Gerakan dakwah dan tarbiyah tak akan benar dan sukses kecuali harus dihiasi dengan akhlak mulia. Lagi pula, rintangan terbesar bagi para dai, murabbi dan mutarabbi dalam berdakwah adalah akhlak mereka, karena buah positif gerakan tarbiyah dan dakwah mereka akan berkurang seiring dengan berkurangnya kemuliaan akhlak mereka. Di samping itu, kekuatan hujjah dan dalil semata tidak akan cukup membuat manusia mengikuti kebenaran tanpa dihiasi dengan indahnya akhlak dan lembutnya tutur kata. Hal inilah yang diperingatkan oleh Allah Ta’ala kepada Nabi kita Muhammad shallallahu’alaihi wasallam:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

Artinya: “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (QS Aali ‘Imran: 159)

Oleh sebab itu, sebelum Allah Ta’ala mengembankan amanah dakwah kepada para nabi dan rasul sebagai para dai dan murabbi bagi umat mereka, Dia terlebih dahulu menyempurnakan akhlak dan budi pekerti mereka. Allah Ta’ala telah menyifati para nabi dan rasul-Nya sebagai orang-orang yang berakhlak mulia nan agung tatkala menyebutkan peran dakwah mereka, di antaranya:

-Firman-Nya tentang akhlak Nabi Musa ‘alaihissalam:

وَلَقَدْ فَتَنَّا قَبْلَهُمْ قَوْمَ فِرْعَوْنَ وَجَاءَهُمْ رَسُولٌ كَرِيمٌ

Artinya: “Sesungguhnya telah Kami uji sebelum mereka kaum Firaun, dan telah datang kepada mereka seorang rasul (yaitu Nabi Musa) yang mulia.” (QS Ad-Dukhan: 17).

Para ahli tafsir menafsirkan kata “kariim/mulia” di ayat ini sebagai akhlak yang mulia. (Lihat: Zaad Al-Masiir karya Ibnul-Jauzi: 1/383).

-Firman-Nya tentang Nabi Yahya ‘alaihissalam:

مُصَدِّقًا بِكَلِمَةٍ مِنَ اللَّهِ وَسَيِّدًا وَحَصُورًا وَنَبِيًّا مِنَ الصَّالِحِينَ

Artinya: “… yang membenarkan kalimat (yang datang) dari Allah, menjadi ikutan, menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang Nabi termasuk keturunan orang-orang saleh”. (QS Aali ‘Imran: 39).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menukil dari jalur Abu Rauq dari Adh-Dhahhak rahimahullah bahwa ia menafsirkan kata “hashuur/menahan diri (dari hawa nafsu)” dalam ayat ini sebagai akhlak yang baik nan mulia. (Lihat: Majmu’ Fatawa Ibni Taimiyah: 17/226).

-Pujian-Nya kepada Nabi kita shallallahu’alaihi wasallam:

وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ

Artinya: “Sesungguhnya engkau (Muhammad) memiliki budi pekerti yang agung.” (QS Al-Qalam: 4).

Lantaran akhlak mulia ini adalah faktor penting dalam membentuk kesalehan seorang muslim serta munculnya kecintaan manusia pada dirinya, maka tidak aneh bila ia dijadikan sebagai salah satu tujuan risalah Muhammad shallallahu’alaihi wasallam, sebagaimana dalam sabdanya pada hadis Abu Hurairah radhiyallahu’anhu:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاقِ

Artinya: “Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.” (HR. Malik dalam Al-Muwaththa’: 1609, Ahmad dalam Musnadnya: 8949, Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad: 273, Al-Hakim dalam Al-Mustadrak: 4221, dll, Sahih).

Kemuliaan akhlak inilah yang menjadi salah satu tolok ukur ketinggian derajat seorang hamba di sisi Allah. Sebab itu, seorang dai, murabbi atau bahkan mutarabbi harus menjadi orang yang pertama kali mengaplikasikannya dalam kehidupan di tengah-tengah masyarakatnya. Dalam hadis Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu’anhu disebutkan:

إن من خياركم أحسنكم أخلاقا

Artinya: “Sesungguhnya orang paling utama di antara kalian adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR Bukhari: 359 , dan Muslim: 2321).

