Ketika Musibah Menuai Hikmah

”Sesungguhnya kami milik Allah dan sesungguhnya kami akan kembali kepada-Nya, Ya Allah berilah kami pahala dalam musibahku ini dan berilah pengganti yang lebih baik” (HR. Muslim)
Empat bulan silam musibah gempa yang berkekuatan 5.9 skala Richter mengguncang Yogyakarta dan sebagian Jawa Tengah. Tragedi kemanusiaan ini menelan korban lebih 5000 orang. Dua bulan kemudian tepatnya 17 Juli 2006, bencana gempa bumi kembali terjadi di  Pantai Selatan Jawa di Ciamis-Pangandaran-Cilacap-Kebumen sampai Pantai Baron Gunung Kidul dengan korban yang tidak sedikit.

Musibah di atas bukanlah awal bencana di Indonesia melainkan sebuah parade musibah yang telah lama menimpa Indonesia, puncaknya ketika terjadi  bencana gempa bumi dan tsunami di Aceh Nanggroe Darussalam pada 26 Desember 2004. Bencana ini dikenal sebagai musibah internasional yang juga menimpa beberapa negara-negara lain seperti Thailand, Sri Langka, Malaysia, dan juga India. Tidak mengherankan jika Dr.Kyaw Win (Vijay Nath), Medical Officer Emergency Humanitarian Action (EHA), WHO Indonesia mengatakan “Indonesia is emergency supermaket”  atau Indonesia merupakan negara dengan berbagai macam jenis bencana. Dia menambahkan bahwa tak kurang 14 macam bencana ada di Indonesia dan melanda di berbagai wilayah mulai dari bencana gunung api, gempa, tsunami, banjir, longsor, angin ribut, konflik sosial, terorisme, polusi, penyakit (berbagai wabah, kelaparan, gizi buruk dst), badai, kekeringan, kecelakaan industri, dan  kecelakaan transportasi.

Penderitaan ummat tidak hanya terjadi di dalam negeri, dunia internasional pun ditimpa musibah yang tak kalah dahsyatnya. Konflik Palestina dan Israel sebagai perwakilan konflik yang terpanjang di abad 19 dan 20 M. Ratusan juta bahkan mungkin milyaran korban telah menjadi jenazah di bumi Al-Quds. Hingga kini konflik ini semakin membara tanpa solusi nyata.

Kabar yang paling terhangat dan juga mengiris hati ummat adalah konspirasi musuh-musuh Islam yang menyebarkan ‘kabar’ akan terjadinya peledakan sembilan pesawat dengan tujuan ke Amerika Serikat di bandara Heathrow di London, bandara yang paling  terbesar di United Kingdom dan tersibuk di dunia. Kejadian ini terjadi tanggal 10 Agustus 2006 sehingga pada hari itu juga ratusan tentara M15 (Badan Intelejen Inggris)  dikerahkan untuk mengamankan bandara dan mengontrol seketat mungkin setiap penumpang. Enam ratus penerbangan pada hari itu dibatalkan, dan hingga saat ini 20 brothers (laki-laki muslim) telah diduga, dicurigai dan ditangkap dengan masa investigasi selama 28 hari yang dianggap sebagai calon pelaku peledakan, padahal peledakan itu tidak terjadi bahkan tanpa bukti kalau ada penumpang atau ‘teroris’ yang membawa bom. Umumnya mereka yang ditangkap adalah British Muslim yang berketurunan Asia. Kejadian ini merupakan parade musibah terorisme yang ditujukan kepada ‘objek’ terorisme yaitu ummat Islam.

Di dunia ini, musibah merupakan peristiwa yang tidak kita sangka, tidak pernah kita duga, yang mengagetkan lamunan dan kesadaran manusia. Hampir seluruh manusia pernah mengalaminya dalam bentuk dan kadar yang berbeda-beda. Bencana apapun bentuknya selalu menyisakan luka, trauma yang berkepanjangan, kesedihan yang tak berhujung, frustasi yang tak bertepi sehingga banyak diantara kita yang menjadi putus asa, larut dalam kesedihan yang tak terkontrol, ratapan tangis kekesalan. Sebahagian kita lupa bahwa di atas sana ada Dzat Yang Maha Berkuasa, Maha Memutuskan, Maha Mengatur, Maha Pengenggam Takdir, Maha Pemberi Musibah  dan setiap manusia wajib patuh dengan skenario-Nya seperti yang dijelaskan dalam QS. Al-Hadid: 22-24 :
“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri, (yaitu) orang-orang yang kikir dan menyuruh manusia berbuat kikir. Dan barangsiapa yang berpaling (dari perintah-perintah Allah) Maka Sesungguhnya Allah Dia-lah yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji.”

