Agama islam datang dengan berbagai macam syariat dan ibadah, mewajibkan dan menganjurkan, melarang serta memakruhkan berbagai perkara. Tujuannya untuk mewujudkan ubudiyah tertinggi di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala dan melahirkan generasi manusia yang membawa rahmat lil ‘alamin.

Karenanya tak heran jika kita mendapati banyak nash-nash yang menganjurkan ummat islam untuk membangun hubungan kekeluargaan, rasa kasih sayang, cinta dan kebersamaan. Diantaranya adalah sifat Al Karam atau Kemurahan Hati, sebab sikap murah hati adalah salah satu sifat terpuji yang setiap manusia mengharapkannya dari keluarga, kerabat dan kawannya. Sikap murah hati juga merupakan sebab utama langgengnya silaturrahim, kekeluargaan, persahabatan dan memudahkan diterimanya dakwah islamiyah di seluruh pelosok negeri.

Begitu tingginya martabat sifat ini di sisi Allah, tak tanggung-tanggung ganjaran pahala yang telah Allah siapkan bagi mereka yang memiliki sifat al karam ini.

Allah ta’ala berfirman :
وَمَا أَنفَقْتُم مِّن شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ ۖ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ
Artinya : Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dialah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya. (Saba 39)

وَمَا تُنفِقُوا مِنْ خَيْرٍ فَلِأَنفُسِكُمْ ۚ وَمَا تُنفِقُونَ إِلَّا ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللَّهِ ۚ وَمَا تُنفِقُوا مِنْ خَيْرٍ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنتُمْ لَا تُظْلَمُونَ
Artinya : Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup sedang kamu sedikitpun tidak akan dianiaya (dirugikan).(Al baqarah 272)

Di dalam sebuah hadits :
وعن جابرٍ – رضي الله عنه – قَالَ: مَا سُئِلَ رسول الله – صلى الله عليه وسلم – شَيْئًا قَطُّ، فقالَ: لاَ. متفقٌ عَلَيْهِ
Artinya : Dari Jabir radiyallahu ‘anhu berkata bahwa tidak pernah sekalipun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dimintai sesuatu lalu beliau menjawab “Tidak”. (Muttafaq ‘alaihi)

– عن أبي هريرة : أنَّ رسول الله صلى الله عليه وسلم – قَالَ: «قَالَ الله تَعَالَى: أنفِق يَا ابْنَ آدَمَ يُنْفَقْ عَلَيْكَ». متفقٌ عَلَيْهِ
Artinya : Dari Abu hurairah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : Allah berfirman “Wahai anak Adam ! Beri nafkahlah maka kalian akan diberikan nafkah di pula”. (Muttafaq ‘alaihi)

Diriwayatkan bahwa Ibnu ‘abbas radiyallahu ‘anhuma pernah mengatakan “Para pemimpin dunia ini adalah mereka yang pemurah hati, dan pemimpin akhirat kelak adalah mereka yang bertakwa kepada Allah”.

Para pendahulu kita dari kalangan sahabat demikian tahu akan besarnya keutamaan sifat murah hati, penyayang dan pengasih. Lihatlah Abu Bakar As siddiq yang amat pemurah kepada para sahabat, juga Umar ibn khattab yang sangat penyayang dan murah hati lagi tegas pada kebenaran, dan sahabat-sahabat yang lainnya.

Tak lama setelah zaman para sahabat kibar radiyallahu ‘anhum, dikenal 3 orang yang sangat pemurah dan penyayang, hingga kaum muslimin saat itu berselisih pendapat tentang siapakah orang yang paling pemurah diantara mereka bertiga, mereka adalah ‘Abdullah ibn ja’far, Qais ibn sa’ad ibn ‘ubadah, dan ‘Urabah al ausy radiyallahu ‘anhum ajmain. Untuk mengetahui hal tersebut, mereka mengutus 3 orang utusan untuk menguji kemurahan hati ke3 orang itu. Orang yang pertama datang menemui ‘Abdullah ibn ja’far yang ketika itu sedang berada diatas untanya hendak melakukan safar. Terjadilah percakapan antara keduanya :
‘Abdullah ibn ja’far bertanya “Siapakah kamu? Bagaimana keadaanmu?”
Sang utusan berkata “Saya adalah ibnu sabil yang sedang kehabisan bekal”
‘Abdullahkemudian turun dari untanya dan berkata “Ambillah unta ini dan semua yang dibawanya, yaitu 4000 dinar, sekantong pakaian dan pedang ‘Ali ibn abi talib dan pedang inilah yang paling berharga karena itu jagalah ia”.
Utusan kedua juga menemui orang yang lainnya, yaitu Qais ibn sa’ad, tatkala itu Qais sedang tidur di rumahnya. Maka sang utusan datang menemui pembantu milik Qais dan berkata “Saya ingin menemui Qais, Saya adalah ibnu sabil yang sedang kehabisan bekal”.

Sang pembantu kemudian mengatakan “Keadaanmu itu tidak sebaiknya membangunkan Tuan saya Qais ibn Sa’ad, tapi cukuplah kamu mengambil uang 700 dinar dan seekor unta yang ada di kandang belakang beserta hamba sahaya yang merawat unta itu”. Subhanallah, sang pembantu saja begitu pemurahnya apalagi tuannya yaitu Qais. Tatkala Qais terbangun dan mendengarkan kisah sang utusan dan pembantunya, Qais kemudian memerdekakan pembantu tersebut.

Di saat yang sama, utusan yg ketiga juga menemui ‘Urabah dan saat itu beliau sudah tua renta dan kedua matanya telah buta sembari dibopong oleh 2 orang pembantunya menuju masjid.
Sang utusan berkata “Wahai ‘Urabah, saya adalah ibnu sabil dan sedang kehabisan bekal”.
‘Urabah berkata “Demi Allah, sungguh tak ada lagi harta kepemilikan yang bisa saya infakkan kepadamu. Tapi ambillah 2 orang pembantu saya ini dan lakukanlah sesukamu, jika mau kamu jual, atau jadikan pembantu atau kau merdekakan saja”. Selanjutnya karena ‘Urabah telah menginfakkan kedua pembantu yang membopongnya ke mesjid, ia kemudian kembali ke rumahnya dengan mengusap-usap dinding rumah tetangganya hingga sampai ke kediamannya.

Setelah ketiga orang utusan ini kembali dan menceritakan apa yang mereka dapati dari ‘Abdullah, Qais dan ‘Urabah, para warga kemudian mengambil kesimpulan bahwa mereka bertiga adalah orang yang sangat pemurah, dermawan dan penyayang, namun ‘Urabah adalah yang terbaik dari yang lainnya karena telah menginfakkan semua harta yang ia miliki.

Dan masih sangat banyak dalil-dalil tentang tingginya martabat sifat Murah Hati ini, juga kisah orang-orang yang berjiwa dermawan lagi berbudi pekerti, mengharuskan kita untuk kembali menata jiwa dan hati kita agar termasuk ke dalam kafilah mereka…Allohumma yassir…

Allah berfirman :
وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Artinya : Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung. Al hasyar 9
Oleh : Abu Aqilah Althofunnisa

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here