Kelalaian dan Kesalahan Orang Tua dalam Mendidik Anak (3)

Date:

child-abuse
Pada serial pertama (http://wahdah.or.id/kelalaian-dan-kesalahan-orangtua-dalam-mendidik-anak-1/) dan kedua (http://wahdah.or.id/kelalaian-dan-kesalahan-orangtua-dalam-mendidik-anak-2/) masing-masing telah disebutkan tiga kesalahan dalam mendidik anak, yakni; (1) Membiasakan Anak Memiliki Sifat Penakut dan Tidak Percaya Diri, (2) Mendidik Anak Bersikap Ceroboh, Ceplas-Ceplos dan Mengganggu Orang Lain, Namun Menganggapnya Sebuah Keberanian, dan (3) Mendidik Anak Tidak Berpendirian, Indispliner, Serta Membiasakan Mereka Hidup Mewah dan Berlebihan, (4) Memanjakan Anak dan menuruti Semua Keinginannya, (5) Mengabulkan Semua Permintaan Anak, (6) Membelikan Mobil untuk Anak yang Usianya Masih Belia, (7) Sikap Orang TuaTerlalu Keras Dan Kaku. Dalam tulisan ini akan dilanjutkan dengan menyebutkan kesalahan-kesalahan berikutnya. Semoga dapat dihindari dan ditinggalkan oleh para orang tua.
8. Terlalu Kikir dan Pelit terhadap Anak
Sebagian orang tua ada yang terlalu kikir dan pelit terhadap anak-anaknya melebihi batas kewajaran, sehingga mebuat anak-anak mempunyai perasaan kekurangan dan merasa sangat membutuhkan. Hal ini dapat mendorong si anak untuk mencari cara mendapatkan uang dengan berbagai macam cara. Bisa jadi dengan cara mencuri, mengemis atau berdekatan (menjilat) kepada teman-teman jahat mereka, serta pelaku kejahatan (kriminal) lainnya.
9. Menghalangi Hak Anak Mendapatkan Kasih Sayang Orang Tua
Anak-anak yang kurang mendapatkan kasih sayang dan perhatian dari orang tua dapat memicu dan mendorong mereka untuk mencari pemenuhan hak dan kebutuhan mereka di luar rumah. Mungkin mereka akan menemukan orang yang dapat memenuhi perasaan tersebut.1
10. Perhatian Orang Tua kepada Anak Sebatas Kebutuhan Lahiriah Semata
Banyak orang yang beranggapan bahwa perhatian yang baik bagi orang tua terhadap anaknya cukup dengan pemenuhan kebutuhan materi, seperti makanan yang baik, minuman yang menyegarkan, pakaian yang mewah, pendidikan tinggi, dan penampilan di hadapan orang-orang dengan prima. Akan tetapi, mereka tidak memperhatikan tentang bagaimana mendidik anak sehingga tumbuh menjadi pribadi yang jujur danberakhlak mulia.
11. Berlebihan dalam Berbaik Sangka Kepada Anak
Sebagian orang tua berlebihan dalam berbaik sangka kepada anak-anaknya, sehingga mereka tidak menanyakan keadaan mereka, tidak mau mengetahui tentang mereka, dan tidak tahu menahu tentang teman-teman mereka. Hal ini karena kepercayaan yang berlebihan dari orang tua terhadap anak-anaknya.

Tipe orang tua seperti ini tidak menerima kritik yang ditujukan kepada anaknya. Jika terjadi suatu permasalahan terhadap anaknya atau penyimpangan yang dilakukan oleh anaknya, kemudian sang ayah diperingatkan tentang permasalahan tersebut, maka dia membelanya mati-matian, dan mencari-cari alasan yang membenarkan perilaku anaknya, dan tidak jarang balik menuduh orang yang memberi peringatan kepadanya sebagai seorang yang ceroboh, tergesa-gesa, atau seorang yang turut campur dalam urusan yang bukan menjadi wewenangnya.
12. Berlebihan dalam Berburuk Sangka kepada Anak
Kondisi ini merupakan kebalikan dari sikap di atas. Ada saja orang tua yang berburuk sangka terhadap anaknya, dan berlebihan sehingga keluar dari batas kewajaran. Tipe orang tua seperti ini selalu menuduh niat baik dari anak-anaknya, dan tidak menaruh kepercayaan kepada mereka sama sekali. Dia memberikan kesan kepada anak-anaknya sebagai lawan (penghalang), baik pada masalah yang kecil maupun yang besar, tanpa bisa mentolerir sedikitpun kesalahan dan kelalaian yang pernah mereka perbuat.
13. Bersikap Pilih Kasih terhadap Anak
Ada sebagian orang tua yang bersukap pilih kasihkepada anak-anaknya, dan tidak berbuat adil kepada mereka, baik dalam hal materi maupun non materi. Ada sebagian orang tua yang membedakan anak-anaknya dalam pemberian, hadiah atau hibah. Ada juga yang membedakan mereka dalam sikap lemah lembut dan senda gurau, dan sikap-sikap yang lainnya yang dapat menimbulkan perasaan berbeda antara yang satu dengan yang lainnya, memungkinkan munculnya kebencian diantara mereka, dan menjadikan mereka saling menjauh dan berseberangan.
Potret pembedaan dan pilih kasih kepada anak, seperti yang dijumpai pada beberapa orang tua, mereka mengkhususkan pemberian uang yang banyak kepada anak-anak yang sudah besar, atau membelikan sebidang tanah atau property tanpa mempertimbangkan kebutuhan anak tersebut, ketika ditanya: “Lalu apa bagian anak-anak yang masih kecil dan anak-anak perempuan ?” Dia menjawab, ”Kami akan memberikan kepadanya saat mereka sudah besar nanti. Sedangkan anak-anak perempuan akan menikah dan akan dicukupi oleh suami-suami yang kaya!”.

Bahkan, bisa jadi dia memberi kepada anaknya –tertentu- dan tidak kepada yang lainnya. Atau menikahkan sebagian mereka dengan membiarkan sebagian yang lain, padahal usia mereka berdekatan, dan kebutuhannya akan hal ini sama. Sikap orang tua seperti ini, membeda-bedakan antara anak-anaknya bisa jadi karena ada faktor tertentu dalam diri anaknya, atau karena anak ini berasal dari istrinya yang kaya-raya, dan anak yang ini berasal dari isteri yang tidak memberikan kesan baik di hatinya.
Tidak disangkal lagi bahwa sikap ini adalah perlakuan yang salah dan menafikan rasa keadilan antara anak-anak. Siapa yang memberi jaminan kepada orang ini bahwa dia dapat hidup hingga anak-anaknya menjadi besar nanti?
Sesungguhnya anak-anak perempuan memiliki hak meskipun telah menikah. Adalah bijak bagi seorang ayah apabila memberikan sesuatu kepada salah seorang anak, maka dia juga memberikan kepada anak-anak yang lainnya dengan cara menyimpannya untuk mereka nanti, atau menuliskan (pesan) kepada anak yang diberi bahwa dia mengambil ini dan ini. Mungkin pemberian itu sebagai hutang adanya, atau dikurangi (dikonversi) dari hak-haknya dari warisan sepeninggal ayahnya, dan seterusnya.

Termasuk hal yang tidak menafikan keadilan adalah apabila seorang ayah memberikan kepada anak-anaknya kebutuhan perawatan, uang pendidikan, atau membelikan mobil sekiranya dibutuhkan. Artinya, memberikan kepada anaknya yang membutuhkan nafkah (perawatan) dan sejenisnya.
Tidak menjadi keharusan bagi seorang ayah apabila dia memberikan sesuatu kepada salah seorang anaknya lalu dia harus memberikan kepada semua anaknya yang lain dalam waktu yang sama.
Adapun pemberian dan hibah yang didasarkan tidak pada kebutuhan (sang anak) dengan cara membedakan antara satu dengan yang lainnya, maka inilah sikap salah yang menafikan keadilan. (bersambung insya Allah).
(Sumber: Sumber: Disalin dari buku “Jangan Salah Mendidik Buah Hati” karya Syaikh Muhammad bin Ibrahim al Hamd)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share post:

Subscribe

spot_img

Popular

More like this
Related

Masya Allah! LAZNAS WIZ Kolaborasi Dengan Kemenag Sulsel Wujudkan Kebahagiaan untuk Anak Yatim dan Difabel

MAKASSAR, wahdah.or.id -- Aula Kantor Wilayah Kemenag Sulsel di...

Aksi Sport Solidarity Day, Ust. Zaitun Rasmin: Jangan Biarkan Ada Negara Penjajah Turut Hadir di Ajang Olimpiade

JAKARTA, wahdah.or.id - Aksi SPORT SOLIDARITY DAY yang digelar...

Koperasi Emas DPD Wahdah Sidrap Dapat Kunjungan Dari Wahdah DPD Berau: Sinergi Untuk Kemandirian Ekonomi

SIDRAP, wahdah.or.id – Dalam upaya memperkuat kemandirian ekonomi lembaga,...

Olimpiade Paris 2024 Segera Dimulai, Ust. Zaitun Bersama ARI-BP Jadwalkan Aksi Damai Tolak Israel Agar Tak Ikut Serta

JAKARTA, wahdah.or.id -- Pemimpin Umum Wahdah Islamiyah Ust. Dr....