Sikap kita menyikapi musibah sangat tergantung sejauh mana pemahaman kita terhadap hakekat yang menciptakan (Allah Swt) dan hakekat yang diciptakan (peristiwa). Keyakinan terhadap Allah bahwa segala peristiwa yang dikehendaki-Nya akan memberikan hikmah besar terhadap manusia merupakan langkah awal yang baik. Seorang mukmin harus yakin bahwa di tangan Allah lah kendali semua peristiwa dan semua makhluk di alam yang maha luas ini. Dengan demikian, kita akan merasa sangat lemah di hadapan-Nya, mengharap segala pertolongan-Nya dan bergantung kepada segala keputusan-Nya seperti yang telah dijelaskan dalam QS. At-Taubah ; 51
“Katakanlah (Muhammad), “Tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami. Dialah pelindung kami, dan hanya kepada Allah bertawakallah orang-orang yang beriman”.  

Musibah tidak selalu identik dengan kesialan, kedukaan, kesia-siaan dan peristiwa negatif. Tetapi justru bisa jadi berarti peristiwa yang membawa pengaruh positif dan pemompa semangat hidup bagi manusia untuk bercermin diri, dan menata kehidupan ke arah yang lebih baik.  Sebab sesungguhnya keputusan Allah Swt tidak boleh dicela, tidak boleh dipungkiri atau tidak boleh disesali, bahkan jangan sampai menuduh Allah Swt tidak adil terhadap ummat-Nya. Nauzubillahi Min Dzalik.  Justru sebagai manusia kitalah yang harus memaknai musibah dengan perspektif yang baik dan benar. Berikut diantaranya :  

a.    Sebagai Ujian, Dalam Pengertian Allah Menguji Keistiqamahan dan Keimanan Kita.

Ibarat seorang pemimpin perang, dia tidak akan pernah disebut sebagai pejuang sejati jika dia belum mampu mengalahkan musuh-musuhnya dengan penuh pengorbanan dan menerapkan strategi peperangan yang cerdas. Jika dia hanya duduk dibarisan belakang dan tidak berbuat apa-apa itu artinya sama dengan pecundang. Demikian pula dengan manusia yang beriman, kita  tidak pernah akan dikatakan beriman sebelum kekuatan iman diuji, dicoba, digoyahkan dengan segala peristiwa yang membuat kondisi iman akan bergulat dengan diri sendiri. Apakah selama dalam proses cobaan dan ujian kita masih menyandarkan solusi ujian, jalan keluar cobaan kepada Allah semata atau kita sudah mulai tidak percaya lagi dengan kekuatan Allah Swt sebagai Dzat Maha Penolong, Maha Pemberi Jalan Keluar, Maha Pelindung sebagai Dzat yang sebaik-baiknya penolong dan pelindung.

Sebelum terjadi bencana, kondisi ruhiyah kita masih dalam keadaan stabil dengan  mencintai Allah penuh rasa cinta tanpa batas, sebab Dia telah memberikan apa yang kita inginkan berupa keluarga yang penuh kasih sayang, harta yang melimpah, kedudukan yang baik, pekerjaan yang mapan, kesehatan yang prima serta semua kenikmatan hidup yang lain. Tetapi ketika bencana terjadi yang merenggut nyawa orang-orang tercinta, meludeskan semua harta benda tanpa sisa, memberanguskan tempat yang kita diami, bahkan membuat kita diri menjadi sakit parah atau terluka. Apakah kondisi iman kita tetap stabil atau menjadi luntur?

Disinilah kondisi iman kita mulai diuji, sejauh mana keyakinan dan pemahaman kita tentang Allah Swt dan Islam masih bisa tetap bertahan ditengah-tengah deraan ujian dan cobaan. Apakah kita masih tetap mempertahankan sifat-sifat imaniyah seperti tawakkal, tidak berputus asa, bersabar atas cobaan, merasa cukup dengan apa yang dimiliki sekarang, dan tidak mengutuk atau menyesali takdir ataukah kita sedikit demi sedikit sudah mulai berputus asa, mulai tidak percaya dengan kebesaran Allah, dan mulai menyalahkan takdir. Padahal sesungguhnya Allah telah menjelaskan dalam QS. Al-Ankabut  : 2 -3
“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan “Kami telah beriman” dan “mereka tidak diuji”? Dan sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta”.

Ibnu Taimiyah pernah berkata bahwa cobaan kepahitan yang diberikan Allah kepada manusia berupa malapetaka, kesengsaraan, kesusahan, pembatasan rezeki. Ini tidak dimaksudkan untuk menghinakan manusia tetapi untuk mencobanya. Jika dia tetap taat kepada Allah dalam keadaan seperti itu maka dia akan mendapatkan kebahagiaan. Jika dia mendurhakai Allah dalam keadaan seperti itu, maka dia akan mendapat penderitaan.
 
Penjelasan diatas mengajarkan kita bahwa sebuah musibah mengandung hikmah positif bagi manusia sebagai sarana mengukur keistiqamahan kita terhadap Allah dan Islam. Disinilah kualitas keimanan manusia akan terlihat apakah dia memiliki iman yang sekedar dilisan atau hanya dihati atau diwujudkan dalam kehidupan keseharian. Seperti yang diungkapkan Al-Hasan Al-Bashri: “Manusia sama saja tatkala sama-sama dilimpahi nikmat, namun ketika cobaan datang menimpa, saat itulah akan terlihat perbedaan-perbedaannya”.  Jika kita semakin tegar menghadapi musibah maka semakin berkualitaslah tingkat keimanan seseorang dan demikian pula sebaliknya jika kita menjadi rapuh dalam menghadapi musibah maka mengindikasikan kualitas keimanan yang rendah.

b. Sebagai  Penggugur Dosa, Dalam Pengertian Allah Menginginkan Kedudukan    Kita Lebih Baik.
 
Manakala musibah mendera terus menerus bukan berarti Allah Swt bermaksud menghukumi manusia diluar batas kemampuannya tetapi salah satu ekspresi Allah Swt menunjukkan cinta-Nya kepada ummat-Nya dengan cara yang berbeda. Kedatangan musibah tidak harus dimaknai dengan kebencian, ekspresi sakit hati terhadap alam atau takdir Allah dan sejumlah perilaku negatif lainnya melainkan kita mencoba bertafakkur bahwa disetiap penciptaan peristiwa mengandung hikmah yang indah. Salah satunya adalah sebagai sarana pengguguran dosa manusia. Seperti yang diriwayatkan dalam hadits Bukhari dan Muslim “Tidaklah seorang muslim ditimpa keletihan, penyakit, kekhawatiran, kesusahan, gangguan, dan kesedihan, hingga duri yang menusuknya, melainkan Allah menghapus sebagian dari kesalahan-kesalahannya”. Atau dihadits lain “Cobaan akan senantiasa menimpa diri orang mukmin, baik berkenaan dengan dirinya, harta bendanya, maupun anak-anaknya, sampai dia bersua dengan Allah, sedang ia tidak mempunyai dosa lagi” (Ahmad, Tirmidzi, Al Hakim).

Inilah salah satu ke-Maha Kuasa-an Allah Swt dalam menunjukkan ekspresi cinta-Nya. Penderitaan yang menerpa ternyata mampu membersihkan dosa-dosa kita yang setegak gunung dan setinggi langit sepanjang kita mampu menyikapi musibah dengan baik. Sebuah anugerah terindah dari Allah Swt bagi orang-orang yang berfikir. Tentunya muara dari pembersihan dosa ini akan berhujung kepada perjumpaan Allah Swt, Rasulullah Saw, para nabi, tabi dan tabiin di Surga. Inilah pertemuan sakral yang sangat membahagiakan dan sangat didambakan oleh para syahid, syahidah, mujahid, mujahidah dan seluruh ummat Islam di muka bumi ini.

Selalu dan selamanya kita harus menyadari bahwa musibah bagaikan sekeping mata uang yang memiliki dua sisi yang tak terpisahkan. Dalam pandangan mata manusia, peristiwa ini menimbukan kesengsaraan  tetapi bagi Allah Swt musibah salah satu jalan pembuka menuju surga bagi manusia. Sehingga tidaklah bijaksana jika sampai saat ini kita masih menyalahkan keputusan-keputusan Allah hingga harus berpindah agama karena menganggap bahwa takdir Allah Swt adalah kesengsaraan yang tidak berhujung. Bukankah Allah Swt juga telah mengingatkan kita bahwa setiap kesulitan dan kemudahan berjalan seiring seperti yang dijelaskan dalam QS. Al-Insyirah : 5-6 “Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan”.

c. Sebagai Teguran, Dalam Pengertian Allah Mengingatkan  Kelalaian Kita.

Teguran adalah ekspresi cinta yang sejati. Ketika seseorang menegur secara positif biasanya akan bermakna sebagai perbaikan diri. Si penegur menginginkan kita agar mengambil pelajaran dari kesalahan terdahulu dan tidak mengulangi kesalahan yang sama. Sehingga setiap teguran tidak boleh diapresiasi dengan cara yang dangkal. Keliru, kalau kita menganggap bahwa setiap teguran adalah ekspresi kebencian dari seseorang sebab teguran justru membuat kita tersadar akan kesalahan dan memompa semangat menjadi lebih baik di masa depan. Ibaratnya dia sebuah cermin diri untuk melihat kesalahan-kesalahan masal lalu.

Musibah sebagai teguran Allah Swt. Teguran yang menyadarkan manusia bahwa selama ini dia berada di jalan yang salah, jalan menuju kedurhakaan kepada-Nya, jalan yang berpaling dari-Nya. Sejak  berpuluh abad yang lalu,  Allah sudah memberikan bencana kepada beberapa kaum yang ingkar terhadap para nabi. Misalnya, keingkaran kaum nabi Luth as,  kaum nabi Musa as, kaum nabi Hud as, dan kaum nabi Nuh as. Bencana yang diberikan bukan tanpa alasan melainkan sebagai pengingat akan kelalaian mereka dalam menyembah Allah Swt. Mereka yang menyadari bahwa setiap keputusan Allah memiliki hikmah yang besar, tentunya akan mengambil renungan yang bermakna tentang bencana. Tentang kefanaan dunia, tentang kekerdilan manusia, tentang kebesaran Allah, tentang pentingnya memungut hikmah dalam setiap peristiwa,  dan tentang kemaksiatan sebuah negeri, seperti yang dijelaskan dalam ayat ini “Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang yang hidup mewah di negeri itu (agar menaati Allah), tetapi bila mereka melakukan kedurhakaan di dalam (negeri) itu, maka sepantasnya berlakulah terhadapnya perkataan (hukuman Kami), kemudian Kami binasakan sama sekali (negeri itu)  ( Q.S Al-Isra ayat 16). 

Hikmah lainnya yang menyusul dari sebuah teguran adalah munculnya kesadaran manusia  akan kehinaan, kelemahan dan ketidakberdayaan di hadapan Allah Swt sehingga dia ingin segera melakukan taubat dan pembersihan diri. Kita menjadi ingat kelengahan memenuhi hak-hak Allah dan kewajiban kita sebagai hamba. Perilaku ini pun telah dijelaskan secara baik dalam QS. Al-Anam ayat 42  “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus (rasul-rasul) kepada umat-umat yang sebelum kamu, kemudian kami siksa mereka dengan (menimpakan) kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka memohon (kepada Allah) dengan tunduk memasrahkan diri”.

Bencana, musibah, penderitaan, kesengsaraan merupakan sunatullah yang berlaku bagi manusia dan kehidupan. Sesuatu yang telah diukur dan diperhitungkan secara cermat bagi Maha Pencipta sebelum Dia melakukannya. Sebagai mukmin sejati kita harus menyadari dan menyakini bahwa tidak ada yang keliru dalam keputusan-keputusan-Nya, tidak ada yang sia-sia dalam perhitungan-Nya, tidak ada yang tidak tepat dalam ukuran-Nya, tidak ada yang salah dalam setiap peristiwa yang dikehendaki-Nya. Semuanya mengandung hikmah baik sebagai ujian, sebagai penggugur dosa atau sebagai teguran.  Kini, tinggal bagaimana kita menyikapinya secara arif  dan bijaksana. Sesungguhnya Allah Maha Melihat dan Maha Mengetahui. 

 Pusat Hentian Kajang, Selangor, Malaysia.
September 2006
       (Rahmawati Latief)   

Tulisan ini didedikasikan untuk seluruh saudara-saudariku di Indonesia, Palestina, Libanon dan United Kingdom, terkhusus lagi untuk saudariku : Ukhti Yumna, Sumayya, dan Shabela  di  London Timur. My du’a is still with us…Allahumaamien. 

Catatan : Tulisan ini telah dipublish di buletin YASMIN FOKMA (Forum Komunikasi Muslimah Indonesia) di Malaysia pada edisi 6/Agst-Sept 2006. 

Referensi  :

a.    www. Hidayatullah.com (Edisi Agustus 2006)
b.    www. BBC. co.uk (Edisi Agustus 2006)
c.    www.ameeratuljannah.blogspot.com (Edisi Agustus 2006)
d.    Suara Hidayatullah (Edisi 10/XVII/Februari 2005)  
e.   AA.Qowi. 10 Sikap Positif Menghadapi Kesulitan Hidup. Rosda Karya Bandung, 2001.
 f.  Tarbawi, Edisi 134 Jumadil Awal 1427 H 22 Juni 2006 M
 g.  Tarbawi, Edisi 100 6 Dzulhijjah 1425 H/20 Januari 2005
 h.  Abdullah Bin Ali Al-Ju’aitsin. Hiburan bagi Orang Sakit. Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, September 2000.

 

 

 

Artikulli paraprakKeutamaan Bacaan Istighfar
Artikulli tjetërLM Upayakan Lahirkan Trainer Profesional

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini