Hidup di dunia adalah satu fase dari sekian fase kehidupan manusia. Ia ada demi sebuah ujian dan cobaan bagi yang menjalaninya, dan kan berakhir dengan suatu kematian, hanya saja kematian ini bukanlah akhir dari segalanya. Marilah mencermati firman-Nya: “Dia (Allah) yang telah menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kalian, siapa di antara kalian yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun“. (QS Al-Mulk: 2)

Terlepas dari percaya tidaknya manusia dengan adanya kehidupan lain setelah kematian, namun semuanya -dengan ragam agama, kepercayaan, dan bangsanya- tak ada yang mengingkari akan adanya ajal dan kematian ini. Betapa sangat disayangkan, banyak diantara umat islam yang meyakini rukun iman kepada hari akhirat sebagai fase lain dari kehidupan, seakan tak peduli dengan adanya fase tersebut. Hal ini nampak dari betapa jauhnya mereka dari ajaran islam hanya karena ingin memuaskan diri dan mengikuti hawa nafsu belaka, tanpa mau memikirkan nasibnya di fase kehidupan selanjutnya. Anehnya, masih ada diantara mereka yang walaupun begitu sifatnya, ia masih saja mengharap agar mendapatkan surga-Nya diakhirat kelak. Hasan Al-Bashri rahimahullah pernah mengungkapkan keheranannya pada jenis orang seperti ini dalam untaian hikmahnya: “Saya tidak pernah melihat suatu keyakinan yang lebih mirip dengan keraguan kecuali keyakinan manusia akan adanya kematian namun masih saja lalai dari beramal untuknya, dan saya tidak pernah melihat suatu kejujuran yang lebih mirip dengan kedustaan, kecuali kejujuran cinta manusia terhadap surga namun masih saja tidak mau beramal untuk mendapatkannya”.

Ucapan Hasan ini mengisyaratkan pada kita semua untuk selalu mengingat kematian dan akhirat, bukan dengan tujuan agar bisa mencucurkan air mata dan menghabiskan waktu hanya untuk mengingat kematian, namun ia adalah suatu ibadah yang bertujuan memotivasi kita untuk beramal shalih dan bekerja demi masa depan dalam kehidupan akhirat. Sebab itu, Nabi kita mengingatkan umatnya akan pentingnya mengingat kematian ini dalam sabdanya: “Perbanyaklah mengingat pemutus kenikmatan yaitu kematian” (HR Tirmidzi: 2307, hadis hasan).

Hadis ini sebagai penegas bahwa sungguh, tidak ada nasehat bisu yang lebih menggerakkan hati tuk beramal shalih dan banyak bertaubat dibandingkan dengan banyak mengingat kematian. Simaklah untaian hikmah dari seorang Al-Daqqaq rahimahullah tatkala berkata: “Barangsiapa yang banyak mengingat kematian maka dimuliakan dengan tiga hal: “Bersegera taubat, puas hati dan semangat ibadah, dan barangsiapa yang lupa kematian diberikan hukuman dengan tiga hal; menunda taubat, tidak ridha dengan keadaan dan malas ibadah” (Al-Tadzkirah bi Ahwaal Al-Mawta: 126).

Karenanya, tak heran bila Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam menyebut mereka yang senantiasa mengingat kematian dan bersiap untuk menghadapinya dengan orang-orang yang paling cerdas dan berakal, sebagaimana ditanya oleh salah seorang sahabatnya: “Orang beriman manakah yang paling berakal ?”, beliau menjawab: “Yang paling banyak mengingat kematian dan paling baik persiapannya setelah kematian, merekalah yang berakal”. (HR. Ibnu Majah: 4259, hadis hasan).

Inilah tolak ukur kecerdasan akal yang semestinya, sebagaimana juga diriwayatkan dalam hadis dhoif namun maknanya shahih: “Orang yang sempurna akalnya ialah yang mengoreksi dirinya dan bersedia beramal sebagai bekal setelah mati. Dan orang yang rendah adalah yang selalu menurutkan hawa nafsunya. Disamping itu, ia mengharapkan berbagai angan-angan kepada Allah.” (HR. Tirmidzi: 2627 dan Ibnu Majah: 4260).

Akan tetapi karena mungkin banyak orang agak susah mengingat kematian begitu saja dalam kesehariannya, maka islam menganjurkan beberapa trik lain sehingga seseorang senantiasa menempatkan pintu kematian dihadapan matanya agar terus semangat beramal untuk melewatinya, diantaranya:

1.Menyaksikan kondisi orang-orang yang sekarat. “Laailaahaillallaah, Sungguh satu kematian pasti ada sakaratnya”, demikian sabda beliau pada detik-detik terakhir kehidupannya tuk menggambarkan betapa dahsyatnya kondisi orang yang menghadapi ajalnya. (lihat Shahih Bukhari: 4449). Pastinya, kondisi mereka yang menghembuskan napas terakhir akan melecut hati kita agar senantiasa banyak bertaubat kepada Allah dan menjauhi maksiat dan dosa.

2.Menyaksikan penyelenggaraan jenazah, baik memandikannya, menshalatinya, mengantarnya kekuburan ataupun menguburkannya. Dalam suatu hadis Rasul shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang menyaksikan penyelenggaraan jenazah hingga ia dishalatkan maka ia mendapatkan pahala satu qirath, dan barangsiapa yang menyaksikan penyelenggaraannya hingga dikuburkan maka baginya pahala dua qirath”, beliau ditanya: “Apakah dua qirath itu ?”, beliau menjawab: “Dua qirath adalah seperti dua buah gunung yang besar”. (HR Bukhari: 1325 dan Muslim: 945).

3.Banyak melakukan ziarah kubur. Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Dulu aku melarang kalian dari ziarah kubur, maka ziarahilah karena ia bisa mengingatkan akhirat”. (HR Muslim: 977).

Ketiga amalan ini sangat dianjurkan dalam islam bukan hanya agar kita mendapatkan banyak pahala namun agar kita senantiasa menjadikan kematian sebagai satu nasehat, dan motivasi dalam beramal, karena mau tak mau kita semua akan bernasib seperti mereka yang telah mendahului kita, hanya saja perbedaan kita semua adalah terletak pada bekal dalam mengahadapinya. Ada yang memiliki bekal amalan shalih yang banyak dan ada yang sedikit, dan bahkan ada yang bekal amalan buruknya sangat dominan. Perbedaan lain yang mendasar adalah terletak pada su-ul-khaatimah yang merupakan akhir yang buruk bagi orang-orang yang banyak berbuat dosa dan husnul-khaatimah yang merupakan tanda dari akhir yang baik bagi orang-orang shalih. Allah ta’ala berfirman: “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari. kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Ali Imran: 185).

Hal inilah yang menjadikan Utsman radhiyallahu’anhu senantiasa menangis tatkala berdiri dikuburan, Mawla beliau yang bernama Haani’ mengisahkan: “Utsman jika berada di suatu kuburan, ia menangis sampai membasahi jenggotnya. Dikatakan kepadanya, “Disebutkan padamu surga dan neraka , namun engkau tidak menangis, tetapi engkau menangis karena ini?”. Beliau berkata: “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya kubur adalah tempat persinggahan pertama dari beberapa persingggahan di akhirat, jika ia selamat maka ia dimudahkan, jika tidak selamat maka tidaklah datang setelahnya kecuali lebih berat.” (HR Tirmidzi: 2308, dinilai hasan oleh Al-Albani).

Sebab itu, marilah memperbanyak mengingat kematian dan ajal, sebab ia senantiasa mengintai setiap saat. Ia tak kan menanti agar kita jatuh sakit terlebih dahulu, atau menunggu agar kita bertaubat dan menjadi orang shalih duluan. Namun ia akan datang kapan dan dimana saja, sesuai suratan takdir dari Allah subahanahu wata’ala. Dia telah mengingatkan ini dalam firman-Nya: “Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Lukman: 34).

Juga firman-Nya: “Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu (ajal); maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat (pula) memajukannya.” (QS. Al A’raf: 34).

Terakhir, marilah senantiasa mengingat kematian keluarga, sahabat, dan tetangga-tetangga kita yang terlebih dahulu mendahului kita, dimanakah tempat mereka sekarang ini berada ? Apakah kuburan mereka telah menjelma menjadi satu diantara taman-taman surga ? Ataukah berubah menjadi satu diantara lembah-lembah jahannam ? Lalu kemudian, marilah merenung bahwa cepat atau lambat kita pasti akan menyusul mereka, lalu bagaimana bila lembah nerakalah yang menanti kita dialam sana ?

“Sungguh ingatlah, kuburan itu kalau bukan salah satu taman diantara taman-taman surga, maka ia adalah lembah diantara lembah-lembah neraka” demikian nasehat Ali radhiyallahu’anhu dalam salah satu khutbahnya.

Sungguh wahai Rabb, tiada selain-Mu tempat kami berharap. Hanya pada-Mu lah kami menggantungkan asa. haturkan taubat yang mungkin t’lah sekian lama tertunda… Tiada yang kami harap selain ampunan-Mu, dan bila wafat kembali pada-Mu, awalilah perjumpaan kami dengan-Mu dalam indahnya husnul-khaatimah, dan jadikanlah alam pembaringan kami satu diantara taman-taman surga-Mu. Aamiin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here