Kepentingan Umat vs Kepentingan Kelompok
Ilham Jaya Abdurrauf, Lc :Dosen Ma’had ‘Aly al-Wahdah
(Dimuat Harian Fajar, Senin 16 Oktober 2006 Hal.8 Kolom :Kalam)

Di tengah panas terik siang itu, dalam sebuah rombongan pasukan yang sedang beristirahat, sebuah insiden kecil terjadi.
Seorang sahabat Muhajirin secara tidak sengaja menyenggol seorang sahabat Anshar. Sepele, memang. Namun, perlakuan tersebut tidak dapat diterima begitu saja oleh sahabat Anshar. Adu mulut akhirnya tidak terhindarkan. Suasana segera memanas. Apalagi ketika masing-masing pihak kemudian memanggil anggota kelompoknya. Muhajirin memanggil sahabat-sahabat Muhajirin yang lain, dan Anshar menyeru sahabat-sahabat Anshar yang lain.
   
Rasulullah yang beristirahat tidak jauh dari tempat itu mendengar panggilan-panggilan tersebut. Dari nada dan intonasi suara yang terdengar memanggil  itu, Nabi  segera tahu bahwa suara tersebut membawa gejolak emosi yang sedang membara. Nabi sadar bahwa potensi perpecahan antara dua kelompok besar sahabat, yaitu Muhajirin dan Anshar, akan menjadi kenyataan bila tidak diantisipasi dengan cepat. Sebab solidaritas kelompok dan fanatisme golongan sedang dipertaruhkan dengan ukhuwah islamiyah yang telah lama terjalin. Nabi segera mengambil tindakan cepat. Tidak tanggung-tanggung, teguran keras keluar dari mulut manusia yang terkenal sangat santun itu, “Apakah kalian mengumandangkan seruan Jahiliyah sementara aku masih berada di tengah-tengah kalian? Berhentilah! Sesungguhnya seruan itu adalah seruan tidak baik.”

Sejatinya, istilah Muhajirin dan Anshar menunjukkan prestasi keislaman. Sebab, Muhajirin berasal dari kata hijrah yang berarti meninggalkan negeri untuk menegakkan ajaran agama dan untuk mewujudkan eksistensi masyarakat Islam yang ideal. Sedangkan Anshar bermakna orang-orang yang dengan tulus menolong dan membantu saudara-saudara mereka yang hijrah meninggalkan negeri mereka. Namun ketika panggilan tersebut tidak lagi sejalan dengan visi dan misi Islam, Nabi menyebut seruan dan panggilan Muhajirin dan Anshar sebagai seruan dan panggilan Jahiliyah. Sebuah terminologi yang digunakan untuk mewakili segala nilai-nilai yang bertentangan dengan Islam.

Demikianlah seharusnya umat Islam memandang segala bentuk ikatan dan solidaritas yang mereka bentuk. Hendaknya ikatan dan solidaritas tersebut diletakkan di bawah payung ukhuwah islamiyah yang universal. Tidak justru sebaliknya, solidaritas kelompok dan fanatisme golongan lebih dikedepankan daripada solidaritas Islam yang lebih luas.

Kita boleh dan sah-sah saja berorganisasi dan menghimpun diri dalam suatu wadah perjuangan. Karena berjuang dalam wadah yang disepakati bersama, selain merupakan fitrah manusiawi, juga telah menjadi tuntutan zaman modern dengan segala kompleksitasnya. Bukankah jauh-jauh hari sebelumnya Ali bin Abi Thalib telah menegaskan: kejahatan yang terorganisir akan mengalahkan kebaikan yang tidak terorganisir?
Namun ketika kita telah masuk ke dalam organisasi tertentu, jarak kritis antara kepentingan umat dan kepentingan kelompok tetap harus dijaga. Terdapat garis batas dimana tidak jarang kepentingan kelompok dan kepentingan umat yang lebih luas bersinggungan pada titik-titik tertentu. Pada situasi seperti ini, kita harus dapat meletakkan maslahat umat yang lebih luas di atas kepentingan kelompok. terlebih bila kebijakan kelompok terbukti keliru, atau minimal, bukanlah kebenaran yang pasti dan harus mengikat. Di sini, dilema tidak mungkin dihindari. Tapi di sini pula kita diuji, apakah kita telah cukup dewasa berorganisasi atau tidak. Wallahu ta’ala a’lam.

Artikulli paraprakHUKUM ISLAM DI INDONESIA; DULU DAN SEKARANG
Artikulli tjetërBaksos Lembaga Muslimah Cabang

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini