Organisasi adalah suatu lembaga dimana ada dua orang atau lebih berkumpul dan melakukan suatu tindakan atau usaha-usaha untuk mencapai suatu tujuan tertentu.
&nbsp&nbsp&nbsp&nbspTujuan ini akan menentukan jenis dan bentuk organisasi dan sebagai kelanjutannya akan menentukan arah serta kegiatan dalam organisasi tersebut. Jika diamati secara lebih jauh, lembaga dakwah kampus sebagai suatu organisasi memiliki karakteristik tersendiri yaitu self enforcement-nya yang senantiasa mengajak manusia atau orang-orang dimana organisasi itu bergerak untuk melaksanakan ajaran Islam.

&nbsp&nbsp&nbsp&nbspDalam suatu lembaga dakwah kampus, sebagaimana halnya organisasi-organisasi yang lain memiliki elemen-elemen atau komponen-komponen yang satu sama lain saling terikat dan saling mempengaruhi satu dengan yang lain. Pimpinan sebagai the top leader menjadi kemudi organisasi ke arah tujuan yang ingin dicapai. Pembina/penasihat sebagai pemberi masukan atau advisor terutama dalam membantu pimpinan dalam pengambilan keputusan. Kemudian anggota sebagai pelaksana kebijakan, dan tentu saja lingkungan organisasi yang biasanya sebagai mad’u atau objek dakwah organisasi tersebut.

&nbsp&nbsp&nbsp&nbspBanyak sekali kasus dimana seorang pemimpin menghadapi masalah dalam mengorganisir anggotanya untuk menjalankan amanah-amanahnya sesuai dengan deskripsi tugas dan tanggung jawab yang telah ditetapkan. Hal ini tentu bukan pekerjaan yang mudah mengingat dalan suatu organisasi dakwah kampus itu terdiri dari banyak orang dengan berbagai karakteristiknya sendiri-sendiri. Untuk kondisi ini maka sebaik-baik teladan adalah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam yang dalam memimpin bukan menganggap bawahan sebagai orang yang hanya harus diperntah, namun lebih dari itu memperlakukan mereka sebagai sahabat yang selain memang secara fungsional mengemban perintah dari seorang pemiimpin namun juga sebagai manusia yang memiliki rasa ingin dihargai, memiliki inovasi dan kreasi serta kesempatan untuk berimprovisasi selama itu masih dalam rel untuk memajukan organisasi tersebut.

&nbsp&nbsp&nbsp&nbspOleh karenanya, sejak semula ajaran dien kita sudah mewanti-wanti untuk menyerahkan suatu urusan kepada orang yang ahli. Ada banyak aspek yang harus dipertimbangkan oleh seorang pemimpin.
Pertama, kondisi internal pemimpin itu sendiri.
Kedua, keterbatasan sumber daya materil.
Ketiga, waktu pelaksanaan program yang telah ditetapkan.
Keempat, keanekaragaman kondisi, watak dan perilaku anggota.
Kelima, dinamika lingkungan.
Kelima aspek ini sekilas tampak seperti hujan batu yang datang bertubi-tubi. Perlu taktik dan strategi tertentu untuk menyikapinya dan secara singkat dapat dijabarkan sebagai berikut:
1.Pengenalan Seorang pemimpin harus mengenal organisasi lembaga dakwah serta lingkungan yang mempengaruhinya. Kemudian mengenal secara lebih mendetail tentang permasalahan serta faktor-faktor penyebabnya. Ia harus benar-benar jeli melihat peluang bahkan ‘ancaman’ bagi dakwahnya. Ia perlu melakukan analisa terhadap Kekuatan, Kelemahan, Kesempatan, dan Ancaman. Dengan demikian akan lebih mudah baginya untuk menentukan langkah selanjutnya.

2.Pemilahan Kemudian seorang pemimpin perlu memilah dan memilih antara urusan-urusan murni pribadi, urusan-urusan murni organisasi dan urusan-urusan yang melibatkan pribadi dan organisasi dan kemudian menetapkan garis-garis kebijakan untuk menyelesaikan permasalahan tersebut.

3.Pembelajaran Sampai di sini, pemimpin masih harus menghadapi kendala-kendala yang lebih bersifat non teknis yang seringkali sulit diidentifikasi dan diketahui ujung pangkalnya. Untuk kasus ini, maka dibutuhkan masukan-masukan dari pihak yang dianggap mampu untuk itu. Pemimpin sudah tahu permasalahan dan telah pula menentukan kebijakan-kebijakan. Akan tetapi kembali lagi, sebagai suatu sistem, pemimpin membutuhkan kerja sama dari anggota-anggotanya. Adalah merupakan hal yang hampir mustahil atau membutuhkan waktu yang sangat panjang jika seorang pemimpin harus mempelajari watak dari setiap anggotanya. Namun ini tetap diperlukan. Caranya, dengan berkonsultasi dengan orang yang mengenal pribadi anggota tersebut.
S&nbsp&nbsp&nbsp&nbspalah satu hal yang penting dilakukan oleh seorang pemimpin adalah mencari cara atau metode untuk memotivasi anggota untuk mau bekerja. Kita kembalikan pada prinsip dasar manusia bahwa pada umumnya manusia itu mau berkerja atau melakukan suatu aktifitas jika ia bisa memperoleh sesuatu atau manfaat dari aktifitas itu. Ia mau berjalan ke dapur jika ia tahu dengan ke dapur ia bisa memperoleh makanan untuk mengisi perutnya yang lapar misalnya. Demikian juga dalam organisasi, mungkin saja ia tetap melakukan amanah yang diberikan, akan tetapi karena ia merasa tidak memperoleh suatu manfaat darinya, maka ia cenderung ogah-ogahan atau bahkan tidak mau bekerja sama sekali.

4. Pengarahan Di sinilah fungsi directing seorang pemimpin dalam mengarahkan anggotanya. Memotivasi di sini bisa secara fisik dan non fisik. Yang paling efektif adalah jika anggota dapat memperoleh suatu manfaat materil baik berupa uang atau barang lainnya. Namun untuk suatu organisasi dakwah yang memang sejak semula telah mengarahkan kegiatannya untuk berjihad atau non profit oriented atau social oriented, hal ini tentu jarang terjadi atau memang tidak dianjurkan. Maka, imbalan berupa non materil paling tidak harus tersedia. Ini pun bermacam-macam, misalnya dengan bekerja atau melaksanakan amanah, maka seseorang dapat memperoleh tambahan ilmu pengetahuan, atau ia akan makin banyak memperoleh teman atau menambah pengalaman beroganisasi dan dakwah bil hal, dan lain-lain. Untuk mencapai maksud ini, maka pemimpin dapat mengambil keputusan untuk menyelenggarakan kegitan-kegiatan seperti kajian-kajian ilmu, pelatihan-pelatihan, dan lain-lain.

5. Pelaksanaan Setelah kesemuanya itu dilakukan, maka hasilnya sangat tergantung kepada bagaimana cara dan metode pelaksanaan serta tentu saja partisipasi aktif anggota. Memang dibutuhkan apa yang namanya mujahadah untuk merealisasikannya dan dibarengi dengan good willing serta sense of belonging betul-betul harus ditanamkan pada diri setiap anggota.

&nbsp&nbsp&nbsp&nbspSatu hal yang paling penting adalah, bahwa amanah-amanah dalam suatu organisasi dakwah sesungguhnya bukan amanah dari pemimpin tapi adalah amanah dari Allah yang dengannya kita akan dihisab di mahkamah Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan sesungguhnya merupakan jihad fi sabilillah yang dengannya tak ada lain yang akan kita peroleh selain jannatunna’im. Insya Allah.

Buat saudara-saudaraku di LDK Ashhaabul Kahfi UMI, Makassar,
Let’s go jihad
Sitnah A.Marasabessy

Artikulli paraprakSyarat-syarat Busana Muslimah
Artikulli tjetërTAFSIR SURAT AL HUJURAAT

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini