaga diri dari sifat pemarah. Dalam artikel kali ini, kita akan mengetahui keutamaan menahan amarah seperti yang disebutkan oleh Nabi kita yang mulia.

Salah satu tujuan diutusnya Nabi shallaahu ‘alayhi wa sallam adalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. Diantara akhlak yang mulia yang diajarkan oleh Nabi shallaahu ‘alayhi wa sallam adalah menahan amarah. Di dalam hadis, Nabi shallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda kepada seorang sahabat yang meminta nasihat kepadanya:

لَا تَغْضَبْ  (رَوَاهُ البُخَارِي)

 “Janganlah engkau marah.” (HR. Bukhari).

Pembaca yang dirahmati oleh Allah…

Dari hadis ini kita dapat mendapatkan beberapa pelajaran yang di antaranya:

Hindari Tiga Sifat Buruk Berikut Ini

Hadis ini adalah hadis yang agung yang menjelaskan tentang salah satu sifat buruk yang harus senantiasa dihindari oleh seorang muslim yaitu sifat pemarah. Seorang muslim bukanlah seorang yang pemarah melainkan seorang yang berlemah lembut kepada sesamanya. Di dalam hadis, Nabi saw bersabda:

لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ، وَلَا اللَّعَّانِ، وَلَا الفَاحِشَ، وَلَا البَذِيْءَ

Artinya: “Seorang mukmin bukanlah orang yang banyak mencela, bukan orang yang banyak melaknat, bukan pula orang yang keji (buruk akhlaqnya), dan bukan orang yang jorok omongannya” (HR. Tirmidzi, no. 1977; Ahmad, no. 3839 dan lain-lain)

Mengekang Perintah Diri untuk Marah

Makna jangan marah yang dimaksud sebagaimana yang dijelaskan oleh para ulama adalah tidak mengikuti apa yang diperintahkan oleh diri ketika marah, baik perintah untuk mengeluarkan perkataan buruk atau perintah untuk melakukan perbuatan buruk, dalam artian menahan diri ketika marah datang. Hal ini sebagaimana hadis Nabi shallallahu alaihi wasallam:

لَيْسَ الشَّدِيْدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيْدُ الَّذِيْ يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الغَضَبِ متفق عليه

Artinya: “Orang yang kuat bukanlah dengan gulat, namun orang yang kuat adalah yang menahan dirinya ketika marah”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Allah Memanggilnya untuk Diberikan Ganjaran Pahala

Menahan amarah adalah sifat yang terpuji. Allah subhanahu wata’ala berfirman tentang salah satu sifat dari sifat-sifat orang yang bertakwa:

وَٱلۡكَٰظِمِينَ ٱلۡغَيۡظَ وَٱلۡعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِۗ

Terjemahnya: “Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) manusia” (QS. Ali Imran ayat 134).

Di dalam hadis, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

مَن كَظَمَ غيظًا وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يَنْفِذَهُ دَعَاهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى رُؤُوْسِ الخَلَائِقِ يَوْمَ القِيَامَةِ حَتَّى يُخَيِّرُهُ اللهُ مِنْ الحُوْرِ مَا شَاءَ ( رواه الترمذي وأبو داود).

Artinya: “Barang siapa yang menahan amarahnya -padahal ia mampu melampiaskannya- maka Allah akan memanggilnya di hari kiamat kelak di depan seluruh makhluk-Nya sampai ia diberikan kebebasan untuk memilih dari bidadari mana saja yang ia mau”. (HR.At-Tirmidzi dan Abu Daud).

Agar Dapatkan Keutamaan, Berikut Kiat-Kiat Menahan Amarah

Diantara kiat-kiat menahan amarah yang perlu dibiasakan oleh seseorang jika ingin memperoleh keutamaan di atas antara lain:

  • Berta’awwudz (Mengucapkan: Audzubillahi minassyaitoni rrajim).
  • Mengingat keutamaan menahan amarah.
  • Mengingat akibat buruk yang akan ditimbulkan dari sifat marah.
  • Diam.
  • Duduk ketika sedang berdiri dan berbaring ketika sedang duduk.
  • Mengingat kelembutan Allah pada hamba-hamba-Nya.

Marah Pada Ranah Syari’at

Dalam keadaan tertentu seperti terjadinya pelecehan terhadap syariat atau simbol-simbol agama, maka diperbolehkan marah karena Allah dan Rasul-Nya. Marah juga diperbolehkan dalam keadaan apabila ada saudara-saudara kita kaum muslimin yang dilecehkan, ditindas dan dizalimi seperti yang terjadi pada saudara-saudara kita di bumi Palestina.

Marah Penyebab Perbuatan Berujung Penyesalan

Tidak bisa menahan amarah menjadi sebab utama banyaknya perbuatan yang berakibat penyesalan. Seorang suami yang menyesal menceraikan istrinya, seorang ibu yang menyesal telah memukul anaknya, seorang teman yang menyesal telah membunuh temannya tidak lain dan tidak bukan disebabkan karena tidak mampu mengendalikan amarah.

Perkataan Nabi Penuh Makna

Hadis ini menunjukkan mukjizat Jawami’ul Kalim dari Nabi shallallahu alahi wasallam yang dengan lafaz singkat dalam hadis ini terkumpulkan seluruh dari kebaikan dunia dan akhirat. Imam Al-Jardani rahimahullah mengatakan tentang hadis ini:

إِنَّ هَذَا الحَدِيْثَ حَدِيْثٌ عَظِيْمٌ، وَهُوَ مِنْ جَوَامِعِ الكَلِمِ؛ لِأَنَّهُ جَمَعَ بَيْنَ خَيْرَيْ الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ) جواهر اللؤلؤية، ص: 147-148.

Artinya: “Hadis ini adalah hadis yang agung, dan ia termasuk dari Jawami’ul Kalim karena ia mengumpulkan antara dua kebaikan, kebaikan dunia dan kebaikan akhirat”. (Kitab Jawahir Al-Lu’luiyyah hal: 147-148).

Sebagai seorang Muslim, kepedulian terhadap kemanusiaan dan keadilan adalah prinsip sentral dalam ajaran Islam. Islam mendorong umatnya untuk berdiri di sisi kebenaran, menentang penindasan, dan membela hak asasi manusia. Oleh karena itu, seorang Muslim seringkali merasa marah dan prihatin terhadap tindakan kekerasan dan kezaliman, termasuk genosida yang terjadi di Palestina.

Perhatian terhadap situasi di Palestina juga memiliki akar sejarah dan religius dalam Islam. Kota suci Palestina, yaitu Al-Quds (Jerusalem), adalah tempat penting bagi umat Muslim karena mengandung tempat suci seperti Masjid Al-Aqsa dan Kubah Shakhrah. Kehadiran rezim pendudukan yang melanggar hak asasi manusia di Palestina, serta tindakan kekerasan dan penindasan yang dialami oleh rakyat Palestina, merupakan pelanggaran terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan ketidakadilan yang perlu ditentang oleh seluruh Muslim.

Namun, penting untuk dicatat bahwa marah dalam konteks ini adalah marah yang diarahkan pada tindakan dan kebijakan yang melanggar hak asasi manusia, bukan marah yang melahirkan kekerasan atau permusuhan yang tak terkontrol. Islam mendorong umatnya untuk bertindak dengan bijaksana dalam menghadapi kezaliman dan mempromosikan perdamaian dan keadilan.

Semoga Allah memberikan kepada kita kelembutan hati dan kesantunan lisan agar menjadi hamba-hamba yang senantiasa mampu mengendalikan amarah dan tidak melampiaskannya kecuali di jalan yang Allah ridhai…

Semoga Allah mengembalikan Masjidil Aqsha ke pangkuan kaum muslimin, dan menghancurkan makar musuh-musuhNya dan musuh kaum Muslimin, aamin…

Sumber: wahdahmakassar

Editor: Absaid

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share post:

Subscribe

spot_img

Popular

More like this
Related

Ketua Dewan Syuro Edukasi Panitia dan Pejagal Saat Menyembelih Sapi Kurban

MAKASSAR, wahdah.or.id - Hari pertama penyembelihan hewan kurban di...

Salat Iduladha 1445 H, Tema Khutbah Wahdah Islamiyah Seragam: Jejak Cinta Nabi Ibrahim, Antara Palestina dan Makkah

MAKASSAR, wahdah.or.id -- Takbir menggema sahut-menyahut memenuhi ruang dan...

Dewan Syariah Wahdah Islamiyah Terbitkan Panduan Lengkap Ibadah IdulAdha

MAKASSAR, wahdah.or.id – Dewan Syariah Wahdah Islamiyah telah mengeluarkan...