Kemuliaan akhlak ini terdapat dalam dua unsur penting, yaitu: kesucian lisan, dan kesucian hati terhadap orang lain. Hal ini telah disebutkan dalam hadis Abdullah bin ‘Amr yang lain:

قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ:صلى الله عليه وسلم أَيُّ النَّاسِ أَفْضَلُ؟ قَالَ: ” كُلُّ مَخْمُومِ الْقَلْبِ صَدُوقِ اللِّسَانِ”، قَالُوا: صَدُوقُ اللِّسَانِ نَعْرِفُهُ، فَمَا مَخْمُومُ الْقَلْبِ، قَالَ: ” هُوَ التَّقِيُّ النَّقِيُّ، لَا إِثْمَ فِيهِ، وَلَا بَغْيَ، وَلَا غِلَّ، وَلَا حَسَدَ”.

Artinya: “Suatu ketika ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, “Siapakah manusia yang paling mulia?” beliau menjawab, “Setiap Makhmumul Qalbi dan orang yang lisannya jujur,” para sahabat berkata, “Orang yang jujur lisannya kami telah mengerti, namun siapakah Makhmumul Qalbi itu wahai Rasulullah?” beliau menjawab, “Dia adalah seorang yang yang memiliki hati yang bertakwa yang hatinya suci dari dendam, permusuhan, dan kedengkian. (HR Ibnu Majah: 4219, hasan).

Bila seorang dai dan murabbi dianugrahi akhlak mulia, maka objek dakwah dan para mutarabbinya akan mendengarkan petuah dan seruannya, ilmunya akan tersebar luas, manusia akan banyak mengambil manfaat dari ilmunya, serta ia akan meraih derajat tinggi di sisi Allah Ta’ala. Rahasia dari hal ini adalah bahwasanya nasehat, tarbiyah dan dakwah adalah kado terindah yang dihadiahkan, dan ketika ia dibungkus dengan bingkisan akhlak mulia dan tutur kata yang baik, semua orang pasti akan menerima dan mendengarkannya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Seseorang tidak akan menjadi pemuka di kalangan manusia sehingga dalam dirinya harus terkumpul akhlak-akhlak mulia secara kokoh.” (Majmu’ Fatawa Ibni Taimiyah: 17/226).

Hal ini pulalah yang ditekankan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam pada Abu Dzar Al-Ghifari (Jundub bin Junadah) dan Abu AbdirRahman (Muadz bin Jabal) radhiyallahu’anhuma tatkala beliau akan mengutus mereka sebagai dai dan murabbi dalam medan dakwah mereka berdua:

اتق الله حيثما كنت ، وأتبع السيئة الحسنة تمحها، وخالق الناس بخلق حسن

Artinya: “Bertaqwalah kepada Allah dimanapun engkau berada, dan hendaknya setelah melakukan kejelekan engkau melakukan kebaikan yang dapat menghapusnya. Serta bergaulah dengan orang lain dengan akhlak yang baik‘” (HR. Ahmad: 21354, dan Tirmizi 1987, ia berkata: ‘hadits ini hasan shahih’)

Bahkan Allah Ta’ala telah memerintahkan Nabi Musa dan Harun ‘alaihimassalam agar menampakkan akhlak baik dan tutur kata yang lembut kepada Firaun ketika mendakwahinya:

اذْهَبَا إِلَىٰ فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَىٰ . فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ

Artinya: “Pergilah kamu berdua kepada Firaun, sesungguhnya dia telah melampaui batas. Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut”. (QS Thaha: 43-44).

Bagi seorang mutarabbi, kemuliaan akhlak merupakan dasar sekaligus pertanda peningkatan kwalitas dirinya dalam menyelami dunia tarbiyah dan kesalehan. Sebab itu, dalam proses tarbiyahnya ia harus selalu berusaha menyucikan dirinya dari akhlak buruk dan adab yang kurang baik. Tanpa adanya kemulian akhlak dan adab ini, ilmu dan tarbiyah yang ia dapatkan sama sekali tak akan memberinya manfaat dan faedah yang berarti, sehingga seakan-akan ia belum mendapatkan ilmu sedikit pun. Poin akhlak dan adab baik inilah yang ditekankan oleh Makhlad bin Husain Al-Azdi kepada Abdullah bin Mubarak rahimahumallah dalam wejangannya:

نحن إلى كثير من الأدب أحوج منا إلى كثير من الحديث

Artinya: “Kita ini, pada banyaknya adab (akhlak baik) lebih kita butuhkan daripada banyaknya hadis (atau ilmu yang didapat).” (Al-Jami’ li Akhlaaq Ar-Raawi: 1/80). Wallaahu a’lam.

Oleh: Maulana La Eda, Lc. MA.

Berita sebelumyaKerjasama Dengan FK Unhas, Wahdah Islamiyah Gelar Sosialisasi Program Imunisasi Rutin Dan Kampanye MR
Berita berikutnyaDimana Hewan-Hewan Nanti Pada Hari Kiamat?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here